Jumat, 16 Mei 2025

MENCARI KARTINI VOLUME 2

Siang itu ketika matahari beradu dengan waktu, aku terus menarik tuas kemudiku. Motor beat hitam itu terus melaju menuju Bulu. Kartini. Satu kata yang sangat pendek ini masih menjadi tujuan utamaku. Tujuan demi menjawab pertanyaan anakku kemarin lalu. 

patung Sang Ibu di depan pintu masuk

Setelah menghabiskan waktu di museum yang tak lain adalah kediaman Ibu Kartini dulu, kami pun bergeser menuju lokasi yang kedua. Benar. Perjalanan kami mencari Kartini belum usai. Entah berapa banyak rumah di kanan kiri jalan yang sudah kami lalui. Aku tak tahu. Yang kutahu pasti adalah kami masih terus menerjang cuaca panas pantura. Debu jalanan menempel jadi satu dengan keringat. Lengket di sana-sini. Untung saja pakai kaos oblong, coba kalau pakai kemeja pasti gerahnya minta ampun.

Di depanku, Fina tampak kepayahan. Kaca helm yang dipakainya berkali-kali dibuka dan ditutup. Pun dengan tali klik, beberapa kali dia menggaruk janggutnya. Anak kecil ini tentu kecapaian akibat mondar-mandir lari di museum tadi. Kulirik jam tangan digitalku, 01/05/2025 pukul 13.00. Pantas saja panasnya minta ampun. Seolah matahari mengamuk sejadi-jadinya. Kota yang berada di pesisir pantura Jawa ini tak berdaya menahan amukannya.

Botol air mineral yang kami bawa sudah kosong. Tandas kami gasak sewaktu beranjak dari museum. Botol itu masih tenang terselip di bawah speedometer. Botol yang sengaja kami bawa karena tidak sempat membuangnya di tempat sampah. Haus masih terasa. Sekalipun kepanasan aku merasa lega karena di museum tadi sudah kencing, sudah salat juga, dan perut juga masih kenyang. Aman. Sudah deh kalau kalian sedang perjalanan dan menahan satu dari ketiga hal tersebut, dijamin perjalananmu tidak akan menyenangkan. Yang ada hanya rasa tergesa-gesa dan tergesa-gesa. Tiga hal ini selalu aku hindari ketika sedang dalam perjalanan.

Motor terus melaju. Kami pun mulai memasuki jalan Rembang-Blora. Entah berapa lama kami hirup asap kendaraan bercampur aus kampas mobil yang terbakar. Sesekali kulihat Fina di depanku. Tampak dia sudah mulai rewel. Ya bagaimana lagi. Jam-jam segini adalah jam tidur siangnya bersama ibunya.

pohon besar di depan serambi makam

Sembari terkantuk-kantuk Fina masih saja bertanya “Masih lamakah perjalanan ke makam Ibu Kita Kartini, Pak?” Perasaan kasihan yang sempat muncul berubah menjadi senang. Ternyata dia masih bersemangat. Kujawab “Nggak lama lagi kok,” berharap agar semangatnya tetap terjaga. Sekira sejam perjalanan, Sulang telah kami lewati. Baliho dan papan nama di kiri kanan jalan sudah mulai terbaca “Bulu”. Kusampaikan kepada Fina, “Tidak lama lagi sampai, Fin. Ngantuknya ditahan dulu ya.” Dia diam tak menanggapi.

Sembari menekan laju gas di tangan, aku pun menanyai istriku. “Sudah pernah ke sini sebelumnya?” “Sepertinya belum,” jawabnya. Kuingat-ingat lagi, sepertinya aku sudah pernah ke sini sebelumnya tapi sama siapa ya? O ya benar juga. Aku dulu ke sini bersama temanku. Kala itu, 21 April berapa tahun yang lalu aku dan temanku berziarah ke sini. Aih kalau ingat masa itu. Masa-masa ringan kemana saja dan kapan saja. Mau kemana: oke. Mau pergi kapan: Siap. Terlebih saat itu aku pergi bersama temanku yang suka sekali berziarah. Tak ada angin tak ada hujan tahu-tahu sudah ziarah saja ke Makam Sang Ibu. Sekarang tentu situasinya sudah berbeda. Apalagi sudah ada Fina. 

tabur bunga di makam Sang Ibu

Plang makam R.A. Kartini sudah nampak dari kejauhan. Kupelankan laju motor. Sesampai di bawah plang hijau bertulis makam R.A. Kartini, kami pun berbelok ke kanan. Kontur jalanan yang tadinya lempeng kini berubah menanjak syahdu. Panasnya Rembang mulai terobati dengan banyaknya pohon rindang. Kami pun masih melaju di jalanan yang terus saja naik. Hingga akhirnya sampailah kami di parkiran makam. Duh!  Pantat serasa terkena alteco. Pelan-pelan kami turun dari motor kemudian duduk di emperan pendapa. Pendapa yang berada di bawah pohon ini sepertinya disediakan sebagai tempat istirahat para pelancong.

