Suara knalpot itu merentet sepanjang jalan. Knalpot khas motor 2 tak itu memenuhi jalanan dengan asap putihnya. Jalanan itu adalah jalanan yang selalu kulalui ketika matahari sudah mulai menenggelamkan wajahnya. Begitulah suasana temaram kala itu. Saat dimana Pincuk, saudaraku menjemputku untuk kemudian kami berangkat ngaji bersama di Musala Al Masyhuriyah. Musala yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumahku ini berdempetan dengan madrasah yang namanya juga sama. Al Masyhuriah. Nama yang juga doa agar kelak musala dan madrasah ini masyhur dengan kiprah syiar islamnya.
![]() |
| Yamaha L2Super merahku |
Hingga sampailah
giliranku. Aku maju membawa mushafku. Duduk bersimpuh. Mushaf kuletakkan di dampar
(meja kecil). Di hadapan Mister, begitu teman-teman menjuluki guruku ini, aku
kemudian menekuri ayat-demi ayat dengan sebatang lidi di tanganku. Beberapa
kali Mister membenarkan bacaan tajwidku. Selesai mengaji masih dengan Yamaha L2
Supernya, Pincuk mengantarku pulang. Besoknya ia datang dengan sepeda
jengkinya. Kami bersepeda bersama menuju musala.
Mister adalah
guruku ngaji sekaligus guruku di madrasah yang duh galaknya minta ampun. Saat
kelas sedang ramai-ramainya karena guru belum datang tiba-tiba cess. Hening. Semua
berubah karena terdengar seruan, “Mister datang!” setelah itu terdengar suara
seretan sandal kayu diiringi suara batuk sang Mister yang sudah sangat kami
hafal. Kami berlarian duduk di kursi masing-masing.
Mister mengajar
kami dengan metode yang masih konvensional. Ia menulis arab di papan lalu kami
menyalinnya. Kami juga beberapa kali diminta untuk membaca kitab kuning, kitab
bertulis arab pegon tanpa harakat. Saat itu aku ingat. Mister menunjukku. Aku pun
seketika panas dingin. Dengan bantuan bisikan Minan, teman sebangku yang juga
anak seorang kiai, aku mulai membaca kitab itu secara terbata-bata. Untungnya,
semesta menyelamatkanku. Mister tertidur di mejanya. “Merdeka!” batinku. Senyum
mengembang di wajahku. Bacaanku berhenti berganti dengan obrolan bersama
teman-teman. Tiba-tiba Mister menggeliat. Senyum kemenangan disertai obrolan
itu segera berubah menjadi kekhawatiran. Aku bersuara sebisaku. Segera kubaca kata
terakhir dari kitab itu. Untungnya Mister masih pulas. Temanku, Mbodon kemudian
melemparkan pulpennya tinggi ke atas melalui kepala. Takkk! Suara keras pulpen
membuatnya bangun. Kami tak henti-hentinya menahan tawa. “Sudah selesai?”
“Sudaaah,” jawab teman-teman. “Ya sudah baca Wal Asri,” sahutnya sambil
mengucek mata. Yess! Akhirnya plong. Kami pun pulang.
![]() |
| Berkeliling Blora mengendarai Mbah L2Super |
Metode konvensional dengan tambahan bentakan dipakainya juga saat mengajariku membaca Alquran. Tak jarang aku dan Pincuk terkena dampratnya. Apa yang bisa kami lakukan saat terkena marah selain duduk menatap mushaf, lalu ganti menatap meja, mulut kami bungkam. Diam tanpa mengeluarkan suara. Metode ini juga yang menyebabkan kami beberapa kali kabur ketika perpindahan jam.
Ketika jam
Alquran selesai, kami pun beristrahat dengan nongkrong ke rumah Mbodon sembari
menunggu azan Isya. Rumahnya bersebelahan dengan musala, jadi cukup safety untuk kami beristirahat. Usai salat Isya
barulah jam mengaji berlanjut kembali. Ngaji jam kedua adalah mengaji kitab
taqrib. Saat peralihan jam itulah kami sering melipir. Apalagi kalau azan Isya
sudah berkumandang. Kabur pelan-pelan. Kadang main ke rumah teman. Kadang juga
mampir ke pasar malam. Pukul 21.00 barulah kami pulang. Bapakku yang galaknya
melebihi Mister pun tidak akan curiga. Hehehe. Begitu terus.
