Selasa, 30 Oktober 2012

Epidemi



Aku terhenyak sejenak. Kubiarkan pikiranku berkelana ke panorama mozaik yang masih kacau. Hingga akhirnya bermuara pada lembah kebisuan. Sesampai di lembah itu, tak bisa apa-apa. Hanya terdiam dan termangu. Bayangkan, bagaimana kalau negeri ini terserang virus Sampar. Masih adakah kemunafikan dan kesombongan? 

Sampar adalah virus menular yang menyerang makhluk hidup. Sampar merupakan penyakit epidemi 
yang sangat ganas. Dalam hitungan hari, bahkan menit sekalipun banyak nyawa yang mampu ditawan dan tidak dikembalikan lagi. Bagaimanakah bila virus ini menyerang negara kita?
"Seharusnya kita tidak boleh menyerah kepada ketakutan," kata Camus. Benar juga tapi yang namanya rasa takut pasti hadir di hati manusia. Tergantung bagaimana kita menyikapi dan menghadapinya. Mati tanpa tujuan atau mati karena tujuan...
Selengkapnya.. - Epidemi

Senin, 29 Oktober 2012

Jejak Kaki

Jejakkan langkahmu walau ke ujung dunia sekali pun, 

Hari demi hari kucoba menghayati apa yang menjadi kegundahan hati. Begitukah kata hati manusia? Selalu bicara tanpa dasar, tapi mengandung sebuah firasat kebenaran. Kita pun tak mampu mengelaknya 

Sama dengan ibadah haji. Berjuta orang datang ke Arab untuk menunaikan ibadah haji. Ketika ada info tentang haji, biasa saja. Itu karena aku belum paham teknisnya. Perlahan-lahan baru  kutahu ternyata menunaikan ibadah haji itu tidak mudah. Harus antri, menghapalkan doa ini itu. Lari ke sini, lari ke situ. Berat juga perjuangan mereka di sana. Bahkan, ada yang sampai meregang nyawa. Tapi mereka bangga, karena katanya telah meninggal di tempat favorit yang tiada lain adalah Mekkah. 

Pengetahuan yang tiada akan terkira. Beruntung sekali, di tempatku berjuang sekarang banyak hal yang  akhirnya kudapatkan. Pelajaran hidup, kawan. Aku mengetahui mekanisme miniatur tata cara ibadah haji ketika latihan manasik bersama kawan-kawan kecil. 
Alhasil, bermandi keringat. Berhujan panas, tapi sedikit banyak punya gambaran bagaimana haji itu. 
Dari lari-lari kecil. Menengadahkan tangan. Baca doa. Melemparkan batu jumroh. Yang lebih menakjubkan adalah teman-teman kecil Mereka sangat hebat. Ekspresi muda yang penuh semangat. 

Aku kira hari itu, hari yang sangat berat. Berangkat dari rumah pukul 06.00 tanpa sarapan. Lalu, mengikuti acara Simakan Tengah Semester (STS) sekaligus rapat pembentukan Komite Sekolah, tanpa istirahat lanjut lagi ke acara manasik haji. Setelah itu, langsung tancap menuju Masjid Agung untuk salat Asar, tancap kemudi lagi dilanjut ke Klentheng untuk mengikuti latihan karate. 


Sayang, di sana yang ikut cuma sedikit padahal sudah kusempatkan sedemikian rupa. Itu pun ditambah lagi dengan semangatnya yang menipis. Aku nggak terima dengan ini. Sudah kuusahakan masa begini saja. Kuteriak sekencang-kencangnya biar semangat tumbuh. Sayangnya, tetap saja melempem. 

Mungkin karena tenaga yang terlalu kuforsir ini yang menyebabkan aku sering istirahat ketika latihan. Tak tahu kenapa, biasanya setiap kali latihan bersama teman-teman di rumah kuat-kuat saja. Lha ini kok loyo. Apakah aku yang kecapekan, ataukah karena nuansa semangat di Blora menipis? Aku pun tak tahu. Yang pasti selagi masih ada kesempatan untuk latihan dan berolahraga hajar terus.. sama halnya dengan ilmu. Selagi ada kesempatan untuk belajar, akan kugenjot terus. Belajar sama-sama, berkarya sama-sama, kerja sama-sama...
Selengkapnya.. - Jejak Kaki

Minggu, 28 Oktober 2012

Qodar dan Qodir

Setelah sekian lama berkecimpung dengan dunia pendidikan. Kutahu sedikit demi sedikit karakter teman-teman kecilku. Tapi banyak yang tak kutahu tentang diri mereka yang sebenarnya. Dari sekian banyak teman kecilku ada satu teman bernama Faiz Burhanuddin. Hapalan Al Qurannya bagus, paling jauh dibanding teman-temannya (yang aku simak). Walaupun tidur menjadi hobi kesukaannya, (pasalnya pernah kujumpai dia menghapalkan sambil tertidur, anehnya bacaannya benar) tak disangka dia mampu menhasilkan karya yang fenomenal. Bagimanakah karyanya?berikut ini buah pikirannya dengan sedikit gubahan dariku. 