Sembari duduk kuamati sekitar. Tampak dua mini bus terparkir berjajar dengan penumpang yang sudah tumpah ruah.  Ada yang sibuk memilih jajanan. Ada juga anak kecil yang menarik-narik tangan ibunya untuk dibelikan mainan. menarik juga gumamku dalam hati. Memang banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya di area parkir ini. Mulai dari piranti dapur seperti pisau dan sendok, makanan dan minuman, mainan anak, bahkan terasi juga ada yang menjual. Kami amati semua itu sembari mengusir capai dengan meluruskan kaki ke depan.

Setelah kami rasa cukup beristrahat, aku pun mencari kamar mandi. Niatnya sih mau ganti celana pendek dengan sarung lalu berwudu. Sarung sudah kukenakan, kran kuputar. Yah! Tak ada air menetes setitikpun di kamar mandi ini. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamar mandi tanpa berwudu. Kutemui Fina dan ibunya yang masih menunggu. Oke, kita masuk makam. Sedang berjalan menuju pintu masuk, Fina minta beli bunga. “Beli bunga Bu. Kan kalau ziarah harus bawa bunga.” Ah anak ini seperti tahu cara berziarah saja. Akhirnya kami pun membeli bunga mawar untuk nanti ditaburkan di makam.

Sambil terus berjalan menuju pintu makam, Fina ngotot meminta agar dia saja yang membawa bunga. Sesampainya di depan pintu makam, kami tidak langsung masuk. Kami memilih untuk berfoto dengan patung Sang Ibu yang berdiri di depan pintu. Beliau seolah menyambut kami dan para pengunjung lainnya. Usai berfoto kami pun masuk ke area luar makam. Sampai di serambi makam, aku menahan istri dan anakku. Kuminta mereka untuk duduk dan menunggu terlebih dahulu. “Biarkan rombongan ini selesai berdoa. Kita masuk setelah mereka keluar,” kataku.

dokpri

Lantunan doa yang dipanjatkan oleh rombongan dua bus itu terdengar sampai serambi makam. Kami yang duduk di serambi merasakan betapa teduhnya tempat ini. Letaknya yang berada di perbukitan, jauh dari pusat keramaian menambah ketenteraman hati para peziarah. Belum lagi dengan banyaknya pepohonan yang menambah aura damai. Sedamai itu juga kami menunggu. Sedang asyik mengamati lingkungan, istriku mengajakku masuk. Kutengok pintu masuk. Kusampaikan kepadanya untuk bersabar. Nampaknya mereka sedang berfoto di dalam.

Rombongan mini bus ini akhirnya keluar. Tiba giliran kami untuk segera masuk. Kami kemudian masuk kompleks makam dengan mengucap salam terlebih dahulu. Sesampai di depan pusara Ibu, kami bertiga duduk bersimpuh. Makam sang Ibu dipagari besi kuning bersebelahan dengan dua makam lainnya. Hanya ketiga makam ini yang berpagar besi. Tidak ada lain tentu yang bersemayam dalam makam ini bukanlah orang yang sembarangan. Setelah duduk, aku menengok kanan hendak mencari buku yasin. Ternyata di belakang kami, tak jauh dari pintu masuk tadi, tampak bapak-bapak tua sedang duduk menekuri buku tamu. Ah iya. Lupa. Mungkin bapak itu menyangka kami adalah bagian dari rombongan yang tadi.

Segera kuambil yasin yang ada di meja, tak jauh dari tempat kami duduk. Aku pun mulai membaca wasilah, fatihah, lalu tahlil. Terakhir, doa-doa kami lantunkan kepada sang Ibu dan keluarganya. Entah mengapa suasana di makam ini begitu berbeda dengan aura di museum tadi. Gemuruh perjuangan yang berkelit kelindan dengan kisah pilu yang tadi kami rasakan mendadak berganti dengan kedamaian. Perasaan tenang, sejuk, dan teduh terus saja kami rasakan sedari masuk sampai doa berakhir. Seolah segala persoalan hidup kami turut luruh bersama ketenangan tempat ini.

Aku pun maju berjalan jongkok menyusul Fina yang kikuk setengah takut hendak menaburkan bunga. Sambil bersimpuh kubersamai dia menabur bunga di atas pusara Ibu Kita. Ibu luar biasa yang sedari kemarin dia tanyakan telah bersemayam di sini, di bawah nisan bertabur bunga ini. Sedih rasanya ketika harus menjelaskan kepada anakku bahwa Ibu Kita yang dicarinya sedari kemarin ternyata sudah tiada.

