Senin, 22 Desember 2025

KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

*Abdul Haris Nur H.

“Persikaba akan selalu ada di hati saya”

Dafit Setiawan diantara pemain Persab Brebes

Menjadi pemain bola adalah impian jutaan orang, termasuk bagi Dafit Setiawan. Lelaki jangkung asal Tuban ini bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional layaknya Evan Dimas Darmono, gelandang timnas Indonesia. Bermula dari lapangan ke lapangan di Montong, Tuban, ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi di Persikaba Blora 2019 lalu. Tahap demi tahap seleksi diikutinya dengan sabar. Perjalanan Tuban-Blora pun rela ditempuh demi mengejar cita-citanya. Walhasil kesabaran Dafit pun membuahkan hasil. Ia pun akhirnya dinyatakan lolos seleksi dan tergabung dalam tim Persikaba.

“Seingat saya, waktu itu bertepatan dengan bulan puasa, Mas. Awalnya saya dapat info dari instagram bahwa Persikaba membuka seleksi. Dari informasi itulah saya lalu berangkat bersama teman dari Tuban. Kurang lebih pukul 11.00 dari rumah, sekira pukul 13.00 saya sampai di Kridosono. Saat itu saya tidak tahu kalau bisa potong jalur, Mas. Jadi saya muter lewat Cepu,” ucap Dafit menceritakan kisahnya.

Lelaki asal Tuban ini juga menuturkan bahwa pembukaan seleksi diikuti oleh ratusan pemain baik dari Blora maupun dari luar Blora. Beragam uji coba pun diselenggarakan agar pemain mampu mengeluarkan bakatnya.  Dalam uji coba-uji coba ini, Dafit mengambil posisi sebagai gelandang nomor 6 sebagaimana pemain yang selalu diidolakannya.

“Saya akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya jadi pemain bola, Mas. Bangun pagi langsung berangkat latihan. Setelah itu istirahat, siangnya latihan lagi. Saya masih ingat kali pertama saya dinyanyikan anthem, saya terharu dan menangis. Hal yang dulu sangat saya cita-citakan akhirnya bisa terwujud. Apalagi ketika debut melawan PPSM Sakti Magelang. Skor kemenangan 2-1 di kandang menambah kebahagiaan saya kala itu. Kebahagiaan yang semakin bertambah ketika saya akhirnya bisa merasakan bisa tidur di hotel kala pertandingan away. Wah Mas, bertanding rasanya kayak liburan he he he,” kenangnya sambil tertawa.

 

 

laga away melawan Persab Brebes

 Bicara tentang dunia sepak bola tidak bisa dilepaskan dari kebersamaan dan kekompakan sebuah tim. Chemistry dan kebersamaan antarpemain adalah hal paling mendasar yang biasnya dibangun sejak awal oleh manajemen. Selain kebersamaan dan kekompakan, hal kedua yang tidak boleh ditinggalkan adalah loyalitas. Para insan sepak bola harus selalu mengedepankan loyalitas dalam membela klubnya.  

Dua hal inilah yang sering menjadi batu ujian bagi sebuah klub sepak bola, tidak terkecuali bagi Persikaba. Kekompakan dan kebersamaan tim pun diuji ketika klub berlogo kepada kuda ini mengalami krisis keuangan. Dafit menuturkan bahwa ia dan teman temannya juga pernah mengalami hal yang cukup pahit ketika membela Persikaba. “Waktu itu para pemain sempat tidak dapat jatah makan dari manajemen.  Akhirnya teman-teman beli makan sendiri-sendiri di warung, Mas. Malahan pernah juga dibelikan makan malam oleh kitman pakai uang pribadi,” tambahnya.  

Terpaan krisis ekonomi klub semakin diperparah dengan telatnya gaji yang tak kunjung diberikan manajemen kepada para pemain. Hal ini menyebabkan kondisi mental para pemain berasa dikikis habis. Dampaknya adalah beberapa pemain memilih mogok tidak mau latihan bahkan kabur dari mess untuk sekadar numpang makan ke rumah para pemain asli Blora.

