Senin, 24 Maret 2025

BERDAYA(KAH) HIDUP

*Abdul Haris Nur Hidayatulloh

Blora (Rabu 19/03/25)

Masih saja teringat sampai sekarang idiom yang dulu kubuat. Sebuah sangkalan tentang hidup itu pilihan. Tidak! Bagiku sendiri hidup itu memilih bukan hanya pilihan. Kata pilihan masih terlalu luas dan kurang mengikat. Tidak memilih sekalipun sebenarnya pun sudah memilih. Ya. Memilih untuk tidak memilih.

Sayangnya pilihan yang datang tidak serta merta begitu menghampiri kita. Allah menyediakan pilihan ini tidak lepas dengan konsukensi yang menyertainya. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang seringkali membuat kita gamang atau bahkan takut untuk menentukan sikap.

Bicara tentang pilih-memilih sikap dalam hidup, banyak sekali manusia takut menelan kekecewaan. Tidak jarang takut akan kekecewaan itu sampai membuat kita drop. Mari sejenak kita renungkan makna kecewa itu. Kecewa dan menyesal merupakan dua kata yang hampir sama yang selalu berkelit kelindan dalam otak kita. Dalam KBBI kecewa bermakna ‘kecil hati; tidak puas (karena tidak terkabul keinginannya, harapannya, dan sebagainya); tidak senang. Adapun menyesal berarti ‘perasaan tidak senang (susah, kecewa, dan sebagainya) karena telah berbuat kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya).

Rasa kecewa bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, kecewa akan membuat kita terjerembab berlarut-larut. Di sisi yang lain rasa kecewa akan membuat kita menjadi kuat. Rasa kecewa yang mampu kita atasi akan menjadi bahan bakar utama kekuatan mental kita naik berkali-kali lipat. Kekecewaan yang hendaknya kita pelihara sebagai stimulus kita dalam berkontemplasi. Dengan berkontemplasi ini nantinya akan membuat daya hidup manusia akan terus bergeliat. Berpikir, merenung, bertanya-tanya membuat kita menjadi manusia yang selalu kritis dengan keadaan.

Bicara tentang rasa kecewa ini pun dialami Indra Idrus. Tokoh utama dalam Royan Revolusi karya Ramadhan K.H.. Ramadhan menceritakan bagaimana Idrus kecewa melihat kondisi sekelilingnya. Cita-cita kemerdekaan yang telah dia rebut dari penjajah tidak sesuai dengan kenyataannya. Justru kemerdekaan yang telah direbut ini menimbulkan masalah-masalah baru. Teman-teman seperjuangannya yang dahulu lantang berjuang, banyak yang kemudian berbelok. Mereka tak berdaya menghadapi tuntutan hidup dan desakan ekonomi. Situasi sosial juga menarik-narik mereka untuk melunturkan prinsipnya. Beberapa rekannya ini justru berlomba-lomba untuk berebut menjadi kaya dengan menghalalkan segala cara.

Ada yang kemudian petantang-petenteng bermobil ala bos mafia, ada yang sudah mendirikan perusahaan tentu dengan korupsi sana-sini, dan masih banyak lagi. Korupsi. Korupsi ini pula yang menyebabkan Idrus mengalami kebimbangan dan kekecewaan. Ia tidak bisa berkutik menghadapi masalah ini.

Selain korupsi, hal-hal sosial yang diungkap Ramadhan melalui tokoh Idrus adalah pernikahan dini, hamil di luar nikah, perceraian, hingga janda yang pada akhirnya menimbulkan masalah tersendiri. Dalam cerita juga disebutkan bahwa tidak sedikit pula teman-teman Idrus yang memilih tinggal di luar negeri. Tidak lain demi penghidupan yang lebih baik mereka kabur. Kabur dari masalah sosial dan budaya yang ada di tempat tinggalnya. Tentang nasionalisme yang dulu diperjuangkan, tidak tahu lagi di hati mana dia sekarang bersarang. Wuh pelik juga!

Buku yang dicetak Gunung Agung pada 1970 ini pun masih sangat relevan dengan situasi sekarang. Melihat situasi sosial dewasa ini, banyak juga temanku yang sudah pindah kerja. Harapan penghidupan lebih baik tentu menjadi faktor utamanya. Sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan adanya sikap rendah hati sebagaimana mereka dahulu mengabdi. Mereka yang kemudian diterima kerja sebagai P3K menunjukkan indikasi yang justru berkebalikan dari sikapnya yang dahulu. Hal yang ditanyakan Idrus juga bukan?