Di sebelah makam beliau, terdapat dua makam dengan nisan yang berbeda. Ada yang besar dan ada juga yang kecil. Nisan yang besar berada persis di sebelah makam beliau. Nisan itu bertulis R.A. Soekarmilah Djojoadiningrat disusul dengan makam yang ukurannya lebih kecil. Di belakang tiga nisan ini tampak berbaris rapi lukisan wajah sang Ibu. Ia seperti sedang mengamati kami.

tabur bunga di makam Bapak Soesalit

Usai bunga kami taburkan, aku pun meminta tolong istri untuk mengambil foto sambil tetap duduk bersimpuh. Usai berfoto, aku dan Fina turun. Fina yang masih membawa keranjang bunga diminta ibunya untuk kembali menaburkan semua bunga yang tersisa. Segera kucegah. “Sebentar. Sebentar. Mari sini ikut Bapak.” Aku kemudian mengajak mereka bergeser ke kiri menuju makam yang lain. Fina kutuntun untuk kembali menaburkan bunga yang masih dibawanya ke salah satu makam. “Ini makam Bapak Soesalit, putra Ibu Kartini. Sini Fin, bunganya taburkan ke sini semua,” pintaku. Tampak sudah ada karangan bunga di atas nisan beliau ini.

Aku tak tahu mengapa makam buah hati Sang Ibu tidak diletakkan bersebelahan dengan ibundanya. Tertulis di batu nisan itu Mayjen TNI (Purn.) R.M. Soesalit Djojo Adiningrat Panglima Divisi III Diponegoro Yogyakarta-Magelang Th. 1946/1948, lahir Rembang 13-9-1904 wafat Jakarta 17-3-1962.

Tahun 1904 merupakan tahun kelabu. Pada tahun itulah Sang Ibu berpulang tak lama setelah buah hatinya lahir ke dunia. Ibu kita berpulang dengan segenap perjuangannya. Kiprahnya selama hidup akan selalu dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia. Ibu Kartini, Ibu kita semua, Ibu yang telah mengangkat derajat wanita dan bangsanya. Ia yang dengan prinsip dan semangat tak kenal lelahnya berusaha mencerdaskan bangsa, telah tiada. Banyak hal yang harusnya kita lanjutkan.

Pencarian Ibu Kita Kartini tidak selesai di sini. Sang ibu memang telah tiada tetapi api semangatnya masih menyala-nyala. Api inilah yang ingin kuhidupkan juga dalam sanubari Fina. Duhai Ibu, restui cucumu ini, Bu. Anak kecil ini sedari kemarin mencari tahu tentang engkau. Dia selalu merengek-rengek kepadaku. Mendesakku untuk meminta penjelasan tentang kisahmu.

Dia yang didandani berkebaya ibunya saat hari kelahiranmu seolah tidak puas. Dia minta lebih. Dia selalu ingin tahu semua kisah-kiprahmu. Bahwa kisah-kiprahmu tak hanya seremeh kebaya yang dia kenakan. Sementara aku dan istriku sebagai bapak dan ibunya ingin menunjukkan kepadanya apa yang Ontosoroh sampaikan, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang telah melawan. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semua itu telah tunai kau lakukan Ibu. Aku ingin mengajarkan ini kepada anakku, Bu. Ibu, restui kami melanjutkan perjuanganmu itu.

Kami pun keluar dan menghampiri motor yang terparkir di depan. Kucopot sarung, berganti celana pendek kembali. Duduk di atas motor rasanya masih enggan meninggalkan tempat ini. Aura kedamaian yang menenangkan membuat kami malas beranjak. Dengan berat hati, motor kunyalakan. Pelan-pelan kami akhirnya kembali menyusuri jalanan aspal. Sepanjang jalan, kutanyai Fina “Sudah tahu siapa itu Ibu Kita Kartini?” Dia tak menyahut.


    Motor melaju perlahan menuju Blora dengan pikiran yang berkecamuk. Fina tampak sangat kelelahan. Dia akhirnya kami dudukkan di tengah. Kami himpit karena khawatir kalau tertidur di jalan. Motor beat hitam membawa kami terus melaju memasuki Blora. sampai-sampai tak terasa perut kami sudah mulai keroncongan. Kami kemudian singgah sebentar di warung mi ayam. Usai mengisi perut kami lanjutkan perjalanan menuju Blora tercinta. Dengan perut yang sudah mulai terisi, pencarian tentang keberadaan Kartini juga sudah menemukan jawaban. “Kartini yang kami cari ternyata ada di sini. Ia bersemayam di hati kita. Dalam hati orang-orang yang berjuang keras membebaskan jerat yang menghantui bangsanya.” 

Blora, 6 Mei 2025

Selengkapnya.. - MENCARI KARTINI VOLUME 2

Rabu, 14 Mei 2025

Mencari Kartini volume 1


    Sore itu Rabu 30 April 2025. Sembilan hari berlalu dari peringatan Hari Kartini. Pesan suara masuk dalam chatt WA-ku. Pesan dari Fina anakku. Ia menanyakan keberadaanku. Ya. Saat ini aku sedang bersama ketujuh muridku. Duduk melingkar bersama Disca, Yaqut, Ajeng, Ulya, Himma, Naura, dan Ivana. Sore ini merupakan hari pertama kami berkumpul setelah libur panjang lebaran. Kelas menulis ini terus bergulir berkat dorongan anak-anak. O ya, tema pertemuan kali ini adalah penulisan opini dan artikel populer.

dokpri

          Saat sedang seru-serunya berdiskusi, pesan suara itu bertubi-tubi masuk layaknya rentetan tembakan tantara Israel yang terus merangsek masuk wilayah Gaza. Pesan demi pesan masuk tanpa kubalas. Hanya kulihat lalu kututup kembali gawaiku dengan posisi terbalik. Aku tak mau diskusi yang sudah asyik ini terjeda. Ketika anak-anak sedang mencari tema dan menuliskan opening tulisan, aku minta diri untuk keluar.