Sampai tibalah
saat itu. Bapak memanggilku. Didudukkannya aku di kursi lalu dimarahi
habis-habisan karena tahu kami suka kabur. Lagu lama kembali terulang. Duduk diam
menekuri lantai plester. Lantai yang sudah terkelupas hingga tampak batu bata
berdesak-desakan dengan tanah. Sepertinya Mister mengadukan kami. Malamnya, suara
motor L2 super itu mendekat kembali. Pincuk menjemputku. Diajarinya aku
mengendarai motor Yamaha ini. Sekali engkol starter kuinjak, suara berbunyi.
Bahagianya hatiku. Ketika persneling masuk satu. Motor mati. Diajarinya aku
berkali-kali. Masih saja tak bisa. Aku pun menyerah. Dia ambil kemudi, aku
duduk di belakangnya penuh dengan ratapan. Bagaimana tidak? Rasanya seluruh
peluru bapak seperti menempel di badanku. Obrolan yang kemarin mengalir di atas
motor, kini sunyi. Sementara kulihat, di kantong terselip amplop berwarna putih
berisi uang. Aku diminta Bapak menyerahkan amplop itu kepada Mister. Sepertinya
hanya aku yang memberi amplop kepada Mister. Itu aku tahu belakangan ketika
teman-teman menanyaiku.
Tiba giliranku
mengaji. Aku pun maju seperti biasa. Ayat demi ayat kulantunkan “Hemmm!”
dehaman Mister menyela layaknya dentuman bom. Kucari letak kesalahanku. Kubaca
ulang. “Hemm!” Salah lagi. Kucoba baca kembali. “Hemm!” masih saja salah.
Kucoba lagi. Kali ini tidak hanya “Hemm” saja tapi disertai hardikan keras.
“Salah diingatkan, masih saja diulangi!” bom molotov itu meledak tepat di
samping telingaku disertai cipratan air ludah. Aku yang kelagepan masih saja
tak menemukan bagian mana yang salah. Diam seribu bahasa. Bom yang baru saja
meledak itu nyatanya menggoyahkan tembok pertahananku. Suaraku mulai nggleyor.
Air mataku menitik. Masih saja terdiam. Tak berani aku memandang wajah Mister. Saat
itu aku mulai menyesal karena sering kabur. Dengan dongkol, Mister kemudian
memintaku menyudahi mengaji.
Tampak amplop
putih itu masih bersarang di kantong kemeja batikku. Duh! Berat rasanya
merangkai kata. Kuberanikan diri. Usai mengucap sodaqallahulazim,
kupaksa tanganku yang masih gemetaran untuk menarik secarik amplop itu. Dari
sekian banyak diksi hanya “Ini titipan dari Bapak” yang keluar. “Ya. Terima
kasih,” singkat saja balasan Mister. Sambil mengelap pipi yang masih basah, aku
pun undur. Apakah ini sogokan? Tanyaku pada saat itu.
Suatu ketika karena
penasaran, kutanyakan apa isi amplop itu kepada Bapak. “Bisyaroh,” kata Bapak. Aku
semakin tidak paham. Bisyaroh? Apa maksudnya? “Bisyaroh itu honor kepada guru. Guru
mengaji itu tidak minta bayaran. Murni ikhlas lillahi taala. Tapi seharusnya
kita yang tahu diri,” jawab Bapak. Oh honor. Baru kusadari bahwa amplop itu
bukanlah sogokan kepada Mister. Bapakku ini, betapa sayangnya aku padanya walau
habis dimarahi habis-habisan.
