*Abdul Haris Nur H.
Saya di Persikaba itu seleksi
normal dari nol, Mas. Tidak ada teman, saudara, atau siapapun. Saya ingat waktu
itu saya hanya bawa uang dari rumah Rp 50.000,00.
| Fajar berlari berusaha menghalau salah satu pemain Persab Brebes |
Langit mendung
menyiratkan hujan akan segera turun. Suara guntur sambut menyambut kian bergemuruh.
Jalanan Blora pun nampak semakin redup. Dalam nuansa keredupan ini banyak orang
yang kemudian bergegas dan terburu-buru. Ada yang berlarian masuk rumah, ada yang
panik mengamankan cucian, juga ada yang sibuk memberesi dagangan. Blora seolah
menjadi supersibuk.
Dari sekian
banyak orang yang tergesa-gesa itu justru nampak beberapa orang malah keluar
rumah menuju lapangan. Benar sekali, mereka adalah para pemain sepak bola dengan
penonton setianya. Para pemain Persikaba Blora. Kali ini Persikaba akan
mengadakan uji coba melawan klub lokal Pontura FC di Lapangan Alugoro 410
Blora.
Di pinggir lapangan,
tampak beberapa pemain Persikaba melakukan pemanasan. Tim yang belum lama
terbentuk ini juga ikutan sibuk. Pelatih fisik, Andri Mulyono Jati terlihat
memberi aba-aba mengarahkan pemain. Pelatih utama, Gusnul Yakin juga sibuk
menata papan strategi. Musim 2025-2026 ini Persikaba dihuni oleh para pemain
muda. Sebuah musim yang mengingatkan kita kembali pada 2019 lalu. Masa dimana
Persikaba mengikuti kompetisi liga 3 dengan skuad penuh dengan pemain muda.
Pemain dengan kualitas yang merata di bawah bimbingan Coach Tommy Parsep.
![]() |
Dari tengah
lapangan terdengar peluit dibunyikan, pertanda kickoff telah dimulai. Bola pun
bergulir dari kaki ke kaki di lapangan yang becek. Aliran bola deras mengalir
ke kiri dan kanan lapangan. Jenderal lapangan tengah berteriak-teriak mencari
teman dan memberikan umpan. Entah mengapa melihat seorang gelandang ini ingatan
mendadak kembali ke masa 2019 lalu, ketika gelandang Persikaba dengan postur mungil
tapi trengginas berlari meliuk-liuk mencari ruang. Gelandang mungil ini bernama
Akhmad Fajarudin.
Musim 2019 lalu
tribun penonton selalu riuh ketika pemain dengan nomor punggung 12 ini menggiring
bola mencoba menggocek lawan. Posturnya yang kecil membuat jersey yang
dikenakan nampak kedodoran selalu mengundang gelak tawa penonton. Tapi jangan
salah, justru dengan ini seorang Fajar mudah ditandai. Lelaki kelahiran Jepara
ini nyatanya selalu berhasil masuk lini menyulitkan pemain lawan.
“Saya di
Persikaba itu ikut seleksi normal, Mas. 2018 sebenarnya saya sudah ada tim di
Persiwi Wonogiri. Karena tujuh bulan persiapan tak kunjung ada kejelasan, akhirnya
2019 saya ikut seleksi di Persikaba. Ikut seleksi normal saya, Mas. Di Blora itu
saya mulai dari nol. Tidak ada teman. Tidak ada saudara. Bahkan waktu itu saya
ingat, saya hanya bawa uang dari rumah lima puluh ribu buat beli bensin,” tutur
Fajar ketika diwawancarai.
Persikaba adalah
klub yang menjadi tumpuan harapan bagi Fajar. Tak ayal, gelandang mungil yang
suka menguncir rambut ini rela menempuh perjalanan Jepara-Blora selama lebih
dari seminggu sebelum akhirnya pihak manajemen menyediakan mess.
“Waktu itu
manajemen masih belum rapi lho, Mas. Saya dan teman-teman dari Jepara sampai rela
patungan untuk biaya makan. Malahan pernah makan sehari dua kali. Sebulan
setelah itu terbentuklah tim Persikaba itu, Mas. Dari sana juga aku kenal Coach
Tommy Parsep,” tambah Fajar.
Selain Fajar,
ada empat orang dari Jepara yang juga datang ke Blora. Total ada lima orang
Jepara yang ikut seleksi di Persikaba kala itu. Dari lima orang, tiga orang
dinyatakan lolos seleksi. Mereka adalah Adhan Fahreza (libero), Febrianto (striker),
dan Akhmad Fajarudin yang berposisi sebagai gelandang.
“Di Persikaba ini
semua saya mulai dari nol, Mas. Jadi semua kemampuan yang saya miliki harus
saya kerahkan. Semangat juang tinggi serta rasa persaudaraan yang melebihi
keluarga yang membuat kami selalu tampil all out. Jadi tidak ada alasan untuk bermain
jelek. Alhamdulilah saya selalu dipercaya pelatih,” imbuhnya.
Titik gerimis
mulai turun di lapangan. Duel seru lini tengah kini bergeser ke sayap. Para
pemain Persikaba nampak selalu berusaha mencari celah melalui wing kanan dan
wing kiri dengan sentuhan bola cepatnya. Beberapa kali hakim garis mengangkat
bendera offside. Tak lama berselang gol pertama tercipta. Usai gol
pertama kemudian disusul dengan gol kedua. Keran gol persikaba terbuka lebar. Gol
demi gol pun akhirnya tercipta termasuk gol yang dicetak melalui titik putih.
Pola permainan dan kompaknya para pemain menjaga wilayahnya tentu membawa kita
pada kenangan Persikaba 2019 lalu.
Tak terasa enam
tahun sudah berlalu. Lelaki yang selalu dielu-elukan di lapangan ini pun telah
menikah dan dikaruniai seorang anak. Harapan Fajar tentu sama dengan harapan
pencinta sepak bola Blora pada umumnya agar Persikaba lebih terus berprestasi lebih baik lagi. Tak terasa gerimis pun menghilang berganti dengan senja yang
segera datang. Dari tengah lapangan, peluit panjang berbunyi pertanda
pertandingan telah usai. Skor kemenangan 5-0 untuk Persikaba. Kemenangan yang
menjadi awal yang baik sebelum pertandingan perdana kompetisi liga 4 Jawa Tengah
dimulai.
(Wawancara dengan
Akhmad Fajarudin, Minggu 14 Desember 2025)


0 komentar:
Posting Komentar