          Pesan suara itu lalu kudengarkan satu per satu. Hingga sampailah pada akhir pesan suara yang membuatku tersenyum. Fina, anak perempuanku ini bilang “Bapak! Katanya mau nyeritain aku Ibu kita Kartini! Malah semalam tidur duluan! Tidak menepati janji!” hardik Fina setengah berteriak. Apa yang bisa kulakukan selain senyam-senyum sendiri. Tentu kalian juga akan begini bukan? Sekira pukul 15.00 kelas menulis pun usai. Aku kemudian bergegas pulang. Lalu makan dan istirahat. Malam itu Kartini juga urung kuceritakan. Aku kecapaian. Tidak seperti biasa baru 21.00 aku sudah tertidur pulas.

          Kamis, 1 Mei 2025. Hari ini libur hari buruh. Kuputuskan mengajak anak dan istriku ke pantai. Sebenarnya sudah sedari kemarin lalu Fina mengajak ke pantai tapi belum kesampaian. Mumpung selagi libur. Selain itu karena Minggu nanti aku masuk sekolah. Sambangan. Sekolah tempatku berkreasi adalah sekolah dengan model pesantren. Jadi sambangan merupakan hari yang paling ditunggu anak-anak untuk bertemu dengan orang tua. Makan bersama orang tua, berkeluh kesah bersama mereka, lalu yang tak boleh ketinggalan adalah pemberian uang saku untuk sebulan ke depan. Nah, kami diminta masuk untuk sekalian parenting. 

          Pukul 08.00 kami berangkat menuju Rembang. Lokasi pantai yang kami tuju adalah Caruban. Pantai yang sangat bersejarah pada masanya. Nanti deh, akan kubuat tulisan khusus untuk pantai ini. Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk cerita ini-itu. Fina juga tidak mau kalah. Dia selalu menyela, maunya ikut juga bercerita. Aih anak kecil ini. Saat di perjalanan itu juga kuutarakan niatku untuk mengajak mereka berziarah ke Makam R.A. Kartini. Yes. Istriku sepakat. Tiada lain aku ingin menebus janjiku kepada Fina. Juga mengenalkan Kartini kepada Fina dengan caraku bukan berteori bla…bla…bla.

Kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami di Pantai Caruban. Sesampai di sana duduklah kami di bawah pohon cemara. Nyiur angin menerpa dedaunan cemara yang terus menari lemah gemulai. Melambai-lambai seolah mengajak untuk istirah dan melupakan hal-hal yang kemarin menggebu-gebu. 

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, kami pun beristirahat. Rebahan di bibir pantai dengan beralas tikar. Dari sini sejauh mata memandang yang tampak hanya lautan utara pulau Jawa memanjang serupa garis rapi yang digaris begitu presisi oleh Tuhan. Begitu pun dengan warna airnya mulai dari kecokelatan, biru mentah, hingga biru dongker, Tuhan Memang Maha Nyeni. Sementara air laut terus saja bergoyang. Seolah melambai bersahutan dengan pepohonan cemara tempat kami berteduh menciptakan tarian yang aduhai. 

Usai menyantap lontong pecel, mi goreng, dan seporsi gorengan, giliran kopi panas dan air kelapa yang kami santap habis. Perut kenyang. Lalu si kecil turun menari-nari mengikuti irama alam sambil meyibak-nyibak air laut dengan tubuh berlumuran pasir. Sembari menunggu Fina bermain air, kusampaikan ideku untuk mengajak mereka ke Museum R.A. Kartini. Sekalian lah. Mumpung momennya ada.

regol/gapura museum

Kurang lebih pukul 11.30 kami cabut dari pantai menuju museum. Kesejukan angin pantai mulai kami tinggalkan. Berganti dengan teriknya matahari menyapu bumi. Tak butuh waktu lama menggelinding di jalan pos. Kurang lebih pukul 12.00 sampailah kami di Museum R.A. Kartini. Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 8 Kutoharjo Rembang. Bangunan yang tak lain adalah rumah dinas bupati tempat tinggal Kartini kala itu masih gagah berdiri.

dokpri

Motor semakin pelan. Sampailah kami di halaman. Lalu kuparkir Honda Beat itu. Sebenarnya ada rasa kikuk untuk turun. Bagaimana tidak? Di pendapa depan sana nampak banyak remaja yang sedang berlatih menari. “Ah hajar saja! Sudah sampai sini juga,” batinku. Turun dari motor, kami segera menuju ke tempat jaga. Di sana tampak satpam muda sedang asyik bermain gawainya. Setelah tahu kami akan berkunjung ke museum, diarahkannya kami menuju meja pendaftaran. “Nah, biaya masuk Rp 5000,00 per orang. Tiga orang lima belas ribu, Pak,” kata satpam.

