*Abdul Haris Nur Hidayatulloh
Blora (Rabu 19/03/25)
Masih saja
teringat sampai sekarang idiom yang dulu kubuat. Sebuah sangkalan tentang hidup
itu pilihan. Tidak! Bagiku sendiri hidup itu memilih bukan hanya pilihan. Kata pilihan
masih terlalu luas dan kurang mengikat. Tidak memilih sekalipun sebenarnya pun
sudah memilih. Ya. Memilih untuk tidak memilih.
Sayangnya pilihan
yang datang tidak serta merta begitu menghampiri kita. Allah menyediakan
pilihan ini tidak lepas dengan konsukensi yang menyertainya. Konsekuensi-konsekuensi
inilah yang seringkali membuat kita gamang atau bahkan takut untuk menentukan
sikap.
Bicara tentang
pilih-memilih sikap dalam hidup, banyak sekali manusia takut menelan
kekecewaan. Tidak jarang takut akan kekecewaan itu sampai membuat kita drop.
Mari sejenak kita renungkan makna kecewa itu. Kecewa dan menyesal merupakan dua
kata yang hampir sama yang selalu berkelit kelindan dalam otak kita. Dalam KBBI
kecewa bermakna ‘kecil hati; tidak puas (karena
tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang. Adapun menyesal berarti ‘perasaan tidak senang (susah, kecewa, dan sebagainya) karena telah
berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya).
Rasa kecewa bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, kecewa akan membuat kita terjerembab berlarut-larut. Di sisi yang lain rasa kecewa akan membuat kita menjadi kuat. Rasa kecewa yang mampu kita atasi akan menjadi bahan bakar utama kekuatan mental kita naik berkali-kali lipat. Kekecewaan yang hendaknya kita pelihara sebagai stimulus kita dalam berkontemplasi. Dengan berkontemplasi ini nantinya akan membuat daya hidup manusia akan terus bergeliat. Berpikir, merenung, bertanya-tanya membuat kita menjadi manusia yang selalu kritis dengan keadaan.
Bicara tentang
rasa kecewa ini pun dialami Indra Idrus. Tokoh utama dalam Royan Revolusi karya
Ramadhan K.H.. Ramadhan menceritakan bagaimana Idrus kecewa melihat kondisi
sekelilingnya. Cita-cita kemerdekaan yang telah dia rebut dari penjajah tidak sesuai
dengan kenyataannya. Justru kemerdekaan yang telah direbut ini menimbulkan
masalah-masalah baru. Teman-teman seperjuangannya yang dahulu lantang berjuang,
banyak yang kemudian berbelok. Mereka tak berdaya menghadapi tuntutan hidup dan
desakan ekonomi. Situasi sosial juga menarik-narik mereka untuk melunturkan
prinsipnya. Beberapa rekannya ini justru berlomba-lomba untuk berebut menjadi kaya
dengan menghalalkan segala cara.
Ada yang
kemudian petantang-petenteng bermobil ala bos mafia, ada yang sudah mendirikan perusahaan
tentu dengan korupsi sana-sini, dan masih banyak lagi. Korupsi. Korupsi ini
pula yang menyebabkan Idrus mengalami kebimbangan dan kekecewaan. Ia tidak bisa
berkutik menghadapi masalah ini.
Selain korupsi,
hal-hal sosial yang diungkap Ramadhan melalui tokoh Idrus adalah pernikahan
dini, hamil di luar nikah, perceraian, hingga janda yang pada akhirnya
menimbulkan masalah tersendiri. Dalam cerita juga disebutkan bahwa tidak sedikit
pula teman-teman Idrus yang memilih tinggal di luar negeri. Tidak lain demi
penghidupan yang lebih baik mereka kabur. Kabur dari masalah sosial dan budaya
yang ada di tempat tinggalnya. Tentang nasionalisme yang dulu diperjuangkan, tidak
tahu lagi di hati mana dia sekarang bersarang. Wuh pelik juga!
