Pernahkah terlintas dalam hati kalian bahwa pada masanya semua itu akan
kembali? Seperti halnya dengan hobi. Tidak pernah terlintas dalam hati kok bisa
ya hal ini kembali menjumpaiku setelah bertahun-tahun berlalu? Apa sih yang
dimaksud? Tentunya kalian akan bertanya-tanya tentang ini.
Ya. hal tersebut
adalah dunia baca dan tulis menulis. Saat itu ya sudah tidak terlalu dipikirin.
Ketika ditanya sedari kapan aku suka membaca? Mungkin butuh waktu sekitar
tiga-lima menit menjawab. Sudah agak lupa soalnya. Kesukaanku dengan buku
mungkin berawal dari SMP. Setelah coba kuingat-ingat kembali sepertinya ya, SMP.
Saat itu SMP kelas 1, aku mulai sering keluar masuk perpustakaan sekolah. Yah,
namanya juga di daerah. Kenal perpus baru ketika masuk SMP.
Saat itu buku
kegemaranku di perpus adalah cerita rakyat atau asal-usul daerah tertentu.
Selang berajalannya waktu agenda keluar masuk perpustakaan itu berlanjut hingga
masuk SMA. Buku apa saja yang kemudian kubaca? Aku sudah mulai lupa. Beberapa
buku yang masih ingat kubaca saat itu adalah Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis
dan Merpati Biru karya Achmad Munif. Yang lainnya lupa. Hee…
Adapun untuk
Merpati Biru ini sendiri cukup berkesan bagiku. Bagaimana tidak, pada masa itu
masa remaja yang sudah mulai sok-sokan mengenal cinta monyet dihadapkan pada
buku yang berbau cinta juga. Wah gayung bersambut bukan? Sayangnya buku ini tak
sampai selesai terbaca lantaran pada halaman tengah sampai akhir, hilang. Jadi
separuh akhir buku lost. Saat itu enggan kutanyakan kepada penjaga perpus letak
setengah halaman menuju akhir. Paling jawabannya nggak tahu. Lha wong penjaga
perpusnya waktu itu lebih sering ngobrol daripada ngecek buku. Yah apa hendak
dikata. Merpati Biru selesai menggantung di tengah.
Kenangan Merpati Biru ini
seolah menjadi prasasti di kepala. Bagaimana tidak, awal-awal aku kuliah ke
Jogja ketemu lagi buku ini di pameran buku. Maksud hati hendak membeli ini buku,
eh sudah hilang mood. Gagal deh. Merpati Biru masih terus menggantung di tengah.
Kegemaranku membaca ini berlanjut di kuliah. Gie. Ya, Soe Hok Gie lah yang
mengantarku untuk terus mencari dan mencari. Saat masih SMA aku pernah menonton
filmnya di TV tapi hanya dapat bagian tengah sampai akhir. Gila! Ada ya manusia
sehebat itu? Dari Gie juga aku memilih jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Sosok yang haus buku. Pemberani.
Singkat cerita kegiatan keluar masuk perpus pun
berlanjut. Berharap ketemu bukuya Gie. Sayang sekali buku harian Gie tidak juga
ketemu. Kecewa dengan perpus coba masuk ke pasar buku loak juga sama. Masuk
Sosial Agency dan Gramedia, juga sama saja. Ketika tanya kepada penjaga toko
jawabannya “Oh buku lama ya? Mohon maaf nggak ada, Kak.” Haduh!
Hingga akhirnya
suatu ketika aku pun dipertemukan dengan Catatan Seorang Demonstran. Betul buku
harian Gie yang kemudian difilmkan, yang saya caricari itu justru tergeletak di
tumpukan buku bekas di pasar loak. Kondisi buku sudah tidak tersegel. Mana cacat
lagi, covernya sudah mengelupas. Agak mahal waktu itu. Karena sudah kelimpungan
nyari kemana-mana ya kubeli juga.
