Senin, 22 Desember 2025

KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

*Abdul Haris Nur H.

“Persikaba akan selalu ada di hati saya”

Dafit Setiawan diantara pemain Persab Brebes

Menjadi pemain bola adalah impian jutaan orang, termasuk bagi Dafit Setiawan. Lelaki jangkung asal Tuban ini bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional layaknya Evan Dimas Darmono, gelandang timnas Indonesia. Bermula dari lapangan ke lapangan di Montong, Tuban, ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi di Persikaba Blora 2019 lalu. Tahap demi tahap seleksi diikutinya dengan sabar. Perjalanan Tuban-Blora pun rela ditempuh demi mengejar cita-citanya. Walhasil kesabaran Dafit pun membuahkan hasil. Ia pun akhirnya dinyatakan lolos seleksi dan tergabung dalam tim Persikaba.

“Seingat saya, waktu itu bertepatan dengan bulan puasa, Mas. Awalnya saya dapat info dari instagram bahwa Persikaba membuka seleksi. Dari informasi itulah saya lalu berangkat bersama teman dari Tuban. Kurang lebih pukul 11.00 dari rumah, sekira pukul 13.00 saya sampai di Kridosono. Saat itu saya tidak tahu kalau bisa potong jalur, Mas. Jadi saya muter lewat Cepu,” ucap Dafit menceritakan kisahnya.

Lelaki asal Tuban ini juga menuturkan bahwa pembukaan seleksi diikuti oleh ratusan pemain baik dari Blora maupun dari luar Blora. Beragam uji coba pun diselenggarakan agar pemain mampu mengeluarkan bakatnya.  Dalam uji coba-uji coba ini, Dafit mengambil posisi sebagai gelandang nomor 6 sebagaimana pemain yang selalu diidolakannya.

“Saya akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya jadi pemain bola, Mas. Bangun pagi langsung berangkat latihan. Setelah itu istirahat, siangnya latihan lagi. Saya masih ingat kali pertama saya dinyanyikan anthem, saya terharu dan menangis. Hal yang dulu sangat saya cita-citakan akhirnya bisa terwujud. Apalagi ketika debut melawan PPSM Sakti Magelang. Skor kemenangan 2-1 di kandang menambah kebahagiaan saya kala itu. Kebahagiaan yang semakin bertambah ketika saya akhirnya bisa merasakan bisa tidur di hotel kala pertandingan away. Wah Mas, bertanding rasanya kayak liburan he he he,” kenangnya sambil tertawa.

 

 

laga away melawan Persab Brebes

 Bicara tentang dunia sepak bola tidak bisa dilepaskan dari kebersamaan dan kekompakan sebuah tim. Chemistry dan kebersamaan antarpemain adalah hal paling mendasar yang biasnya dibangun sejak awal oleh manajemen. Selain kebersamaan dan kekompakan, hal kedua yang tidak boleh ditinggalkan adalah loyalitas. Para insan sepak bola harus selalu mengedepankan loyalitas dalam membela klubnya.  

Dua hal inilah yang sering menjadi batu ujian bagi sebuah klub sepak bola, tidak terkecuali bagi Persikaba. Kekompakan dan kebersamaan tim pun diuji ketika klub berlogo kepada kuda ini mengalami krisis keuangan. Dafit menuturkan bahwa ia dan teman temannya juga pernah mengalami hal yang cukup pahit ketika membela Persikaba. “Waktu itu para pemain sempat tidak dapat jatah makan dari manajemen.  Akhirnya teman-teman beli makan sendiri-sendiri di warung, Mas. Malahan pernah juga dibelikan makan malam oleh kitman pakai uang pribadi,” tambahnya.  

Terpaan krisis ekonomi klub semakin diperparah dengan telatnya gaji yang tak kunjung diberikan manajemen kepada para pemain. Hal ini menyebabkan kondisi mental para pemain berasa dikikis habis. Dampaknya adalah beberapa pemain memilih mogok tidak mau latihan bahkan kabur dari mess untuk sekadar numpang makan ke rumah para pemain asli Blora.

Janji dari manajemen masih sebatas janji. Gaji tak juga kunjung dibayarkan. Hanya motivasi dan suntikan semangat dari pelatihlah yang membuat para pemain bertahan dan terus berjuang. “Bahkan hanya buat beli bensin saja kami tidak sanggup, Mas. Kami akhirnya berangkat latihan dengan jalan kaki,” imbuh Dafit. Kisah tragis ini akhirnya diberitakan oleh media-media lokal setempat. 2020 setelah itu, akhirnya pihak manajemen memberikan hak para pemain.