Buku yang dicetak
Gunung Agung pada 1970 ini pun masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Melihat
situasi sosial dewasa ini, banyak juga temanku yang sudah pindah kerja. Harapan
penghidupan lebih baik tentu menjadi faktor utamanya. Sayangnya hal ini tidak
dibarengi dengan adanya sikap rendah hati sebagaimana mereka dahulu mengabdi. Mereka
yang kemudian diterima kerja sebagai P3K menunjukkan indikasi yang justru
berkebalikan dari sikapnya yang dahulu. Hal yang ditanyakan Idrus juga bukan?
Perubahan sikap
yang drastis ditunjukkan dengan bandhanisme. Orang yang selalu berorientasi
tentang bandha. Beberapa teman sudah berganti motor. Tak lama dari tanggal
dia bertugas langsung beli motor dengan merk keluaran terbaru. Beberapa juga
terlihat langsung beli mobil. Penampilannya pun berubah seolah jadi selebiritis.
Kaca mata ganti sesuai dengan tren yang ada. Fashion dan tampilannya yang
klimis nan necis ini juga selalu diunggah di media sosialnya. Satu hal yang
tidak pernah mereka lakukan dulu. Ngeri juga ya.
Tidak beberapa juga
yang memilih menghindar ketika bertemu. Seolah pertemuan hanya akan memunculkan
tembok pemisah yang rasanya sulit sekali digeser. P3K seolah menjadi titik
seseorang untuk membalas dendam. Titik yang mengubah mampu mengubah pola sikap
dan karakter seseorang. Pertanyaannya kemudian sampai sejauh mana harta benda,
jabatan, dan kuasa itu mampu mengubah seseorang? Nah, ketika tulisanku ini dianggap
naif silakan saja tapi yang kujumpai di lapangan memang demikian dan tidak hanya
satu dua. Banyak!
Satu hal yang
terus terang saja masih kutakutkan. Kekhawatiran yang sama dengan yang dialami
Idrus bukan? Ingin rasanya aku seperti bapak dan ibuku. Bagiku bapak dan ibu
adalah role model tokoh idola. Sebuah contoh yang ada langsung di depan mata.
Bagaimana tidak?
Bapak yang hanya tukang parkir di pasar dan ibu yang hanya guru honorer di TK
bersahaja dalam keberadaannya. Keluarga yang dibina pun harmonis. Punya tiga anak
yang perhatian kepada kedua orang tua. Didikan agama dan didikan toleransi sosialnya
juga terasa. Tukang parkir dan guru honorer ini puntak jarang jadi rujukan bagi
para saudara. Saudara dekat dan jauh selalu datang berkunjung untuk pinjam
uang. Ada yang dikembalikan, ada juga yang menghilang.
Belum dengan
pandangan dan kebijaksanaannya. Beberapa kali saudara datang ke rumah sekadar
untuk mengobrol melepas sepi karena ditinggal anak-anaknya pergi ke Jakarta. Hampir
setiap hari pula kedua orangtuaku ini mengirim nasi, sayur, dan lauk ke
rumahnya. Istrinya sudah meninggal, anak-anaknya merantau ke Jakarta. Pulang ketika
lebaran, itu saja kadang-kadang.
Beberapa saudara
datang minta pendapat atas keruwetan masalah keluarganya. Bahkan meminta
perlindungan dengan bersembunyi di rumah selama beberapa waktu untuk menenangkan
diri karena terlibat perselisihan dengan orang tuanya. Bapak dan Ibu yang
akhirnya ke rumahnya untuk mendamaikan. Bapak dan ibu seolah menjadi juru damai.
Ah mau rasanya aku jadi seperti mereka.
Belum lama Bapak
dan Ibu bercerita dengan linangan air mata sepulang umrah. Umrah! Siapa yang
menyangka kedua orangtuaku ini bisa umrah. Uang darimana? Bapak yang hanya
mengumpulkan uang seribu dua ribu sehari-hari dan ibu yang honornya sebagai
guru tak lebih dari 300 ribu sebulan ternyata bisa umrah.