Ketika kuliah ini juga lah film Gie yang dulu
kutonton hanya setengah, kembali lagi kutonton. Bahkan ada kalau sepuluh kali
lebih. Dulu hanya nonton fi TV lha ini saya punya soft filenya. Sembari menyeduh
kopi, baca Catatan Seorang Demonstran, setelah itu menonton filmnya maka citra
Gie yang muncul dalam diriku begitu kuat. Tak hanya itu, buku-buku yang dia baca
seketika ikut kucari dan bacai juga. Andre Gide misalnya yang menjadi bahan
pedebatan dengan gurunya. Kubaca juga. Bahkan buku Pendidikan Istri karya Andre
Gide itu pun kucari lagi untuk kujadikan kado pernikahan depan rumahku. Bodohnya
aku waktu itu. Tidak cari informasi lebih dulu tetangga depan rumahku itu suka
baca apa enggak.
Dari tokoh Gie ini kemudian gayung bersambut, aku dipertemukan
Mas Lulie Pratama, Ketua BEM Fakultas dua periode. Mas Lulie inilah yang sering
mengadvokasi aku. Dibawanya aku ke rapat, diajaknya makan, dan dikenalkan dengan
teman-teman BEMnya yang rata-rata adalah kakak tingkat dua angkatan di atasku.
Advokasi Mas Lulie berhasil. Aku akhirnya tertarik dengan organinasi mahasiswa.
Diajaklah aku untuk masuk BEMF. Saat itu aku belum siap. Khawatir nilai kuliah
jelek. Kasihan sama orang tua di rumah kalau nggak cepet lulus.
Akhirnya
kusampaikan keinginanku untuk masuk HMJ terlebih dahulu agar ¬step by step.
Masuk di HMJ ya gitu-gitu aja. Benar kata Mas Lulie, kakak kelas asal Medan ini.
Saat itu dia bilang “Nanti di HMJ kamu nggak bakalan dapat apa-apa. Serius! Coba
deh kalau mau belajar ya masuk BEMF. Bakalan banyak banget ilmu yang kamu
dapat,” kata Mas Lulie waktu itu. Memang HMJ di kampusku kurang begitu aktif.
Dari kekecewaan di HMJ ini kemudian aku masuk di BEMF bagian Media Informasi dan
Komunikasi. Walaupun masih dilemma antara takut nilai kuliah jelek tapi ingin
sekali tambah pengalaman ikut organisasi.
Oiya. Kembali ke hobiku membaca. Di
Jogja ini lah kemudian aku lebih sering membaca koran yang ditempel di mading
RT. Ada dua papan kaca besar yang dipasang di RT yang tidak jauh dari kosku.
Mading ini berisi macam-macam koran dengan sumber yang berbeda-beda. Tak jarang
karena penuhnya koran yang ditempel, bagian bawah selalu offside dari papan.
Koran bagian bawah selalu menggantung layaknya pocong, katanya sih pocong nggak
nyentuh tanah. Setiap jalan beli sarapan sering aku berhenti dan membaca di
sana. Herannya, banyak orang yang juga baca mading ini.
Sering aku membaca
mading ini bersama dengan bapak-bapak tukang becak, tukang antar sampah,
bergantian aku pindah kek kanan ke kiri menyimpangi mereka. Busyet. Bapak-bapak
tukang becak dan tukang ambil sampah aja baca koran ya kan? Kedaulatan Rakyat
yang jadi top of the top di Jogja. Oiya mengapa aku lebih suka membaca mading
koran di lingkungan RT? Itu karena rasa kecewaku. Dulu di selasar kampus selalu
ada mading koran bersebalahan dengan papan informasi. Lah semakin ke sini mading
korannya kosong. Tinggal kaca aja dan papan informasi dari tahun berapa masih
saja terpasang. Padahal di mading ini dulunya ketika berangkat ke dan pulang
dari kampus, aku sering berhenti cukup lama untuk membaca. Eh tak tahunya mading
koran itu sudah tidak pernah lagi dipasang. Ya pindah ke mading RT aja ya kan?
