Jumat, 16 Mei 2025

MENCARI KARTINI VOLUME 2

Siang itu ketika matahari beradu dengan waktu, aku terus menarik tuas kemudiku. Motor beat hitam itu terus melaju menuju Bulu. Kartini. Satu kata yang sangat pendek ini masih menjadi tujuan utamaku. Tujuan demi menjawab pertanyaan anakku kemarin lalu. 

patung Sang Ibu di depan pintu masuk

Setelah menghabiskan waktu di museum yang tak lain adalah kediaman Ibu Kartini dulu, kami pun bergeser menuju lokasi yang kedua. Benar. Perjalanan kami mencari Kartini belum usai. Entah berapa banyak rumah di kanan kiri jalan yang sudah kami lalui. Aku tak tahu. Yang kutahu pasti adalah kami masih terus menerjang cuaca panas pantura. Debu jalanan menempel jadi satu dengan keringat. Lengket di sana-sini. Untung saja pakai kaos oblong, coba kalau pakai kemeja pasti gerahnya minta ampun.

Di depanku, Fina tampak kepayahan. Kaca helm yang dipakainya berkali-kali dibuka dan ditutup. Pun dengan tali klik, beberapa kali dia menggaruk janggutnya. Anak kecil ini tentu kecapaian akibat mondar-mandir lari di museum tadi. Kulirik jam tangan digitalku, 01/05/2025 pukul 13.00. Pantas saja panasnya minta ampun. Seolah matahari mengamuk sejadi-jadinya. Kota yang berada di pesisir pantura Jawa ini tak berdaya menahan amukannya.

Botol air mineral yang kami bawa sudah kosong. Tandas kami gasak sewaktu beranjak dari museum. Botol itu masih tenang terselip di bawah speedometer. Botol yang sengaja kami bawa karena tidak sempat membuangnya di tempat sampah. Haus masih terasa. Sekalipun kepanasan aku merasa lega karena di museum tadi sudah kencing, sudah salat juga, dan perut juga masih kenyang. Aman. Sudah deh kalau kalian sedang perjalanan dan menahan satu dari ketiga hal tersebut, dijamin perjalananmu tidak akan menyenangkan. Yang ada hanya rasa tergesa-gesa dan tergesa-gesa. Tiga hal ini selalu aku hindari ketika sedang dalam perjalanan.

Motor terus melaju. Kami pun mulai memasuki jalan Rembang-Blora. Entah berapa lama kami hirup asap kendaraan bercampur aus kampas mobil yang terbakar. Sesekali kulihat Fina di depanku. Tampak dia sudah mulai rewel. Ya bagaimana lagi. Jam-jam segini adalah jam tidur siangnya bersama ibunya.

pohon besar di depan serambi makam

Sembari terkantuk-kantuk Fina masih saja bertanya “Masih lamakah perjalanan ke makam Ibu Kita Kartini, Pak?” Perasaan kasihan yang sempat muncul berubah menjadi senang. Ternyata dia masih bersemangat. Kujawab “Nggak lama lagi kok,” berharap agar semangatnya tetap terjaga. Sekira sejam perjalanan, Sulang telah kami lewati. Baliho dan papan nama di kiri kanan jalan sudah mulai terbaca “Bulu”. Kusampaikan kepada Fina, “Tidak lama lagi sampai, Fin. Ngantuknya ditahan dulu ya.” Dia diam tak menanggapi.

Sembari menekan laju gas di tangan, aku pun menanyai istriku. “Sudah pernah ke sini sebelumnya?” “Sepertinya belum,” jawabnya. Kuingat-ingat lagi, sepertinya aku sudah pernah ke sini sebelumnya tapi sama siapa ya? O ya benar juga. Aku dulu ke sini bersama temanku. Kala itu, 21 April berapa tahun yang lalu aku dan temanku berziarah ke sini. Aih kalau ingat masa itu. Masa-masa ringan kemana saja dan kapan saja. Mau kemana: oke. Mau pergi kapan: Siap. Terlebih saat itu aku pergi bersama temanku yang suka sekali berziarah. Tak ada angin tak ada hujan tahu-tahu sudah ziarah saja ke Makam Sang Ibu. Sekarang tentu situasinya sudah berbeda. Apalagi sudah ada Fina. 

tabur bunga di makam Sang Ibu

Plang makam R.A. Kartini sudah nampak dari kejauhan. Kupelankan laju motor. Sesampai di bawah plang hijau bertulis makam R.A. Kartini, kami pun berbelok ke kanan. Kontur jalanan yang tadinya lempeng kini berubah menanjak syahdu. Panasnya Rembang mulai terobati dengan banyaknya pohon rindang. Kami pun masih melaju di jalanan yang terus saja naik. Hingga akhirnya sampailah kami di parkiran makam. Duh!  Pantat serasa terkena alteco. Pelan-pelan kami turun dari motor kemudian duduk di emperan pendapa. Pendapa yang berada di bawah pohon ini sepertinya disediakan sebagai tempat istirahat para pelancong.

