Rabu, 14 Mei 2025

Mencari Kartini volume 1


    Sore itu Rabu 30 April 2025. Sembilan hari berlalu dari peringatan Hari Kartini. Pesan suara masuk dalam chatt WA-ku. Pesan dari Fina anakku. Ia menanyakan keberadaanku. Ya. Saat ini aku sedang bersama ketujuh muridku. Duduk melingkar bersama Disca, Yaqut, Ajeng, Ulya, Himma, Naura, dan Ivana. Sore ini merupakan hari pertama kami berkumpul setelah libur panjang lebaran. Kelas menulis ini terus bergulir berkat dorongan anak-anak. O ya, tema pertemuan kali ini adalah penulisan opini dan artikel populer.

dokpri

          Saat sedang seru-serunya berdiskusi, pesan suara itu bertubi-tubi masuk layaknya rentetan tembakan tantara Israel yang terus merangsek masuk wilayah Gaza. Pesan demi pesan masuk tanpa kubalas. Hanya kulihat lalu kututup kembali gawaiku dengan posisi terbalik. Aku tak mau diskusi yang sudah asyik ini terjeda. Ketika anak-anak sedang mencari tema dan menuliskan opening tulisan, aku minta diri untuk keluar.

          Pesan suara itu lalu kudengarkan satu per satu. Hingga sampailah pada akhir pesan suara yang membuatku tersenyum. Fina, anak perempuanku ini bilang “Bapak! Katanya mau nyeritain aku Ibu kita Kartini! Malah semalam tidur duluan! Tidak menepati janji!” hardik Fina setengah berteriak. Apa yang bisa kulakukan selain senyam-senyum sendiri. Tentu kalian juga akan begini bukan? Sekira pukul 15.00 kelas menulis pun usai. Aku kemudian bergegas pulang. Lalu makan dan istirahat. Malam itu Kartini juga urung kuceritakan. Aku kecapaian. Tidak seperti biasa baru 21.00 aku sudah tertidur pulas.

          Kamis, 1 Mei 2025. Hari ini libur hari buruh. Kuputuskan mengajak anak dan istriku ke pantai. Sebenarnya sudah sedari kemarin lalu Fina mengajak ke pantai tapi belum kesampaian. Mumpung selagi libur. Selain itu karena Minggu nanti aku masuk sekolah. Sambangan. Sekolah tempatku berkreasi adalah sekolah dengan model pesantren. Jadi sambangan merupakan hari yang paling ditunggu anak-anak untuk bertemu dengan orang tua. Makan bersama orang tua, berkeluh kesah bersama mereka, lalu yang tak boleh ketinggalan adalah pemberian uang saku untuk sebulan ke depan. Nah, kami diminta masuk untuk sekalian parenting. 

          Pukul 08.00 kami berangkat menuju Rembang. Lokasi pantai yang kami tuju adalah Caruban. Pantai yang sangat bersejarah pada masanya. Nanti deh, akan kubuat tulisan khusus untuk pantai ini. Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk cerita ini-itu. Fina juga tidak mau kalah. Dia selalu menyela, maunya ikut juga bercerita. Aih anak kecil ini. Saat di perjalanan itu juga kuutarakan niatku untuk mengajak mereka berziarah ke Makam R.A. Kartini. Yes. Istriku sepakat. Tiada lain aku ingin menebus janjiku kepada Fina. Juga mengenalkan Kartini kepada Fina dengan caraku bukan berteori bla…bla…bla.

Kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami di Pantai Caruban. Sesampai di sana duduklah kami di bawah pohon cemara. Nyiur angin menerpa dedaunan cemara yang terus menari lemah gemulai. Melambai-lambai seolah mengajak untuk istirah dan melupakan hal-hal yang kemarin menggebu-gebu. 

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, kami pun beristirahat. Rebahan di bibir pantai dengan beralas tikar. Dari sini sejauh mata memandang yang tampak hanya lautan utara pulau Jawa memanjang serupa garis rapi yang digaris begitu presisi oleh Tuhan. Begitu pun dengan warna airnya mulai dari kecokelatan, biru mentah, hingga biru dongker, Tuhan Memang Maha Nyeni. Sementara air laut terus saja bergoyang. Seolah melambai bersahutan dengan pepohonan cemara tempat kami berteduh menciptakan tarian yang aduhai. 

