Rabu, 14 Mei 2025

Balada Bapak Pembawa Kendi

foto: dokumen pribadi

    Puasa sudah memasuki malam kedua puluh tiga. Berarti sekira seminggu lagi lebaran akan segera tiba. Lebaran yang selalu diharap-harap oleh semua orang.  Nyatanya harapan masih saja sebatas harapan. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh mereka yang terpinggirkan. Teralienasi oleh keadaan. Coba pikirkan bagaimana perasaan mereka yang terkena PHK lantaran efek efisiensi. Bagaimana perasaan mereka yang dipecat dari kantornya? Bukankah hanya harapan yang kian hari membesarkan hatinya? Harapan untuk memakai baju baru saat lebaran. Harapan untuk membelikan baju baru keluarganya. Juga harapan membeli jajanan untuk disajikan di meja.

Faktanya mereka ini hanya akan jadi pengamat. Mengamati orang yang berlalu-lalang membawa kardus THR. Belum lagi ditambah dengan persiapan menjawab pertanyaan para kerabat nantinya. Selain pertanyaan tentang kapan menikah, pertanyaan kerja dimana  juga akan menjadi momok yang cukup menakutkan akhir-akhir ini. Semenakutkan gelapnya Indonesia.

Tagar Indonesia gelap pun mencuat beberapa minggu yang lalu. Entah apa yang dilakukan pemerintahan sekarang. Bagiku sendiri pemerintahan sekarang sudah tidak ada harga dirinya lagi. Bagaimana tidak? Tak lama berkuasa ada saja masalah yang ditimbulkan. Mulai dari kasus pagar laut, gas elpiji yang sempat terkendala, berlanjut dengan pertamax yang ternyata pertalite oplosan, eh kini RUU TNI. Belum lagi ditambah dengan sikap represif aparat terhadap band Sukatani. Silang sengkarut ini pun direspon berbegai pihak. Kritik dan demonstrasi di beberapa tempat digelar. Bagi kami masyarakat kecil, kami sampaikan kritik itu dengan keluhan dan hujatan di warung kopi. Ah!

Lebaran datang sebentar lagi tetapi beragam masalah belum juga usai. Terlepas dari pernak-pernik itu, di sini, di jalanan makadam Tunjungan. Tepat di depanku, tampak bapak-bapak tua berpeci, berbaju lusuh terseok-seok mengayun sepeda kumbangnya yang sudah karatan. Di boncengan belakang, tampak kendi tanah liat yang ditaruh dan ditali dengan ban hitam. Sepertinya dia baru saja pulang dari pasar. Mendapati ini kubuntuti terus dia dari belakang, lalu kufoto.

Bagiku ini adalah pemandangan yang sangat kontras dengan kondisi negara yang seperti kutulis di atas. Bapak ini bersahaja dengan baju abu-abu lusuh dengan kopyah cokelatnya. Bayangkan, hanya kendi yang dicarinya di pasar. Kendi yang sudah mulai ditinggalkan banyak orang. Orang-orang sekarang lebih memilih dispenser maupun guci untuk meletakkan air minum dibandingkan kendi.

Bagiku sendiri si Bapak bukanlah orang yang sembarangan. Ia nampak sangat menghargai kendinya dengan meletakkannya di boncengan sepeda. Boncengan yang merupakan tempat yang paling istimewa. Dudukan dari besi ini biasanya digunakan untuk memboncengkan orang terkasih. Entah anak, cucu, istri, maupun orang spesial lainnya kini diganti dengan kendi yang saat ini ditalinya rapat karena khawatir terjatuh. Pedal pun dikayuh pelan dengan harapan roda tidak terantuk-antuk batu jalanan makadam. Khawatir kendi yang dibawanya retak di jalan. Kendi yang mungkin bagi sebagian orang sudah tidak menarik ini diperlakukan seistimewa itu. Tempat air minum ini dipandang sebagai perwujudan tanah dan air. Tanah untuk menaruh air ini begitu dijunjung tinggi dengan rasa hormatnya.

Sepertinya kita harus belajar kepada sang bapak tentang bagaimana bersikap dan menyikapi keadaan. Dimanakah para Begawan, para nasionalis, dan para negarawan berada? Apakah mereka sibuk menata uang baru untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak esok hari dengan senyum penuh kepongahan? Ataukah mereka justru bersembunyi melihat kondisi bangsa yang sedang tak menguntungkan ini? Entahlah!

Blora, Sabtu 22 Maret 2025

0 komentar:

Posting Komentar