Blora, 17 Maret 2025
| gambar google |
Belum lama ini kuselesaikan artikelku berjudul “Lontong Tahu simbol Identitas Masyarakat Blora”. Tulisan yang merupakan naskah awal sebagai syarat keikutsertaan Bimtek Kepenulisan Konten Budaya lokal ini lolos screening. Sebanyak 60 dari 134 karya telah dipilih dan nantinya akan diterbitkan menjadi buku dengan konten budaya lokal oleh Perpusnas. Alhamdulilah tulisanku lolos. Senang tentunya karena ini baru pertama ini aku menulis untuk dikirim untuk acara beginian.
Maklum saja biasanya sih nulisnya cuma reportase. Itu saja untuk kalangan sendiri, eh pernah juga ding dimuat di Bloranews.com, tapi yaareportase juga sih. Hee. Kelolosan ini tak lepas dari bantuan tiga temanku. Mbak Zahra, Bu Fitri, dan Cak Rudd. Kepada mereka kumintai bantuan untuk membaca dan memberi masukan terkait tulisanku itu. Oke mari kita ngobrol tentang lontong tahu.
Lontong tahu adalah pengingat bahwasanya manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya sangkan paraning dumadi. Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis ini. Terlebih ketika mendapat sumber buku Tradisi dari Blora karya Suripan Sadi Hutomo. Buku yang kemudian menjadi salah satu rujukan utama tulisanku ini kudapat dari Dhidhin Mardianto, teman yang sekarang tinggal di Surabaya. Istrinya tak lain cucu dari Prof, Suripan. Saat mudik, Dhidhin mrmbawakan buku ini untuk kemudian kufotokopi. Nah untuk hubungan lontong tahu dan sangkan paraning dumadi lebih jauh nanti deh di artikel saja. Langsung ke sangkan paraning dumadi kali ya.
Sejauh apapun manusia melangkah, dia akan selalu kembali untuk mencari tahu darimana dan akan kemana dia kembali. Dalam sangkan paraning dumadi ini terdapat sebuah peristiwa yang hampir semua makhluk mengalaminya. Peristiwa itu adalah kelahiran. Ya.
![]() |
| gambar: arsip maiyah lumbung bailorah |
Kelahiran
ini dipotret dan dijadikan tema dalam diskusi rutinan Maiyah. Dalam akhir
mukadimah rutinan dipertanyakan sebenarnya kelahiran ini persitiwa apa? Kok
bisa proses kelahiran manusia di muka bumi ini diiringi dengan sederet upacara
dan laku tirakat yang menyertainya? Mari kita coba cari tahu.
Eits!
Budaya ini tidak cukup berhenti di sini lho. Berderet upacara selametan pun
digelar demi sang jabang bayi. Mulai dari mapati (saat janin masih
berusia empat bulan dalam kandungan), mitoni (janin berusia tujuh bulan
dalam kandungan), sampai kepada kerayahan (syukuran saat jabang bayi
lahir). Kerayahan menjadi cukup unik karena berbeda dengan syukuran
biasanya. Kalau syukuran yang hadir biasanya adalah para bapak, upacara kerayahan
ini dihadiri adalah para ibu.
Ketika si jebeng lahir upacara masih tetap dilanjutkan termasuk kepada bagaimana memperlakukan ari-ari. Di beberapa daerah adat membersihkan sampai menguburkan ari-ari ini bahkan masih kental dengan pakem-pakem tertentu. Ya semacam standar operasional prosedur lah kalah di dunia kerja. Pertama, mulai dari pembersihan ari-ari. Sang bapak sendiri yang harus mencuci ari-ari. Tentu dengan lembut. Si ari-ari tidak boleh terlalu ditekan. Mengapa harus si bapak? Hal ini merupakan wujud pertanggungjawaban bapak kepada anak serta wujud rasa kasih sayang dari bapak kepada si anak. Kalau bukan bapaknya yang membersihkan lalu siapa yang akan membersihkan ari-ari? Masa iya dilaundry? Jelas enggak kan?
Kedua, ari-ari yang sudah bersih kemudian dimasukkan ke dalam kendil. Kendil sendiri adalah kuali kecil terbuat dari tanah. Proses memasukkan ari-ari ke dalam kendil ini pun dibarengi dengan berbagai piranti. Piranti-piranti ini tak lain dari simbol dan harapan orang tua kepada bayi.
Jarum dan
benang merupakan simbol harapan agar
nantinya si anak mampu terampil dengan hal-hal yang berkaitan dengan urusan
busana. Kertas dan pensil atau bolpoin merupakan simbol harapan agar si anak
nanti mampu menjadi orang yang rajin lagi pintar. Lalu sisir dan cermin
kecil merupakan simbol harapan agar si anak nantinya pandai berdandan dan selalu
tampil tampan dan cantik.