Kecewa dengan ini, aku pun kemudian masuk BEMF dalam memilih sub bidang Media
Informasi dan Komunikasi. Rencananya mading ini mau saya aktifkan lagi. Siapa
tahu ada teman mahasiswa yang memiliki kegelisahan sama denganku. Belum lama di
BEMF tak tahunya BEMF dibekukan pihak universitas karena masalah internal antara
BEM dengan universitas. Yah, tak ayal mading tak akan bisa berjalan lagi. Tak
lama, aku pun cabut dari BEM karena ketua BEM terlalu disetir pihak kampus
melalui orang yang dipasang menjadi pengurus senior di BEM. Yang mana Ketua BEM
justru nurut aja sama agen ini. apa bedanya dengan kerbau yang dicucuk
hidungnya? Usul untuk memperbaiki internal BEM tidak digubris. Pernah kuusulkan
untuk mengadakan rakor pembahasan program dan hal-hal yang menyangkut perbaikan
internal, justru ditolak. Ketua BEM malah menyetujui usulan untuk mengadakan
kegiatan seminar tingkat nasional. Lah? BEM aja dibekukan kok malah mau ngadain
kegiatan? Gimana sih? Sumber dana darimana wong sudah dibekukan. Saat itu
diusulkan untuk ada iuran. Wah sudah tidak masuk akal. Sangat absurd bukan?
Setelah kejadian itu, setiap kali ada undangan rapat aku pun absen. Endingnya
cabut. Hehehe…
Kembali ke kegiatan membaca, saat itu alhamdulilah masih terus
berjalan. Malah lebih rakus. Prinsipku saat itu perbulan sekali wajib beli buku.
Gimana dong, di Blora sini nggak ada toko buku. Mau beli buku saat itu susah.
Buku demi buku akhirnya menumpuk di rak. Nah teman-teman kos jadi semakin sering
pinjam buku. Lalu dari buku-buku yang dipinjam itu pun berakhir dengan
diskusi-diskusi. Dengan segelas kopi yang diminum bersama-sama diskusi menjadi
semakin tak terbendung.
Singkat cerita adik kelasku, Musanif Efendi dadri Lampung mengajakku untuk
membuat mading. Aku masih ingat waktu itu dia diberi uang 200 ribu oleh Pak
Djoko Passandaran. Dosenku penulisan kreatif sastra saat itu. Dia mengajakku
untuk membuat mading “Ini aku dikasih uang 200 ribu untuk bikin mading. Uang ini
kata Pak Joko adalah honornya jadi dosen pembibing lapangan PPL,” kata Fendi.
Saat itu juga ke toko bangunan untuk beli kayu, beli papan melamin, dan lakban
hitam. Tak menunggu lama di depan kosku tak tok takt ok, paku sana-sini, jadilah
mading sederhan. Mading ini kemudian diberi nama Wiyata inspirasinya adalah nama
tengah kampusku. Tepatnya 13 Januari 2009 mading sederhana ini pun dipasang di
dinding prodi. Tentunya sudah tertempel dengan tulisan-tulisan berbagai rubrik
mulai dari puisi, cerpen, sampai kritik.
Aku ingat tak lama mading dipasang,
tulisanku disobek orang. Tulisan itu berisi sindiran halus kepada pihak prodi
dan mahasiwa. Bukannya sedih, aku justru merasa senang. Dengan sobeknya
tulisanku itu berarti ada orang yang membaca. Walaupun ekspresinya berlebihan.
Pada 2012 aku lulus dari kampus dan pulang ke Blora. Pada tahun yang sama juga
aku mengabdi di sebuah sekolah yang baru dibangun. Suka duka kulalui di sini.