Sembari duduk kuamati sekitar. Tampak dua mini bus terparkir berjajar dengan penumpang yang sudah tumpah ruah.  Ada yang sibuk memilih jajanan. Ada juga anak kecil yang menarik-narik tangan ibunya untuk dibelikan mainan. menarik juga gumamku dalam hati. Memang banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya di area parkir ini. Mulai dari piranti dapur seperti pisau dan sendok, makanan dan minuman, mainan anak, bahkan terasi juga ada yang menjual. Kami amati semua itu sembari mengusir capai dengan meluruskan kaki ke depan.

Setelah kami rasa cukup beristrahat, aku pun mencari kamar mandi. Niatnya sih mau ganti celana pendek dengan sarung lalu berwudu. Sarung sudah kukenakan, kran kuputar. Yah! Tak ada air menetes setitikpun di kamar mandi ini. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamar mandi tanpa berwudu. Kutemui Fina dan ibunya yang masih menunggu. Oke, kita masuk makam. Sedang berjalan menuju pintu masuk, Fina minta beli bunga. “Beli bunga Bu. Kan kalau ziarah harus bawa bunga.” Ah anak ini seperti tahu cara berziarah saja. Akhirnya kami pun membeli bunga mawar untuk nanti ditaburkan di makam.

Sambil terus berjalan menuju pintu makam, Fina ngotot meminta agar dia saja yang membawa bunga. Sesampainya di depan pintu makam, kami tidak langsung masuk. Kami memilih untuk berfoto dengan patung Sang Ibu yang berdiri di depan pintu. Beliau seolah menyambut kami dan para pengunjung lainnya. Usai berfoto kami pun masuk ke area luar makam. Sampai di serambi makam, aku menahan istri dan anakku. Kuminta mereka untuk duduk dan menunggu terlebih dahulu. “Biarkan rombongan ini selesai berdoa. Kita masuk setelah mereka keluar,” kataku.

dokpri

Lantunan doa yang dipanjatkan oleh rombongan dua bus itu terdengar sampai serambi makam. Kami yang duduk di serambi merasakan betapa teduhnya tempat ini. Letaknya yang berada di perbukitan, jauh dari pusat keramaian menambah ketenteraman hati para peziarah. Belum lagi dengan banyaknya pepohonan yang menambah aura damai. Sedamai itu juga kami menunggu. Sedang asyik mengamati lingkungan, istriku mengajakku masuk. Kutengok pintu masuk. Kusampaikan kepadanya untuk bersabar. Nampaknya mereka sedang berfoto di dalam.

Rombongan mini bus ini akhirnya keluar. Tiba giliran kami untuk segera masuk. Kami kemudian masuk kompleks makam dengan mengucap salam terlebih dahulu. Sesampai di depan pusara Ibu, kami bertiga duduk bersimpuh. Makam sang Ibu dipagari besi kuning bersebelahan dengan dua makam lainnya. Hanya ketiga makam ini yang berpagar besi. Tidak ada lain tentu yang bersemayam dalam makam ini bukanlah orang yang sembarangan. Setelah duduk, aku menengok kanan hendak mencari buku yasin. Ternyata di belakang kami, tak jauh dari pintu masuk tadi, tampak bapak-bapak tua sedang duduk menekuri buku tamu. Ah iya. Lupa. Mungkin bapak itu menyangka kami adalah bagian dari rombongan yang tadi.

Segera kuambil yasin yang ada di meja, tak jauh dari tempat kami duduk. Aku pun mulai membaca wasilah, fatihah, lalu tahlil. Terakhir, doa-doa kami lantunkan kepada sang Ibu dan keluarganya. Entah mengapa suasana di makam ini begitu berbeda dengan aura di museum tadi. Gemuruh perjuangan yang berkelit kelindan dengan kisah pilu yang tadi kami rasakan mendadak berganti dengan kedamaian. Perasaan tenang, sejuk, dan teduh terus saja kami rasakan sedari masuk sampai doa berakhir. Seolah segala persoalan hidup kami turut luruh bersama ketenangan tempat ini.

Aku pun maju berjalan jongkok menyusul Fina yang kikuk setengah takut hendak menaburkan bunga. Sambil bersimpuh kubersamai dia menabur bunga di atas pusara Ibu Kita. Ibu luar biasa yang sedari kemarin dia tanyakan telah bersemayam di sini, di bawah nisan bertabur bunga ini. Sedih rasanya ketika harus menjelaskan kepada anakku bahwa Ibu Kita yang dicarinya sedari kemarin ternyata sudah tiada.