Perubahan sikap yang drastis ditunjukkan dengan bandhanisme. Orang yang selalu berorientasi tentang bandha. Beberapa teman sudah berganti motor. Tak lama dari tanggal dia bertugas langsung beli motor dengan merk keluaran terbaru. Beberapa juga terlihat langsung beli mobil. Penampilannya pun berubah seolah jadi selebiritis. Kaca mata ganti sesuai dengan tren yang ada. Fashion dan tampilannya yang klimis nan necis ini juga selalu diunggah di media sosialnya. Satu hal yang tidak pernah mereka lakukan dulu. Ngeri juga ya.

Tidak beberapa juga yang memilih menghindar ketika bertemu. Seolah pertemuan hanya akan memunculkan tembok pemisah yang rasanya sulit sekali digeser. P3K seolah menjadi titik seseorang untuk membalas dendam. Titik yang mengubah mampu mengubah pola sikap dan karakter seseorang. Pertanyaannya kemudian sampai sejauh mana harta benda, jabatan, dan kuasa itu mampu mengubah seseorang? Nah, ketika tulisanku ini dianggap naif silakan saja tapi yang kujumpai di lapangan memang demikian dan tidak hanya satu dua. Banyak!

Satu hal yang terus terang saja masih kutakutkan. Kekhawatiran yang sama dengan yang dialami Idrus bukan? Ingin rasanya aku seperti bapak dan ibuku. Bagiku bapak dan ibu adalah role model tokoh idola. Sebuah contoh yang ada langsung di depan mata.

Bagaimana tidak? Bapak yang hanya tukang parkir di pasar dan ibu yang hanya guru honorer di TK bersahaja dalam keberadaannya. Keluarga yang dibina pun harmonis. Punya tiga anak yang perhatian kepada kedua orang tua. Didikan agama dan didikan toleransi sosialnya juga terasa. Tukang parkir dan guru honorer ini puntak jarang jadi rujukan bagi para saudara. Saudara dekat dan jauh selalu datang berkunjung untuk pinjam uang. Ada yang dikembalikan, ada juga yang menghilang.

Belum dengan pandangan dan kebijaksanaannya. Beberapa kali saudara datang ke rumah sekadar untuk mengobrol melepas sepi karena ditinggal anak-anaknya pergi ke Jakarta. Hampir setiap hari pula kedua orangtuaku ini mengirim nasi, sayur, dan lauk ke rumahnya. Istrinya sudah meninggal, anak-anaknya merantau ke Jakarta. Pulang ketika lebaran, itu saja kadang-kadang.

Beberapa saudara datang minta pendapat atas keruwetan masalah keluarganya. Bahkan meminta perlindungan dengan bersembunyi di rumah selama beberapa waktu untuk menenangkan diri karena terlibat perselisihan dengan orang tuanya. Bapak dan Ibu yang akhirnya ke rumahnya untuk mendamaikan. Bapak dan ibu seolah menjadi juru damai. Ah mau rasanya aku jadi seperti mereka.

Belum lama Bapak dan Ibu bercerita dengan linangan air mata sepulang umrah. Umrah! Siapa yang menyangka kedua orangtuaku ini bisa umrah. Uang darimana? Bapak yang hanya mengumpulkan uang seribu dua ribu sehari-hari dan ibu yang honornya sebagai guru tak lebih dari 300 ribu sebulan ternyata bisa umrah.

Ketika mendengar istilah umrah adalah panggilan suci dari Allah, aku tak akan dan tak bisa membantah. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri keistimewaan Allah ini melalui kedua orangtuaku. Mereka bercerita selama beribadah di Mekkah-Madinah sana selalu saja dipermudah oleh Allah. Bahkan Bapak dan Ibu bisa menyelesaikan empat kali umrah. Satu kali umrah untuk dirinya sendiri yang ketiga kalinya mengumrahkan kakek, nenek, dan paman bibi yang sudah meninggal. Ya Allah luhur sekali.


Gemuruh perasaan meluap-luap yang seolah ingin tumpah ini diceritakan dengan menggebu-gebu kepadaku. Gemuruh perasaan ini membanjir hingga membuat air mataku tak tertahankan. Bapak tak henti-hentinya mendoakan agar aku kelak mampu menyusul pergi ke tanah suci. “Nanti kalau sampai di Masjid Nabawi coba cari sandal Bapak,” kata beliau. Sandal? Dari sekian banyak diksi dan kisahnya hanya sandal yang menjadi pilihan diksinya. Beliau bilang kalau sandal jepit Mellynya ketinggalan di Masjid Nabawi. Masya Allah bapak dan ibuku ini.