Mulai tidak ada kamar mandi, kantor yang lebih mirip dengan base camp pendakian,
computer yang baru ada satu, dan masih banyak lagi. Ya Namanya sekolah baru saja
berdiri. Jangan harap ada kantin deh. Di sekolah ini juga masih saja menggebu
untuk membuat mading.
Bagaimana tidak, masih dengan kegelisahan sama terlebih
sekolah dengan sistem Boarding lho ini. Anak-anak tinggal di asrama jelas butuh
wadah untuk mendapatkan dan berbagi informasi. Dari kegelisahan inilah, berbekal
pintu dengan engsel masih menempel jadilah mading ala kadarnya. Mading berupa
pintu tebal yang dibalut karpet hijau pun berdiri. Untuk mading ini bisa kalian
baca kolom “Warna Warni Teman Kecil”
https://hariskurcil.blogspot.com/2012/11/warna-warni-masa-itu.html dan “Kobaran
Mading teman Kecil”
https://hariskurcil.blogspot.com/2012/10/kobaran-mading-teman-kecil.html) yang
kutulis di 2012 lalu.
Kegiatan baca-tulis masih berjalan terus walaupun skalanya
naik turun. Hingga akhirnya pada medio 2021. Usai pecah dengan pameran OSIS SMP
IP Al Banjari bertajuk Cakrawala Berdikari Fest, berdirilah Pena Emas Al Banjari
dengan Siti Ria Fitriyani sebagai ketuanya. Sebuah forum diskusi dan belajar
bareng lintas generasi ini kami gagas bersama dengan plan bergerak di empat
sektor. 1. Sektor tulis menulis pada akhirnya nanti akan bermuara dalam bentuk
blog dan majalah, 2. Sektor gambar yang outputnya berupa ilustrasi yang akan
bermuara pada konten media sosial baik blog, facebook, maupun instagram, 3.
Sektor foto. Foto ini yang nantinya bermuara dalam ke majalah dan konten-konten
media sosial 4. Terakhir sektor video yang nantinya akan bermuara dalam bentuk
video dalam kanal youtube. Andaikan waktu itu kami punya web tentu akan kami
arahkan semuanya ke web. Sayangnya untuk bikin web butuh dana yang tidak sedikit
bukan? Ya blog dan media sosial lah solusinya
Tak berhenti di sini,
diskusi-diskusi juga kami gelar dengan mengundang berbagai narasumber. Mulai
dari Ketua UKM Musik IAIN Kudus, pengurus aktif UKM Lembaga Pers Mahasiswa UB
(Universitas Brawijaya Malang), anggota aktif Mapala IAIN Kudus, sampai dengan
kegiatan “Ngopi Jurnalistik” dengan mengundang narasumber wartawan-wartawan
surat kabar digital baik lokal maupun nasional seperti Bloranews dan kontributor
Kompas.com.
Semua ini kita lakukan tiada lain agar menumbuhkan jiwa kritis di
kalangan anak-anak dengan diiringi perkembangan mental yang baik. Dari
pengalaman-pengalaman narasumber yang berdinamika dalam organisasinya,
diharapkan akan memberikan modal bagi anak-anak ketika terjun di masyarakat
nantinya. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan memberikan penyegaran dalam
anggota PMA (Pena Emas Al Banjari) agar lebih bersemangat lagi dalam menjalankan
programnya.
Di tahun yang sama terbitlah majalah Pena Emas Al Banjari untuk pertama kalinya
dengan tajuk “Al Banjari Dulu, Kini, Esok”. Usai terbit majalah beberapa masalah
kemudian muncul. Terlebih ketika beberapa para kader anggota lulus sekolah. PMA
pun kemudian tenggelam dimakan zaman.
Kurang lebih empat tahun berlalu.
Kebiasaan yang kulakukan untuk membeli koran dan kupasang di mading ternyata
mendapat respon yang luar biasa dari anak-anak. Kemudian, pertanyaan timbul
mengapa sih harus beli? Internet ada. Komputer ada. Printer ada. Kok masih beli?
