Jumat, 21 Maret 2025

LAHIRNYA MOMENTUM

Blora, 17 Maret 2025 

gambar google

Belum lama ini kuselesaikan  artikelku berjudul “Lontong Tahu simbol Identitas Masyarakat Blora”. Tulisan yang merupakan naskah awal sebagai syarat keikutsertaan Bimtek Kepenulisan Konten Budaya lokal ini lolos screening. Sebanyak 60 dari 134 karya telah dipilih dan nantinya akan diterbitkan menjadi buku dengan konten budaya lokal oleh Perpusnas. Alhamdulilah tulisanku lolos. Senang tentunya karena ini baru pertama ini aku menulis untuk dikirim untuk acara beginian.

Maklum saja biasanya sih nulisnya cuma reportase. Itu saja untuk kalangan sendiri, eh pernah juga ding dimuat di Bloranews.com, tapi yaareportase juga sih. Hee. Kelolosan ini tak lepas dari bantuan tiga temanku. Mbak Zahra, Bu Fitri, dan Cak Rudd. Kepada mereka kumintai bantuan untuk membaca dan memberi masukan terkait tulisanku itu.  Oke mari kita ngobrol tentang lontong tahu. 

    Lontong tahu adalah pengingat bahwasanya manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya sangkan paraning dumadi. Sudah lama sebenarnya aku ingin menulis ini. Terlebih ketika mendapat sumber buku Tradisi dari Blora karya Suripan Sadi Hutomo. Buku yang kemudian menjadi salah satu rujukan utama tulisanku ini kudapat dari Dhidhin Mardianto, teman yang sekarang tinggal di Surabaya. Istrinya tak lain cucu dari Prof, Suripan. Saat mudik, Dhidhin mrmbawakan buku ini untuk kemudian kufotokopi. Nah untuk hubungan lontong tahu dan sangkan paraning dumadi lebih jauh nanti deh di artikel saja. Langsung ke sangkan paraning dumadi kali ya. 

Sejauh apapun manusia melangkah, dia akan selalu kembali untuk mencari tahu darimana dan akan kemana dia kembali. Dalam sangkan paraning dumadi ini terdapat sebuah peristiwa yang hampir semua makhluk mengalaminya. Peristiwa itu adalah kelahiran. Ya.

gambar: arsip maiyah lumbung bailorah

          Kelahiran ini dipotret dan dijadikan tema dalam diskusi rutinan Maiyah. Dalam akhir mukadimah rutinan dipertanyakan sebenarnya kelahiran ini persitiwa apa? Kok bisa proses kelahiran manusia di muka bumi ini diiringi dengan sederet upacara dan laku tirakat yang menyertainya? Mari kita coba cari tahu. 

           Sebagai orang Jawa kita tentu tidak asing mendengar orang yang sedang mengandung diminta untuk selalu mawas diri. Bentuk mawas diri ini pun bermacam-macam. Sampai-sampai sampai termanifestasi dalam bentuk budaya. Coba kalian ingat-ingat pernahkah kalian mendengar bahwa ibu yang sedang mengandung setiap keluar rumah diharuskan membawa benda tajam? Ketika ditanya mengapa? Kita selalu menemui jalan buntu. Jawaban yang muncul justru pokoknya dibawa dengan tanpa disertai alasan yang jelas. Tak berhenti di sini, si Ibu yang mengandung juga dilarang keluar rumah ketika matahari tepat berada di ubun-ubun maupun ketika surup menjelang. Saat surup tiba semua pintu dan jendela harus ditutup. Mengapa? Tentu menjadi pertanyaan kita ya. Nyatanya pantangan bagi orang hamil juga berlaku kepada sang bapak. Salah satunya adalah pantangan untuk tidak boleh membunuh hewan apapun. Hal seperti ini seolah pakem yang mengharuskan kita melakukan dan tidak melakukan sesuatu termasuk dalam hal mengonsumsi makanan.

          Eits! Budaya ini tidak cukup berhenti di sini lho. Berderet upacara selametan pun digelar demi sang jabang bayi. Mulai dari mapati (saat janin masih berusia empat bulan dalam kandungan), mitoni (janin berusia tujuh bulan dalam kandungan), sampai kepada kerayahan (syukuran saat jabang bayi lahir). Kerayahan menjadi cukup unik karena berbeda dengan syukuran biasanya. Kalau syukuran yang hadir biasanya adalah para bapak, upacara kerayahan ini dihadiri adalah para ibu.

