Hari ini waktu menunjukkan pukul 22.04. Pertanda dua jam an lagi waktu akan bergeser menuju tengah hari. Pantas saja udara di luar terasasangat dingin. Apalagi saat mau memasuki musim kemarau. Siang jadi sangat panas dan malam menjadi sangat dingin.
Duduk aku di loteng dengan pemandangan lampu-lampu berkelap-kelip melawan gelap. Lama juga aku tidak merasakan hal seperti ini. Manusia seolah dilahap oleh berbagai rutinitas dengan dalihh tuntutan pekerjaan, tuntutan ekonomi, tuntutan hidup, dan tuntutan-tuntutan lainnya. Semantara Tuhan Pencipta Alam tidak menuntut manusia untuk menjadi apa-apa. Begitu pun diriku. Lama sudah rasanya tidak merasai kenikmatan seperti ini. Hanya duduk di bawah langit. Menikmati bintang dan centang perenang lamu yang makin lama makin bisu, sebisu alam ini dilahap kegelapan malam. Tersisa kelebat-kelebat bayangan dan pemikiran yang timbul dan tenggelam. Di atas tumpukan bata ringan tergeletak Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma yang menceritakan tentang negeri yang tidak pernah merasakan malam. Terdapat sebuah kalimat yang barusan kubaca hingga menyebabkan pikiranku melayang-layang
''Jika anak-anak tidak diberi pelajaran, mereka akan mengira kehidupan tertindas adalah suatu kewajaran," ujar pemilik penginapan kepadaku, berbisik-bisik sangat perlahan, dalam kegelapan. (Negeri Senja: 69)
Buku ini langsung kuletakkan kemudian aku pun menyelami batin dan pikiranku. Disadari atau tidak, banyak di antara kita yang terjebak dalam dunianya masing-masing. Si Ibu yang sehari-harinya menjadi tukang masak, akan selalu membahas masakannya, orderan masakannya, menu masakannya kepada siapapun yang dijumpai. Tak peduli orang yang diajak bicara itu antusias atau tidak. Dia akan selalu semangat dan mulutnya berbusa-busa demi membahas masakan A-Z. Si Bapak yang pedagang pakaian, akan selalu berceramah tentang dagangannya dan untung yang didapatnya hari ini, kemarin, atau lusa lalu. Ketika sudah ceramah, mau memotong pembicaraan saja sampai susah.
Tugas seorang manusia adalah menjadi manusia dan manusia tidak akan bisa lepas dari dharmanya menjadi manusia. Berbuat baik kepada sesama manusia memanglah sangat susah. Apalagi mau dan mampu mengerti orang lain. Pelajaran demi pelajaran diperlukan agar kita tahu bahwasanya di dunia ini bukanlah kita yang hidup sendiri. Pelajaran ini nantinya akan membantu kita untuk keluar dari kubangan-kubangan kebiasaan kita. Seorang anak tidak akan tahu bahwa dia sedang tertindas kalau tidak diberikan pelajaran oleh orang yang lebih tahu. Seorang ibu tukang memasak tidak akan tahu bahwa yang dibicarakan merupakan hal yang membosankan kalau selalu diulang tiap harinya. Pun demikian dengan bapak penjual pakaian.
Bagaimana dengan kondisi kehidupan sekarang?
Manusia-manusia kini sibuk mengurusi hari-harinya dengan rutinitas yang itu-itu saja. Bahkan disadari atau tidak, teknologi membelenggu kita masuk dalam kubangan yang tidak mungkin lagi dihindari. Mari kita hitung intensitas kita bermain HP? Fitur aplikasi, E-commerce, bahkan apapun bisa dilakukan dengan menggunakan HP. Manusia kemudian malas untuk bergerak. Bahkan untuk berjalan cukup jauh saja ogah. Manja. Manusia akan menjadi semakin manja untuk berbuat apa-apa. Bukankah kamu juga memikirkannya?
Relatekah dengan kutipan SGA di atas? Nyatanya manusia-manusia juga harusnya diberi pelajaran agar bijaksana menggunakan teknologi. Andai saja, ya, andai saja ada mata pelajaran tentang bijak berteknologi di sekolah-sekolah tentu akan lumayan bukan? Nyatanya kemajuan teknologi tidak bisa di-rem. Banyak orang mengatakan bahwa teknologi harus difilter agar tidak merusak. Anak zaman sekarang lebih suka bermain HP daripada bersekolah konvensional. Kearifan lokal nantinya akan menjadi isapan jempol semata dengan adanya banjir teknologi ini.