Senin, 24 Maret 2025

BERDAYA(KAH) HIDUP

*Abdul Haris Nur Hidayatulloh

Blora (Rabu 19/03/25)

Masih saja teringat sampai sekarang idiom yang dulu kubuat. Sebuah sangkalan tentang hidup itu pilihan. Tidak! Bagiku sendiri hidup itu memilih bukan hanya pilihan. Kata pilihan masih terlalu luas dan kurang mengikat. Tidak memilih sekalipun sebenarnya pun sudah memilih. Ya. Memilih untuk tidak memilih.

Sayangnya pilihan yang datang tidak serta merta begitu menghampiri kita. Allah menyediakan pilihan ini tidak lepas dengan konsukensi yang menyertainya. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang seringkali membuat kita gamang atau bahkan takut untuk menentukan sikap.

Bicara tentang pilih-memilih sikap dalam hidup, banyak sekali manusia takut menelan kekecewaan. Tidak jarang takut akan kekecewaan itu sampai membuat kita drop. Mari sejenak kita renungkan makna kecewa itu. Kecewa dan menyesal merupakan dua kata yang hampir sama yang selalu berkelit kelindan dalam otak kita. Dalam KBBI kecewa bermakna ‘kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang. Adapun menyesal berarti ‘perasaan tidak senang (susah, kecewa, dan sebagainya) karena telah berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya).

Rasa kecewa bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, kecewa akan membuat kita terjerembab berlarut-larut. Di sisi yang lain rasa kecewa akan membuat kita menjadi kuat. Rasa kecewa yang mampu kita atasi akan menjadi bahan bakar utama kekuatan mental kita naik berkali-kali lipat. Kekecewaan yang hendaknya kita pelihara sebagai stimulus kita dalam berkontemplasi. Dengan berkontemplasi ini nantinya akan membuat daya hidup manusia akan terus bergeliat. Berpikir, merenung, bertanya-tanya membuat kita menjadi manusia yang selalu kritis dengan keadaan.

Bicara tentang rasa kecewa ini pun dialami Indra Idrus. Tokoh utama dalam Royan Revolusi karya Ramadhan K.H.. Ramadhan menceritakan bagaimana Idrus kecewa melihat kondisi sekelilingnya. Cita-cita kemerdekaan yang telah dia rebut dari penjajah tidak sesuai dengan kenyataannya. Justru kemerdekaan yang telah direbut ini menimbulkan masalah-masalah baru. Teman-teman seperjuangannya yang dahulu lantang berjuang, banyak yang kemudian berbelok. Mereka tak berdaya menghadapi tuntutan hidup dan desakan ekonomi. Situasi sosial juga menarik-narik mereka untuk melunturkan prinsipnya. Beberapa rekannya ini justru berlomba-lomba untuk berebut menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara.

Ada yang kemudian petantang-petenteng bermobil ala bos mafia, ada yang sudah mendirikan perusahaan tentu dengan korupsi sana-sini, dan masih banyak lagi. Korupsi. Korupsi ini pula yang menyebabkan Idrus mengalami kebimbangan dan kekecewaan. Ia tidak bisa berkutik menghadapi masalah ini.

Selain korupsi, hal-hal sosial yang diungkap Ramadhan melalui tokoh Idrus adalah pernikahan dini, hamil di luar nikah, perceraian, hingga janda yang pada akhirnya menimbulkan masalah tersendiri. Dalam cerita juga disebutkan bahwa tidak sedikit pula teman-teman Idrus yang memilih tinggal di luar negeri. Tidak lain demi penghidupan yang lebih baik mereka kabur. Kabur dari masalah sosial dan budaya yang ada di tempat tinggalnya. Tentang nasionalisme yang dulu diperjuangkan, tidak tahu lagi di hati mana dia sekarang bersarang. Wuh pelik juga!

Buku yang dicetak Gunung Agung pada 1970 ini pun masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Melihat situasi sosial dewasa ini, banyak juga temanku yang sudah pindah kerja. Harapan penghidupan lebih baik tentu menjadi faktor utamanya. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan adanya sikap rendah hati sebagaimana mereka dahulu mengabdi. Mereka yang kemudian diterima kerja sebagai P3K menunjukkan indikasi yang justru berkebalikan dari sikapnya yang dahulu. Hal yang ditanyakan Idrus juga bukan?

Perubahan sikap yang drastis ditunjukkan dengan bandhanisme. Orang yang selalu berorientasi tentang bandha. Beberapa teman sudah berganti motor. Tak lama dari tanggal dia bertugas langsung beli motor dengan merk keluaran terbaru. Beberapa juga terlihat langsung beli mobil. Penampilannya pun berubah seolah jadi selebiritis. Kaca mata ganti sesuai dengan tren yang ada. Fashion dan tampilannya yang klimis nan necis ini juga selalu diunggah di media sosialnya. Satu hal yang tidak pernah mereka lakukan dulu. Ngeri juga ya.

Tidak beberapa juga yang memilih menghindar ketika bertemu. Seolah pertemuan hanya akan memunculkan tembok pemisah yang rasanya sulit sekali digeser. P3K seolah menjadi titik seseorang untuk membalas dendam. Titik yang mengubah mampu mengubah pola sikap dan karakter seseorang. Pertanyaannya kemudian sampai sejauh mana harta benda, jabatan, dan kuasa itu mampu mengubah seseorang? Nah, ketika tulisanku ini dianggap naif silakan saja tapi yang kujumpai di lapangan memang demikian dan tidak hanya satu dua. Banyak!

Satu hal yang terus terang saja masih kutakutkan. Kekhawatiran yang sama dengan yang dialami Idrus bukan? Ingin rasanya aku seperti bapak dan ibuku. Bagiku bapak dan ibu adalah role model tokoh idola. Sebuah contoh yang ada langsung di depan mata.

