Kamis, 26 Desember 2024

MEWASPADAI JEBAKAN ILUSI


Pernahkah kalian merasa bahwa dirimu sedang tidak baik-baik saja?

    


Sedang tidak baik-baik saja. Ya sedang tidak baik-baik saja. Kalimat yang sering kita jumpai dalam novel maupun cerpen itu kini menggelinding dengan begitu deras akhir-akhir ini. Ketika dicari tahu lebih dalam, kalimat ini menjadi sering digunakan karena efek viral. Yah, sebagaimana kata, kalimat, foto, video, bahkan backsound musik menjadi seolah-olah mewakili diri kita dan familiar hanya karena viral. Hanya karena ingin dikenal. Hanya karena ramai dibicarakan. Bukankah kata galau dan dilema juga pernah mengalami hal yang demikian sebelumnya?

Viral itu tidak bisa lepas dari pengaruh media informasi yang berkembang sebegini masif. Pengaruh ini terkadang membuat kita terjebak kepada ketersesatan penafsiran yang akhirnya membuat kita menjadi susah berkembang. Dengan maraknya berbagai fitur aplikasi yang ada dalam gawai membuat manusia cenderung menerima dengan menelan apa saja tanpa memelajari lebih jauh. Sesuai dengan fungsinya. Teknologi kan berfungsi mempermudah pekerjaan manusia? Ya sih. Perlu diketahui, karena sangking mempermudah akhirnya membuat manusia menjadi malas untuk bergerak dan bekerja. Tentu kalian juga mengikut kontroversi chatt GPT dan AI bukan? Kalau serta merta kita telan saja perkembangan ini tentu pada akhirnya manusia akan mehgalami mati sajroning urip.

Bukankah manusia akhirnya menjadi mati dalam kehidupan yang universal ini? Mau apalagi? Semua-mua sudah disediakan. Semua-mua mintanya yang cepat. Semua-mua maunya yang mudah. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu ketika pikiran manusia menjadi mati. Pengaruh perkembangan teknologi informasi perlu dibarengi dengan filterisasi diri. Perkembangan memang tidak bisa dinafikan. Tidak bisa ditolak. Akan tetapi kemajuan dan perkembangan ini bisa direm dengan cara filterisasi yang lebih kuat.

          Coba supaya lebih kontekstual dengan pembahasan di atas kita coba untuk gali hal kecil ini dulu. Kemarin dalam Selasa Bersua kuutarakan pertanyaanku “Sebenarnya fungsi dari instastory dan story WA itu untuk apa sih?”. Pertanyaan yang kusampaikan kemarin bukan bermaksud untuk mengetes atau pertanyaan retoris belaka. Melainkan benar-benar bertanya karena ingin mencari jawaban.

Teman-teman dalam diskusi mendadak terdiam. Mengerutkan alis. Buat kalian yang tahu jawabannya tolong sampaikan di kolom komentar ya.

Bukankah kita sering terjebak dalam hal-hal seperti ini. Apakah tujuan dari dua aplikasi ini hanya untuk ajang pamer? Mungkin dengan kata yang lebih naif mengaktualisasi diri mungkin. Yang artinya sebenarnya tidak berbeda jauh bukan? Tak jarang bahkan dua menu dalam aplikasi ini digunakan untuk berjualan, sebagaimana menu live. Live yang sebenarnya fungsi utamanya untuk mengabarkan hal yang sedang terjadi pada saat itu juga berubah fungsi. Ya namanya orang. setiap orang tentu punya persepsi masing-masing. Dari masing-masing ini lah msing-masing pula outputnya. Justru menu live digunakan untuk berjualan. Tak jarang juga untuk mencari bahan obrolan. Apa iya?

Sangking penasarannya, suatu ketika coba kutanyakan kepada kawanku di kantor. Saat itu dia sedang makan. Di depannya gadgetnya berdiri. Makan dengan intensitas biasa mendadak menjadi very slowly. Melihat fenomena ini akhirnya kutanyakan “Mengapa sih makan saja harus live?” Dijawabnya dengan nada sinis. “Lho kenapa mendadak julid sih?” Saat itu juga kusampaikan maksud dan tujuanku bertanya. Bahwa aku bertanya karena memang tidak tahu fenomena ini. kutambahkan juga bahkan di beberapa tempat makan yang hits sering kujumpai budaya seperti ini. Dijawablah dengan nada rendah setengah kelimpungan “Ya dengan cara live begini biasanya akan ada interaksi dari mereka yang nonton.” Oh. Hanya itu ternyata tujuannya ya? Tentu akan berbeda jawaban ketika ditanya kepada orang lain terlebih untuk mereka yang jualan dengan memanfaatkan live.justru lebih bermanfaat ketika dipakai untuk media jualan ya kan?