Belum lagi ditambah beberapa gambar harus kusensor dengan cara kupotong karena
ada gambar yang terlalu “terbuka” di koran. Ah kenapa nggak bikin sendiri?
Dengan tajuk Cakrawala Magazine, bismillah. Mading dengan bekal download
informasi, tulisan sumbangan dari teman-teman, dan beberapa tulisanku sendiri
kupasang. Alhamdulilah mading berjalan sampai saat ini. Dengan mindset akan
seperti apa nantinya. Berhenti dan tenggelam lagikah atau bagaimana? Nanti deh
biar jalan sebisanya dulu. Kalau memang hal ini bermanfaat dan baik tentu
kebaikan pula yang mnyambut. Semoga akan mestakung (semesta mendukung).
Benar
saja. Satu, dua, tiga orang yang memiliki hobi sama pun bermunculan dengan
malu-malu. Siti Ria Fitriyani yang dulunya menjawab Ketua PMA turut bergabung.
Ditambah personel-personel seperti Hafitza Azzahra (santri Gontor yang sedang
menjalankan program pengabdian), Nine Disca Nurilla, Yaqut Durrotunnafiah, Ulya
Hidayah Nur, Adzkiya Ulil Maziyah, Jihan Luthfi Hariroh, Ajeng Nasywa Maharani
menyatakan kesanggupannya untuk join.
Awalnya teman-teman ini mengirimkan
naskahnya untuk kemudian kuketik, print, dan pasang di mading. Intensitas
pertemuan dengan mereka jadi cukup sering sehingga perlu rasanya dibuatkan wadah
untuk duduk bersama dan ngobrolin apapun saja. Ngobrolin buku, ngonbrolin film,
sampai ngobrolin kegelisahan-kegelisahan apapun ayok deh.
Dari sinilah
disepakati bahwa setiap seminggu sekali, yaitu pada Selasa sore kita berkumpul.
Karena tidak ada namanya, mau disebut rapat kok bukan rapat? Kata diskusi lah
mungkin yang mendekati.
Diskusi setiap hari Selasa. Karena dirasa kepanjangan,
Selasa Bersua aja udah. Hari Selasa kita bertemu, takutnya kalau dinamai dengan
yang perlente justru nggak bertahan lama. Pertemuan demi pertemuan menjadi
akhirnya menjadi semakin seru.
Selasa Bersua dimulai pukul 13.30 sampai dengan
pukul 16.30 dengan termin pertama apresiasi dan sharing tentang naskah mading
yang baru saja. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan beberapa poin yang ingin
dipelajari bersama. Tiga objek pembahasan selesai dipelajari selama kurun waktu
belakangan ini. Objek yang dimaksud adalah penulisan teks resensi (teks
ulasan/review text), penulisan reportase, terakhir adalan penulisan opini. Tak
disangka dengan cara ini justru lebih efektif. Mulai dari yang simpel tapi
hasilnya lebih konkret. Faktor yang menjadi kesulitan PMA beberapa tahun lalu
baru terpecahkan sekarang. Dulu sangking banyaknya anggota dan banyaknya objek
yang ingin dipelajari menyebabkan output yang dihasilkan malah asbtrak. Kini
dengan prinsip sederhana tapi konkret ternyata output yang ada lebih efektif dan
tajam.
Sekarang Cakrawala Magazine sudah mulai masuk edisi kedua belas,
sedangkan Selasa Bersua sudah enam kali lebih digelar. Di perjalanan pulang ke
rumah dari Selasa Bersua (17 Desember 2024) kemarin muncul pertanyaan “Kok
ketemu dengan dinamika baca-tulis-diskusi lagi ya? Bukannya ini sudah pernah
kualami bertahun-tahun yang lalu? Apa iya kalau kita menyukai dan melakukan
sesuatu dengan sepenuh hati akan selalu didekatkan dan didekatkan lagi? Semoga
saja iya. Doakan ya.”