Sekarang aku
sudah punya istri dan anak. Ketika sedang duduk di depan rumah, melintaslah Mas
Irul. Kakak kandung Pincuk ini lewat menaiki L2Super. Ah motor itu! Motor yang
dulu sempat membuatku putus asa mengendarainya kini melintas bebas di depan
mata. Kelebat-kelebat ingatan tentang masa-masa dulu muncul kembali. Hingga
akhirnya terbersit pikiran berapa ya harga motor itu sekarang? Ketika sedang
duduk santai bersama istriku kusampaikan “Besok kalau punya rezeki, boleh ya
aku beli L2Super. Aku tak mau kayak mereka-mereka itu yang baru lolos ASN
mendadak beli motor N-Max, PCX, maupun motor apapun keluaran baru. Bismillah walaupun
belum ASN nanti kalau punya rezeki aku ingin sekali membeli L2Super,” ucapku
kepada istri sambil bercerita kenangan masa kecil dulu.
Tepatnya sehari setelah hari buruh, Om Pandi, penjual jaket yang kiosnya sering kudatangi membuat story WA video motor tua dengan keterangan Dijual motor L2Super minat pantau langsung. L2 Super warna merah, sama persis dengan motor Pincuk! Setengah iseng, kutanyakan harga dan kondisinya. Dia bilang, “Kondisi jaminan Mas. Mesinnya saya berani garansi! Mintanya 3 juta. Tadi sudah ditawar tantara 2,8. STNK dan BPKB ada,” balasnya. Pertanyaan yang awalnya iseng ini mendadak membuatku panik. Harganya lebih mahal dari harga HP keluaran paling baru. Kusampaikan ini kepada istriku. Aku bingung. Istriku juga bingung antara mengiyakan atau melarang. Kusampaikan ketertarikanku ini kepada Om Pandi. Komunikasi WA masih berlangsung. Aku bergegas ke rumah Komodo, teman semasa kecil yang sekarang sudah buka bengkel sendiri. Kuajak dia menuju rumah Om Pandi.
Sejenak Singgah Menikmati Kopi Santan dan Ketan Bersama L2 Super
Sekira 30 menit,
sampailah aku ke rumah Om Pandi. Ngobrol sana-sini sembari mengamati Komodo yang
unjuk gigi. Dicek satu per satu semua bagian. Dinaikinya L2 Super ini dibawa
menjauh. Bagian demi bagian diteliti termasuk STNK dan BPKBnya. Nah ketemu. Minusnya
tangki motor rembes setelah diisi bensin. Selain tangki, semua normal.
Kelistrikan juga on. Setelah diskusi dengan Komodo, negosiasi pun mulai. Harga
motor yang tadinya 3 juta akhirnya deal di 2,8 karena tangka yang rembes.
L2 super kami
bawa pulang. Komodo yang mengendarai motor tua ini. “Bro, video ya. video!”
pintanya ikut antusias. Sesampai di
rumah, kuminta Komodo untuk mensetting motor. Tesok harinya tangki sudah
beres. Giliran urus surat. Motor L2 yang mati pajak setahun sudah beres semua.
Masalah administrasi rampung. Sudah kubalik nama sekalian biar nggak repot
nantinya. Alhamdulilah Yamaha L2 Super itu kini berdiri gagah di rumah. “Emang
bisa naik motor laki?” tanya Bapak dan istriku bergantian tak percaya. “Ya
dicoba dulu. Kayaknya perlu pembiasaan pakai kopling, sih. Kata Komodo, motor
ini oper giginya kayak motor biasa kok. Cuma masih agak repot main koplingnya,”
jawabku.
Motor tua keluaran 1986 ini pun sering kami bawa bertiga bersama anak dan istriku. Istriku yang awalnya sangsi, kini sudah makin percaya. Beberapa kali kuajak mereka berjalan-jalan keliling Blora. Fina yang paling gembira ketika duduk di tangki berpengangan spion. “Enak naik Mbah L ya Pak. Bisa perosotan sambil duduk,” katanya. Tak jarang kami diamati orang ketika di lampu merah. Pakai helm jadul dengan motor jadul pula. Ditambah dengan suara knalpot yang merepet, tarikan gas dan kopling yang cukup seret mengingatkanku kembali pada masa itu. Masa dimana aku diajari Pincuk naik motor. Masa dimana kami berangkat mengaji kepada mister bersama. Pincuk kini tinggal di Jakarta dan Mister pun telah tiada.
Blora, 12 Mei 2025




0 komentar:
Posting Komentar