Pernahkah kalian
merasa bahwa dirimu sedang tidak baik-baik saja?
Sedang tidak baik-baik saja. Ya sedang tidak baik-baik saja. Kalimat yang sering kita jumpai dalam novel maupun cerpen itu kini menggelinding dengan begitu deras akhir-akhir ini. Ketika dicari tahu lebih dalam, kalimat ini menjadi sering digunakan karena efek viral. Yah, sebagaimana kata, kalimat, foto, video, bahkan backsound musik menjadi seolah-olah mewakili diri kita dan familiar hanya karena viral. Hanya karena ingin dikenal. Hanya karena ramai dibicarakan. Bukankah kata galau dan dilema juga pernah mengalami hal yang demikian sebelumnya?
Viral itu tidak
bisa lepas dari pengaruh media informasi yang berkembang sebegini masif. Pengaruh
ini terkadang membuat kita terjebak kepada ketersesatan penafsiran yang
akhirnya membuat kita menjadi susah berkembang. Dengan maraknya berbagai fitur aplikasi
yang ada dalam gawai membuat manusia cenderung menerima dengan menelan apa saja
tanpa memelajari lebih jauh. Sesuai dengan fungsinya. Teknologi kan berfungsi
mempermudah pekerjaan manusia? Ya sih. Perlu diketahui, karena sangking mempermudah
akhirnya membuat manusia menjadi malas untuk bergerak dan bekerja. Tentu kalian
juga mengikut kontroversi chatt GPT dan AI bukan? Kalau serta
merta kita telan saja perkembangan ini tentu pada akhirnya manusia akan mehgalami
mati sajroning urip.
Bukankah manusia
akhirnya menjadi mati dalam kehidupan yang universal ini? Mau apalagi? Semua-mua
sudah disediakan. Semua-mua mintanya yang cepat. Semua-mua maunya yang mudah. Tidak
menutup kemungkinan bahwa suatu ketika pikiran manusia menjadi mati. Pengaruh perkembangan
teknologi informasi perlu dibarengi dengan filterisasi diri. Perkembangan memang
tidak bisa dinafikan. Tidak bisa ditolak. Akan tetapi kemajuan dan perkembangan
ini bisa direm dengan cara filterisasi yang lebih kuat.
Coba
supaya lebih kontekstual dengan pembahasan di atas kita coba untuk gali hal kecil
ini dulu. Kemarin dalam Selasa Bersua kuutarakan pertanyaanku “Sebenarnya
fungsi dari instastory dan story WA itu untuk apa sih?”. Pertanyaan
yang kusampaikan kemarin bukan bermaksud untuk mengetes atau pertanyaan retoris
belaka. Melainkan benar-benar bertanya karena ingin mencari jawaban.
Teman-teman dalam diskusi mendadak
terdiam. Mengerutkan alis. Buat kalian yang tahu jawabannya tolong sampaikan di
kolom komentar ya.
Bukankah kita
sering terjebak dalam hal-hal seperti ini. Apakah tujuan dari dua aplikasi ini
hanya untuk ajang pamer? Mungkin dengan kata yang lebih naif mengaktualisasi
diri mungkin. Yang artinya sebenarnya tidak berbeda jauh bukan? Tak jarang
bahkan dua menu dalam aplikasi ini digunakan untuk berjualan, sebagaimana menu live.
Live yang sebenarnya fungsi utamanya untuk mengabarkan hal yang sedang
terjadi pada saat itu juga berubah fungsi. Ya namanya orang. setiap orang tentu
punya persepsi masing-masing. Dari masing-masing ini lah msing-masing pula outputnya.
Justru menu live digunakan untuk berjualan. Tak jarang juga untuk
mencari bahan obrolan. Apa iya?
Sangking
penasarannya, suatu ketika coba kutanyakan kepada kawanku di kantor. Saat itu
dia sedang makan. Di depannya gadgetnya berdiri. Makan dengan intensitas
biasa mendadak menjadi very slowly. Melihat fenomena ini akhirnya
kutanyakan “Mengapa sih makan saja harus live?” Dijawabnya dengan nada
sinis. “Lho kenapa mendadak julid sih?” Saat itu juga kusampaikan maksud dan
tujuanku bertanya. Bahwa aku bertanya karena memang tidak tahu fenomena ini. kutambahkan
juga bahkan di beberapa tempat makan yang hits sering kujumpai budaya
seperti ini. Dijawablah dengan nada rendah setengah kelimpungan “Ya dengan cara
live begini biasanya akan ada interaksi dari mereka yang nonton.” Oh. Hanya
itu ternyata tujuannya ya? Tentu akan berbeda jawaban ketika ditanya kepada
orang lain terlebih untuk mereka yang jualan dengan memanfaatkan live.justru
lebih bermanfaat ketika dipakai untuk media jualan ya kan?