Di sebelah makam beliau, terdapat dua makam dengan nisan yang berbeda. Ada yang besar dan ada juga yang kecil. Nisan yang besar berada persis di sebelah makam beliau. Nisan itu bertulis R.A. Soekarmilah Djojoadiningrat disusul dengan makam yang ukurannya lebih kecil. Di belakang tiga nisan ini tampak berbaris rapi lukisan wajah sang Ibu. Ia seperti sedang mengamati kami.

tabur bunga di makam Bapak Soesalit

Usai bunga kami taburkan, aku pun meminta tolong istri untuk mengambil foto sambil tetap duduk bersimpuh. Usai berfoto, aku dan Fina turun. Fina yang masih membawa keranjang bunga diminta ibunya untuk kembali menaburkan semua bunga yang tersisa. Segera kucegah. “Sebentar. Sebentar. Mari sini ikut Bapak.” Aku kemudian mengajak mereka bergeser ke kiri menuju makam yang lain. Fina kutuntun untuk kembali menaburkan bunga yang masih dibawanya ke salah satu makam. “Ini makam Bapak Soesalit, putra Ibu Kartini. Sini Fin, bunganya taburkan ke sini semua,” pintaku. Tampak sudah ada karangan bunga di atas nisan beliau ini.

Aku tak tahu mengapa makam buah hati Sang Ibu tidak diletakkan bersebelahan dengan ibundanya. Tertulis di batu nisan itu Mayjen TNI (Purn.) R.M. Soesalit Djojo Adiningrat Panglima Divisi III Diponegoro Yogyakarta-Magelang Th. 1946/1948, lahir Rembang 13-9-1904 wafat Jakarta 17-3-1962.

Tahun 1904 merupakan tahun kelabu. Pada tahun itulah Sang Ibu berpulang tak lama setelah buah hatinya lahir ke dunia. Ibu kita berpulang dengan segenap perjuangannya. Kiprahnya selama hidup akan selalu dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia. Ibu Kartini, Ibu kita semua, Ibu yang telah mengangkat derajat wanita dan bangsanya. Ia yang dengan prinsip dan semangat tak kenal lelahnya berusaha mencerdaskan bangsa, telah tiada. Banyak hal yang harusnya kita lanjutkan.

Pencarian Ibu Kita Kartini tidak selesai di sini. Sang ibu memang telah tiada tetapi api semangatnya masih menyala-nyala. Api inilah yang ingin kuhidupkan juga dalam sanubari Fina. Duhai Ibu, restui cucumu ini, Bu. Anak kecil ini sedari kemarin mencari tahu tentang engkau. Dia selalu merengek-rengek kepadaku. Mendesakku untuk meminta penjelasan tentang kisahmu.

Dia yang didandani berkebaya ibunya saat hari kelahiranmu seolah tidak puas. Dia minta lebih. Dia selalu ingin tahu semua kisah-kiprahmu. Bahwa kisah-kiprahmu tak hanya seremeh kebaya yang dia kenakan. Sementara aku dan istriku sebagai bapak dan ibunya ingin menunjukkan kepadanya apa yang Ontosoroh sampaikan, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang telah melawan. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semua itu telah tunai kau lakukan Ibu. Aku ingin mengajarkan ini kepada anakku, Bu. Ibu, restui kami melanjutkan perjuanganmu itu.

Kami pun keluar dan menghampiri motor yang terparkir di depan. Kucopot sarung, berganti celana pendek kembali. Duduk di atas motor rasanya masih enggan meninggalkan tempat ini. Aura kedamaian yang menenangkan membuat kami malas beranjak. Dengan berat hati, motor kunyalakan. Pelan-pelan kami akhirnya kembali menyusuri jalanan aspal. Sepanjang jalan, kutanyai Fina “Sudah tahu siapa itu Ibu Kita Kartini?” Dia tak menyahut.


    Motor melaju perlahan menuju Blora dengan pikiran yang berkecamuk. Fina tampak sangat kelelahan. Dia akhirnya kami dudukkan di tengah. Kami himpit karena khawatir kalau tertidur di jalan. Motor beat hitam membawa kami terus melaju memasuki Blora. sampai-sampai tak terasa perut kami sudah mulai keroncongan. Kami kemudian singgah sebentar di warung mi ayam. Usai mengisi perut kami lanjutkan perjalanan menuju Blora tercinta. Dengan perut yang sudah mulai terisi, pencarian tentang keberadaan Kartini juga sudah menemukan jawaban. “Kartini yang kami cari ternyata ada di sini. Ia bersemayam di hati kita. Dalam hati orang-orang yang berjuang keras membebaskan jerat yang menghantui bangsanya.” 

Blora, 6 Mei 2025

0 komentar:

Posting Komentar