Baru beberapa
hari yang lalu Zahra, temanku di kantor yang seorang santri Gontor bertanya
kepadaku “Baru kali ini saya ikut acara salawatan. Apakah boleh ya salawatan dilafazkan
dengan agak berteriak seperti itu?” Pertanyaan yang lebih seperti autokritik
ini sebenarnya sudah pernah kutanyakan bertahun-tahun lalu. Kurang lebih lima enam
tahunan yang lalu kalau tidak salah ingat.
Ketika itu beberapa
anak mengatasnamakan dirinya santri dengan mengklaim bahwa ia adalah seorang pencinta
salawat dengan mengenakan kaos hitam bersarung mencoba mencegat truk yang
sedang melaju. Apalagi kalau bukan mencari tumpangan untuk menghadiri majelis
salawatan. Di majelis salawat mereka ini bahkan mengibarkan bendera besar dan
menggoyang-goyangkan bendera itu tak ubahnya nonton konser. Pada masa itu hal
seperti ini massif sekali.
Tak ayal banyak
orang mengatakan bahwa mereka ini adalah anak punk mode santri. Apakah memang
begitu? Sebentar mari kita gali bersama. Apa yang salah dari punk? Punk
merupakan sikap resistensi terhadap kemapanan. Dengan sistem apa adanya, solidaritas
tinggi dengan berkerjasama, menghindari sistem-sistem yang menyengsarakan, dan menolak
semua bentuk penindasan. Bukan begitu? Apakah itu salah? Tentu bukan! Tentang lifestylenya
itu kan pilihan masing-masing.
Lalu tentang yang tadi itu? Apakah begitu cara
bersalawat?
Ya. Pertanyaan Zahra,
temanku ini membuatku seolah de javu kepada pengalaman lima-enam tahun
silam. Tentang suatu Ketika banyak orang mengklaim dan mendirikan komunitas
salawat ini lah itu lah. Menggunakan atribut begini lah, menggunakan slogan
begitu lah. Sah-sah saja bukan? Ya sah-sah saja orang-orang membentuk dan
mendirikan komunitas. Substansinya bukan itu ya. Cara bersalawatnya yang
menjadi pembahasan.
Pertanyaan tentu menuntut adanya jawaban. Termasuk pertanyaanku enam tahun silam yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan itu muncul kembali karena pertanyaan Zahra temanku itu. Bolehkah bersalawat dengan cara yang seperti itu? Ketika ia bertanya aku menjawab bahwa mereka itu bersalawat dengan mengekspresikan rasa cintanya kepada Baginda Nabi. Sayangnya memang ekspresi yang ditampilkan ada yang bergeser dari norma kesopanan yang berlaku.
| foto: google |
Pertanyaan Zahra
temanku ini menyeretku berdialektika kembali saat aku menghadiri acara haul di
salah satu pondok pesantren tak jauh dari rumahku. Bersama teman-teman, aku
menghadiri acara haul dan pengajian yang diselenggarakan di lapangan pondok.
Pengisi acara adalah salah Kiai Jadul Maula dari Yogyakarta. Pyar! Pertanyaan Zahra
kala itu membenturi apa-apa yang ada di hati dan pikiranku. Bagaimana tidak?
Kiai Jadul dengan emprak Kali Opaknya menyajikan salawat dipadukan dengan
iringan gamelan. Tentu beda dong dengan pembacaan salawat yang biasa kita tahu
di sekitar kita. Sebelum memulai pembacaan salawat, Kiai Jadul menyampaikan bahwa
pembacaan salawat ini mungkin agak beda dari yang pda umumnya kita dengar. Ia menambahkan
bahwa salawat ini dulunya dibawakan oleh K.R.T. Yasadipura II zaman Mataram.
Salawat yang diiringi
gamelan ini mengalun dengan tempo yang merdu. Dengan nada-nada dan kata-kata
berupa tembang Jawa lama ditambah dengan tarian dari seorang penari wantia berbaju
tertutup yang lemah gemulai, tarian khas keraton, sontak menyita perhatianku.
Satu tembang
pujian salawat selesai dilantunkan, Kiai Jadul menyampaikan ular-ular
berupa dhawuh-dhawuh serta nasihat yang menguatkan agar para jamaah yang
hadir selalu istikamah dalam beragama Islam. Usai dhawuh disampaikan,
disambung dengan gendhing dan tembang puji-pujian disrtai iringan
gamelan. Usai satu tembang, disambung dhawuh, begitu seterusnya. Di
tengah tembang dan gendhing dilantunkan, di pojok belakang tampak
seorang penari berdiri dengan peci yang sangat tinggi lalu berputar-putar. Tari
sufi. Perpaduan nuansa keraton Mataram Islam dengan perpaduan tari sufi ala
timur tengah sangatlah harmonis. Seketika dalam hati kecilku bertanya apakah
dulu begini ya cara Kangjeng Sunan berdakwah? Jalan dakwah yang menggunakan
budaya sebagai jembatan penghubung kepada masyarakat? Lalu pertanyaan Zahra
temanku itu juga ikutan nyelonong begitu saja “Memang boleh ya
bersalawat seperti itu? Dengan tarian pula?”
Seketika aku
pun langsung bertanya kepada salah satu guruku, Cak Rudd namanya. Entah mengapa
ia selalu bersungut-sungut kalau dipanggil dengan sebutan kiai. Begini pertanyaanku
waktu itu.
A : “Cak,
apakah ada pedoman baku tentang adab ataupun tatacara dalam membaca ataupun melantunkan
salawat?”
CR :
“Sejauh yang aku tahu tidak ada. Yang penting sopan.”
A : “Berarti
cara melantunkan salawat bisa dilakukan dengan ekspresi yang bermacam-macam ya,
Cak?”
CR : “Yesss.
Walau dengan ekspresi kurang sopan pun kata para ulama tetap mendapat pahala. Tetapi
masa iya kita tega?”
CR :
“Dalam Islam itu:
Semuanya dilarang, kecuali yang diperintahkan. Atau semuanya boleh
kecuali yang dilarang?” jawaban yang diakhiri dengan tanda tanya. Mikir lagi ya
kan?
Jawaban CR ini
cukup jelas rasanya merespon pertanyaan Zahra temanku itu. Begitu pun pertanyaanku
lima-enam tahun yang lalu. Berarti etika yang lebih memainkan peranan dalam
konteks ini. Sejauh mana kita mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tentu
kita tidak mau menjadi orang yang zalim. Boleh berkespresi asal tidak terlepas
dari norma dan aturan yang berlaku. Begitu.
0 komentar:
Posting Komentar