Janji dari manajemen masih sebatas janji. Gaji tak juga kunjung dibayarkan. Hanya motivasi dan suntikan semangat dari pelatihlah yang membuat para pemain bertahan dan terus berjuang. “Bahkan hanya buat beli bensin saja kami tidak sanggup, Mas. Kami akhirnya berangkat latihan dengan jalan kaki,” imbuh Dafit. Kisah tragis ini akhirnya diberitakan oleh media-media lokal setempat. 2020 setelah itu, akhirnya pihak manajemen memberikan hak para pemain.

Persikaba nyatanya adalah klub yang membuat Dafit terus belajar mengasah kemampuannya. Dari sekian banyak pertandingan yang dilakoninya, match lawan Persab Brebes adalah pertandingan yang akan selalu dikenangnya. “Saya masih ingat, Mas. Dua minggu sebelum lawan Persab Brebes, anak-anak sempat mogok latihan tapi saya berusaha tetap bersemangat karena itu adalah kesempatan bagi saya untuk bisa bermain. Akhirnya pas lawan Persab Brebes, saya dimainkan full 90 menit. Pertandingan berjalan sangat dramatis, Mas. Kita menang 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Baseri tapi kita dipaksa bermain dengan 10 orang karena Fajar kena kartu merah.  Laga yang bagi saya sendiri tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup. Itu adalah match pertama saya di Persikaba dengan full time tanpa diganti tapi juga match terakhir karena kemenangan 1-0 tidak membuat Persikaba lolos babak delapan besar. Ceria, tangis, kecewa tumpah jadi satu di hadapan suporter lawan, Mas. Sampai kapanpun Persikaba Blora akan selalu ada di hati saya,” kenang Dafit.

Siapa sangka musim 2019 itu juga menjadi akhir dari Stadion Kridosono, kandang Persikaba. Pasalnya tak lama setelah pandemi covid datang, dinding stadion dibongkar. Stadion Kridosono pun berubah fungsi menjadi lapangan terbuka. Kandang kuda kini bergeser ke timur, tepatnya di Stadion Krida Loka, Jepon. Enam tahun telah berlalu. Setelah sempat melanglang buana ke berbagai klub, kini Dafit bergabung di Bumi Wali, Tuban, tanah kelahirannya sendiri. Ilmu yang didapat dari sepak bola ini ia amalkan dengan mengajar olahraga di sebuah sekolah di Tuban.

(Wawancara pada Kamis, 18 Desember 2025)

 

 

 

Selengkapnya.. - KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

Kamis, 18 Desember 2025

FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

*Abdul Haris Nur H.

Saya di Persikaba itu seleksi normal dari nol, Mas. Tidak ada teman, saudara, atau siapapun. Saya ingat waktu itu saya hanya bawa uang dari rumah Rp 50.000,00.

Fajar berlari berusaha menghalau salah satu pemain Persab Brebes


Langit mendung menyiratkan hujan akan segera turun. Suara guntur sambut menyambut kian bergemuruh. Jalanan Blora pun nampak semakin redup. Dalam nuansa keredupan ini banyak orang yang kemudian bergegas dan terburu-buru. Ada yang berlarian masuk rumah, ada yang panik mengamankan cucian, juga ada yang sibuk memberesi dagangan. Blora seolah menjadi supersibuk.

Dari sekian banyak orang yang tergesa-gesa itu justru nampak beberapa orang malah keluar rumah menuju lapangan. Benar sekali, mereka adalah para pemain sepak bola dengan penonton setianya. Para pemain Persikaba Blora. Kali ini Persikaba akan mengadakan uji coba melawan klub lokal Pontura FC di Lapangan Alugoro 410 Blora.

Di pinggir lapangan, tampak beberapa pemain Persikaba melakukan pemanasan. Tim yang belum lama terbentuk ini juga ikutan sibuk. Pelatih fisik, Andri Mulyono Jati terlihat memberi aba-aba mengarahkan pemain. Pelatih utama, Gusnul Yakin juga sibuk menata papan strategi. Musim 2025-2026 ini Persikaba dihuni oleh para pemain muda. Sebuah musim yang mengingatkan kita kembali pada 2019 lalu. Masa dimana Persikaba mengikuti kompetisi liga 3 dengan skuad penuh dengan pemain muda. Pemain dengan kualitas yang merata di bawah bimbingan Coach Tommy Parsep.