Usai menyantap lontong pecel, mi goreng, dan seporsi gorengan, giliran kopi panas dan air kelapa yang kami santap habis. Perut kenyang. Lalu si kecil turun menari-nari mengikuti irama alam sambil meyibak-nyibak air laut dengan tubuh berlumuran pasir. Sembari menunggu Fina bermain air, kusampaikan ideku untuk mengajak mereka ke Museum R.A. Kartini. Sekalian lah. Mumpung momennya ada.

regol/gapura museum

Kurang lebih pukul 11.30 kami cabut dari pantai menuju museum. Kesejukan angin pantai mulai kami tinggalkan. Berganti dengan teriknya matahari menyapu bumi. Tak butuh waktu lama menggelinding di jalan pos. Kurang lebih pukul 12.00 sampailah kami di Museum R.A. Kartini. Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 8 Kutoharjo Rembang. Bangunan yang tak lain adalah rumah dinas bupati tempat tinggal Kartini kala itu masih gagah berdiri.

dokpri

Motor semakin pelan. Sampailah kami di halaman. Lalu kuparkir Honda Beat itu. Sebenarnya ada rasa kikuk untuk turun. Bagaimana tidak? Di pendapa depan sana nampak banyak remaja yang sedang berlatih menari. “Ah hajar saja! Sudah sampai sini juga,” batinku. Turun dari motor, kami segera menuju ke tempat jaga. Di sana tampak satpam muda sedang asyik bermain gawainya. Setelah tahu kami akan berkunjung ke museum, diarahkannya kami menuju meja pendaftaran. “Nah, biaya masuk Rp 5000,00 per orang. Tiga orang lima belas ribu, Pak,” kata satpam.

Setelah mengisi daftar hadir dan membayar tiket, pintu jati kuno itu kami buka. Kami pun masuk dengan mengucap salam terlebih dahulu. Aku masih takjub dengan kondisi bangunan. Luar biasa gedung ini. Perpaduan budaya Jawa-Eropa sangat terasa dalam gedung ini. Selain itu, kukuhnya pondasi membuatku masih saja keheranan. Berbeda dengan pondasi zaman sekarang yang belum lama selesai selalu disertai dengan retak di sana-sini. Apalagi tempatnya yang tak jauh dari jalan paling ramai di pantura. Jalanan yang selalu ikut bergoyang ketika truk-truk tronton lewat. Sepertinya guncangan itu tidak berpengaruh pada bangunan ini.


Fina dengan foto di ruang tengah

Usai membuka pintu, Fina kuminta untuk duduk di kursi yang sepertinya sengaja diletakkan agar pengunjung berfoto dengan foto besar Sang ibu yang telah dipigura dan diletakkan di ruang tengah. Usai sejenak befoto kami kemudian berjalan ke kanan menuju Ruang Habis Gelap Terbitlah Terang. Di sini banyak sekali kutipan tulisan Kartini yang dipasang di dinding. Berjalan perlahan sembari membacai tulisan demi tulisan di dinding. Membacai kutipan ini hatiku terus bergetar menahan getir perasaan Sang Ibu. Jiwa semangat dan optimisme yang tinggi terasa menekan-nekan dadaku. Seolah kata-kata itu selalu berbisik dan terus mendesakku dengan caranya sendiri.

dokpri

Di tengah ruang Habis Gelap Terbitlah Terang tampak beberapa buku kuno berlapis kaca. Coba kudekati. Kubacai keterangan yang ada di samping buku itu. Nah, ini dia! Door Duisternist Tot Licht seri pertama dipajang di sini. Beberapa kali kuamati kertas yang telah menguning itu. Hanya beberapa langkah dari surat-surat beliau yang dibukukan ini, terpajang juga kitab tafsir Alquran Faidlur Rahman karangan Kiai Soleh Darat. Seorang Kiai fenomenal, guru dari Kiai Hasyim dan Kiai Ahmad Dahlan yang juga merupakan guru dari Kartini. Beliau lah yang mampu membuat Ibu tercengang berkat penjelasan beliau yang luar biasa mengenai surat Alfatihah. Sangking kagumnya kepada Sang Kiai, Trinil, panggilan Kartini kecil meminta seandainya Kiai bisa membuat kitab tafsir Alquran agar kitab suci ini bisa dipahami maknanya oleh banyak orang. Kartini merasa sedih karena banyak orang memelajari Alquran hanya sebatas melafalkan saja tanpa tahu arti dan maknanya.

