Kamis, 26 Juni 2025

CARUBAN PENUH KENANGAN

Entah sudah berapa kali aku singgah ke sini. Seingatku sudah lebih dari tujuh kali aku ke sini dan tidak ada bosan-bosannya. Caruban adalah salah satu pantai yang cenderung lebih tenang nan damai di Rembang. Pantai yang berada di Lasem Rembang ini memang masih menjadi pilihan utama keluarga kecil kami. Kok bukan Karangjahe? Tidak. Kami memang tidak suka berlibur ke tempat yang terlampau ramai.

dokpri

Awal datang ke Pantai Caruban adalah saat mengajak istri (saat itu masih calon) untuk berziarah. Bersumber dari facebook, kudapatkan informasi bahwasanya makam Pangeran Sekar berada di lingkungan Makam Nyi Ageng Maloka. Nyi Ageng Maloka sendiri merupakan putri dari Kanjeng Sunan Ampel. Kakak dari Sunan Bonang.  Melihat dari silsilah, Sang Nyi Ageng tidak lain adalah nenek sang pangeran.

          Rasa penasaran mencari keberadaan makam sang pangeran semakin tinggi usai membaca dan menggeluti kisah putra sang pangeran yaitu Pangeran Arya Penangsang, penguasa Jipang Panolan. Local hero nya orang Blora lebih khusus orang Cepu. Dalam cerita populer dikisahkan bahwa putra Pangeran Sekar, Arya Penangsang diceritakan ketika dewasa menuntut haknya sebagai pewaris tahta sekaligus hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pangeran Surawiyata ditemukan tewas di pinggir sungai dibunuh oleh orang tidak dikenal. Pangeran Surawiyata kemudian lebih dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Sekar yang tidak lain berati ‘bunga’ sementara seda berarti ‘wafat’, dan lepen yang berarti ‘sungai/kali’ menjadi hal yang menarik untuk ditelisik. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan Sultan Trenggono naik tahta di Demak menggatikan Sultan Yunus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang meninggal di Malaka. Sebuah proses pergantian pemimpin yang sangat ditengarai berbau intrik politik ini kemudian membuatku semakin tertarik memelajarinya lebih lanjut.

Kala itu sesampai di Makam Nyi Ageng Maloka, aku langsung mencari keberadaan makam pangeran. Kucoba menanyakan ini kepada penggembala kambing yang ada di sana. Si penggembala menjawab tidak tahu. Ah sesuai dugaan. Saat itu si penggembala menyarankan kami untuk menghubungi juru kunci makam. Ditunjuklah sebuah nomor telepon yang tertempel di pintu masuk.

Segera kuhubungi nomor tersebut. Kusampaikan bahwa saya ingin berziarah. Tak lama kemudian sang juru kunci pun datang dengan motor tuanya. Usai memperkenalkan diri, pintu utama makam kemudian dibuka. Kami pun diantarnya masuk. Dimintanya kami menunggu sejenak. Saat sang juru kunci menyalakan lampu dan jet pump, kuedarkan mataku ke semua penjuru. Tampak nisan-nisan tua berdiri menjulang. Beberapa nisan tampak menghijau tertutup lumut. Sekira lima langkah dari kami berdiri, tampak sebuah cungkup berwarna putih beratap genting, dan berdaun pintu kecil.

Kami akhirnya menuju keran air untuk mengambil wudu. Usai berwudu coba kutanyakan keberadaan makam Pangeran Sekar, jawaban mengecewakan kami dapatkan kembali. Sang juru kunci mengatakan bahwa beliau tidak tahu. rasa kecewa yang tidak hanya sebatas kecewa. Justru yang timbul padaku adalah perasaan curiga. Juru kunci ini benar-benar tidak tahu apa sekadar pura-pura tidak tahu. Rasanya kalau sungguh-sungguh tidak tahu kok aneh ya. Bagaimana tidak? dalam postingan grup facebook disertai foto disebutkan bahwa setiap tahun diadakan haul di tempat ini. Bahkan beberapa orang yang mengaku keturunan dan keluarga sang pangeran beberapa kali berkunjung ke sini. Masa iya sih juru kunci sampai tidak tahu?