Budaya seperti ini tentu menjadi cukup aneh buat kita yang lahir lebih awal. Belum lagi generasi ibu dan bapak kita yang untuk mengirim foto maupun kontak lewat WA saja sudah harus minta bantuan orang lain. Tentu mereka akan bertanya mengapa sih makan saja direkam.

Menghadapi perkembangan budaya ini harusnya kita mampu mawas diri. Ya caranya adalah dengan daulat diri yang penuh. Daulat yang kumaksudkan dalam hal ini adalah memiliki kesadaran dan kemampuan mengontrol diri. Kesadaran ini lah yang akan masuk membentuk mindset dan pola diri yang teguh. Daulat diri diraih dari kewaspadaan-kewaspadaan terhadap sesuatu. Kewaspadaan ini bermula dari pertanyaan-pertanyaan yang coba kita cari dan terus cari kebenarannya. Kok bisa begini kok tidak begitu? Kesadaran dan kemampuan mengontrol diri akan membawa kita menjadi manusia yang tidak mudah kagetan. Ketika kita tidak mempunyai kedaulatan diri yang penuh, kita akan mudah terjerumus masuk ke dalam jebakan-jebakan ilusi.

Hulu dari pencarian tentang kaedaulatan itu sendiri ada adalah dalam diri kita sendiri. Ukuran setiap orang tentu akan berbeda-beda. Setiap orang memiliki standarnya masing-masing. Standar ini dibentuk diri dari perjalanan hidup, lingkungan sekitar, bahkan dari apa yang sering dilihat dan dikonsumsinya. Ketika ibu-ibu suka nonton gosip di televisi tentu yang akan menjadi panutan dan tolok ukur adalah tokoh-tokoh yang ada dalam pembicaraan gosip itu. Pun sama halnya dengan apa yang menjadi konsumsi di media-media layaknya youtube, instagram, maupun tiktok. Algoritma yang ada akan menyuguhkan kita dengan tayangan-tayangan yang biasa kita cari. Ini yang akan mengakibatkan kita terjebak dalam dunia genjutsu kata Naruto yang tak habis-habis.

Termasuk story-story yang ada dalam aplikasi yang sempat kusebutkan tadi. Bahkan satu dari sekian bannyak temanku sampai-sampai aku pun sering tidak memercayai apa yang diunggah dalam story WA maupun story IG-nya. Bagaimana tidak, story baik video maupun foto yang diunggah adalah hasil dari downloadan dari google maupun youtube yang kebenarannya masih perlu diperdebatkan.


Nah justru karena orangnya unik, dari story-story itu selalu menjadi bahan candaan yang tak ada habisnya. Berbicara tentang story ini, hari ini coba kuunggah foto stroy. dua kaki bersepatu di lapagan dengan caption H-7 Pendakian Semeru. Tak ayal respon yang masuk pun berbeda-beda. Ada yang bilang beneran mau naik Semeru? Ada juga yang merespon “Taiiii. Kamu lagi ada misi apa?”

Dengan postingan ini nyatanya menyadarkanku untuk mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yang ada di tayangan media. Ketika kita mudah percaya dengan yang ada di media, justru akan menyesatkan kita sebagai manusia.

Postingan-postingan yang ditampilkan di beberapa media itu akhirnya seolah membungkus manusia dalam keterjebakan-keterjebakan ilusi. Ketika makan di resto ini difoto dulu buat story. Sementara ketika makan pecel lele nyatanya diskip tanpa foto-foto yang katanya estetik. Belum lagi dengan orang yang melihat foto story itu ya kan? Mereka tentu akan punya persepsi tentang yang lain-lain tentang diri kita. Menyikapi hal ini temanku kuliah dulu pernah bilang. “Percuma berhijab kalau apapun yang ada diunggah semua.”

Jadi kita perlu yang namanya kewaspadaan diri. Hal ini lah yang nantinya akan menghasilkan output berupa daulat diri supaya kita tidak terjebak dalam kubangan-kubangan ilusi. Bukankah cermin juga sering menjebak kita. Ketika kita sedang bercermin, yang kita lihat dalam cermin itu diri kita atau kita bercermin hanya untuk memperbaiki letak kerudung yang miring? Pernahkah kita introspeksi tentang diri kita agak lama?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Cerita dalam opini itu menarik pak, menurut saya bahasanya juga bagus banget, dari cerita diatas saya bisa tersadar bahwa kebanyakan manusia akan terbawa kedalam dunia sosmed, kebanyakan orang mengalaminya Bahwa apa yang dilakukan itu berlebihan untuk mengaplot foto dan video hanya untuk pamer.
Dari opini di atas menurut saya udah keren banget, gak ada yang saya komentari pak👍

Posting Komentar