Persikaba nyatanya adalah klub yang membuat Dafit terus belajar mengasah kemampuannya. Dari sekian banyak pertandingan yang dilakoninya, match lawan Persab Brebes adalah pertandingan yang akan selalu dikenangnya. “Saya masih ingat, Mas. Dua minggu sebelum lawan Persab Brebes, anak-anak sempat mogok latihan tapi saya berusaha tetap bersemangat karena itu adalah kesempatan bagi saya untuk bisa bermain. Akhirnya pas lawan Persab Brebes, saya dimainkan full 90 menit. Pertandingan berjalan sangat dramatis, Mas. Kita menang 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Baseri tapi kita dipaksa bermain dengan 10 orang karena Fajar kena kartu merah.  Laga yang bagi saya sendiri tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup. Itu adalah match pertama saya di Persikaba dengan full time tanpa diganti tapi juga match terakhir karena kemenangan 1-0 tidak membuat Persikaba lolos babak delapan besar. Ceria, tangis, kecewa tumpah jadi satu di hadapan suporter lawan, Mas. Sampai kapanpun Persikaba Blora akan selalu ada di hati saya,” kenang Dafit.

Siapa sangka musim 2019 itu juga menjadi akhir dari Stadion Kridosono, kandang Persikaba. Pasalnya tak lama setelah pandemi covid datang, dinding stadion dibongkar. Stadion Kridosono pun berubah fungsi menjadi lapangan terbuka. Kandang kuda kini bergeser ke timur, tepatnya di Stadion Krida Loka, Jepon. Enam tahun telah berlalu. Setelah sempat melanglang buana ke berbagai klub, kini Dafit bergabung di Bumi Wali, Tuban, tanah kelahirannya sendiri. Ilmu yang didapat dari sepak bola ini ia amalkan dengan mengajar olahraga di sebuah sekolah di Tuban.

(Wawancara pada Kamis, 18 Desember 2025)

 

 

 

Selengkapnya.. - KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

Kamis, 18 Desember 2025

FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

*Abdul Haris Nur H.

Saya di Persikaba itu seleksi normal dari nol, Mas. Tidak ada teman, saudara, atau siapapun. Saya ingat waktu itu saya hanya bawa uang dari rumah Rp 50.000,00.

Fajar berlari berusaha menghalau salah satu pemain Persab Brebes


Langit mendung menyiratkan hujan akan segera turun. Suara guntur sambut menyambut kian bergemuruh. Jalanan Blora pun nampak semakin redup. Dalam nuansa keredupan ini banyak orang yang kemudian bergegas dan terburu-buru. Ada yang berlarian masuk rumah, ada yang panik mengamankan cucian, juga ada yang sibuk memberesi dagangan. Blora seolah menjadi supersibuk.

Dari sekian banyak orang yang tergesa-gesa itu justru nampak beberapa orang malah keluar rumah menuju lapangan. Benar sekali, mereka adalah para pemain sepak bola dengan penonton setianya. Para pemain Persikaba Blora. Kali ini Persikaba akan mengadakan uji coba melawan klub lokal Pontura FC di Lapangan Alugoro 410 Blora.

Di pinggir lapangan, tampak beberapa pemain Persikaba melakukan pemanasan. Tim yang belum lama terbentuk ini juga ikutan sibuk. Pelatih fisik, Andri Mulyono Jati terlihat memberi aba-aba mengarahkan pemain. Pelatih utama, Gusnul Yakin juga sibuk menata papan strategi. Musim 2025-2026 ini Persikaba dihuni oleh para pemain muda. Sebuah musim yang mengingatkan kita kembali pada 2019 lalu. Masa dimana Persikaba mengikuti kompetisi liga 3 dengan skuad penuh dengan pemain muda. Pemain dengan kualitas yang merata di bawah bimbingan Coach Tommy Parsep.




Dari tengah lapangan terdengar peluit dibunyikan, pertanda kickoff telah dimulai. Bola pun bergulir dari kaki ke kaki di lapangan yang becek. Aliran bola deras mengalir ke kiri dan kanan lapangan. Jenderal lapangan tengah berteriak-teriak mencari teman dan memberikan umpan. Entah mengapa melihat seorang gelandang ini ingatan mendadak kembali ke masa 2019 lalu, ketika gelandang Persikaba dengan postur mungil tapi trengginas berlari meliuk-liuk mencari ruang. Gelandang mungil ini bernama Akhmad Fajarudin.

Musim 2019 lalu tribun penonton selalu riuh ketika pemain dengan nomor punggung 12 ini menggiring bola mencoba menggocek lawan. Posturnya yang kecil membuat jersey yang dikenakan nampak kedodoran selalu mengundang gelak tawa penonton. Tapi jangan salah, justru dengan ini seorang Fajar mudah ditandai. Lelaki kelahiran Jepara ini nyatanya selalu berhasil masuk lini menyulitkan pemain lawan.