 Akhirnya masih dengan perasaan curiga itu kami dipandu juru kunci masuk ke cungkup makam Nyi Ageng Maloka. Pak juru kunci menawarkan kepadaku untuk membaca tahlil sendiri atau beliau yang memimpin? Dengan pelan kuminta agar bapak juru kunci yang berkenan memimpin tahlil dan doa.

Suasana menjadi semakin khusyuk ketika lantunan ayat-ayat dibacakan Pak Jurkun. Pada keheningan itu dalam hati kusampaikan bahwa kami anak cucu beliau datang untuk bersilaturahmi. Sementara itu juga kuselipkan doa sekaligus izin minta restu kalau memang wanita yang ada di sebelahku ini nantinya jodohku, hendaknya kami dibantu agar lancar segalanya.

Suasana hening, teduh, dan sejuk tetap terasa apalagi kompleks makam dikelilingi pohon besar. Suara lantunan doa, suara ranting terhempas angin, terdengar bersahut-sahutan dengan suara cicak yang terus saja menginterupsi. Keheningan ini menjadikan kami kian luruh. Aku sendiri tak tahu doa apa saja yang dipanjatkan wanita di sebelahku ini. Yang kutahu tangan kami tak lagi menengadah ketika Pak Jurkun mengakhiri doanya. Usai berdoa, kami kemudian keluar dari cungkup makam.

Aku lalu meminta wanita yang tadi ada di sebelahku ini untuk mendekat ke sebuah barisan nisan tua. Barisan nisan yang terletak di sebelah timur cungkup makam Nyi Ageng. Di tengah barisan nisan ini aku kemudian duduk bersimpuh. Sebuah nisan tanpa nama. Nisan yang nampaknya sengaja dibiarkan menjadi misteri. Persis dari bentuk dan letaknya, inilah makam sang pangeran yang kucari-cari. Untuk memastikan kubuka HP dan segera kucek foto dalam postingan grup di facebook. Tidak salah lagi. Akhirnya kututup mataku dan kupanjatkan doa. Usai berdoa, kuminta wanita yang sedari tadi mengamatiku itu memfoto. Maksudnya buat dokumentasi pribadiku. Sayang fotonya sekarang sudah hilang.

Usai berdoa, aku kemudian melakukan kebiasaanku untuk berkeliling mengamati hal-hal yang ada di sekitaran lokasi yang baru saja kudatangi. Berharap ketemu sesuatu yang menarik. Tak lupa kufoto juga bentuk-bentuk nisan yang ada di sana beserta epigrafnya. Walaupun aku tidak paham arti dari tulisan yang ada di nisan, tetap saja kufotoi satu per satu. “Mungkin saat ini aku belum paham artinya, tapi siapa tahu nanti aku bisa memelajarinya,” gumamku saat itu. Ada nisan bertuliskan aksara jawa, ada nisan bertulis khat arab, ada juga nisan yang memiliki simbol surya wilwatikta. Medalion simbol Majaphit. Tentu yang dimakamkan ini bukan orang biasa. Satu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Caruban merupakan salah satu pelabuhan terpenting masa Kerajaan Majapahit.

Kini untuk ke sekian kalinya aku datang lagi di pantai ini. Setiap kali motor berbelok menuju pantai dan tampak gapura makam di kanan jalan aku segera mengirimkan fatihah kepada ahli kubur yang ada di sana. Hal inilah yang selalu ditanyakan Fina. “Bapak ngapain kok bicara sendiri?”

“Bapak berdoa mendoakan beliau-beliau yang ada di sana,” jawabku. Seolah paham, Fina pun diam. Tidak seperti biasanya ketika kujawab satu pertanyaan, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Motor mulai memasuki tambak garam yang sudah mengering. Kurang lebih lima menit kemudian sampailah kami di pintu masuk pantai. “Motor lima ribu, Mas,” ucap penjaga. Bayar karcis. Usai bayar, tampak di kanan jalan ada patung kepiting besar yang menyambut kami.

Girang hati Fina yang sudah tak sabar ingin main air laut. Terlebih ketika pohon cemara angin sudah mulai tampak. Tikar-tikar tampak tergelar dengan beberapa pengunjung yang sudah duduk dan menikmati angin laut.  Motor akhirnya kuhentikan di dekat anjungan.