Perbedaan dua kondisi ini memuatku selalu berkontemplasi. Kekecewaan dan tekanan nyatanya tak jarang membuatku takut kalau-kalau aku berubah seperti teman-temanku di atas. Ada kalanya kekhawatiran ini justru merasa membuatku nyaman. Terlebih ketika bertemu dengan Muhidin M. Dahlan, penulis Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Muhidin sempat mengatakan bahwa tekanan itu lah yang membuat kita produktif. Begitu katanya ketika kumintai foto dan tanda tangan sesaat sebelum sarasehan seabad Pram di Pendopo Kabupaten Blora.

Tekanan dan rasa kecewa itulah yang membuat pada akhirnya membuat kelima indera kita menjadi semakin tajam dan peka. Perasaan dan mental kita juga semakin teguh. Belum lagi logika dan kekritisan daya pikir kita tak kalah tajamnnya. Tinggal bagaimana kita mengolah tekanan itu menjadi kekuatan mahadahsyat yang membentuk kita menjadi manusia baru, manusia dengan situasi baru, manusia dengan kemampuan baru, dan manusia dengan rasa penasaran-penasaran yang baru pula. Sikap manja dan mudah menyerah tentu akan sangat jauh kita tanggalkan.

ilustrasi foto diambil dari google

Cukup lama sebenarnya kegelisahan ini bersarang di hatiku. Tapi baru sekarang aku bisa menulisnya, pada Ramadhan yang hampir berakhir ini. Saat dimana di luar kabut turun semakin tebal, semakin dingin. Sedingin itu pula keluarga kecil itu kembali ke sarangnya. Keluarga tukang rongsok yang selalu kulihat ketika pulang tarawih sekira pukul 20.30 di Jalan Raya Blora-Purwodadi tak jauh dari lampu merah Biandono. Si bapak dengan langkah pelan mendorong gerobak berisi kardus, plastik, dan anaknya yang tertidur pulas. Sudah nyaris tidak bisa dibedakan mana si anak mana rongsokan karena semua bertumpuk menjadi satu. Didorongnya pelan gerobak itu khawatir si anak terbangun. Sementara si ibuk berjalan terseok-seok di belakang dengan kaki kanannya yang pincang membawa karung berisi tumpukan rongsokan pula. Melihat kondisi yang begini dalam hatiku berteriak kuat “Ya Allah! Tidak ya Allah. Aku tidak mau seperti teman-temanku itu! Aku mau seperti kedua orang tuaku yang bersahaja dalam kesederhanaannya.” 

Selengkapnya.. - BERDAYA(KAH) HIDUP

Jumat, 21 Maret 2025

LAHIRNYA MOMENTUM

Blora, 17 Maret 2025 

gambar google

Belum lama ini kuselesaikan  artikelku berjudul “Lontong Tahu simbol Identitas Masyarakat Blora”. Tulisan yang merupakan naskah awal sebagai syarat keikutsertaan Bimtek Kepenulisan Konten Budaya lokal ini lolos screening. Sebanyak 60 dari 134 karya telah dipilih dan nantinya akan diterbitkan menjadi buku dengan konten budaya lokal oleh Perpusnas. Alhamdulilah tulisanku lolos. Senang tentunya karena ini baru pertama ini aku menulis untuk dikirim untuk acara beginian.

Maklum saja biasanya sih nulisnya cuma reportase. Itu saja untuk kalangan sendiri, eh pernah juga ding dimuat di Bloranews.com, tapi yaareportase juga sih. Hee. Kelolosan ini tak lepas dari bantuan tiga temanku. Mbak Zahra, Bu Fitri, dan Cak Rudd. Kepada mereka kumintai bantuan untuk membaca dan memberi masukan terkait tulisanku itu.  Oke mari kita ngobrol tentang lontong tahu. 

    Lontong tahu adalah pengingat bahwasanya manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya sangkan paraning dumadi. Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis ini. Terlebih ketika mendapat sumber buku Tradisi dari Blora karya Suripan Sadi Hutomo. Buku yang kemudian menjadi salah satu rujukan utama tulisanku ini kudapat dari Dhidhin Mardianto, teman yang sekarang tinggal di Surabaya. Istrinya tak lain cucu dari Prof, Suripan. Saat mudik, Dhidhin mrmbawakan buku ini untuk kemudian kufotokopi. Nah untuk hubungan lontong tahu dan sangkan paraning dumadi lebih jauh nanti deh di artikel saja. Langsung ke sangkan paraning dumadi kali ya. 