Sembari berjalan aku pun merenda ingatanku kembali. Mengingat-ingat kembali surat-surat beliau ini yang aku baca tempo hari dalam Habis Gelap terbutlah Terang suntingan Armijn Pane dan Panggil Aku Kartini Saja milik Pram. Dinding-dinding kayu tua bercat kuning dan hijau tua ini seolah lantang besuara. Menambah gejolak batinku yang kian tak tertahankan. Sembari berjalan dan memotret, aku masih saja membaca kutipan-kutipan itu. Sampai-sampai aku tak tahu Fina dan ibunya dimana. Kami terpisah.

dokpri

Keluar dari Ruang Habis Gelap Terbitlah terang sampailah kami ke ruang tengah. Ruang yang berisi foto besar Ibunda yang tadi Fina kuminta untuk berfoto di sebelahnya. Fina si kecil yang sedari kemarin bertanya tentang Ibu Kartini justru malah lari-larian ke sana ke mari. Yah namanya juga anak kecil. Beberapa kali dia kupanggil untuk kujelaskan satu demi satu perihal isi ruangan beserta kisah Ibu. Rasanya hari itu aku seolah jadi tour guide yang sedang bercerita kepada tamunya.

Setelah dari ruang tengah, kami kemudian masuk ke Ruang Pengabdian R.A. Kartini. Aku sendiri tak tahu mengapa ruangan ini berbeda dengan ruangan sebelumnya. Pergolakan semangat yang tadi kurasakan berubah drastis. Ciut. Ruang pengabdian ini seolah menyimpan auranya sendiri. Aura pilu menyayat hati. Jujur saja di ruangan ini perasaan semangat membara yang tadi berubah menjadi haru bercampur sedih. Ini adalah kamar tidur Ibu. Kujelaskan perlahan kepada Fina. Fina masih saja diam lalu kembali lagi berlarian entah ke mana. Untuk mengeksplor satu per satu ruangan, aku dan istri berpencar. Dia segera pergi ketika mau masuk ruangan ini. Aku tahu pasti ada sesuatu. Istriku agak sensitif dengan hal-hal mistis. 

R. Pengabdian R.A. Kartini

Kekelaman ruangan ini semakin terasa ketika melihat ranjang tempat Ibu tidur. Letaknya tepat di sebelah kanan pintu masuk. Ranjang kuno dari kayu jati berwarna cokelat ini masih tampak kokoh. Berhadapan dengan ranjang, tepatnya di sebelah kiri pintu masuk, berdiri tombak bersarung. Tak jauh dari tombak itu rasa hati semakin tersayat ketika melihat lukisan Ibu Kartini berkalung untaian melati dengan latar lampu kuning. Seolah lukisan ini hidup. Kepiluan itukah yang ditahan sang ibu ketika berpisah dari Jepara, tanah kelahirannya? Berpisah dari ayah yang dikasihinya. Berpisah dari buku-bukunya. Berpisah dari ide dan cita-cita yang dulu digagasnya. Menyusul kedua adiknya yang telah lebih dahulu menikah.

Di ujung ruangan, cermin dan meja rias Ibu tampak menyambut. Heran. Entah mengapa di sini tak kujumpai satu pun buku. Padahal sebelumnya aku mengira di ranjang, di meja, bahkan di tempat rias pasti ada buku yang selalu dibaca sang Ibu. Buku yang terus memompa semangat beliau memperjuangkan rakyatnya. Kecewa bercampur getir melihat semua ini. Bayangkan, buku-buku bacaan seolah satu per satu semakin jauh setelah beliau menikah. Ah!

foto Ibu di Ruang Pengabdian

Ruang Pengabdian ini terhubung dengan ruang di sebelahnya, yaitu Ruang R.M. A. A. Djojoadiningrat, suaminya. Di ruangan ini banyak terpajang foto beliau. Laki-laki yang besar dan gagah dengan usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Dalam ruangan hanya mesin ketik kuno saja yang menyita perhatianku. Gantungan jas dan berbagai foto di dinding kurang membuatku tertarik. Satu-satunya foto yang kuamati agak lama adalah fotokopian undangan pernikahannya dengan Ibu. Keluar dari ruangan ini aku pun masuk ke ruang belakang. Fina dan ibunya tak tahu kemana. 