Pada suatu hari ada seorang anak yang bernama Qodar. Dia sedang berjalan-jalan di Jalan Raya. Ketika sedang asyik menik mati perjalalannya, ia bertemu dengan seorang anak bernama Qodir. Qodir ini tidak lain dan tidak bukan adalah pengemis. Qodar kasihan melihatnya. Ia akhirnya membawa Qodir pulang ke rumah. Karena rasa sayangnya kepada pengemis itu, akhirnya Qodir diangkat menjadi saudara.  
Tiap sore hari menjelang magrib mereka selalu berjalan-jalan di sekeliling kompleks rumahnya. Tak sengaja, mereka bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik yang bernama Siska. Perkenalan dengan Siska pun tak bisa dihindarkan. Hingga berjalannya waktu, dalam hati mereka tumbuh bunga-bunga asmara yang selalu dipendam rapat di dasar sanubarinya.  
Pada suatu hari, tak disangka mereka akhirnya menyatakan isi hatinya kepada Siska. Pertengkaran menyelimuti diri Qodar dan Qodir. Napas permusuhan mengalir dalam rongga hidung dan tubuhnya. Hingga akhirnya saat mereka pergi berdua, muncul ambisi dalam diri Qodar untuk menghabisi nyawa si Qodir. Tidak berbeda dengan Qodar, Qodir pun menyimpan hasrat yang sama terhadap orang yang telah menolongnya. Ia pun ingin menghabisi nyawa Qodar. 
Peristiwa saling bunuh di antara saudara pun terjadi. Qodar tewas seketika setelah menerima pukulan kencang yang diarahkan kepadanya secara bertubi-tubi. Dengan rasa puas setelah berhasil membunuh, Qodir kemudian pulang dengan langkah tertatih-tatih. Di tengah jalan ia tertabrak mobil dari arah belakang. Setelah agak lama terdiam, akhirnya ia pun menghembuskan napas untuk terakhir kalinya. Mobil yang menabrak Qodir melaju sangat kencang. Qodir akhirnya tewas di pinggir jalan tanpa pertolongan. Jasadnya dibiarkan begitu saja. Tidak ada yang mau menguburkan. Jasad Qodir kemudian membusuk dengan ditumbuhi belatung dimana-mana. Warga masyarakat membiarkannya begitu saja. 
Selang beberapa hari, Bapak dan Ibu mereka mencari anaknya. Tak disangka mereka menemukan kedua anaknya sudah tak bernyawa. mayat kedua orang yang dulu bersahabat ini pun kemudian dimakamkan di pemakaman Islam. 



Selengkapnya.. - Qodar dan Qodir

Dilematika dan Problematika

Seiring dengan munculnya kekuatan besar, muncul pula tanggung jawab besar yang mengikutinya
Kata-kata ini mungkin pas untuk mewakili kejadian tempo hari.
Waktu itu, aku diminta untuk membantu panitia pembagian daging kurban di Masjid. Harus bawa pisau. Oke, Siap, tancap. Sampai di Masjid, ketemu dengan panitia. Semua lokasi berpintu rapat. Satu orang panitia menyuruhku untuk mengisi daftar hadir. Sial, keformalan yang membuatku mulai malas karena mengandung paksaan yang mengikat. Diwajibkan pakai co-card segala. Ini kan acara untuk warga. Kok seperti ini? Warga lain pun dilarang mendekat, terkecuali panitia atau pemakai co-card. Acara Pembantaian daging selesai, langsung kubagikan di warga RT bersama adik. Usai membagikan daging, otomatis harus kemabli ke Masjid untuk sekadar laporan. 

Sekembali di Masjid. Banyak warga yang datang. Tentu berharap untuk dapat sekadar daging ya paling nggak satu bungkus. Ada satu yang membuatku muak. Ada panitia yang bilang "Gini ini kalau SDM rendah". Usut punya usut dia adalah donatur utama masjid. Aku sudah tahu orangnya, kata orang memang begitu itu wataknya. Ah sama sekali tak ada simpati dengan orang seperti ini. Tak hanya itu, petugas keamanan masjid juga mempersilakan warga sekitar untuk masuk. Tapi sikap semena-mena dan ketus dia bilang "Mau minta daging? Sana bilang, Pak minta, Pak..." sontak, hatiku sedih melihatnya. Terang saja, warga yang diberitahu seperti itu nurut. Yah, tentu demi perut. Dalam hati aku terpukul. Bagaimana mungkin, dalam agama ada himbauan "Janganlah meminta-minta, meminta-minta adalah pekerjaan yang paling hina." Lha ini, kok malah seperti ini? Orang yang dipandang melek agama, malah menjerumuskan orang lain. Seperti lagu lama. Aku keluar. Duduk di luar lokasi penyembelihan hewan, melihat saja dari sana. Diam termangu. Aku tak mau sepeti ini. 
Selengkapnya.. - Dilematika dan Problematika