“Saya di Persikaba itu ikut seleksi normal, Mas. 2018 sebenarnya saya sudah ada tim di Persiwi Wonogiri. Karena tujuh bulan persiapan tak kunjung ada kejelasan, akhirnya 2019 saya ikut seleksi di Persikaba. Ikut seleksi normal saya, Mas. Di Blora itu saya mulai dari nol. Tidak ada teman. Tidak ada saudara. Bahkan waktu itu saya ingat, saya hanya bawa uang dari rumah lima puluh ribu buat beli bensin,” tutur Fajar ketika diwawancarai.

 

Persikaba adalah klub yang menjadi tumpuan harapan bagi Fajar. Tak ayal, gelandang mungil yang suka menguncir rambut ini rela menempuh perjalanan Jepara-Blora selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya pihak manajemen menyediakan mess.

“Waktu itu manajemen masih belum rapi lho, Mas. Saya dan teman-teman dari Jepara sampai rela patungan untuk biaya makan. Malahan pernah makan sehari dua kali. Sebulan setelah itu terbentuklah tim Persikaba itu, Mas. Dari sana juga aku kenal Coach Tommy Parsep,” tambah Fajar.

Selain Fajar, ada empat orang dari Jepara yang juga datang ke Blora. Total ada lima orang Jepara yang ikut seleksi di Persikaba kala itu. Dari lima orang, tiga orang dinyatakan lolos seleksi. Mereka adalah Adhan Fahreza (libero), Febrianto (striker), dan Akhmad Fajarudin yang berposisi sebagai gelandang.



“Di Persikaba ini semua saya mulai dari nol, Mas. Jadi semua kemampuan yang saya miliki harus saya kerahkan. Semangat juang tinggi serta rasa persaudaraan yang melebihi keluarga yang membuat kami selalu tampil all out. Jadi tidak ada alasan untuk bermain jelek. Alhamdulilah saya selalu dipercaya pelatih,” imbuhnya.

Titik gerimis mulai turun di lapangan. Duel seru lini tengah kini bergeser ke sayap. Para pemain Persikaba nampak selalu berusaha mencari celah melalui wing kanan dan wing kiri dengan sentuhan bola cepatnya. Beberapa kali hakim garis mengangkat bendera offside. Tak lama berselang gol pertama tercipta. Usai gol pertama kemudian disusul dengan gol kedua. Keran gol persikaba terbuka lebar. Gol demi gol pun akhirnya tercipta termasuk gol yang dicetak melalui titik putih. Pola permainan dan kompaknya para pemain menjaga wilayahnya tentu membawa kita pada kenangan Persikaba 2019 lalu.

Tak terasa enam tahun sudah berlalu. Lelaki yang selalu dielu-elukan di lapangan ini pun telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Harapan Fajar tentu sama dengan harapan pencinta sepak bola Blora pada umumnya agar Persikaba lebih terus berprestasi lebih baik lagi. Tak terasa gerimis pun menghilang berganti dengan senja yang segera datang. Dari tengah lapangan, peluit panjang berbunyi pertanda pertandingan telah usai. Skor kemenangan 5-0 untuk Persikaba. Kemenangan yang menjadi awal yang baik sebelum pertandingan perdana kompetisi liga 4 Jawa Tengah dimulai.

 

(Wawancara dengan Akhmad Fajarudin, Minggu 14 Desember 2025)

Selengkapnya.. - FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

Rabu, 02 Juli 2025

AKU, KAU, DAN L2 SUPERKU

Suara knalpot itu merentet sepanjang jalan. Knalpot khas motor 2 tak itu memenuhi jalanan dengan asap putihnya. Jalanan itu adalah jalanan yang selalu kulalui ketika matahari sudah mulai menenggelamkan wajahnya. Begitulah suasana temaram kala itu. Saat dimana Pincuk, saudaraku menjemputku untuk kemudian kami berangkat ngaji bersama di Musala Al Masyhuriyah. Musala yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumahku ini berdempetan dengan madrasah yang namanya juga sama. Al Masyhuriah. Nama yang juga doa agar kelak musala dan madrasah ini masyhur dengan kiprah syiar islamnya.

Yamaha L2Super merahku
Jalanan aspal hitam pecah di sana-sini ini kami lalui dengan motor tua milik almarhum ayahnya ketika berangkat dan pulang mengaji. Keponakan yang usianya lebih tua setahun ini sering menjemputku ketika berangkat mengaji. Di atas motor tua yang sedang melaju itulah obrolan mengalir ke sana ke mari, motor Yamaha L2 Super merah. Sekira sepuluh menitan, sampailah kami di musala. Motor berhenti. Kami turun lalu menunggu giliran mengaji dengan nderes (melancarkan bacaan sendiri) terlebih dahulu sebelum disimak oleh guru.