          Ketika si jebeng lahir upacara masih tetap dilanjutkan termasuk kepada bagaimana memperlakukan ari-ari. Di beberapa daerah adat membersihkan sampai menguburkan ari-ari ini bahkan masih kental dengan pakem-pakem tertentu. Ya semacam standar operasional prosedur lah kalah di dunia kerja. Pertama, mulai dari pembersihan ari-ari. Sang bapak sendiri yang harus mencuci ari-ari. Tentu dengan lembut. Si ari-ari tidak boleh terlalu ditekan. Mengapa harus si bapak? Hal ini merupakan wujud pertanggungjawaban bapak kepada anak serta wujud rasa kasih sayang dari bapak kepada si anak. Kalau bukan bapaknya yang membersihkan lalu siapa yang akan membersihkan ari-ari? Masa iya dilaundry? Jelas enggak kan?

Kedua, ari-ari yang sudah bersih kemudian dimasukkan ke dalam kendil. Kendil sendiri adalah kuali kecil terbuat dari tanah. Proses memasukkan ari-ari ke dalam kendil ini pun dibarengi dengan berbagai piranti. Piranti-piranti ini tak lain dari simbol dan harapan orang tua kepada bayi. 

Jarum dan benang merupakan simbol harapan agar nantinya si anak mampu terampil dengan hal-hal yang berkaitan dengan urusan busana. Kertas dan pensil atau bolpoin merupakan simbol harapan agar si anak nanti mampu menjadi orang yang rajin lagi pintar. Lalu sisir dan cermin kecil merupakan simbol harapan agar si anak nantinya pandai berdandan dan selalu tampil tampan dan cantik.

Dimasukkan juga ke dalam kendil tanaman alang-alang dan tanaman apa-apa, sejenis rumput yang biasanya sering dijumpai di sawah maupun tepian sungai. Kedua tanaman ini juga merupakan simbol harapan agar dalam tumbuh kembangnya si anak tidak menghadapi halangan suatu apapun. Semua piranti ini kemudian dimasukkan ke dalam kendil untuk dikuburkan.

Adapun proses penguburan ari-ari pun tidak boleh sembarangan. Kendil ini kemudian digendong oleh si bapak menggunakan gendongan. Nah, si bapak kemudian membaca salawat nabi sambil memegang payung. Pembawaan payung ini bertujuan agar agar si ari-ari yang tak lain saudara si bayi ini tidak kepanasan. Usai bershalawat lalu ditanamlah si ari-ari ini di kanan pintu masuk untuk bayi laki-laki dan sebelah kiri pintu masuk untuk bayi perempuan.

Sesudah dimakamkan maka hendaknya diberi lampu di atas kuburan dan ditutupi dengan ember atau keranjang. Pemasangan lampu dimaksudkan agar si bayi merasa tetap berada dalam situasi yang terang dan hangat. Sementara penggunaan ember atau keranjang sebagai tutup agar ari-ari tidak digali oleh binatang.

dokumentasi pribadi

Bayangkan, bagaimana detail dan rumitnya upacara ini dilakukan mulai dari si bayi dalam kandungan sampai lahir ke bumi. Kembali kepada pertanyaan dalam mukadimah diskusi di atas. Dalam diskusi kutambahkan pertanyaan juga bahwa bukan hanya prosesi lahirnya bayi yang diupacarai sebegitu ketatnya tetapi juga cara memperlakukan ari-ari. Apa yang menyebabkan ari-ari ini juga diperlakukan sebegitu rupa?

Lalu kuceritakan pengalamanku dulu ketika diminta ibu untuk membawa tanah dari rumah terlebih tanah dari atas ari-ari untuk dibawa ke Jogja. Tanah ini kemudian diminta ibu untuk ditabur ke bawah tempat tidur. Katanya agar betah dan tidak selalu menangis ingat rumah. Bukankah ari-ari juga diperlakukan istimewa? Ceritaku ini diamini oleh Mas Agus, sang moderator. Ia juga bercerita tentang ibunya juga meminta untuk membawakan tanah ari-ari anaknya dari Mojokerto untuk dibawa pulang. Saat itu ia menurut saja. Percaya tidak percaya ya semua hak kalian bukan?

Tapi terus terang saja masalah homesick awal ke Jogja ini akhirnya teratasi. Ya gimana dong? Aku bukan Pramoedya yang cukup anti dengan javanisme. Asal tidak sampai merusak akidah, budaya ini aku ikuti. Bukankah budaya ini juga tidak serta merta ada? Budaya ada tentu melalui proses yang sangat panjang mulai dari perenungan sampai kepada kebiasaan. Nah, apalagi kita sebagai orang Jawa. Masa iya tidak percaya budaya Jawa ya kan?

Kembali ke pertanyaan tadi, kelahiran itu sebenarnya peristiwa apa? Saat itu kujawab bahwa bayi adalah harapan bagi kedua orang tua. Lahirnya si anak adalah hal yang sangat dinantikan oleh orang tua. Upacara demi upacara itu digelar tak lain merupakan perwujudan dari harapan orang tua agar si anak kelak mampu mikul dhuwur mendhem jero. Dia lah yang nantinya menjadi ujung tombak penerus keluarga. Nama baik keluarga tentu akan berada di pundak si anak kelak. Tentu tidak ada orang tua yang ingin anaknya menderita. Kelahiran bayi tidak lain adalah kelahiran sebuah doa dan harapan yang suci.