Sejauh apapun manusia melangkah, dia akan selalu kembali untuk mencari tahu darimana dan akan kemana dia kembali. Dalam sangkan paraning dumadi ini terdapat sebuah peristiwa yang hampir semua makhluk mengalaminya. Peristiwa itu adalah kelahiran. Ya.

gambar: arsip maiyah lumbung bailorah

          Kelahiran ini dipotret dan dijadikan tema dalam diskusi rutinan Maiyah. Dalam akhir mukadimah rutinan dipertanyakan sebenarnya kelahiran ini persitiwa apa? Kok bisa proses kelahiran manusia di muka bumi ini diiringi dengan sederet upacara dan laku tirakat yang menyertainya? Mari kita coba cari tahu. 

           Sebagai orang Jawa kita tentu tidak asing mendengar orang yang sedang mengandung diminta untuk selalu mawas diri. Bentuk mawas diri ini pun bermacam-macam. Sampai-sampai sampai termanifestasi dalam bentuk budaya. Coba kalian ingat-ingat pernahkah kalian mendengar bahwa ibu yang sedang mengandung setiap keluar rumah diharuskan membawa benda tajam? Ketika ditanya mengapa? Kita selalu menemui jalan buntu. Jawaban yang muncul justru pokoknya dibawa dengan tanpa disertai alasan yang jelas. Tak berhenti di sini, si Ibu yang mengandung juga dilarang keluar rumah ketika matahari tepat berada di ubun-ubun maupun ketika surup menjelang. Saat surup tiba semua pintu dan jendela harus ditutup. Mengapa? Tentu menjadi pertanyaan kita ya. Nyatanya pantangan bagi orang hamil juga berlaku kepada sang bapak. Salah satunya adalah pantangan untuk tidak boleh membunuh hewan apapun. Hal seperti ini seolah pakem yang mengharuskan kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu termasuk dalam hal mengonsumsi makanan.

          Eits! Budaya ini tidak cukup berhenti di sini lho. Berderet upacara selametan pun digelar demi sang jabang bayi. Mulai dari mapati (saat janin masih berusia empat bulan dalam kandungan), mitoni (janin berusia tujuh bulan dalam kandungan), sampai kepada kerayahan (syukuran saat jabang bayi lahir). Kerayahan menjadi cukup unik karena berbeda dengan syukuran biasanya. Kalau syukuran yang hadir biasanya adalah para bapak, upacara kerayahan ini dihadiri adalah para ibu.

          Ketika si jebeng lahir upacara masih tetap dilanjutkan termasuk kepada bagaimana memperlakukan ari-ari. Di beberapa daerah adat membersihkan sampai menguburkan ari-ari ini bahkan masih kental dengan pakem-pakem tertentu. Ya semacam standar operasional prosedur lah kalah di dunia kerja. Pertama, mulai dari pembersihan ari-ari. Sang bapak sendiri yang harus mencuci ari-ari. Tentu dengan lembut. Si ari-ari tidak boleh terlalu ditekan. Mengapa harus si bapak? Hal ini merupakan wujud pertanggungjawaban bapak kepada anak serta wujud rasa kasih sayang dari bapak kepada si anak. Kalau bukan bapaknya yang membersihkan lalu siapa yang akan membersihkan ari-ari? Masa iya dilaundry? Jelas enggak kan?

Kedua, ari-ari yang sudah bersih kemudian dimasukkan ke dalam kendil. Kendil sendiri adalah kuali kecil terbuat dari tanah. Proses memasukkan ari-ari ke dalam kendil ini pun dibarengi dengan berbagai piranti. Piranti-piranti ini tak lain dari simbol dan harapan orang tua kepada bayi. 

Jarum dan benang merupakan simbol harapan agar nantinya si anak mampu terampil dengan hal-hal yang berkaitan dengan urusan busana. Kertas dan pensil atau bolpoin merupakan simbol harapan agar si anak nanti mampu menjadi orang yang rajin lagi pintar. Lalu sisir dan cermin kecil merupakan simbol harapan agar si anak nantinya pandai berdandan dan selalu tampil tampan dan cantik.