Dari tengah lapangan terdengar peluit dibunyikan, pertanda kickoff telah dimulai. Bola pun bergulir dari kaki ke kaki di lapangan yang becek. Aliran bola deras mengalir ke kiri dan kanan lapangan. Jenderal lapangan tengah berteriak-teriak mencari teman dan memberikan umpan. Entah mengapa melihat seorang gelandang ini ingatan mendadak kembali ke masa 2019 lalu, ketika gelandang Persikaba dengan postur mungil tapi trengginas berlari meliuk-liuk mencari ruang. Gelandang mungil ini bernama Akhmad Fajarudin.

Musim 2019 lalu tribun penonton selalu riuh ketika pemain dengan nomor punggung 12 ini menggiring bola mencoba menggocek lawan. Posturnya yang kecil membuat jersey yang dikenakan nampak kedodoran selalu mengundang gelak tawa penonton. Tapi jangan salah, justru dengan ini seorang Fajar mudah ditandai. Lelaki kelahiran Jepara ini nyatanya selalu berhasil masuk lini menyulitkan pemain lawan.

“Saya di Persikaba itu ikut seleksi normal, Mas. 2018 sebenarnya saya sudah ada tim di Persiwi Wonogiri. Karena tujuh bulan persiapan tak kunjung ada kejelasan, akhirnya 2019 saya ikut seleksi di Persikaba. Ikut seleksi normal saya, Mas. Di Blora itu saya mulai dari nol. Tidak ada teman. Tidak ada saudara. Bahkan waktu itu saya ingat, saya hanya bawa uang dari rumah lima puluh ribu buat beli bensin,” tutur Fajar ketika diwawancarai.

 

Persikaba adalah klub yang menjadi tumpuan harapan bagi Fajar. Tak ayal, gelandang mungil yang suka menguncir rambut ini rela menempuh perjalanan Jepara-Blora selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya pihak manajemen menyediakan mess.

“Waktu itu manajemen masih belum rapi lho, Mas. Saya dan teman-teman dari Jepara sampai rela patungan untuk biaya makan. Malahan pernah makan sehari dua kali. Sebulan setelah itu terbentuklah tim Persikaba itu, Mas. Dari sana juga aku kenal Coach Tommy Parsep,” tambah Fajar.

Selain Fajar, ada empat orang dari Jepara yang juga datang ke Blora. Total ada lima orang Jepara yang ikut seleksi di Persikaba kala itu. Dari lima orang, tiga orang dinyatakan lolos seleksi. Mereka adalah Adhan Fahreza (libero), Febrianto (striker), dan Akhmad Fajarudin yang berposisi sebagai gelandang.



“Di Persikaba ini semua saya mulai dari nol, Mas. Jadi semua kemampuan yang saya miliki harus saya kerahkan. Semangat juang tinggi serta rasa persaudaraan yang melebihi keluarga yang membuat kami selalu tampil all out. Jadi tidak ada alasan untuk bermain jelek. Alhamdulilah saya selalu dipercaya pelatih,” imbuhnya.

Titik gerimis mulai turun di lapangan. Duel seru lini tengah kini bergeser ke sayap. Para pemain Persikaba nampak selalu berusaha mencari celah melalui wing kanan dan wing kiri dengan sentuhan bola cepatnya. Beberapa kali hakim garis mengangkat bendera offside. Tak lama berselang gol pertama tercipta. Usai gol pertama kemudian disusul dengan gol kedua. Keran gol persikaba terbuka lebar. Gol demi gol pun akhirnya tercipta termasuk gol yang dicetak melalui titik putih. Pola permainan dan kompaknya para pemain menjaga wilayahnya tentu membawa kita pada kenangan Persikaba 2019 lalu.

Tak terasa enam tahun sudah berlalu. Lelaki yang selalu dielu-elukan di lapangan ini pun telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Harapan Fajar tentu sama dengan harapan pencinta sepak bola Blora pada umumnya agar Persikaba lebih terus berprestasi lebih baik lagi. Tak terasa gerimis pun menghilang berganti dengan senja yang segera datang. Dari tengah lapangan, peluit panjang berbunyi pertanda pertandingan telah usai. Skor kemenangan 5-0 untuk Persikaba. Kemenangan yang menjadi awal yang baik sebelum pertandingan perdana kompetisi liga 4 Jawa Tengah dimulai.

 

(Wawancara dengan Akhmad Fajarudin, Minggu 14 Desember 2025)

Selengkapnya.. - FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR