Kamis, 18 Desember 2025

FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

*Abdul Haris Nur H.

Saya di Persikaba itu seleksi normal dari nol, Mas. Tidak ada teman, saudara, atau siapapun. Saya ingat waktu itu saya hanya bawa uang dari rumah Rp 50.000,00.

Fajar berlari berusaha menghalau salah satu pemain Persab Brebes


Langit mendung menyiratkan hujan akan segera turun. Suara guntur sambut menyambut kian bergemuruh. Jalanan Blora pun nampak semakin redup. Dalam nuansa keredupan ini banyak orang yang kemudian bergegas dan terburu-buru. Ada yang berlarian masuk rumah, ada yang panik mengamankan cucian, juga ada yang sibuk memberesi dagangan. Blora seolah menjadi supersibuk.

Dari sekian banyak orang yang tergesa-gesa itu justru nampak beberapa orang malah keluar rumah menuju lapangan. Benar sekali, mereka adalah para pemain sepak bola dengan penonton setianya. Para pemain Persikaba Blora. Kali ini Persikaba akan mengadakan uji coba melawan klub lokal Pontura FC di Lapangan Alugoro 410 Blora.

Di pinggir lapangan, tampak beberapa pemain Persikaba melakukan pemanasan. Tim yang belum lama terbentuk ini juga ikutan sibuk. Pelatih fisik, Andri Mulyono Jati terlihat memberi aba-aba mengarahkan pemain. Pelatih utama, Gusnul Yakin juga sibuk menata papan strategi. Musim 2025-2026 ini Persikaba dihuni oleh para pemain muda. Sebuah musim yang mengingatkan kita kembali pada 2019 lalu. Masa dimana Persikaba mengikuti kompetisi liga 3 dengan skuad penuh dengan pemain muda. Pemain dengan kualitas yang merata di bawah bimbingan Coach Tommy Parsep.




Dari tengah lapangan terdengar peluit dibunyikan, pertanda kickoff telah dimulai. Bola pun bergulir dari kaki ke kaki di lapangan yang becek. Aliran bola deras mengalir ke kiri dan kanan lapangan. Jenderal lapangan tengah berteriak-teriak mencari teman dan memberikan umpan. Entah mengapa melihat seorang gelandang ini ingatan mendadak kembali ke masa 2019 lalu, ketika gelandang Persikaba dengan postur mungil tapi trengginas berlari meliuk-liuk mencari ruang. Gelandang mungil ini bernama Akhmad Fajarudin.

Musim 2019 lalu tribun penonton selalu riuh ketika pemain dengan nomor punggung 12 ini menggiring bola mencoba menggocek lawan. Posturnya yang kecil membuat jersey yang dikenakan nampak kedodoran selalu mengundang gelak tawa penonton. Tapi jangan salah, justru dengan ini seorang Fajar mudah ditandai. Lelaki kelahiran Jepara ini nyatanya selalu berhasil masuk lini menyulitkan pemain lawan.

“Saya di Persikaba itu ikut seleksi normal, Mas. 2018 sebenarnya saya sudah ada tim di Persiwi Wonogiri. Karena tujuh bulan persiapan tak kunjung ada kejelasan, akhirnya 2019 saya ikut seleksi di Persikaba. Ikut seleksi normal saya, Mas. Di Blora itu saya mulai dari nol. Tidak ada teman. Tidak ada saudara. Bahkan waktu itu saya ingat, saya hanya bawa uang dari rumah lima puluh ribu buat beli bensin,” tutur Fajar ketika diwawancarai.

 

Persikaba adalah klub yang menjadi tumpuan harapan bagi Fajar. Tak ayal, gelandang mungil yang suka menguncir rambut ini rela menempuh perjalanan Jepara-Blora selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya pihak manajemen menyediakan mess.

“Waktu itu manajemen masih belum rapi lho, Mas. Saya dan teman-teman dari Jepara sampai rela patungan untuk biaya makan. Malahan pernah makan sehari dua kali. Sebulan setelah itu terbentuklah tim Persikaba itu, Mas. Dari sana juga aku kenal Coach Tommy Parsep,” tambah Fajar.

Selain Fajar, ada empat orang dari Jepara yang juga datang ke Blora. Total ada lima orang Jepara yang ikut seleksi di Persikaba kala itu. Dari lima orang, tiga orang dinyatakan lolos seleksi. Mereka adalah Adhan Fahreza (libero), Febrianto (striker), dan Akhmad Fajarudin yang berposisi sebagai gelandang.



“Di Persikaba ini semua saya mulai dari nol, Mas. Jadi semua kemampuan yang saya miliki harus saya kerahkan. Semangat juang tinggi serta rasa persaudaraan yang melebihi keluarga yang membuat kami selalu tampil all out. Jadi tidak ada alasan untuk bermain jelek. Alhamdulilah saya selalu dipercaya pelatih,” imbuhnya.

Titik gerimis mulai turun di lapangan. Duel seru lini tengah kini bergeser ke sayap. Para pemain Persikaba nampak selalu berusaha mencari celah melalui wing kanan dan wing kiri dengan sentuhan bola cepatnya. Beberapa kali hakim garis mengangkat bendera offside. Tak lama berselang gol pertama tercipta. Usai gol pertama kemudian disusul dengan gol kedua. Keran gol persikaba terbuka lebar. Gol demi gol pun akhirnya tercipta termasuk gol yang dicetak melalui titik putih. Pola permainan dan kompaknya para pemain menjaga wilayahnya tentu membawa kita pada kenangan Persikaba 2019 lalu.

Tak terasa enam tahun sudah berlalu. Lelaki yang selalu dielu-elukan di lapangan ini pun telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Harapan Fajar tentu sama dengan harapan pencinta sepak bola Blora pada umumnya agar Persikaba lebih terus berprestasi lebih baik lagi. Tak terasa gerimis pun menghilang berganti dengan senja yang segera datang. Dari tengah lapangan, peluit panjang berbunyi pertanda pertandingan telah usai. Skor kemenangan 5-0 untuk Persikaba. Kemenangan yang menjadi awal yang baik sebelum pertandingan perdana kompetisi liga 4 Jawa Tengah dimulai.

 

(Wawancara dengan Akhmad Fajarudin, Minggu 14 Desember 2025)

0 komentar:

Posting Komentar