Hingga sampailah giliranku. Aku maju membawa mushafku. Duduk bersimpuh. Mushaf kuletakkan di dampar (meja kecil). Di hadapan Mister, begitu teman-teman menjuluki guruku ini, aku kemudian menekuri ayat-demi ayat dengan sebatang lidi di tanganku. Beberapa kali Mister membenarkan bacaan tajwidku. Selesai mengaji masih dengan Yamaha L2 Supernya, Pincuk mengantarku pulang. Besoknya ia datang dengan sepeda jengkinya. Kami bersepeda bersama menuju musala.

Mister adalah guruku ngaji sekaligus guruku di madrasah yang duh galaknya minta ampun. Saat kelas sedang ramai-ramainya karena guru belum datang tiba-tiba cess. Hening. Semua berubah karena terdengar seruan, “Mister datang!” setelah itu terdengar suara seretan sandal kayu diiringi suara batuk sang Mister yang sudah sangat kami hafal. Kami berlarian duduk di kursi masing-masing.

Mister mengajar kami dengan metode yang masih konvensional. Ia menulis arab di papan lalu kami menyalinnya. Kami juga beberapa kali diminta untuk membaca kitab kuning, kitab bertulis arab pegon tanpa harakat. Saat itu aku ingat. Mister menunjukku. Aku pun seketika panas dingin. Dengan bantuan bisikan Minan, teman sebangku yang juga anak seorang kiai, aku mulai membaca kitab itu secara terbata-bata. Untungnya, semesta menyelamatkanku. Mister tertidur di mejanya. “Merdeka!” batinku. Senyum mengembang di wajahku. Bacaanku berhenti berganti dengan obrolan bersama teman-teman. Tiba-tiba Mister menggeliat. Senyum kemenangan disertai obrolan itu segera berubah menjadi kekhawatiran. Aku bersuara sebisaku. Segera kubaca kata terakhir dari kitab itu. Untungnya Mister masih pulas. Temanku, Mbodon kemudian melemparkan pulpennya tinggi ke atas melalui kepala. Takkk! Suara keras pulpen membuatnya bangun. Kami tak henti-hentinya menahan tawa. “Sudah selesai?” “Sudaaah,” jawab teman-teman. “Ya sudah baca Wal Asri,” sahutnya sambil mengucek mata. Yess! Akhirnya plong. Kami pun pulang.

Berkeliling Blora mengendarai Mbah L2Super

Metode konvensional dengan tambahan bentakan dipakainya juga saat mengajariku membaca Alquran. Tak jarang aku dan Pincuk terkena dampratnya. Apa yang bisa kami lakukan saat terkena marah selain duduk menatap mushaf, lalu ganti menatap meja, mulut kami bungkam. Diam tanpa mengeluarkan suara. Metode ini juga yang menyebabkan kami beberapa kali kabur ketika perpindahan jam.

Ketika jam Alquran selesai, kami pun beristrahat dengan nongkrong ke rumah Mbodon sembari menunggu azan Isya. Rumahnya bersebelahan dengan musala, jadi cukup safety  untuk kami beristirahat. Usai salat Isya barulah jam mengaji berlanjut kembali. Ngaji jam kedua adalah mengaji kitab taqrib. Saat peralihan jam itulah kami sering melipir. Apalagi kalau azan Isya sudah berkumandang. Kabur pelan-pelan. Kadang main ke rumah teman. Kadang juga mampir ke pasar malam. Pukul 21.00 barulah kami pulang. Bapakku yang galaknya melebihi Mister pun tidak akan curiga. Hehehe. Begitu terus.

Sampai tibalah saat itu. Bapak memanggilku. Didudukkannya aku di kursi lalu dimarahi habis-habisan karena tahu kami suka kabur. Lagu lama kembali terulang. Duduk diam menekuri lantai plester. Lantai yang sudah terkelupas hingga tampak batu bata berdesak-desakan dengan tanah. Sepertinya Mister mengadukan kami. Malamnya, suara motor L2 super itu mendekat kembali. Pincuk menjemputku. Diajarinya aku mengendarai motor Yamaha ini. Sekali engkol starter kuinjak, suara berbunyi. Bahagianya hatiku. Ketika persneling masuk satu. Motor mati. Diajarinya aku berkali-kali. Masih saja tak bisa. Aku pun menyerah. Dia ambil kemudi, aku duduk di belakangnya penuh dengan ratapan. Bagaimana tidak? Rasanya seluruh peluru bapak seperti menempel di badanku. Obrolan yang kemarin mengalir di atas motor, kini sunyi. Sementara kulihat, di kantong terselip amplop berwarna putih berisi uang. Aku diminta Bapak menyerahkan amplop itu kepada Mister. Sepertinya hanya aku yang memberi amplop kepada Mister. Itu aku tahu belakangan ketika teman-teman menanyaiku.