Bagaimana tidak? Bapak yang hanya tukang parkir di pasar dan ibu yang hanya guru honorer di TK bersahaja dalam keberadaannya. Keluarga yang dibina pun harmonis. Punya tiga anak yang perhatian kepada kedua orang tua. Didikan agama dan didikan toleransi sosialnya juga terasa. Tukang parkir dan guru honorer ini puntak jarang jadi rujukan bagi para saudara. Saudara dekat dan jauh selalu datang berkunjung untuk pinjam uang. Ada yang dikembalikan, ada juga yang menghilang.

Belum dengan pandangan dan kebijaksanaannya. Beberapa kali saudara datang ke rumah sekadar untuk mengobrol melepas sepi karena ditinggal anak-anaknya pergi ke Jakarta. Hampir setiap hari pula kedua orangtuaku ini mengirim nasi, sayur, dan lauk ke rumahnya. Istrinya sudah meninggal, anak-anaknya merantau ke Jakarta. Pulang ketika lebaran, itu saja kadang-kadang.

Beberapa saudara datang minta pendapat atas keruwetan masalah keluarganya. Bahkan meminta perlindungan dengan bersembunyi di rumah selama beberapa waktu untuk menenangkan diri karena terlibat perselisihan dengan orang tuanya. Bapak dan Ibu yang akhirnya ke rumahnya untuk mendamaikan. Bapak dan ibu seolah menjadi juru damai. Ah mau rasanya aku jadi seperti mereka.

Belum lama Bapak dan Ibu bercerita dengan linangan air mata sepulang umrah. Umrah! Siapa yang menyangka kedua orangtuaku ini bisa umrah. Uang darimana? Bapak yang hanya mengumpulkan uang seribu dua ribu sehari-hari dan ibu yang honornya sebagai guru tak lebih dari 300 ribu sebulan ternyata bisa umrah.

Ketika mendengar istilah umrah adalah panggilan suci dari Allah, aku tak akan dan tak bisa membantah. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri keistimewaan Allah ini melalui kedua orangtuaku. Mereka bercerita selama beribadah di Mekkah-Madinah sana selalu saja dipermudah oleh Allah. Bahkan Bapak dan Ibu bisa menyelesaikan empat kali umrah. Satu kali umrah untuk dirinya sendiri yang ketiga kalinya mengumrahkan kakek, nenek, dan paman bibi yang sudah meninggal. Ya Allah luhur sekali.


Gemuruh perasaan meluap-luap yang seolah ingin tumpah ini diceritakan dengan menggebu-gebu kepadaku. Gemuruh perasaan ini membanjir hingga membuat air mataku tak tertahankan. Bapak tak henti-hentinya mendoakan agar aku kelak mampu menyusul pergi ke tanah suci. “Nanti kalau sampai di Masjid Nabawi coba cari sandal Bapak,” kata beliau. Sandal? Dari sekian banyak diksi dan kisahnya hanya sandal yang menjadi pilihan diksinya. Beliau bilang kalau sandal jepit Mellynya ketinggalan di Masjid Nabawi. Masya Allah bapak dan ibuku ini.

Perbedaan dua kondisi ini memuatku selalu berkontemplasi. Kekecewaan dan tekanan nyatanya tak jarang membuatku takut kalau-kalau aku berubah seperti teman-temanku di atas. Ada kalanya kekhawatiran ini justru merasa membuatku nyaman. Terlebih ketika bertemu dengan Muhidin M. Dahlan, penulis Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Muhidin sempat mengatakan bahwa tekanan itu lah yang membuat kita produktif. Begitu katanya ketika kumintai foto dan tanda tangan sesaat sebelum sarasehan seabad Pram di Pendopo Kabupaten Blora.

Tekanan dan rasa kecewa itulah yang membuat pada akhirnya membuat kelima indera kita menjadi semakin tajam dan peka. Perasaan dan mental kita juga semakin teguh. Belum lagi logika dan kekritisan daya pikir kita tak kalah tajamnnya. Tinggal bagaimana kita mengolah tekanan itu menjadi kekuatan mahadahsyat yang membentuk kita menjadi manusia baru, manusia dengan situasi baru, manusia dengan kemampuan baru, dan manusia dengan rasa penasaran-penasaran yang baru pula. Sikap manja dan mudah menyerah tentu akan sangat jauh kita tanggalkan.

ilustrasi foto diambil dari google

Cukup lama sebenarnya kegelisahan ini bersarang di hatiku. Tapi baru sekarang aku bisa menulisnya, pada Ramadhan yang hampir berakhir ini. Saat dimana di luar kabut turun semakin tebal, semakin dingin. Sedingin itu pula keluarga kecil itu kembali ke sarangnya. Keluarga tukang rongsok yang selalu kulihat ketika pulang tarawih sekira pukul 20.30 di Jalan Raya Blora-Purwodadi tak jauh dari lampu merah Biandono. Si bapak dengan langkah pelan mendorong gerobak berisi kardus, plastik, dan anaknya yang tertidur pulas. Sudah nyaris tidak bisa dibedakan mana si anak mana rongsokan karena semua bertumpuk menjadi satu. Didorongnya pelan gerobak itu khawatir si anak terbangun. Sementara si ibuk berjalan terseok-seok di belakang dengan kaki kanannya yang pincang membawa karung berisi tumpukan rongsokan pula. Melihat kondisi yang begini dalam hatiku berteriak kuat “Ya Allah! Tidak ya Allah. Aku tidak mau seperti teman-temanku itu! Aku mau seperti kedua orang tuaku yang bersahaja dalam kesederhanaannya.” 

0 komentar:

Posting Komentar