Entah sudah
berapa kali aku singgah ke sini. Seingatku sudah lebih dari tujuh kali aku ke
sini dan tidak ada bosan-bosannya. Caruban adalah salah satu pantai yang
cenderung lebih tenang nan damai di Rembang. Pantai yang berada di Lasem
Rembang ini memang masih menjadi pilihan utama keluarga kecil kami. Kok bukan Karangjahe?
Tidak. Kami memang tidak suka berlibur ke tempat yang terlampau ramai.
 |
| dokpri |
Awal datang ke Pantai
Caruban adalah saat mengajak istri (saat itu masih calon) untuk berziarah. Bersumber
dari facebook, kudapatkan informasi bahwasanya makam Pangeran Sekar berada
di lingkungan Makam Nyi Ageng Maloka. Nyi Ageng Maloka sendiri merupakan putri
dari Kanjeng Sunan Ampel. Kakak dari Sunan Bonang. Melihat dari silsilah, Sang Nyi Ageng tidak
lain adalah nenek sang pangeran.
Rasa
penasaran mencari keberadaan makam sang pangeran semakin tinggi usai membaca
dan menggeluti kisah putra sang pangeran yaitu Pangeran Arya Penangsang,
penguasa Jipang Panolan. Local hero nya orang Blora lebih khusus orang
Cepu. Dalam cerita populer dikisahkan bahwa putra Pangeran Sekar, Arya Penangsang
diceritakan ketika dewasa menuntut haknya sebagai pewaris tahta sekaligus
hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.
Pangeran Surawiyata
ditemukan tewas di pinggir sungai dibunuh oleh orang tidak dikenal. Pangeran Surawiyata
kemudian lebih dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Sekar
yang tidak lain berati ‘bunga’ sementara seda berarti ‘wafat’, dan lepen
yang berarti ‘sungai/kali’ menjadi hal yang menarik untuk ditelisik. Hal ini
lah yang kemudian menyebabkan Sultan Trenggono naik tahta di Demak menggatikan Sultan
Yunus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang meninggal di Malaka.
Sebuah proses pergantian pemimpin yang sangat ditengarai berbau intrik politik
ini kemudian membuatku semakin tertarik memelajarinya lebih lanjut.
Kala itu sesampai
di Makam Nyi Ageng Maloka, aku langsung mencari keberadaan makam pangeran. Kucoba
menanyakan ini kepada penggembala kambing yang ada di sana. Si penggembala
menjawab tidak tahu. Ah sesuai dugaan. Saat itu si penggembala menyarankan kami
untuk menghubungi juru kunci makam. Ditunjuklah sebuah nomor telepon yang tertempel
di pintu masuk.
Segera kuhubungi
nomor tersebut. Kusampaikan bahwa saya ingin berziarah. Tak lama kemudian sang
juru kunci pun datang dengan motor tuanya. Usai memperkenalkan diri, pintu utama
makam kemudian dibuka. Kami pun diantarnya masuk. Dimintanya kami menunggu sejenak.
Saat sang juru kunci menyalakan lampu dan jet pump, kuedarkan mataku ke semua penjuru.
Tampak nisan-nisan tua berdiri menjulang. Beberapa nisan tampak menghijau
tertutup lumut. Sekira lima langkah dari kami berdiri, tampak sebuah cungkup berwarna
putih beratap genting, dan berdaun pintu kecil.
Kami akhirnya
menuju keran air untuk mengambil wudu. Usai berwudu coba kutanyakan keberadaan
makam Pangeran Sekar, jawaban mengecewakan kami dapatkan kembali. Sang juru
kunci mengatakan bahwa beliau tidak tahu. rasa kecewa yang tidak hanya sebatas
kecewa. Justru yang timbul padaku adalah perasaan curiga. Juru kunci ini benar-benar
tidak tahu apa sekadar pura-pura tidak tahu. Rasanya kalau sungguh-sungguh
tidak tahu kok aneh ya. Bagaimana tidak? dalam postingan grup facebook
disertai foto disebutkan bahwa setiap tahun diadakan haul di tempat ini. Bahkan
beberapa orang yang mengaku keturunan dan keluarga sang pangeran beberapa kali berkunjung
ke sini. Masa iya sih juru kunci sampai tidak tahu?