Tiba giliranku mengaji. Aku pun maju seperti biasa. Ayat demi ayat kulantunkan “Hemmm!” dehaman Mister menyela layaknya dentuman bom. Kucari letak kesalahanku. Kubaca ulang. “Hemm!” Salah lagi. Kucoba baca kembali. “Hemm!” masih saja salah. Kucoba lagi. Kali ini tidak hanya “Hemm” saja tapi disertai hardikan keras. “Salah diingatkan, masih saja diulangi!” bom molotov itu meledak tepat di samping telingaku disertai cipratan air ludah. Aku yang kelagepan masih saja tak menemukan bagian mana yang salah. Diam seribu bahasa. Bom yang baru saja meledak itu nyatanya menggoyahkan tembok pertahananku. Suaraku mulai nggleyor. Air mataku menitik. Masih saja terdiam. Tak berani aku memandang wajah Mister. Saat itu aku mulai menyesal karena sering kabur. Dengan dongkol, Mister kemudian memintaku menyudahi mengaji.

Tampak amplop putih itu masih bersarang di kantong kemeja batikku. Duh! Berat rasanya merangkai kata. Kuberanikan diri. Usai mengucap sodaqallahulazim, kupaksa tanganku yang masih gemetaran untuk menarik secarik amplop itu. Dari sekian banyak diksi hanya “Ini titipan dari Bapak” yang keluar. “Ya. Terima kasih,” singkat saja balasan Mister. Sambil mengelap pipi yang masih basah, aku pun undur. Apakah ini sogokan? Tanyaku pada saat itu.

Suatu ketika karena penasaran, kutanyakan apa isi amplop itu kepada Bapak. “Bisyaroh,” kata Bapak. Aku semakin tidak paham. Bisyaroh? Apa maksudnya? “Bisyaroh itu honor kepada guru. Guru mengaji itu tidak minta bayaran. Murni ikhlas lillahi taala. Tapi seharusnya kita yang tahu diri,” jawab Bapak. Oh honor. Baru kusadari bahwa amplop itu bukanlah sogokan kepada Mister. Bapakku ini, betapa sayangnya aku padanya walau habis dimarahi habis-habisan.

Sekarang aku sudah punya istri dan anak. Ketika sedang duduk di depan rumah, melintaslah Mas Irul. Kakak kandung Pincuk ini lewat menaiki L2Super. Ah motor itu! Motor yang dulu sempat membuatku putus asa mengendarainya kini melintas bebas di depan mata. Kelebat-kelebat ingatan tentang masa-masa dulu muncul kembali. Hingga akhirnya terbersit pikiran berapa ya harga motor itu sekarang? Ketika sedang duduk santai bersama istriku kusampaikan “Besok kalau punya rezeki, boleh ya aku beli L2Super. Aku tak mau kayak mereka-mereka itu yang baru lolos ASN mendadak beli motor N-Max, PCX, maupun motor apapun keluaran baru. Bismillah walaupun belum ASN nanti kalau punya rezeki aku ingin sekali membeli L2Super,” ucapku kepada istri sambil bercerita kenangan masa kecil dulu.

Tepatnya sehari setelah hari buruh, Om Pandi, penjual jaket yang kiosnya sering kudatangi membuat story WA video motor tua dengan keterangan Dijual motor L2Super minat pantau langsung. L2 Super warna merah, sama persis dengan motor Pincuk! Setengah iseng, kutanyakan harga dan kondisinya. Dia bilang, “Kondisi jaminan Mas. Mesinnya saya berani garansi! Mintanya 3 juta. Tadi sudah ditawar tantara 2,8. STNK dan BPKB ada,” balasnya. Pertanyaan yang awalnya iseng ini mendadak membuatku panik. Harganya lebih mahal dari harga HP keluaran paling baru. Kusampaikan ini kepada istriku. Aku bingung. Istriku juga bingung antara mengiyakan atau melarang. Kusampaikan ketertarikanku ini kepada Om Pandi. Komunikasi WA masih berlangsung. Aku bergegas ke rumah Komodo, teman semasa kecil yang sekarang sudah buka bengkel sendiri. Kuajak dia menuju rumah Om Pandi.

Sejenak Singgah Menikmati Kopi Santan dan Ketan Bersama L2 Super 



Sekira 30 menit, sampailah aku ke rumah Om Pandi. Ngobrol sana-sini sembari mengamati Komodo yang unjuk gigi. Dicek satu per satu semua bagian. Dinaikinya L2 Super ini dibawa menjauh. Bagian demi bagian diteliti termasuk STNK dan BPKBnya. Nah ketemu. Minusnya tangki motor rembes setelah diisi bensin. Selain tangki, semua normal. Kelistrikan juga on. Setelah diskusi dengan Komodo, negosiasi pun mulai. Harga motor yang tadinya 3 juta akhirnya deal di 2,8 karena tangka yang rembes.