Setelah mengisi daftar hadir dan membayar tiket, pintu jati kuno itu kami buka. Kami pun masuk dengan mengucap salam terlebih dahulu. Aku masih takjub dengan kondisi bangunan. Luar biasa gedung ini. Perpaduan budaya Jawa-Eropa sangat terasa dalam gedung ini. Selain itu, kukuhnya pondasi membuatku masih saja keheranan. Berbeda dengan pondasi zaman sekarang yang belum lama selesai selalu disertai dengan retak di sana-sini. Apalagi tempatnya yang tak jauh dari jalan paling ramai di pantura. Jalanan yang selalu ikut bergoyang ketika truk-truk tronton lewat. Sepertinya guncangan itu tidak berpengaruh pada bangunan ini.


Fina dengan foto di ruang tengah

Usai membuka pintu, Fina kuminta untuk duduk di kursi yang sepertinya sengaja diletakkan agar pengunjung berfoto dengan foto besar Sang ibu yang telah dipigura dan diletakkan di ruang tengah. Usai sejenak befoto kami kemudian berjalan ke kanan menuju Ruang Habis Gelap Terbitlah Terang. Di sini banyak sekali kutipan tulisan Kartini yang dipasang di dinding. Berjalan perlahan sembari membacai tulisan demi tulisan di dinding. Membacai kutipan ini hatiku terus bergetar menahan getir perasaan Sang Ibu. Jiwa semangat dan optimisme yang tinggi terasa menekan-nekan dadaku. Seolah kata-kata itu selalu berbisik dan terus mendesakku dengan caranya sendiri.

dokpri

Di tengah ruang Habis Gelap Terbitlah Terang tampak beberapa buku kuno berlapis kaca. Coba kudekati. Kubacai keterangan yang ada di samping buku itu. Nah, ini dia! Door Duisternist Tot Licht seri pertama dipajang di sini. Beberapa kali kuamati kertas yang telah menguning itu. Hanya beberapa langkah dari surat-surat beliau yang dibukukan ini, terpajang juga kitab tafsir Alquran Faidlur Rahman karangan Kiai Soleh Darat. Seorang Kiai fenomenal, guru dari Kiai Hasyim dan Kiai Ahmad Dahlan yang juga merupakan guru dari Kartini. Beliau lah yang mampu membuat Ibu tercengang berkat penjelasan beliau yang luar biasa mengenai surat Alfatihah. Sangking kagumnya kepada Sang Kiai, Trinil, panggilan Kartini kecil meminta seandainya Kiai bisa membuat kitab tafsir Alquran agar kitab suci ini bisa dipahami maknanya oleh banyak orang. Kartini merasa sedih karena banyak orang memelajari Alquran hanya sebatas melafalkan saja tanpa tahu arti dan maknanya.

Sembari berjalan aku pun merenda ingatanku kembali. Mengingat-ingat kembali surat-surat beliau ini yang aku baca tempo hari dalam Habis Gelap terbutlah Terang suntingan Armijn Pane dan Panggil Aku Kartini Saja milik Pram. Dinding-dinding kayu tua bercat kuning dan hijau tua ini seolah lantang besuara. Menambah gejolak batinku yang kian tak tertahankan. Sembari berjalan dan memotret, aku masih saja membaca kutipan-kutipan itu. Sampai-sampai aku tak tahu Fina dan ibunya dimana. Kami terpisah.

dokpri

Keluar dari Ruang Habis Gelap Terbitlah terang sampailah kami ke ruang tengah. Ruang yang berisi foto besar Ibunda yang tadi Fina kuminta untuk berfoto di sebelahnya. Fina si kecil yang sedari kemarin bertanya tentang Ibu Kartini justru malah lari-larian ke sana ke mari. Yah namanya juga anak kecil. Beberapa kali dia kupanggil untuk kujelaskan satu demi satu perihal isi ruangan beserta kisah Ibu. Rasanya hari itu aku seolah jadi tour guide yang sedang bercerita kepada tamunya.

Setelah dari ruang tengah, kami kemudian masuk ke Ruang Pengabdian R.A. Kartini. Aku sendiri tak tahu mengapa ruangan ini berbeda dengan ruangan sebelumnya. Pergolakan semangat yang tadi kurasakan berubah drastis. Ciut. Ruang pengabdian ini seolah menyimpan auranya sendiri. Aura pilu menyayat hati. Jujur saja di ruangan ini perasaan semangat membara yang tadi berubah menjadi haru bercampur sedih. Ini adalah kamar tidur Ibu. Kujelaskan perlahan kepada Fina. Fina masih saja diam lalu kembali lagi berlarian entah ke mana. Untuk mengeksplor satu per satu ruangan, aku dan istri berpencar. Dia segera pergi ketika mau masuk ruangan ini. Aku tahu pasti ada sesuatu. Istriku agak sensitif dengan hal-hal mistis. 