Dimasukkan juga ke dalam kendil tanaman alang-alang dan tanaman apa-apa, sejenis rumput yang biasanya sering dijumpai di sawah maupun tepian sungai. Kedua tanaman ini juga merupakan simbol harapan agar dalam tumbuh kembangnya si anak tidak menghadapi halangan suatu apapun. Semua piranti ini kemudian dimasukkan ke dalam kendil untuk dikuburkan.

Adapun proses penguburan ari-ari pun tidak boleh sembarangan. Kendil ini kemudian digendong oleh si bapak menggunakan gendongan. Nah, si bapak kemudian membaca salawat nabi sambil memegang payung. Pembawaan payung ini bertujuan agar agar si ari-ari yang tak lain saudara si bayi ini tidak kepanasan. Usai bershalawat lalu ditanamlah si ari-ari ini di kanan pintu masuk untuk bayi laki-laki dan sebelah kiri pintu masuk untuk bayi perempuan.

Sesudah dimakamkan maka hendaknya diberi lampu di atas kuburan dan ditutupi dengan ember atau keranjang. Pemasangan lampu dimaksudkan agar si bayi merasa tetap berada dalam situasi yang terang dan hangat. Sementara penggunaan ember atau keranjang sebagai tutup agar ari-ari tidak digali oleh binatang.

dokumentasi pribadi

Bayangkan, bagaimana detail dan rumitnya upacara ini dilakukan mulai dari si bayi dalam kandungan sampai lahir ke bumi. Kembali kepada pertanyaan dalam mukadimah diskusi di atas. Dalam diskusi kutambahkan pertanyaan juga bahwa bukan hanya prosesi lahirnya bayi yang diupacarai sebegitu ketatnya tetapi juga cara memperlakukan ari-ari. Apa yang menyebabkan ari-ari ini juga diperlakukan sebegitu rupa?

Lalu kuceritakan pengalamanku dulu ketika diminta ibu untuk membawa tanah dari rumah terlebih tanah dari atas ari-ari untuk dibawa ke Jogja. Tanah ini kemudian diminta ibu untuk ditabur ke bawah tempat tidur. Katanya agar betah dan tidak selalu menangis ingat rumah. Bukankah ari-ari juga diperlakukan istimewa? Ceritaku ini diamini oleh Mas Agus, sang moderator. Ia juga bercerita tentang ibunya juga meminta untuk membawakan tanah ari-ari anaknya dari Mojokerto untuk dibawa pulang. Saat itu ia menurut saja. Percaya tidak percaya ya semua hak kalian bukan?

Tapi terus terang saja masalah homesick awal ke Jogja ini akhirnya teratasi. Ya gimana dong? Aku bukan Pramoedya yang cukup anti dengan javanisme. Asal tidak sampai merusak akidah, budaya ini aku ikuti. Bukankah budaya ini juga tidak serta merta ada? Budaya ada tentu melalui proses yang sangat panjang mulai dari perenungan sampai kepada kebiasaan. Nah, apalagi kita sebagai orang Jawa. Masa iya tidak percaya budaya Jawa ya kan?

Kembali ke pertanyaan tadi, kelahiran itu sebenarnya peristiwa apa? Saat itu kujawab bahwa bayi adalah harapan bagi kedua orang tua. Lahirnya si anak adalah hal yang sangat dinantikan oleh orang tua. Upacara demi upacara itu digelar tak lain merupakan perwujudan dari harapan orang tua agar si anak kelak mampu mikul dhuwur mendhem jero. Dia lah yang nantinya menjadi ujung tombak penerus keluarga. Nama baik keluarga tentu akan berada di pundak si anak kelak. Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Kelahiran bayi tidak lain adalah kelahiran sebuah doa dan harapan yang suci.

Dalam diskusi dibahas juga oleh Dalhar Muhammadun (Ketua Dewan Kebudayaan Blora sekaligus penulis Tanah Berdarah di Bumi Merdeka) tentang reborn. Lek Madun tidak hanya sebatas memandang kelahiran sebagai proses fisik saja melainkan juga proses kelahiran batin. Reborn tidak lain adalah kelahiran kembali. Ia kemudian menganalogikan kelahiran kembali ini sebagaimana proses kelahiran kembalinya Pram. Pram pernah mengalami kekecewaan berat dari sang ayah, Mastoer. Ketika itu Pram yang sudah lulus IBO (Institut Boedi Oetomo) diminta untuk mengulang sekolah karena dianggap bodoh oleh ayahnya. Ayah Pram adalah kepala sekolah di tempat yang sama. Pram yang kecewa kemudian pergi ke kuburan tak jauh dari rumahnya. Ia lalu memangis dan berteriak sambil membenturkan kepalanya ke pohon hingga berdarah.