Akhirnya masih dengan perasaan curiga itu kami
dipandu juru kunci masuk ke cungkup makam Nyi Ageng Maloka. Pak juru kunci menawarkan
kepadaku untuk membaca tahlil sendiri atau beliau yang memimpin? Dengan pelan kuminta
agar bapak juru kunci yang berkenan memimpin tahlil dan doa.
Suasana menjadi
semakin khusyuk ketika lantunan ayat-ayat dibacakan Pak Jurkun. Pada keheningan
itu dalam hati kusampaikan bahwa kami anak cucu beliau datang untuk
bersilaturahmi. Sementara itu juga kuselipkan doa sekaligus izin minta restu
kalau memang wanita yang ada di sebelahku ini nantinya jodohku, hendaknya kami
dibantu agar lancar segalanya.
Suasana hening,
teduh, dan sejuk tetap terasa apalagi kompleks makam dikelilingi pohon besar. Suara
lantunan doa, suara ranting terhempas angin, terdengar bersahut-sahutan dengan suara
cicak yang terus saja menginterupsi. Keheningan ini menjadikan kami kian luruh.
Aku sendiri tak tahu doa apa saja yang dipanjatkan wanita di sebelahku ini. Yang
kutahu tangan kami tak lagi menengadah ketika Pak Jurkun mengakhiri doanya. Usai
berdoa, kami kemudian keluar dari cungkup makam.
Aku lalu meminta
wanita yang tadi ada di sebelahku ini untuk mendekat ke sebuah barisan nisan
tua. Barisan nisan yang terletak di sebelah timur cungkup makam Nyi Ageng. Di tengah
barisan nisan ini aku kemudian duduk bersimpuh. Sebuah nisan tanpa nama. Nisan yang
nampaknya sengaja dibiarkan menjadi misteri. Persis dari bentuk dan letaknya, inilah
makam sang pangeran yang kucari-cari. Untuk memastikan kubuka HP dan segera
kucek foto dalam postingan grup di facebook. Tidak salah lagi. Akhirnya kututup
mataku dan kupanjatkan doa. Usai berdoa, kuminta wanita yang sedari tadi
mengamatiku itu memfoto. Maksudnya buat dokumentasi pribadiku. Sayang fotonya sekarang
sudah hilang.
Usai berdoa, aku
kemudian melakukan kebiasaanku untuk berkeliling mengamati hal-hal yang ada di
sekitaran lokasi yang baru saja kudatangi. Berharap ketemu sesuatu yang
menarik. Tak lupa kufoto juga bentuk-bentuk nisan yang ada di sana beserta epigrafnya.
Walaupun aku tidak paham arti dari tulisan yang ada di nisan, tetap saja
kufotoi satu per satu. “Mungkin saat ini aku belum paham artinya, tapi siapa
tahu nanti aku bisa memelajarinya,” gumamku saat itu. Ada nisan bertuliskan
aksara jawa, ada nisan bertulis khat arab, ada juga nisan yang memiliki simbol
surya wilwatikta. Medalion simbol Majaphit. Tentu yang dimakamkan ini bukan
orang biasa. Satu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Caruban merupakan salah
satu pelabuhan terpenting masa Kerajaan Majapahit.
Kini untuk ke
sekian kalinya aku datang lagi di pantai ini. Setiap kali motor berbelok menuju
pantai dan tampak gapura makam di kanan jalan aku segera mengirimkan fatihah
kepada ahli kubur yang ada di sana. Hal inilah yang selalu ditanyakan Fina. “Bapak
ngapain kok bicara sendiri?”
“Bapak berdoa mendoakan beliau-beliau
yang ada di sana,” jawabku. Seolah paham, Fina pun diam. Tidak seperti biasanya
ketika kujawab satu pertanyaan, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya.
Motor mulai memasuki
tambak garam yang sudah mengering. Kurang lebih lima menit kemudian sampailah
kami di pintu masuk pantai. “Motor lima ribu, Mas,” ucap penjaga. Bayar karcis.
Usai bayar, tampak di kanan jalan ada patung kepiting besar yang menyambut
kami.
Girang hati Fina
yang sudah tak sabar ingin main air laut. Terlebih ketika pohon cemara angin
sudah mulai tampak. Tikar-tikar tampak tergelar dengan beberapa pengunjung yang
sudah duduk dan menikmati angin laut. Motor
akhirnya kuhentikan di dekat anjungan.