L2 super kami bawa pulang. Komodo yang mengendarai motor tua ini. “Bro, video ya. video!” pintanya ikut antusias.  Sesampai di rumah, kuminta Komodo untuk mensetting motor. Tesok harinya tangki sudah beres. Giliran urus surat. Motor L2 yang mati pajak setahun sudah beres semua. Masalah administrasi rampung. Sudah kubalik nama sekalian biar nggak repot nantinya. Alhamdulilah Yamaha L2 Super itu kini berdiri gagah di rumah. “Emang bisa naik motor laki?” tanya Bapak dan istriku bergantian tak percaya. “Ya dicoba dulu. Kayaknya perlu pembiasaan pakai kopling, sih. Kata Komodo, motor ini oper giginya kayak motor biasa kok. Cuma masih agak repot main koplingnya,” jawabku.

Motor tua keluaran 1986 ini pun sering kami bawa bertiga bersama anak dan istriku. Istriku yang awalnya sangsi, kini sudah makin percaya. Beberapa kali kuajak mereka berjalan-jalan keliling Blora. Fina yang paling gembira ketika duduk di tangki berpengangan spion. “Enak naik Mbah L ya Pak. Bisa perosotan sambil duduk,” katanya. Tak jarang kami diamati orang ketika di lampu merah. Pakai helm jadul dengan motor jadul pula. Ditambah dengan suara knalpot yang merepet, tarikan gas dan kopling yang cukup seret mengingatkanku kembali pada masa itu. Masa dimana aku diajari Pincuk naik motor. Masa dimana kami berangkat mengaji kepada mister bersama. Pincuk kini tinggal di Jakarta dan Mister pun telah tiada.

Blora, 12 Mei 2025 

Selengkapnya.. - AKU, KAU, DAN L2 SUPERKU

Kamis, 26 Juni 2025

CARUBAN PENUH KENANGAN

Entah sudah berapa kali aku singgah ke sini. Seingatku sudah lebih dari tujuh kali aku ke sini dan tidak ada bosan-bosannya. Caruban adalah salah satu pantai yang cenderung lebih tenang nan damai di Rembang. Pantai yang berada di Lasem Rembang ini memang masih menjadi pilihan utama keluarga kecil kami. Kok bukan Karangjahe? Tidak. Kami memang tidak suka berlibur ke tempat yang terlampau ramai.

dokpri

Awal datang ke Pantai Caruban adalah saat mengajak istri (saat itu masih calon) untuk berziarah. Bersumber dari facebook, kudapatkan informasi bahwasanya makam Pangeran Sekar berada di lingkungan Makam Nyi Ageng Maloka. Nyi Ageng Maloka sendiri merupakan putri dari Kanjeng Sunan Ampel. Kakak dari Sunan Bonang.  Melihat dari silsilah, Sang Nyi Ageng tidak lain adalah nenek sang pangeran.

          Rasa penasaran mencari keberadaan makam sang pangeran semakin tinggi usai membaca dan menggeluti kisah putra sang pangeran yaitu Pangeran Arya Penangsang, penguasa Jipang Panolan. Local hero nya orang Blora lebih khusus orang Cepu. Dalam cerita populer dikisahkan bahwa putra Pangeran Sekar, Arya Penangsang diceritakan ketika dewasa menuntut haknya sebagai pewaris tahta sekaligus hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pangeran Surawiyata ditemukan tewas di pinggir sungai dibunuh oleh orang tidak dikenal. Pangeran Surawiyata kemudian lebih dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Sekar yang tidak lain berati ‘bunga’ sementara seda berarti ‘wafat’, dan lepen yang berarti ‘sungai/kali’ menjadi hal yang menarik untuk ditelisik. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan Sultan Trenggono naik tahta di Demak menggatikan Sultan Yunus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang meninggal di Malaka. Sebuah proses pergantian pemimpin yang sangat ditengarai berbau intrik politik ini kemudian membuatku semakin tertarik memelajarinya lebih lanjut.

Kala itu sesampai di Makam Nyi Ageng Maloka, aku langsung mencari keberadaan makam pangeran. Kucoba menanyakan ini kepada penggembala kambing yang ada di sana. Si penggembala menjawab tidak tahu. Ah sesuai dugaan. Saat itu si penggembala menyarankan kami untuk menghubungi juru kunci makam. Ditunjuklah sebuah nomor telepon yang tertempel di pintu masuk.

Segera kuhubungi nomor tersebut. Kusampaikan bahwa saya ingin berziarah. Tak lama kemudian sang juru kunci pun datang dengan motor tuanya. Usai memperkenalkan diri, pintu utama makam kemudian dibuka. Kami pun diantarnya masuk. Dimintanya kami menunggu sejenak. Saat sang juru kunci menyalakan lampu dan jet pump, kuedarkan mataku ke semua penjuru. Tampak nisan-nisan tua berdiri menjulang. Beberapa nisan tampak menghijau tertutup lumut. Sekira lima langkah dari kami berdiri, tampak sebuah cungkup berwarna putih beratap genting, dan berdaun pintu kecil.