Dalam diskusi dibahas juga oleh Dalhar Muhammadun (Ketua Dewan Kebudayaan Blora sekaligus penulis Tanah Berdarah di Bumi Merdeka) tentang reborn. Lek Madun tidak hanya sebatas memandang kelahiran sebagai proses fisik saja melainkan juga proses kelahiran batin. Reborn tidak lain adalah kelahiran kembali. Ia kemudian menganalogikan kelahiran kembali ini sebagaimana proses kelahiran kembalinya Pram. Pram pernah mengalami kekecewaan berat dari sang ayah, Mastoer. Ketika itu Pram yang sudah lulus IBO (Institut Boedi Oetomo) diminta untuk mengulang sekolah karena dianggap bodoh oleh ayahnya. Ayah Pram adalah kepala sekolah di tempat yang sama. Pram yang kecewa kemudian pergi ke kuburan tak jauh dari rumahnya. Ia lalu memangis dan berteriak sambil membenturkan kepalanya ke pohon hingga berdarah.

Proses kelahiran kembali Pram yang dramatis ini akhirnya menjadi poin diskusi yang menarik. Lek Madun juga mengajak jamaah yang hadir untuk menggali tentang kelahiran kembali ini. Saat itu juga kusampaikan bahwa kelahiran kembali ini tak lepas dari dua faktor. Faktor yang pertama adalah faktor internal sedang yang kedua adalah faktor eksternal. Sementara faktor kedua adalah faktor eksternal. Faktor momentum yang merupakan faktor eksternal kemudian disinggung oleh Lek Madun. Mas Agus sang moderator juga memberikan stimulan terkait momentum bahwa sebaiknya kita sebagai manusia mampu menjadi wadah jikalau momentum itu tiba sewaktu-waktu. Momentum akhirnya menjadi poin lanjutan yang kemudian dibahas.

Usai diskusi nyatanya aku jadi cukup lama termenung. Termenung untuk mempertanyakan semuanya. Kelahiran kembali memang tidak bisa lepas dari yang namanya momentum. Nah, bagaimana ya kita mampu dengan baik membaca momentum itu? Otak-atik, otak-atik, dan otak-atik.

Caranya ya dengan memperbanyak berlatih. Apapun saja latihannya. Baik yang bersifat keterampilan maupun kebijaksanaan hati dan sikap. Dengan berlatih memperdalam itu semua ketika momentum itu datang sewaktu-waktu kita sudah siap menyambut. Hemm. Sembari manggut-manggut sikap open minded juga perlu diterapkan dalam proses berlatih ini.

Sikap terbuka dengan pendapat orang lain akan senantiasa membuat kita mau dan mampu belajar. Open minded ini akan menjadikan kita lebih rendah hati. Jauh dari sikap eksklusif dan sombong. Bukankah Ki Hadjar mengatakan semua orang itu guru, alam raya sekolahku? Permasalahan yang kemudian timbul adalah bagaimana ketika momentum itu sudah datang berkali-kali tapi kita sebagai manusia masih saja tidak peka?

Jujur pertanyaan ini yang kemudian terus membuatku berefleksi diri, berpikir tentang apa saja yang telah kulakukan selama ini. Ngapain aja selama ini? Kebiasaan membaca dan menulis? Membaca sih lanjut terus, kalau menulis? Terjadi pendangkalan yang sangat hebat dalam hal menulis. Dulu. Ya dulu ketika kuliah aku cukup rutin menulis kegelisahanku dalam buku harian. Menulis blog juga gas terus seusai kuliah. Bahkan masih lanjut walau sudah mengajar. Menulis puisi, cerpen, maupun opini pun produktif dulu. Selalu ada karya yang ready stock. Lha kini? Ah! Giliran rubrik mading Cakrawala Magazine ada yang kosong selalu saja kelimpungan. Akhirnya download google. Duh! Mengapa sih puisi saja kok harus download? Mengapa tidak bikin sendiri? Semanja itukah dengan google dan AI?

Padahal tulisan-tulisan kegelisahan itu kan bahan bakar utama pergulatan ide dan pemikiran. Kontemplasi kata orang sekarang. Proses kontemplasi ini lah yang nantinya akan bermuara kepada tutur kata kita bukan? Kegelisahan demi kegelisahan yang selalu menuntut jawaban ini pada akhirnya membuat kita peka dan kritis tehadap keadaan. Tentang refleksi tadi lalu gimana dong? Sudah lama tidak menulis ini? Haduh!