Budaya seperti
ini tentu menjadi cukup aneh buat kita yang lahir lebih awal. Belum lagi
generasi ibu dan bapak kita yang untuk mengirim foto maupun kontak lewat WA saja
sudah harus minta bantuan orang lain. Tentu mereka akan bertanya mengapa sih makan
saja direkam.
Menghadapi perkembangan
budaya ini harusnya kita mampu mawas diri. Ya caranya adalah dengan daulat diri
yang penuh. Daulat yang kumaksudkan dalam hal ini adalah memiliki kesadaran dan
kemampuan mengontrol diri. Kesadaran ini lah yang akan masuk membentuk mindset
dan pola diri yang teguh. Daulat diri diraih dari kewaspadaan-kewaspadaan
terhadap sesuatu. Kewaspadaan ini bermula dari pertanyaan-pertanyaan yang coba kita
cari dan terus cari kebenarannya. Kok bisa begini kok tidak begitu? Kesadaran dan
kemampuan mengontrol diri akan membawa kita menjadi manusia yang tidak mudah kagetan.
Ketika kita tidak mempunyai kedaulatan diri yang penuh, kita akan mudah
terjerumus masuk ke dalam jebakan-jebakan ilusi.
Hulu dari
pencarian tentang kaedaulatan itu sendiri ada adalah dalam diri kita sendiri. Ukuran
setiap orang tentu akan berbeda-beda. Setiap orang memiliki standarnya masing-masing.
Standar ini dibentuk diri dari perjalanan hidup, lingkungan sekitar, bahkan dari
apa yang sering dilihat dan dikonsumsinya. Ketika ibu-ibu suka nonton gosip di
televisi tentu yang akan menjadi panutan dan tolok ukur adalah tokoh-tokoh yang
ada dalam pembicaraan gosip itu. Pun sama halnya dengan apa yang menjadi
konsumsi di media-media layaknya youtube, instagram, maupun tiktok. Algoritma yang
ada akan menyuguhkan kita dengan tayangan-tayangan yang biasa kita cari. Ini yang
akan mengakibatkan kita terjebak dalam dunia genjutsu kata Naruto yang
tak habis-habis.
Termasuk story-story
yang ada dalam aplikasi yang sempat kusebutkan tadi. Bahkan satu dari sekian
bannyak temanku sampai-sampai aku pun sering tidak memercayai apa yang diunggah
dalam story WA maupun story IG-nya. Bagaimana tidak, story
baik video maupun foto yang diunggah adalah hasil dari downloadan dari
google maupun youtube yang kebenarannya masih perlu diperdebatkan.
Nah justru karena
orangnya unik, dari story-story itu selalu menjadi bahan candaan yang tak ada
habisnya. Berbicara tentang story ini, hari ini coba kuunggah foto stroy. dua
kaki bersepatu di lapagan dengan caption H-7 Pendakian Semeru. Tak ayal respon
yang masuk pun berbeda-beda. Ada yang bilang beneran mau naik Semeru? Ada juga
yang merespon “Taiiii. Kamu lagi ada misi apa?”
Dengan postingan
ini nyatanya menyadarkanku untuk mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yang
ada di tayangan media. Ketika kita mudah percaya dengan yang ada di media,
justru akan menyesatkan kita sebagai manusia.
Postingan-postingan
yang ditampilkan di beberapa media itu akhirnya seolah membungkus manusia dalam
keterjebakan-keterjebakan ilusi. Ketika makan di resto ini difoto dulu buat story.
Sementara ketika makan pecel lele nyatanya diskip tanpa foto-foto yang katanya estetik.
Belum lagi dengan orang yang melihat foto story itu ya kan? Mereka tentu
akan punya persepsi tentang yang lain-lain tentang diri kita. Menyikapi hal ini
temanku kuliah dulu pernah bilang. “Percuma berhijab kalau apapun yang ada diunggah
semua.”
Jadi kita perlu yang
namanya kewaspadaan diri. Hal ini lah yang nantinya akan menghasilkan output
berupa daulat diri supaya kita tidak terjebak dalam kubangan-kubangan ilusi. Bukankah
cermin juga sering menjebak kita. Ketika kita sedang bercermin, yang kita lihat
dalam cermin itu diri kita atau kita bercermin hanya untuk memperbaiki letak
kerudung yang miring? Pernahkah kita introspeksi tentang diri kita agak lama?

1 komentar:
Cerita dalam opini itu menarik pak, menurut saya bahasanya juga bagus banget, dari cerita diatas saya bisa tersadar bahwa kebanyakan manusia akan terbawa kedalam dunia sosmed, kebanyakan orang mengalaminya Bahwa apa yang dilakukan itu berlebihan untuk mengaplot foto dan video hanya untuk pamer.
Dari opini di atas menurut saya udah keren banget, gak ada yang saya komentari pak👍
Posting Komentar