Kami akhirnya menuju keran air untuk mengambil wudu. Usai berwudu coba kutanyakan keberadaan makam Pangeran Sekar, jawaban mengecewakan kami dapatkan kembali. Sang juru kunci mengatakan bahwa beliau tidak tahu. rasa kecewa yang tidak hanya sebatas kecewa. Justru yang timbul padaku adalah perasaan curiga. Juru kunci ini benar-benar tidak tahu apa sekadar pura-pura tidak tahu. Rasanya kalau sungguh-sungguh tidak tahu kok aneh ya. Bagaimana tidak? dalam postingan grup facebook disertai foto disebutkan bahwa setiap tahun diadakan haul di tempat ini. Bahkan beberapa orang yang mengaku keturunan dan keluarga sang pangeran beberapa kali berkunjung ke sini. Masa iya sih juru kunci sampai tidak tahu?

 Akhirnya masih dengan perasaan curiga itu kami dipandu juru kunci masuk ke cungkup makam Nyi Ageng Maloka. Pak juru kunci menawarkan kepadaku untuk membaca tahlil sendiri atau beliau yang memimpin? Dengan pelan kuminta agar bapak juru kunci yang berkenan memimpin tahlil dan doa.

Suasana menjadi semakin khusyuk ketika lantunan ayat-ayat dibacakan Pak Jurkun. Pada keheningan itu dalam hati kusampaikan bahwa kami anak cucu beliau datang untuk bersilaturahmi. Sementara itu juga kuselipkan doa sekaligus izin minta restu kalau memang wanita yang ada di sebelahku ini nantinya jodohku, hendaknya kami dibantu agar lancar segalanya.

Suasana hening, teduh, dan sejuk tetap terasa apalagi kompleks makam dikelilingi pohon besar. Suara lantunan doa, suara ranting terhempas angin, terdengar bersahut-sahutan dengan suara cicak yang terus saja menginterupsi. Keheningan ini menjadikan kami kian luruh. Aku sendiri tak tahu doa apa saja yang dipanjatkan wanita di sebelahku ini. Yang kutahu tangan kami tak lagi menengadah ketika Pak Jurkun mengakhiri doanya. Usai berdoa, kami kemudian keluar dari cungkup makam.

Aku lalu meminta wanita yang tadi ada di sebelahku ini untuk mendekat ke sebuah barisan nisan tua. Barisan nisan yang terletak di sebelah timur cungkup makam Nyi Ageng. Di tengah barisan nisan ini aku kemudian duduk bersimpuh. Sebuah nisan tanpa nama. Nisan yang nampaknya sengaja dibiarkan menjadi misteri. Persis dari bentuk dan letaknya, inilah makam sang pangeran yang kucari-cari. Untuk memastikan kubuka HP dan segera kucek foto dalam postingan grup di facebook. Tidak salah lagi. Akhirnya kututup mataku dan kupanjatkan doa. Usai berdoa, kuminta wanita yang sedari tadi mengamatiku itu memfoto. Maksudnya buat dokumentasi pribadiku. Sayang fotonya sekarang sudah hilang.

Usai berdoa, aku kemudian melakukan kebiasaanku untuk berkeliling mengamati hal-hal yang ada di sekitaran lokasi yang baru saja kudatangi. Berharap ketemu sesuatu yang menarik. Tak lupa kufoto juga bentuk-bentuk nisan yang ada di sana beserta epigrafnya. Walaupun aku tidak paham arti dari tulisan yang ada di nisan, tetap saja kufotoi satu per satu. “Mungkin saat ini aku belum paham artinya, tapi siapa tahu nanti aku bisa memelajarinya,” gumamku saat itu. Ada nisan bertuliskan aksara jawa, ada nisan bertulis khat arab, ada juga nisan yang memiliki simbol surya wilwatikta. Medalion simbol Majaphit. Tentu yang dimakamkan ini bukan orang biasa. Satu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Caruban merupakan salah satu pelabuhan terpenting masa Kerajaan Majapahit.

Kini untuk ke sekian kalinya aku datang lagi di pantai ini. Setiap kali motor berbelok menuju pantai dan tampak gapura makam di kanan jalan aku segera mengirimkan fatihah kepada ahli kubur yang ada di sana. Hal inilah yang selalu ditanyakan Fina. “Bapak ngapain kok bicara sendiri?”

“Bapak berdoa mendoakan beliau-beliau yang ada di sana,” jawabku. Seolah paham, Fina pun diam. Tidak seperti biasanya ketika kujawab satu pertanyaan, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Motor mulai memasuki tambak garam yang sudah mengering. Kurang lebih lima menit kemudian sampailah kami di pintu masuk pantai. “Motor lima ribu, Mas,” ucap penjaga. Bayar karcis. Usai bayar, tampak di kanan jalan ada patung kepiting besar yang menyambut kami.

