Kamis, 10 Oktober 2024

SEBUAH EKSPRESI DALAM BERSIKAP

Baru beberapa hari yang lalu Zahra, temanku di kantor yang seorang santri Gontor bertanya kepadaku “Baru kali ini saya ikut acara salawatan. Apakah boleh ya salawatan dilafazkan dengan agak berteriak seperti itu?” Pertanyaan yang lebih seperti autokritik ini sebenarnya sudah pernah kutanyakan bertahun-tahun lalu. Kurang lebih lima enam tahunan yang lalu kalau tidak salah ingat.

Ketika itu beberapa anak mengatasnamakan dirinya santri dengan mengklaim bahwa ia adalah seorang pencinta salawat dengan mengenakan kaos hitam bersarung mencoba mencegat truk yang sedang melaju. Apalagi kalau bukan mencari tumpangan untuk menghadiri majelis salawatan. Di majelis salawat mereka ini bahkan mengibarkan bendera besar dan menggoyang-goyangkan bendera itu tak ubahnya nonton konser. Pada masa itu hal seperti ini massif sekali.

Tak ayal banyak orang mengatakan bahwa mereka ini adalah anak punk mode santri. Apakah memang begitu? Sebentar mari kita gali bersama. Apa yang salah dari punk? Punk merupakan sikap resistensi terhadap kemapanan. Dengan sistem apa adanya, solidaritas tinggi dengan berkerjasama, menghindari sistem-sistem yang menyengsarakan, dan menolak semua bentuk penindasan. Bukan begitu? Apakah itu salah? Tentu bukan! Tentang lifestylenya itu kan pilihan masing-masing. Lalu tentang yang tadi itu? Apakah begitu cara bersalawat?

Ya. Pertanyaan Zahra, temanku ini membuatku seolah de javu kepada pengalaman lima-enam tahun silam. Tentang suatu Ketika banyak orang mengklaim dan mendirikan komunitas salawat ini lah itu lah. Menggunakan atribut begini lah, menggunakan slogan begitu lah. Sah-sah saja bukan? Ya sah-sah saja orang-orang membentuk dan mendirikan komunitas. Substansinya bukan itu ya. Cara bersalawatnya yang menjadi pembahasan.

Pertanyaan tentu menuntut adanya jawaban. Termasuk pertanyaanku enam tahun silam yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan itu muncul kembali karena pertanyaan Zahra temanku itu. Bolehkah bersalawat dengan cara yang seperti itu? Ketika ia bertanya aku menjawab bahwa mereka itu bersalawat dengan mengekspresikan rasa cintanya kepada Baginda Nabi. Sayangnya memang ekspresi yang ditampilkan ada yang bergeser dari norma kesopanan yang berlaku.

foto: google

Pertanyaan Zahra temanku ini menyeretku berdialektika kembali saat aku menghadiri acara haul di salah satu pondok pesantren tak jauh dari rumahku. Bersama teman-teman, aku menghadiri acara haul dan pengajian yang diselenggarakan di lapangan pondok. Pengisi acara adalah salah Kiai Jadul Maula dari Yogyakarta. Pyar! Pertanyaan Zahra kala itu membenturi apa-apa yang ada di hati dan pikiranku. Bagaimana tidak? Kiai Jadul dengan emprak Kali Opaknya menyajikan salawat dipadukan dengan iringan gamelan. Tentu beda dong dengan pembacaan salawat yang biasa kita tahu di sekitar kita. Sebelum memulai pembacaan salawat, Kiai Jadul menyampaikan bahwa pembacaan salawat ini mungkin agak beda dari yang pda umumnya kita dengar. Ia menambahkan bahwa salawat ini dulunya dibawakan oleh K.R.T. Yasadipura II zaman Mataram.

Salawat yang diiringi gamelan ini mengalun dengan tempo yang merdu. Dengan nada-nada dan kata-kata berupa tembang Jawa lama ditambah dengan tarian dari seorang penari wantia berbaju tertutup yang lemah gemulai, tarian khas keraton, sontak menyita perhatianku.

Satu tembang pujian salawat selesai dilantunkan, Kiai Jadul menyampaikan ular-ular berupa dhawuh-dhawuh serta nasihat yang menguatkan agar para jamaah yang hadir selalu istikamah dalam beragama Islam. Usai dhawuh disampaikan, disambung dengan gendhing dan tembang puji-pujian disrtai iringan gamelan. Usai satu tembang, disambung dhawuh, begitu seterusnya. Di tengah tembang dan gendhing dilantunkan, di pojok belakang tampak seorang penari berdiri dengan peci yang sangat tinggi lalu berputar-putar. Tari sufi. Perpaduan nuansa keraton Mataram Islam dengan perpaduan tari sufi ala timur tengah sangatlah harmonis. Seketika dalam hati kecilku bertanya apakah dulu begini ya cara Kangjeng Sunan berdakwah? Jalan dakwah yang menggunakan budaya sebagai jembatan penghubung kepada masyarakat? Lalu pertanyaan Zahra temanku itu juga ikutan nyelonong begitu saja “Memang boleh ya bersalawat seperti itu? Dengan tarian pula?”

Seketika aku pun langsung bertanya kepada salah satu guruku, Cak Rudd namanya. Entah mengapa ia selalu bersungut-sungut kalau dipanggil dengan sebutan kiai. Begini pertanyaanku waktu itu.

A       : “Cak, apakah ada pedoman baku tentang adab ataupun tatacara dalam membaca ataupun melantunkan salawat?”

CR    : “Sejauh yang aku tahu tidak ada. Yang penting sopan.

A       : “Berarti cara melantunkan salawat bisa dilakukan dengan ekspresi yang bermacam-macam ya, Cak?”

CR    : “Yesss. Walau dengan ekspresi kurang sopan pun kata para ulama tetap mendapat pahala. Tetapi masa iya kita tega?”

CR     : “Dalam Islam itu:

Semuanya dilarang, kecuali yang diperintahkan. Atau semuanya boleh kecuali yang dilarang?” jawaban yang diakhiri dengan tanda tanya. Mikir lagi ya kan?

Jawaban CR ini cukup jelas rasanya merespon pertanyaan Zahra temanku itu. Begitu pun pertanyaanku lima-enam tahun yang lalu. Berarti etika yang lebih memainkan peranan dalam konteks ini. Sejauh mana kita mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tentu kita tidak mau menjadi orang yang zalim. Boleh berkespresi asal tidak terlepas dari norma dan aturan yang berlaku. Begitu.

 

0 komentar:

Posting Komentar