Ketika mendengar
istilah umrah adalah panggilan suci dari Allah, aku tak akan dan tak bisa
membantah. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri keistimewaan Allah ini
melalui kedua orangtuaku. Mereka bercerita selama beribadah di Mekkah-Madinah
sana selalu saja dipermudah oleh Allah. Bahkan Bapak dan Ibu bisa menyelesaikan
empat kali umrah. Satu kali umrah untuk dirinya sendiri yang ketiga kalinya mengumrahkan
kakek, nenek, dan paman bibi yang sudah meninggal. Ya Allah luhur sekali.
![]() |
Gemuruh perasaan
meluap-luap yang seolah ingin tumpah ini diceritakan dengan menggebu-gebu kepadaku.
Gemuruh perasaan ini membanjir hingga membuat air mataku tak tertahankan. Bapak
tak henti-hentinya mendoakan agar aku kelak mampu menyusul pergi ke tanah suci.
“Nanti kalau sampai di Masjid Nabawi coba cari sandal Bapak,” kata beliau. Sandal? Dari sekian banyak diksi dan kisahnya hanya sandal yang menjadi pilihan diksinya. Beliau bilang kalau sandal jepit Mellynya
ketinggalan di Masjid Nabawi. Masya Allah bapak dan ibuku ini.
Perbedaan dua kondisi
ini memuatku selalu berkontemplasi. Kekecewaan dan tekanan nyatanya tak jarang
membuatku takut kalau-kalau aku berubah seperti teman-temanku di atas. Ada kalanya
kekhawatiran ini justru merasa membuatku nyaman. Terlebih ketika bertemu dengan
Muhidin M. Dahlan, penulis Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Muhidin
sempat mengatakan bahwa tekanan itu lah yang membuat kita produktif. Begitu
katanya ketika kumintai foto dan tanda tangan sesaat sebelum sarasehan seabad
Pram di Pendopo Kabupaten Blora.
Tekanan dan rasa
kecewa itulah yang membuat pada akhirnya membuat kelima indera kita menjadi
semakin tajam dan peka. Perasaan dan mental kita juga semakin teguh. Belum lagi
logika dan kekritisan daya pikir kita tak kalah tajamnnya. Tinggal bagaimana
kita mengolah tekanan itu menjadi kekuatan mahadahsyat yang membentuk kita
menjadi manusia baru, manusia dengan situasi baru, manusia dengan kemampuan
baru, dan manusia dengan rasa penasaran-penasaran yang baru pula. Sikap manja
dan mudah menyerah tentu akan sangat jauh kita tanggalkan.
![]() |
| ilustrasi foto diambil dari google |
Cukup lama sebenarnya kegelisahan ini bersarang di hatiku. Tapi baru sekarang aku bisa menulisnya, pada Ramadhan yang hampir berakhir ini. Saat dimana di luar kabut turun semakin tebal, semakin dingin. Sedingin itu pula keluarga kecil itu kembali ke sarangnya. Keluarga tukang rongsok yang selalu kulihat ketika pulang tarawih sekira pukul 20.30 di Jalan Raya Blora-Purwodadi tak jauh dari lampu merah Biandono. Si bapak dengan langkah pelan mendorong gerobak berisi kardus, plastik, dan anaknya yang tertidur pulas. Sudah nyaris tidak bisa dibedakan mana si anak mana rongsokan karena semua bertumpuk menjadi satu. Didorongnya pelan gerobak itu khawatir si anak terbangun. Sementara si ibuk berjalan terseok-seok di belakang dengan kaki kanannya yang pincang membawa karung berisi tumpukan rongsokan pula. Melihat kondisi yang begini dalam hatiku berteriak kuat “Ya Allah! Tidak ya Allah. Aku tidak mau seperti teman-temanku itu! Aku mau seperti kedua orang tuaku yang bersahaja dalam kesederhanaannya.”