Girang hati Fina yang sudah tak sabar ingin main air laut. Terlebih ketika pohon cemara angin sudah mulai tampak. Tikar-tikar tampak tergelar dengan beberapa pengunjung yang sudah duduk dan menikmati angin laut.  Motor akhirnya kuhentikan di dekat anjungan.

Di sinilah dulu kami datang berdua. Datang lagi kemudian kami bertiga dengan Fina yang masih tiga tahun. Momen dimana baru pertama kali Fina kami ajak turun lalu tertawa-tawa karena merasa geli. Kakinya baru sekali itu menyentuh pasir pantai. Kini, kami datang lagi bertiga dengan Fina yang sudah menjelang enam tahun. Fina yang kala itu geli kakinya, kini sudah tumbuh menjadi wanita kecil yang suka berlarian ke sana ke mari. Wanita kecil yang selalu kritis dan suka komplain kalau ada yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Sangking seringnya kami datang ke sini, seolah Caruban menjadi bagian dari mozaik momen-momen kebersamaan kami.

dokpri


Usai turun dari motor, kami pun duduk di bawah pohon cemara angin. Duduk di atas tikar, paling depan dekat dengan garis pantai. Kopi hitam, air mineral, kelapa muda, gorengan satu porsi, lontong pecel, dan mi instan segera kami pesan. Menu wajib yang selalu kami pesan ketika datang ke sini. Terlebih lontong pecelnya yang khas. Pecel yang tidak seperti pecel di Blora. Kudapan yang dipakai di sini adalah kangkung, bukan daun ubi jalar.

Seperti biasa, usai makan barulah Fina bermain air. Seolah musisi dia selalu tak sabar untuk segera turun ke panggung dan bermain musik. Ia tampak sangat bergembira. Berlari ke sana kemari mencoba menangkapi bayi kepiting. Bosan dengan bayi kepiting, lari lagi mencari cangkang kerang. Bosan dengan cangkang kerang, dia kemudian berselonjoran di atas pasir menyambut ombak datang.

Sementara aku masih seperti biasa menjadi kiper. Sigap seolah melihat bola khawatir masuk ke gawang. Fina selalu dalam pengawasanku dari ombak yang datang dan pergi.  Sesekali aku melihat ke bawah. Mencari pecahan gerabah dan keramik kuno. Beberapa waktu yang lalu saat ke sini pernah kutemukan pecahan mulut kendi dan pecahan keramik bertulis huruf Jawa. Bukti bahwa pantai ini menjadi pantai yang cukup sibuk pada masanya.

Puas bermain ditmbah dengan perut yang juga sudah kenyang. Berangkatlah kami ke museum dan makam Kartini. Di atas motor, Fina melambai ke arah laut “Da…da… pantai besok aku ke sini lagi ya,” kata anak kecil ini.

Sepanjang perjalanan menuju museum, kurenungi lagi kisahku pertama ke Caruban dulu. Teringat kembali rasa penasaranku tentang makam pangeran itu. Rasa penasaran yang akhirnya kutanyakan kepada admin grup facebook via japri. Admin grup menjawab dengan setengah bertanya. “Coba Mas dipikir pakai logika. Apakah mungkin jasad Pangeran Sekar yang meninggal di tepi sungai kemudian dibawa ke Demak? Zaman sekarang saja kalau pakai ambulans sudah berapa jam? Belum lagi zaman dulu kalau pakai kuda. Berapa hari sampai Demak? Belum lagi dengan kondisi jasadnya, bukankah sudah membusuk kalau harus dibawa ke Demak? Bukankah lebih masuk akal kalau dimakamkan di sana?” Begitu jawabnya.

Kondisi kompleks makam memang tampak lebih rendah dengan tanah yang ada di sekitarnya. Hal ini kulihat langsung. Tampak ada beberapa kubangan air yang tidak habis setelah diguyur hujan. Admin grup juga menyampaikan bahwa kompleks makam dulunya adalah tepian sungai.

Memang sih di kompleks makam Sultan Fatah di Demak terdapat nisan Pangeran Sekar sebagaimana terdapat makam Pangeran Arya Panangsang putranya. Dengan melihat kisahnya yang kontroversial, tentu pihak pengelola makam Nyi Ageng Malokatidak akan memasang nama nisan Pangeran Sekar demi kemananan. Bagi mereka ada baiknya misteri biarlah misteri. Mungkin itu pertimbangannya. Motorku masih melaju menyusuri jalanan Rembang. Tak terasa panas semakin menusuk-nusuk. 

Selengkapnya.. - CARUBAN PENUH KENANGAN