R. Pengabdian R.A. Kartini

Kekelaman ruangan ini semakin terasa ketika melihat ranjang tempat Ibu tidur. Letaknya tepat di sebelah kanan pintu masuk. Ranjang kuno dari kayu jati berwarna cokelat ini masih tampak kokoh. Berhadapan dengan ranjang, tepatnya di sebelah kiri pintu masuk, berdiri tombak bersarung. Tak jauh dari tombak itu rasa hati semakin tersayat ketika melihat lukisan Ibu Kartini berkalung untaian melati dengan latar lampu kuning. Seolah lukisan ini hidup. Kepiluan itukah yang ditahan sang ibu ketika berpisah dari Jepara, tanah kelahirannya? Berpisah dari ayah yang dikasihinya. Berpisah dari buku-bukunya. Berpisah dari ide dan cita-cita yang dulu digagasnya. Menyusul kedua adiknya yang telah lebih dahulu menikah.

Di ujung ruangan, cermin dan meja rias Ibu tampak menyambut. Heran. Entah mengapa di sini tak kujumpai satu pun buku. Padahal sebelumnya aku mengira di ranjang, di meja, bahkan di tempat rias pasti ada buku yang selalu dibaca sang Ibu. Buku yang terus memompa semangat beliau memperjuangkan rakyatnya. Kecewa bercampur getir melihat semua ini. Bayangkan, buku-buku bacaan seolah satu per satu semakin jauh setelah beliau menikah. Ah!

foto Ibu di Ruang Pengabdian

Ruang Pengabdian ini terhubung dengan ruang di sebelahnya, yaitu Ruang R.M. A. A. Djojoadiningrat, suaminya. Di ruangan ini banyak terpajang foto beliau. Laki-laki yang besar dan gagah dengan usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Dalam ruangan hanya mesin ketik kuno saja yang menyita perhatianku. Gantungan jas dan berbagai foto di dinding kurang membuatku tertarik. Satu-satunya foto yang kuamati agak lama adalah fotokopian undangan pernikahannya dengan Ibu. Keluar dari ruangan ini aku pun masuk ke ruang belakang. Fina dan ibunya tak tahu kemana. 

Memasuki ruang belakang berarti memasuki ruang keluarga. Pertama masuk ruangan ini, aku langsung disambut dengan meja kursi keluarga. Di belakangnya, terpampang dua lukisan besar Ibu dan sang suami. Perjalanan menyusuri ruang belakang ini membawaku berbelok ke kanan menuju berbagai lukisan karya R.M. Soesalit. Ia adalah anak semata wayang Sang Ibu dengan Bupati Rembang. Perjalanan terus berlanjut, sampailah ke kamar pribadi sang putra. Ruang Kamar R.M. Soesalit. Di ruangan ini sejauh mata memandang maka yang tampak hanyalah foto beliau mulai dari kecil sampai dewasa. Ada juga baju peninggalan beliau yang dipasang pada manekin dan diletakkan dalam lemari kaca.

Ruang Keluarga Sang Ibu

Setelah kurasa cukup mengeksplor ruangan sang putra, aku kemudian keluar dan kembali mengamati seisi ruangan keluarga ini. Di sinilah bertengger lukisan fenomenal Trinil. Tepat berada di totokan pintu masuk ruang keluarga, lukisan tiga angsa putih terpajang sangat anggun. Tiga angsa ini sesuai dari buku yang kubaca dulu tak lain merupakan perwujudan dari Kartini beserta kedua adiknya, Kardinah dan Rukmini. Lama aku berdiri tertegun menikmati lukisan ini. Bahkan aku sempat menarik masuk kembali Fina yang sudah di luar. Anakku yang baru lima tahun ini kuberitahu “Ibu Kartini selain suka membaca dan menulis, ia juga suka melukis. Ini lukisannya”, sambil kutunjuk lukisan itu. “Coba hitung berapa banyak angsa yang ada di lukisan itu?” “Satu, dua, tiga! Tiga” jawabnya riang sambil menujuk lukisan. “Nah ketiga angsa itu adalah Ibu Kartini bersama dua adiknya.” “Kamu mau nggak besok kayak Ibu Kartini? Suka baca, suka menulis, suka melukis juga. Mau nggak?” sahutku bertanya. “Mau!” jawabnya. 

dokpri

Usai dari ruang keluarga ini kami pun keluar. Di luar ruangan, Fina kuminta untuk berfoto di sebuah tempat di sebelah kanan pendapa museum. Tempat yang mirip sebagai pos penjaga kadipaten ini juga terbuat dari kayu tua. Usai berfoto rencananya kami mau kembali ke motor. Akan tetaoi hal ini urung kulakukan karena tampak diorama kereta kencan di sebelah kiri pendapa. Ia akhirnya kuajak mampir ke sini terlebih dahulu supaya nantinya tidak muncul pertanyaan baru di perjalanan. Kuajak dia berfoto, eh kok malah nemu sesuatu. Ada batu bata yang ditutup kaca tebal. Kudekati batu itu. Batu yang ternyata saluran kuno temuan Ds. Karangturi Gg. IV Lasem.