Memasuki ruang belakang berarti memasuki ruang keluarga. Pertama masuk ruangan ini, aku langsung disambut dengan meja kursi keluarga. Di belakangnya, terpampang dua lukisan besar Ibu dan sang suami. Perjalanan menyusuri ruang belakang ini membawaku berbelok ke kanan menuju berbagai lukisan karya R.M. Soesalit. Ia adalah anak semata wayang Sang Ibu dengan Bupati Rembang. Perjalanan terus berlanjut, sampailah ke kamar pribadi sang putra. Ruang Kamar R.M. Soesalit. Di ruangan ini sejauh mata memandang maka yang tampak hanyalah foto beliau mulai dari kecil sampai dewasa. Ada juga baju peninggalan beliau yang dipasang pada manekin dan diletakkan dalam lemari kaca.

Ruang Keluarga Sang Ibu

Setelah kurasa cukup mengeksplor ruangan sang putra, aku kemudian keluar dan kembali mengamati seisi ruangan keluarga ini. Di sinilah bertengger lukisan fenomenal Trinil. Tepat berada di totokan pintu masuk ruang keluarga, lukisan tiga angsa putih terpajang sangat anggun. Tiga angsa ini sesuai dari buku yang kubaca dulu tak lain merupakan perwujudan dari Kartini beserta kedua adiknya, Kardinah dan Rukmini. Lama aku berdiri tertegun menikmati lukisan ini. Bahkan aku sempat menarik masuk kembali Fina yang sudah di luar. Anakku yang baru lima tahun ini kuberitahu “Ibu Kartini selain suka membaca dan menulis, ia juga suka melukis. Ini lukisannya”, sambil kutunjuk lukisan itu. “Coba hitung berapa banyak angsa yang ada di lukisan itu?” “Satu, dua, tiga! Tiga” jawabnya riang sambil menujuk lukisan. “Nah ketiga angsa itu adalah Ibu Kartini bersama dua adiknya.” “Kamu mau nggak besok kayak Ibu Kartini? Suka baca, suka menulis, suka melukis juga. Mau nggak?” sahutku bertanya. “Mau!” jawabnya. 

dokpri

Usai dari ruang keluarga ini kami pun keluar. Di luar ruangan, Fina kuminta untuk berfoto di sebuah tempat di sebelah kanan pendapa museum. Tempat yang mirip sebagai pos penjaga kadipaten ini juga terbuat dari kayu tua. Usai berfoto rencananya kami mau kembali ke motor. Akan tetaoi hal ini urung kulakukan karena tampak diorama kereta kencan di sebelah kiri pendapa. Ia akhirnya kuajak mampir ke sini terlebih dahulu supaya nantinya tidak muncul pertanyaan baru di perjalanan. Kuajak dia berfoto, eh kok malah nemu sesuatu. Ada batu bata yang ditutup kaca tebal. Kudekati batu itu. Batu yang ternyata saluran kuno temuan Ds. Karangturi Gg. IV Lasem.

Kembalilah kami ke motor. Beat hitam itu masih beristirahat di tempatnya. Sebelum cabut dari museum, kami singgah untuk napak tilas ke sebuah tempat yang tak jauh dari pendapa. Berada di sebelah kanan pintu regol atau gapura museum, ruangan yang masih tertutup ini nampak teduh dipayungi pohon rindang nan besar. Tempat inilah tempat bersejarah yang digunakan oleh Ibu mengajar murid-muridnya. Sekolah yang didirikan oleh Ibu Kartini. Lokasinya yang dekat dengan tembok pagar kabupaten sepertinya memang disengaja dipilih agar para warga, khususnya para wanita yang berasal dari luar kadipaten tak sungkan untuk masuk dan belajar.


Ruang Mengajar R.A. Kartini

Di depan ruangan ini berdiri pula patung beliau mendekap buku. Tak jauh di belakangnya, terdapat sebuah papan tertempel di dinding berttulis Ruang Kartini Mengajar. Sayang sekali tempat ini ditutup rapat. Jadi tidak bisa kami eksplor lebih jauh. Di atas pintu masuk tampak sebuah logo atau medallion bulan sabit beserta sulur-sulur yang belum kutahu maknanya. Segera kufoto. Siapa tahu kelak aku tahu arti dari logo ini. Dalam hati bertanya beginikah Dharmorini yang dikelola oleh beliau sedari Jepara sampai Rembang? Di tempat inikah Ibu Kartini mengajar muridnya yang sebagian besar para wanita? Beliau ingin wanita tidak hanya sebagai kanca turu dan kanca wingking saja. Ia ingin agar wanita berdaya karena dari para wanita inilah asal-mula pendidikan sang anak berlangsung.