Dimasukkan juga
ke dalam kendil tanaman alang-alang dan tanaman apa-apa, sejenis
rumput yang biasanya sering dijumpai di sawah maupun tepian sungai. Kedua
tanaman ini juga merupakan simbol harapan agar dalam tumbuh kembangnya si anak tidak
menghadapi halangan suatu apapun. Semua piranti ini kemudian dimasukkan ke
dalam kendil untuk dikuburkan.
Adapun proses
penguburan ari-ari pun tidak boleh sembarangan. Kendil ini kemudian digendong oleh si bapak menggunakan
gendongan. Nah, si bapak kemudian membaca salawat nabi sambil memegang payung. Pembawaan payung ini bertujuan agar agar si ari-ari yang tak lain saudara si bayi ini tidak
kepanasan. Usai bershalawat lalu ditanamlah si ari-ari ini di kanan pintu masuk untuk bayi
laki-laki dan sebelah kiri pintu masuk untuk bayi perempuan.
Sesudah
dimakamkan maka hendaknya diberi lampu di atas kuburan dan ditutupi dengan ember atau
keranjang. Pemasangan lampu dimaksudkan agar si bayi merasa tetap berada dalam situasi
yang terang dan hangat. Sementara penggunaan ember atau keranjang sebagai tutup agar ari-ari tidak digali oleh binatang.
![]() |
| dokumentasi pribadi |
Bayangkan,
bagaimana detail dan rumitnya upacara ini dilakukan mulai dari si bayi dalam
kandungan sampai lahir ke bumi. Kembali kepada pertanyaan dalam mukadimah
diskusi di atas. Dalam diskusi kutambahkan pertanyaan juga bahwa bukan hanya prosesi lahirnya bayi yang diupacarai sebegitu ketatnya
tetapi juga cara memperlakukan ari-ari. Apa yang menyebabkan ari-ari ini juga
diperlakukan sebegitu rupa?
Lalu kuceritakan pengalamanku dulu ketika diminta ibu untuk membawa tanah dari rumah terlebih
tanah dari atas ari-ari untuk dibawa ke Jogja. Tanah ini kemudian diminta ibu untuk
ditabur ke bawah tempat tidur. Katanya agar betah dan tidak selalu menangis ingat rumah.
Bukankah ari-ari juga diperlakukan istimewa? Ceritaku ini diamini oleh Mas Agus, sang moderator. Ia juga bercerita tentang ibunya juga
meminta untuk membawakan tanah ari-ari anaknya dari Mojokerto untuk dibawa
pulang. Saat itu ia menurut saja. Percaya tidak percaya ya semua hak kalian
bukan?
Tapi terus
terang saja masalah homesick awal ke Jogja ini akhirnya teratasi. Ya gimana dong?
Aku bukan Pramoedya yang cukup anti dengan javanisme. Asal tidak sampai merusak
akidah, budaya ini aku ikuti. Bukankah budaya ini juga tidak serta merta ada? Budaya ada tentu melalui proses yang sangat panjang mulai dari perenungan sampai kepada
kebiasaan. Nah, apalagi kita sebagai orang Jawa. Masa iya tidak percaya budaya Jawa ya kan?
Kembali ke
pertanyaan tadi, kelahiran itu sebenarnya peristiwa apa? Saat itu kujawab bahwa
bayi adalah harapan bagi kedua orang tua. Lahirnya si anak adalah hal yang
sangat dinantikan oleh orang tua. Upacara demi upacara itu digelar tak lain
merupakan perwujudan dari harapan orang tua agar si anak kelak mampu mikul
dhuwur mendhem jero. Dia lah yang nantinya menjadi ujung tombak penerus
keluarga. Nama baik keluarga tentu akan berada di pundak si anak kelak. Tentu tidak
ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Kelahiran bayi tidak lain adalah
kelahiran sebuah doa dan harapan yang suci.
Dalam diskusi
dibahas juga oleh Dalhar Muhammadun (Ketua Dewan Kebudayaan Blora sekaligus
penulis Tanah Berdarah di Bumi Merdeka) tentang reborn.
Lek Madun tidak hanya sebatas memandang kelahiran sebagai proses fisik saja
melainkan juga proses kelahiran batin. Reborn tidak lain adalah kelahiran
kembali. Ia kemudian menganalogikan kelahiran kembali ini sebagaimana proses
kelahiran kembalinya Pram. Pram pernah mengalami kekecewaan berat dari sang
ayah, Mastoer. Ketika itu Pram yang sudah lulus IBO (Institut Boedi Oetomo)
diminta untuk mengulang sekolah karena dianggap bodoh oleh ayahnya. Ayah Pram
adalah kepala sekolah di tempat yang sama. Pram yang kecewa kemudian pergi ke
kuburan tak jauh dari rumahnya. Ia lalu memangis dan berteriak sambil
membenturkan kepalanya ke pohon hingga berdarah.
Proses kelahiran
kembali Pram yang dramatis ini akhirnya menjadi poin diskusi yang menarik. Lek
Madun juga mengajak jamaah yang hadir untuk menggali tentang kelahiran kembali
ini. Saat itu juga kusampaikan bahwa kelahiran kembali ini tak lepas dari dua faktor.
Faktor yang pertama adalah faktor internal sedang yang kedua adalah faktor
eksternal. Sementara faktor kedua adalah faktor eksternal. Faktor momentum yang merupakan faktor eksternal kemudian disinggung oleh Lek Madun. Mas Agus sang
moderator juga memberikan stimulan terkait momentum bahwa sebaiknya kita
sebagai manusia mampu menjadi wadah jikalau momentum itu tiba sewaktu-waktu.
Momentum akhirnya menjadi poin lanjutan yang kemudian dibahas.
Usai diskusi
nyatanya aku jadi cukup lama termenung. Termenung untuk mempertanyakan semuanya.
Kelahiran kembali memang tidak bisa lepas dari yang namanya momentum. Nah,
bagaimana ya kita mampu dengan baik membaca momentum itu? Otak-atik, otak-atik,
dan otak-atik.
Caranya ya
dengan memperbanyak berlatih. Apapun saja latihannya. Baik yang bersifat
keterampilan maupun kebijaksanaan hati dan sikap. Dengan berlatih memperdalam
itu semua ketika momentum itu datang sewaktu-waktu kita sudah siap menyambut.
Hemm. Sembari manggut-manggut sikap open minded juga perlu diterapkan
dalam proses berlatih ini.
Sikap terbuka
dengan pendapat orang lain akan senantiasa membuat kita mau dan mampu belajar. Open
minded ini akan menjadikan kita lebih rendah hati. Jauh dari sikap
eksklusif dan sombong. Bukankah Ki Hadjar mengatakan semua orang itu guru, alam
raya sekolahku? Permasalahan yang kemudian timbul adalah bagaimana ketika
momentum itu sudah datang berkali-kali tapi kita sebagai manusia masih saja tidak
peka?
Jujur pertanyaan
ini yang kemudian terus membuatku berefleksi diri, berpikir tentang apa saja yang telah
kulakukan selama ini. Ngapain aja selama ini? Kebiasaan membaca dan
menulis? Membaca sih lanjut terus, kalau menulis? Terjadi pendangkalan yang
sangat hebat dalam hal menulis. Dulu. Ya dulu ketika kuliah aku cukup rutin menulis
kegelisahanku dalam buku harian. Menulis blog juga gas terus seusai kuliah.
Bahkan masih lanjut walau sudah mengajar. Menulis puisi,
cerpen, maupun opini pun produktif dulu. Selalu ada karya yang ready stock. Lha kini? Ah!
Giliran rubrik mading Cakrawala Magazine ada yang kosong selalu saja
kelimpungan. Akhirnya download google. Duh! Mengapa sih puisi saja kok
harus download? Mengapa tidak bikin sendiri? Semanja itukah dengan
google dan AI?
Padahal tulisan-tulisan
kegelisahan itu kan bahan bakar utama pergulatan ide dan pemikiran. Kontemplasi kata orang sekarang. Proses kontemplasi ini lah yang nantinya
akan bermuara kepada tutur kata kita bukan? Kegelisahan demi kegelisahan yang selalu menuntut
jawaban ini pada akhirnya membuat kita peka dan kritis tehadap keadaan. Tentang refleksi tadi lalu
gimana dong? Sudah lama tidak menulis ini? Haduh!
![]() |
Pembahasan
tentang momentum dan kelahiran kembali ini menyeret-nyeretku melewati berbagai
pertanyaan yang datang silih berganti. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian
bermuara kepada ajakan Thosim. Ajakan untuk mengirim tulisan dengan konten
budaya lokal ini menjadi trigger sendiri buatku. Kupikir-pikir cukup lama juga rasanya aku tidak
menulis, mengobservasi, meriset kecil-kecilan seperti dulu. Nah, kalau malasisasi
ini kuturuti terus akan jadi apa aku nantinya? Jadi manusia dengan budaya malas. Hwuah! Budaya bermula dari kebiasaan
yang dilakukan berulang-ulang bukan? Oh Tuhanku tolonglah hambamu ini lepas dari kemalasan. Mungkin
keikutsertaan dalam menulis konten budaya lokal ini akan menjadi awal latihanku dalam membaca momentum untuk kelahiran yang baru. Ya semoga saja. Semoga. Bismillah.



0 komentar:
Posting Komentar