*Abdul Haris Nur H.
“Persikaba akan selalu ada di hati saya”
![]() |
| Dafit Setiawan diantara pemain Persab Brebes |
Menjadi pemain
bola adalah impian jutaan orang, termasuk bagi Dafit Setiawan. Lelaki jangkung asal
Tuban ini bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional layaknya Evan
Dimas Darmono, gelandang timnas Indonesia. Bermula dari lapangan ke lapangan di
Montong, Tuban, ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi di Persikaba
Blora 2019 lalu. Tahap demi tahap seleksi diikutinya dengan sabar. Perjalanan
Tuban-Blora pun rela ditempuh demi mengejar cita-citanya. Walhasil kesabaran
Dafit pun membuahkan hasil. Ia pun akhirnya dinyatakan lolos seleksi dan
tergabung dalam tim Persikaba.
“Seingat saya,
waktu itu bertepatan dengan bulan puasa, Mas. Awalnya saya dapat info dari instagram
bahwa Persikaba membuka seleksi. Dari informasi itulah saya lalu berangkat
bersama teman dari Tuban. Kurang lebih pukul 11.00 dari rumah, sekira pukul
13.00 saya sampai di Kridosono. Saat itu saya tidak tahu kalau bisa potong
jalur, Mas. Jadi saya muter lewat Cepu,” ucap Dafit menceritakan
kisahnya.
Lelaki asal
Tuban ini juga menuturkan bahwa pembukaan seleksi diikuti oleh ratusan pemain
baik dari Blora maupun dari luar Blora. Beragam uji coba pun diselenggarakan
agar pemain mampu mengeluarkan bakatnya. Dalam uji coba-uji coba ini, Dafit mengambil
posisi sebagai gelandang nomor 6 sebagaimana pemain yang selalu diidolakannya.
“Saya akhirnya bisa
merasakan bagaimana rasanya jadi pemain bola, Mas. Bangun pagi langsung
berangkat latihan. Setelah itu istirahat, siangnya latihan lagi. Saya masih
ingat kali pertama saya dinyanyikan anthem, saya terharu dan menangis. Hal
yang dulu sangat saya cita-citakan akhirnya bisa terwujud. Apalagi ketika debut
melawan PPSM Sakti Magelang. Skor kemenangan 2-1 di kandang menambah
kebahagiaan saya kala itu. Kebahagiaan yang semakin bertambah ketika saya akhirnya
bisa merasakan bisa tidur di hotel kala pertandingan away. Wah Mas, bertanding
rasanya kayak liburan he he he,” kenangnya sambil tertawa.
![]() |
| laga away melawan Persab Brebes |
Dua hal inilah
yang sering menjadi batu ujian bagi sebuah klub sepak bola, tidak terkecuali bagi
Persikaba. Kekompakan dan kebersamaan tim pun diuji ketika klub berlogo kepada
kuda ini mengalami krisis keuangan. Dafit menuturkan bahwa ia dan teman
temannya juga pernah mengalami hal yang cukup pahit ketika membela Persikaba. “Waktu
itu para pemain sempat tidak dapat jatah makan dari manajemen. Akhirnya teman-teman beli makan sendiri-sendiri
di warung, Mas. Malahan pernah juga dibelikan makan malam oleh kitman pakai
uang pribadi,” tambahnya.
Terpaan krisis ekonomi
klub semakin diperparah dengan telatnya gaji yang tak kunjung diberikan
manajemen kepada para pemain. Hal ini menyebabkan kondisi mental para pemain
berasa dikikis habis. Dampaknya adalah beberapa pemain memilih mogok tidak mau latihan
bahkan kabur dari mess untuk sekadar numpang makan ke rumah para pemain asli
Blora.
Janji dari manajemen
masih sebatas janji. Gaji tak juga kunjung dibayarkan. Hanya motivasi dan suntikan
semangat dari pelatihlah yang membuat para pemain bertahan dan terus berjuang. “Bahkan
hanya buat beli bensin saja kami tidak sanggup, Mas. Kami akhirnya berangkat latihan
dengan jalan kaki,” imbuh Dafit. Kisah tragis ini akhirnya diberitakan oleh
media-media lokal setempat. 2020 setelah itu, akhirnya pihak
manajemen memberikan hak para pemain.
Persikaba nyatanya adalah klub yang membuat Dafit terus belajar mengasah kemampuannya. Dari sekian banyak pertandingan yang dilakoninya, match lawan Persab Brebes adalah pertandingan yang akan selalu dikenangnya. “Saya masih ingat, Mas. Dua minggu sebelum lawan Persab Brebes, anak-anak sempat mogok latihan tapi saya berusaha tetap bersemangat karena itu adalah kesempatan bagi saya untuk bisa bermain. Akhirnya pas lawan Persab Brebes, saya dimainkan full 90 menit. Pertandingan berjalan sangat dramatis, Mas. Kita menang 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Baseri tapi kita dipaksa bermain dengan 10 orang karena Fajar kena kartu merah. Laga yang bagi saya sendiri tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup. Itu adalah match pertama saya di Persikaba dengan full time tanpa diganti tapi juga match terakhir karena kemenangan 1-0 tidak membuat Persikaba lolos babak delapan besar. Ceria, tangis, kecewa tumpah jadi satu di hadapan suporter lawan, Mas. Sampai kapanpun Persikaba Blora akan selalu ada di hati saya,” kenang Dafit.
Siapa sangka musim
2019 itu juga menjadi akhir dari Stadion Kridosono, kandang Persikaba. Pasalnya
tak lama setelah pandemi covid datang, dinding stadion dibongkar. Stadion
Kridosono pun berubah fungsi menjadi lapangan terbuka. Kandang kuda kini
bergeser ke timur, tepatnya di Stadion Krida Loka, Jepon. Enam tahun telah berlalu.
Setelah sempat melanglang buana ke berbagai klub, kini Dafit bergabung di Bumi
Wali, Tuban, tanah kelahirannya sendiri. Ilmu yang didapat dari sepak bola ini ia
amalkan dengan mengajar olahraga di sebuah sekolah di Tuban.
(Wawancara pada Kamis,
18 Desember 2025)



0 komentar:
Posting Komentar