Baginya wanita harus mampu berdaya dengan segala potensinya. Kartini bukan hanya mengajar secara teoretis saja tetapi juga hal-hal yang bersifat terapan. Ibu mengajar wanita memasak. Harapan Sang Ibu kelak ketika para suami kecapaian pulang kerja, usai mencuci tangan dan kaki bisa segera menikmati hidangan yang dibuat oleh istrinya. Dengan cara ini sang suami akan lebih menghormati istrinya. Rasa cinta yang terpelihara akan semakin tumbuh dengan sajian makanan yang enak masakan istrinya. Sang suami jadi betah di rumah dan tidak akan memilih jajan di warung yang menjadi cikal bakal pertikaian rumah tangga. Sembari makan bersama maka berbagai permasalahan akan selesai di meja makan. Tidak merembet kemana-mana.

Tempat tidur Ibu Kartini

Ibu Kartini juga mengajari para wanita berdandan. Dengan harapan agar para suami tidak akan tertarik dengan wanita lain. Suami akan semakin sayang kepada istrinya. Tak hanya itu, Ibu Kartini juga mengajar membatik, merajut, dan menjahit. Dengan alasan agar sang istri tidak terlalu bergantung kepada nafkah yang diberikan suami. Dengan cara ini para istri bisa mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarganya.

Yang paling utama, Ibu juga mengajar membaca dan menulis. Dengan melek huruf para wanita kelak tidak mudah dibohongi. Selain itu, dengan mengenal baca tulis itu derajat wanita akan meningkat seiring dengan pengetahuan yang didapatnya dari buku yang dipelajarinya. 

bangunan museum tampak dari pendapa

Iri rasanya aku dengan beliau. Ibu Kita ini selalu saja berusaha mencerdaskan anak bangsanya. Ibu luar biasa yang selalu mengejar ilmu pengetahuan yang ia kaguminya. Tidak pernah kalian bayangkan bukan, Ibu hebat ini lebih taktis bersikap dan peka terhadap sesamanya. Ilmu yang beliau ajarkan pun akan mampu menaikkan martabat wanita di atas segalanya. Ibu Kita ini merupakan ibu yang luar biasa. Ibu yang selalu berusaha melabrak hal-hal yang menghalanginya demi memajukan kehidupan bangsa yang lebih baik. Wajar kalau banyak orang yang tak suka, terlebih pemerintah kolonial dan kaum feodalis lainnya.

Bu, dengan kunjungan keluarga kecil kami ke sini kami berharap mendapatkan percikan api semangatmu. Terlebih kepada buah hati kami, Si Fina ini. Anak kecil ini juga sama denganmu, Bu. Sama-sama wanita sepertimu. Semoga kelak dia juga mendapatkan kekuatan yang berlipat ganda seperti yang ibu punya. 

jangkar di depan museum

Usai salat zuhur dan memotret jangkar di dekat gapura, kami pun beranjak menuju motor. Motor segera kami pacu. Kami pun langsung menggelinding menyusuri jalanan Rembang menuju makam sang Ibu. Selama perjalanan kucoba menanyai Fina tentang perasaannya. Tentang objek apa saja yang dilukis Sang Ibu? Hingga pada simpulan bahwa Ibu Kita Kartini bukan hanya sebatas upacara perayaan cosplay memakai kain kebaya saja.  Melainkan meneladani kisah Ibu Kita yang luar biasa besar artinya bagi sesama dan bagi bangsanya. “Nak, sudah Bapak tunaikan janjinya yang kemarin ya. Bapak tunaikan janji dengan cara Bapak,” begitu kataku dalam hati.

Jalan Pos semakin jauh kami lalui. Perjalanan kami pun bergeser menuju Bulu, Mantingan, Rembang. Tidak ada lain kami akan sowan dan berziarah ke makam Ibunda. Ibu Kartini yang sedari kemarin ditanyakan Fina. Bersambung di Mencari Kartini volume II ya. 



0 komentar:

Posting Komentar