Proses kelahiran kembali Pram yang dramatis ini akhirnya menjadi poin diskusi yang menarik. Lek Madun juga mengajak jamaah yang hadir untuk menggali tentang kelahiran kembali ini. Saat itu juga kusampaikan bahwa kelahiran kembali ini tak lepas dari dua faktor. Faktor yang pertama adalah faktor internal sedang yang kedua adalah faktor eksternal. Sementara faktor kedua adalah faktor eksternal. Faktor momentum yang merupakan faktor eksternal kemudian disinggung oleh Lek Madun. Mas Agus sang moderator juga memberikan stimulan terkait momentum bahwa sebaiknya kita sebagai manusia mampu menjadi wadah jikalau momentum itu tiba sewaktu-waktu. Momentum akhirnya menjadi poin lanjutan yang kemudian dibahas.

Usai diskusi nyatanya aku jadi cukup lama termenung. Termenung untuk mempertanyakan semuanya. Kelahiran kembali memang tidak bisa lepas dari yang namanya momentum. Nah, bagaimana ya kita mampu dengan baik membaca momentum itu? Otak-atik, otak-atik, dan otak-atik.

Caranya ya dengan memperbanyak berlatih. Apapun saja latihannya. Baik yang bersifat keterampilan maupun kebijaksanaan hati dan sikap. Dengan berlatih memperdalam itu semua ketika momentum itu datang sewaktu-waktu kita sudah siap menyambut. Hemm. Sembari manggut-manggut sikap open minded juga perlu diterapkan dalam proses berlatih ini.

Sikap terbuka dengan pendapat orang lain akan senantiasa membuat kita mau dan mampu belajar. Open minded ini akan menjadikan kita lebih rendah hati. Jauh dari sikap eksklusif dan sombong. Bukankah Ki Hadjar mengatakan semua orang itu guru, alam raya sekolahku? Permasalahan yang kemudian timbul adalah bagaimana ketika momentum itu sudah datang berkali-kali tapi kita sebagai manusia masih saja tidak peka?

Jujur pertanyaan ini yang kemudian terus membuatku berefleksi diri, berpikir tentang apa saja yang telah kulakukan selama ini. Ngapain aja selama ini? Kebiasaan membaca dan menulis? Membaca sih lanjut terus, kalau menulis? Terjadi pendangkalan yang sangat hebat dalam hal menulis. Dulu. Ya dulu ketika kuliah aku cukup rutin menulis kegelisahanku dalam buku harian. Menulis blog juga gas terus seusai kuliah. Bahkan masih lanjut walau sudah mengajar. Menulis puisi, cerpen, maupun opini pun produktif dulu. Selalu ada karya yang ready stock. Lha kini? Ah! Giliran rubrik mading Cakrawala Magazine ada yang kosong selalu saja kelimpungan. Akhirnya download google. Duh! Mengapa sih puisi saja kok harus download? Mengapa tidak bikin sendiri? Semanja itukah dengan google dan AI?

Padahal tulisan-tulisan kegelisahan itu kan bahan bakar utama pergulatan ide dan pemikiran. Kontemplasi kata orang sekarang. Proses kontemplasi ini lah yang nantinya akan bermuara kepada tutur kata kita bukan? Kegelisahan demi kegelisahan yang selalu menuntut jawaban ini pada akhirnya membuat kita peka dan kritis tehadap keadaan. Tentang refleksi tadi lalu gimana dong? Sudah lama tidak menulis ini? Haduh!




Pembahasan tentang momentum dan kelahiran kembali ini menyeret-nyeretku melewati berbagai pertanyaan yang datang silih berganti. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian bermuara kepada ajakan Thosim. Ajakan untuk mengirim tulisan dengan konten budaya lokal ini menjadi trigger sendiri buatku. Kupikir-pikir cukup lama juga rasanya aku tidak menulis, mengobservasi, meriset kecil-kecilan seperti dulu. Nah, kalau malasisasi ini kuturuti terus akan jadi apa aku nantinya? Jadi manusia dengan budaya malas. Hwuah!  Budaya bermula dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bukan? Oh Tuhanku tolonglah hambamu ini lepas dari kemalasan. Mungkin keikutsertaan dalam menulis konten budaya lokal ini akan menjadi awal latihanku dalam membaca momentum untuk kelahiran yang baru. Ya semoga saja. Semoga. Bismillah. 

Selengkapnya.. - LAHIRNYA MOMENTUM