Di sinilah dulu kami datang berdua. Datang lagi kemudian kami bertiga dengan Fina yang masih tiga tahun. Momen dimana baru pertama kali Fina kami ajak turun lalu tertawa-tawa karena merasa geli. Kakinya baru sekali itu menyentuh pasir pantai. Kini, kami datang lagi bertiga dengan Fina yang sudah menjelang enam tahun. Fina yang kala itu geli kakinya, kini sudah tumbuh menjadi wanita kecil yang suka berlarian ke sana ke mari. Wanita kecil yang selalu kritis dan suka komplain kalau ada yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Sangking seringnya kami datang ke sini, seolah Caruban menjadi bagian dari mozaik momen-momen kebersamaan kami.

dokpri


Usai turun dari motor, kami pun duduk di bawah pohon cemara angin. Duduk di atas tikar, paling depan dekat dengan garis pantai. Kopi hitam, air mineral, kelapa muda, gorengan satu porsi, lontong pecel, dan mi instan segera kami pesan. Menu wajib yang selalu kami pesan ketika datang ke sini. Terlebih lontong pecelnya yang khas. Pecel yang tidak seperti pecel di Blora. Kudapan yang dipakai di sini adalah kangkung, bukan daun ubi jalar.

Seperti biasa, usai makan barulah Fina bermain air. Seolah musisi dia selalu tak sabar untuk segera turun ke panggung dan bermain musik. Ia tampak sangat bergembira. Berlari ke sana kemari mencoba menangkapi bayi kepiting. Bosan dengan bayi kepiting, lari lagi mencari cangkang kerang. Bosan dengan cangkang kerang, dia kemudian berselonjoran di atas pasir menyambut ombak datang.

Sementara aku masih seperti biasa menjadi kiper. Sigap seolah melihat bola khawatir masuk ke gawang. Fina selalu dalam pengawasanku dari ombak yang datang dan pergi.  Sesekali aku melihat ke bawah. Mencari pecahan gerabah dan keramik kuno. Beberapa waktu yang lalu saat ke sini pernah kutemukan pecahan mulut kendi dan pecahan keramik bertulis huruf Jawa. Bukti bahwa pantai ini menjadi pantai yang cukup sibuk pada masanya.

Puas bermain ditmbah dengan perut yang juga sudah kenyang. Berangkatlah kami ke museum dan makam Kartini. Di atas motor, Fina melambai ke arah laut “Da…da… pantai besok aku ke sini lagi ya,” kata anak kecil ini.

Sepanjang perjalanan menuju museum, kurenungi lagi kisahku pertama ke Caruban dulu. Teringat kembali rasa penasaranku tentang makam pangeran itu. Rasa penasaran yang akhirnya kutanyakan kepada admin grup facebook via japri. Admin grup menjawab dengan setengah bertanya. “Coba Mas dipikir pakai logika. Apakah mungkin jasad Pangeran Sekar yang meninggal di tepi sungai kemudian dibawa ke Demak? Zaman sekarang saja kalau pakai ambulans sudah berapa jam? Belum lagi zaman dulu kalau pakai kuda. Berapa hari sampai Demak? Belum lagi dengan kondisi jasadnya, bukankah sudah membusuk kalau harus dibawa ke Demak? Bukankah lebih masuk akal kalau dimakamkan di sana?” Begitu jawabnya.

Kondisi kompleks makam memang tampak lebih rendah dengan tanah yang ada di sekitarnya. Hal ini kulihat langsung. Tampak ada beberapa kubangan air yang tidak habis setelah diguyur hujan. Admin grup juga menyampaikan bahwa kompleks makam dulunya adalah tepian sungai.

Memang sih di kompleks makam Sultan Fatah di Demak terdapat nisan Pangeran Sekar sebagaimana terdapat makam Pangeran Arya Panangsang putranya. Dengan melihat kisahnya yang kontroversial, tentu pihak pengelola makam Nyi Ageng Malokatidak akan memasang nama nisan Pangeran Sekar demi kemananan. Bagi mereka ada baiknya misteri biarlah misteri. Mungkin itu pertimbangannya. Motorku masih melaju menyusuri jalanan Rembang. Tak terasa panas semakin menusuk-nusuk. 

0 komentar:

Posting Komentar