Di sinilah dulu
kami datang berdua. Datang lagi kemudian kami bertiga dengan Fina yang masih
tiga tahun. Momen dimana baru pertama kali Fina kami ajak turun lalu tertawa-tawa
karena merasa geli. Kakinya baru sekali itu menyentuh pasir pantai. Kini, kami
datang lagi bertiga dengan Fina yang sudah menjelang enam tahun. Fina yang kala
itu geli kakinya, kini sudah tumbuh menjadi wanita kecil yang suka berlarian ke
sana ke mari. Wanita kecil yang selalu kritis dan suka komplain kalau ada yang tidak
sesuai dengan isi hatinya. Sangking seringnya kami datang ke sini, seolah Caruban
menjadi bagian dari mozaik momen-momen kebersamaan kami.
 |
| dokpri |
Usai turun dari
motor, kami pun duduk di bawah pohon cemara angin. Duduk di atas tikar, paling
depan dekat dengan garis pantai. Kopi hitam, air mineral, kelapa muda, gorengan
satu porsi, lontong pecel, dan mi instan segera kami pesan. Menu wajib yang
selalu kami pesan ketika datang ke sini. Terlebih lontong pecelnya yang khas. Pecel
yang tidak seperti pecel di Blora. Kudapan yang dipakai di sini adalah kangkung,
bukan daun ubi jalar.
Seperti biasa,
usai makan barulah Fina bermain air. Seolah musisi dia selalu tak sabar untuk segera
turun ke panggung dan bermain musik. Ia tampak sangat bergembira. Berlari ke
sana kemari mencoba menangkapi bayi kepiting. Bosan dengan bayi kepiting, lari
lagi mencari cangkang kerang. Bosan dengan cangkang kerang, dia kemudian
berselonjoran di atas pasir menyambut ombak datang.
Sementara aku
masih seperti biasa menjadi kiper. Sigap seolah melihat bola khawatir masuk ke
gawang. Fina selalu dalam pengawasanku dari ombak yang datang dan pergi. Sesekali aku melihat ke bawah. Mencari pecahan
gerabah dan keramik kuno. Beberapa waktu yang lalu saat ke sini pernah
kutemukan pecahan mulut kendi dan pecahan keramik bertulis huruf Jawa. Bukti bahwa
pantai ini menjadi pantai yang cukup sibuk pada masanya.
Puas bermain
ditmbah dengan perut yang juga sudah kenyang. Berangkatlah kami ke museum dan
makam Kartini. Di atas motor, Fina melambai ke arah laut “Da…da… pantai besok aku
ke sini lagi ya,” kata anak kecil ini.
Sepanjang perjalanan
menuju museum, kurenungi lagi kisahku pertama ke Caruban dulu. Teringat kembali
rasa penasaranku tentang makam pangeran itu. Rasa penasaran yang akhirnya kutanyakan
kepada admin grup facebook via japri. Admin grup menjawab dengan setengah
bertanya. “Coba Mas dipikir pakai logika. Apakah mungkin jasad Pangeran Sekar
yang meninggal di tepi sungai kemudian dibawa ke Demak? Zaman sekarang saja
kalau pakai ambulans sudah berapa jam? Belum lagi zaman dulu kalau pakai kuda. Berapa
hari sampai Demak? Belum lagi dengan kondisi jasadnya, bukankah sudah membusuk
kalau harus dibawa ke Demak? Bukankah lebih masuk akal kalau dimakamkan di sana?”
Begitu jawabnya.
Kondisi kompleks
makam memang tampak lebih rendah dengan tanah yang ada di sekitarnya. Hal ini kulihat
langsung. Tampak ada beberapa kubangan air yang tidak habis setelah diguyur
hujan. Admin grup juga menyampaikan bahwa kompleks makam dulunya adalah tepian
sungai.
Memang sih di
kompleks makam Sultan Fatah di Demak terdapat nisan Pangeran Sekar sebagaimana
terdapat makam Pangeran Arya Panangsang putranya. Dengan melihat kisahnya yang kontroversial,
tentu pihak pengelola makam Nyi Ageng Malokatidak akan memasang nama nisan Pangeran
Sekar demi kemananan. Bagi mereka ada baiknya misteri biarlah misteri. Mungkin
itu pertimbangannya. Motorku masih melaju menyusuri jalanan Rembang. Tak terasa
panas semakin menusuk-nusuk.