Kembalilah kami ke motor. Beat hitam itu masih beristirahat di tempatnya. Sebelum cabut dari museum, kami singgah untuk napak tilas ke sebuah tempat yang tak jauh dari pendapa. Berada di sebelah kanan pintu regol atau gapura museum, ruangan yang masih tertutup ini nampak teduh dipayungi pohon rindang nan besar. Tempat inilah tempat bersejarah yang digunakan oleh Ibu mengajar murid-muridnya. Sekolah yang didirikan oleh Ibu Kartini. Lokasinya yang dekat dengan tembok pagar kabupaten sepertinya memang disengaja dipilih agar para warga, khususnya para wanita yang berasal dari luar kadipaten tak sungkan untuk masuk dan belajar.


Ruang Mengajar R.A. Kartini

Di depan ruangan ini berdiri pula patung beliau mendekap buku. Tak jauh di belakangnya, terdapat sebuah papan tertempel di dinding berttulis Ruang Kartini Mengajar. Sayang sekali tempat ini ditutup rapat. Jadi tidak bisa kami eksplor lebih jauh. Di atas pintu masuk tampak sebuah logo atau medallion bulan sabit beserta sulur-sulur yang belum kutahu maknanya. Segera kufoto. Siapa tahu kelak aku tahu arti dari logo ini. Dalam hati bertanya beginikah Dharmorini yang dikelola oleh beliau sedari Jepara sampai Rembang? Di tempat inikah Ibu Kartini mengajar muridnya yang sebagian besar para wanita? Beliau ingin wanita tidak hanya sebagai kanca turu dan kanca wingking saja. Ia ingin agar wanita berdaya karena dari para wanita inilah asal-mula pendidikan sang anak berlangsung.

Baginya wanita harus mampu berdaya dengan segala potensinya. Kartini bukan hanya mengajar secara teoretis saja tetapi juga hal-hal yang bersifat terapan. Ibu mengajar wanita memasak. Harapan Sang Ibu kelak ketika para suami kecapaian pulang kerja, usai mencuci tangan dan kaki bisa segera menikmati hidangan yang dibuat oleh istrinya. Dengan cara ini sang suami akan lebih menghormati istrinya. Rasa cinta yang terpelihara akan semakin tumbuh dengan sajian makanan yang enak masakan istrinya. Sang suami jadi betah di rumah dan tidak akan memilih jajan di warung yang menjadi cikal bakal pertikaian rumah tangga. Sembari makan bersama maka berbagai permasalahan akan selesai di meja makan. Tidak merembet kemana-mana.

Tempat tidur Ibu Kartini

Ibu Kartini juga mengajari para wanita berdandan. Dengan harapan agar para suami tidak akan tertarik dengan wanita lain. Suami akan semakin sayang kepada istrinya. Tak hanya itu, Ibu Kartini juga mengajar membatik, merajut, dan menjahit. Dengan alasan agar sang istri tidak terlalu bergantung kepada nafkah yang diberikan suami. Dengan cara ini para istri bisa mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarganya.

Yang paling utama, Ibu juga mengajar membaca dan menulis. Dengan melek huruf para wanita kelak tidak mudah dibohongi. Selain itu, dengan mengenal baca tulis itu derajat wanita akan meningkat seiring dengan pengetahuan yang didapatnya dari buku yang dipelajarinya. 

bangunan museum tampak dari pendapa

Iri rasanya aku dengan beliau. Ibu Kita ini selalu saja berusaha mencerdaskan anak bangsanya. Ibu luar biasa yang selalu mengejar ilmu pengetahuan yang ia kaguminya. Tidak pernah kalian bayangkan bukan, Ibu hebat ini lebih taktis bersikap dan peka terhadap sesamanya. Ilmu yang beliau ajarkan pun akan mampu menaikkan martabat wanita di atas segalanya. Ibu Kita ini merupakan ibu yang luar biasa. Ibu yang selalu berusaha melabrak hal-hal yang menghalanginya demi memajukan kehidupan bangsa yang lebih baik. Wajar kalau banyak orang yang tak suka, terlebih pemerintah kolonial dan kaum feodalis lainnya.

Bu, dengan kunjungan keluarga kecil kami ke sini kami berharap mendapatkan percikan api semangatmu. Terlebih kepada buah hati kami, Si Fina ini. Anak kecil ini juga sama denganmu, Bu. Sama-sama wanita sepertimu. Semoga kelak dia juga mendapatkan kekuatan yang berlipat ganda seperti yang ibu punya. 

jangkar di depan museum

Usai salat zuhur dan memotret jangkar di dekat gapura, kami pun beranjak menuju motor. Motor segera kami pacu. Kami pun langsung menggelinding menyusuri jalanan Rembang menuju makam sang Ibu. Selama perjalanan kucoba menanyai Fina tentang perasaannya. Tentang objek apa saja yang dilukis Sang Ibu? Hingga pada simpulan bahwa Ibu Kita Kartini bukan hanya sebatas upacara perayaan cosplay memakai kain kebaya saja.  Melainkan meneladani kisah Ibu Kita yang luar biasa besar artinya bagi sesama dan bagi bangsanya. “Nak, sudah Bapak tunaikan janjinya yang kemarin ya. Bapak tunaikan janji dengan cara Bapak,” begitu kataku dalam hati.

