|
| foto: dokumen pribadi |
Faktanya mereka ini hanya akan jadi pengamat. Mengamati orang yang berlalu-lalang membawa kardus THR. Belum lagi ditambah dengan persiapan menjawab pertanyaan para kerabat nantinya. Selain pertanyaan tentang kapan menikah, pertanyaan kerja dimana juga akan menjadi momok yang cukup menakutkan akhir-akhir ini. Semenakutkan gelapnya Indonesia.
Tagar Indonesia gelap pun mencuat beberapa minggu yang lalu. Entah apa yang
dilakukan pemerintahan sekarang. Bagiku sendiri pemerintahan sekarang sudah
tidak ada harga dirinya lagi. Bagaimana tidak? Tak lama berkuasa ada saja
masalah yang ditimbulkan. Mulai dari kasus pagar laut, gas elpiji yang sempat
terkendala, berlanjut dengan pertamax yang ternyata pertalite oplosan, eh kini
RUU TNI. Belum lagi ditambah dengan sikap represif aparat terhadap band
Sukatani. Silang sengkarut ini pun direspon berbegai pihak. Kritik dan
demonstrasi di beberapa tempat digelar. Bagi kami masyarakat kecil, kami
sampaikan kritik itu dengan keluhan dan hujatan di warung kopi. Ah!
Lebaran datang sebentar lagi tetapi beragam masalah belum juga usai. Terlepas
dari pernak-pernik itu, di sini, di jalanan makadam Tunjungan. Tepat di
depanku, tampak bapak-bapak tua berpeci, berbaju lusuh terseok-seok mengayun
sepeda kumbangnya yang sudah karatan. Di boncengan belakang, tampak kendi
tanah liat yang ditaruh dan ditali dengan ban hitam. Sepertinya dia baru saja
pulang dari pasar. Mendapati ini kubuntuti terus dia dari belakang, lalu
kufoto.
Bagiku ini adalah pemandangan yang sangat kontras dengan kondisi negara yang
seperti kutulis di atas. Bapak ini bersahaja dengan baju abu-abu lusuh dengan kopyah cokelatnya. Bayangkan, hanya kendi yang dicarinya di pasar.
Kendi yang sudah mulai ditinggalkan banyak orang. Orang-orang sekarang lebih
memilih dispenser maupun guci untuk meletakkan air minum dibandingkan
kendi.
Bagiku sendiri si Bapak bukanlah orang yang sembarangan. Ia nampak sangat
menghargai kendinya dengan meletakkannya di boncengan sepeda. Boncengan yang
merupakan tempat yang paling istimewa. Dudukan dari besi ini biasanya digunakan
untuk memboncengkan orang terkasih. Entah anak, cucu, istri, maupun orang
spesial lainnya kini diganti dengan kendi yang saat ini ditalinya rapat karena khawatir terjatuh. Pedal pun dikayuh pelan dengan harapan roda tidak terantuk-antuk batu jalanan
makadam. Khawatir kendi yang dibawanya retak di jalan. Kendi yang mungkin bagi sebagian orang
sudah tidak menarik ini diperlakukan seistimewa itu. Tempat air minum ini dipandang sebagai
perwujudan tanah dan air. Tanah untuk menaruh air ini begitu dijunjung tinggi dengan rasa
hormatnya.
Sepertinya kita harus belajar kepada sang bapak tentang bagaimana bersikap dan
menyikapi keadaan. Dimanakah para Begawan, para nasionalis, dan para negarawan
berada? Apakah mereka sibuk menata uang baru untuk dibagi-bagikan kepada
anak-anak esok hari dengan senyum penuh kepongahan? Ataukah mereka justru
bersembunyi melihat kondisi bangsa yang sedang tak menguntungkan ini? Entahlah!
Blora, Sabtu 22 Maret 2025

0 komentar:
Posting Komentar