Jalan Pos semakin jauh kami lalui. Perjalanan kami pun bergeser menuju Bulu, Mantingan, Rembang. Tidak ada lain kami akan sowan dan berziarah ke makam Ibunda. Ibu Kartini yang sedari kemarin ditanyakan Fina. Bersambung di Mencari Kartini volume II ya. 



Selengkapnya.. - Mencari Kartini volume 1

Balada Bapak Pembawa Kendi

foto: dokumen pribadi

    Puasa sudah memasuki malam kedua puluh tiga. Berarti sekira seminggu lagi lebaran akan segera tiba. Lebaran yang selalu diharap-harap oleh semua orang.  Nyatanya harapan masih saja sebatas harapan. Mungkin itulah yang dipikirkan oleh mereka yang terpinggirkan. Teralienasi oleh keadaan. Coba pikirkan bagaimana perasaan mereka yang terkena PHK lantaran efek efisiensi. Bagaimana perasaan mereka yang dipecat dari kantornya? Bukankah hanya harapan yang kian hari membesarkan hatinya? Harapan untuk memakai baju baru saat lebaran. Harapan untuk membelikan baju baru keluarganya. Juga harapan membeli jajanan untuk disajikan di meja.

Faktanya mereka ini hanya akan jadi pengamat. Mengamati orang yang berlalu-lalang membawa kardus THR. Belum lagi ditambah dengan persiapan menjawab pertanyaan para kerabat nantinya. Selain pertanyaan tentang kapan menikah, pertanyaan kerja dimana  juga akan menjadi momok yang cukup menakutkan akhir-akhir ini. Semenakutkan gelapnya Indonesia.

Tagar Indonesia gelap pun mencuat beberapa minggu yang lalu. Entah apa yang dilakukan pemerintahan sekarang. Bagiku sendiri pemerintahan sekarang sudah tidak ada harga dirinya lagi. Bagaimana tidak? Tak lama berkuasa ada saja masalah yang ditimbulkan. Mulai dari kasus pagar laut, gas elpiji yang sempat terkendala, berlanjut dengan pertamax yang ternyata pertalite oplosan, eh kini RUU TNI. Belum lagi ditambah dengan sikap represif aparat terhadap band Sukatani. Silang sengkarut ini pun direspon berbegai pihak. Kritik dan demonstrasi di beberapa tempat digelar. Bagi kami masyarakat kecil, kami sampaikan kritik itu dengan keluhan dan hujatan di warung kopi. Ah!

Lebaran datang sebentar lagi tetapi beragam masalah belum juga usai. Terlepas dari pernak-pernik itu, di sini, di jalanan makadam Tunjungan. Tepat di depanku, tampak bapak-bapak tua berpeci, berbaju lusuh terseok-seok mengayun sepeda kumbangnya yang sudah karatan. Di boncengan belakang, tampak kendi tanah liat yang ditaruh dan ditali dengan ban hitam. Sepertinya dia baru saja pulang dari pasar. Mendapati ini kubuntuti terus dia dari belakang, lalu kufoto.

Bagiku ini adalah pemandangan yang sangat kontras dengan kondisi negara yang seperti kutulis di atas. Bapak ini bersahaja dengan baju abu-abu lusuh dengan kopyah cokelatnya. Bayangkan, hanya kendi yang dicarinya di pasar. Kendi yang sudah mulai ditinggalkan banyak orang. Orang-orang sekarang lebih memilih dispenser maupun guci untuk meletakkan air minum dibandingkan kendi.

Bagiku sendiri si Bapak bukanlah orang yang sembarangan. Ia nampak sangat menghargai kendinya dengan meletakkannya di boncengan sepeda. Boncengan yang merupakan tempat yang paling istimewa. Dudukan dari besi ini biasanya digunakan untuk memboncengkan orang terkasih. Entah anak, cucu, istri, maupun orang spesial lainnya kini diganti dengan kendi yang saat ini ditalinya rapat karena khawatir terjatuh. Pedal pun dikayuh pelan dengan harapan roda tidak terantuk-antuk batu jalanan makadam. Khawatir kendi yang dibawanya retak di jalan. Kendi yang mungkin bagi sebagian orang sudah tidak menarik ini diperlakukan seistimewa itu. Tempat air minum ini dipandang sebagai perwujudan tanah dan air. Tanah untuk menaruh air ini begitu dijunjung tinggi dengan rasa hormatnya.

Sepertinya kita harus belajar kepada sang bapak tentang bagaimana bersikap dan menyikapi keadaan. Dimanakah para Begawan, para nasionalis, dan para negarawan berada? Apakah mereka sibuk menata uang baru untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak esok hari dengan senyum penuh kepongahan? Ataukah mereka justru bersembunyi melihat kondisi bangsa yang sedang tak menguntungkan ini? Entahlah!

Blora, Sabtu 22 Maret 2025

Selengkapnya.. - Balada Bapak Pembawa Kendi