Pembahasan tentang momentum dan kelahiran kembali ini menyeret-nyeretku melewati berbagai pertanyaan yang datang silih berganti. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian bermuara kepada ajakan Thosim. Ajakan untuk mengirim tulisan dengan konten budaya lokal ini menjadi trigger sendiri buatku. Kupikir-pikir cukup lama juga rasanya aku tidak menulis, mengobservasi, meriset kecil-kecilan seperti dulu. Nah, kalau malasisasi ini kuturuti terus akan jadi apa aku nantinya? Jadi manusia dengan budaya malas. Hwuah!  Budaya bermula dari kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang bukan? Oh Tuhanku tolonglah hambamu ini lepas dari kemalasan. Mungkin keikutsertaan dalam menulis konten budaya lokal ini akan menjadi awal latihanku dalam membaca momentum untuk kelahiran yang baru. Ya semoga saja. Semoga. Bismillah. 

Selengkapnya.. - LAHIRNYA MOMENTUM

Kamis, 26 Desember 2024

MEWASPADAI JEBAKAN ILUSI


Pernahkah kalian merasa bahwa dirimu sedang tidak baik-baik saja?

    


Sedang tidak baik-baik saja. Ya sedang tidak baik-baik saja. Kalimat yang sering kita jumpai dalam novel maupun cerpen itu kini menggelinding dengan begitu deras akhir-akhir ini. Ketika dicari tahu lebih dalam, kalimat ini menjadi sering digunakan karena efek viral. Yah, sebagaimana kata, kalimat, foto, video, bahkan backsound musik menjadi seolah-olah mewakili diri kita dan familiar hanya karena viral. Hanya karena ingin dikenal. Hanya karena ramai dibicarakan. Bukankah kata galau dan dilema juga pernah mengalami hal yang demikian sebelumnya?

Viral itu tidak bisa lepas dari pengaruh media informasi yang berkembang sebegini masif. Pengaruh ini terkadang membuat kita terjebak kepada ketersesatan penafsiran yang akhirnya membuat kita menjadi susah berkembang. Dengan maraknya berbagai fitur aplikasi yang ada dalam gawai membuat manusia cenderung menerima dengan menelan apa saja tanpa memelajari lebih jauh. Sesuai dengan fungsinya. Teknologi kan berfungsi mempermudah pekerjaan manusia? Ya sih. Perlu diketahui, karena sangking mempermudah akhirnya membuat manusia menjadi malas untuk bergerak dan bekerja. Tentu kalian juga mengikut kontroversi chatt GPT dan AI bukan? Kalau serta merta kita telan saja perkembangan ini tentu pada akhirnya manusia akan mehgalami mati sajroning urip.

Bukankah manusia akhirnya menjadi mati dalam kehidupan yang universal ini? Mau apalagi? Semua-mua sudah disediakan. Semua-mua mintanya yang cepat. Semua-mua maunya yang mudah. Tidak menutup kemungkinan bahwa suatu ketika pikiran manusia menjadi mati. Pengaruh perkembangan teknologi informasi perlu dibarengi dengan filterisasi diri. Perkembangan memang tidak bisa dinafikan. Tidak bisa ditolak. Akan tetapi kemajuan dan perkembangan ini bisa direm dengan cara filterisasi yang lebih kuat.

          Coba supaya lebih kontekstual dengan pembahasan di atas kita coba untuk gali hal kecil ini dulu. Kemarin dalam Selasa Bersua kuutarakan pertanyaanku “Sebenarnya fungsi dari instastory dan story WA itu untuk apa sih?”. Pertanyaan yang kusampaikan kemarin bukan bermaksud untuk mengetes atau pertanyaan retoris belaka. Melainkan benar-benar bertanya karena ingin mencari jawaban.

Teman-teman dalam diskusi mendadak terdiam. Mengerutkan alis. Buat kalian yang tahu jawabannya tolong sampaikan di kolom komentar ya.

Bukankah kita sering terjebak dalam hal-hal seperti ini. Apakah tujuan dari dua aplikasi ini hanya untuk ajang pamer? Mungkin dengan kata yang lebih naif mengaktualisasi diri mungkin. Yang artinya sebenarnya tidak berbeda jauh bukan? Tak jarang bahkan dua menu dalam aplikasi ini digunakan untuk berjualan, sebagaimana menu live. Live yang sebenarnya fungsi utamanya untuk mengabarkan hal yang sedang terjadi pada saat itu juga berubah fungsi. Ya namanya orang. setiap orang tentu punya persepsi masing-masing. Dari masing-masing ini lah msing-masing pula outputnya. Justru menu live digunakan untuk berjualan. Tak jarang juga untuk mencari bahan obrolan. Apa iya?

Sangking penasarannya, suatu ketika coba kutanyakan kepada kawanku di kantor. Saat itu dia sedang makan. Di depannya gadgetnya berdiri. Makan dengan intensitas biasa mendadak menjadi very slowly. Melihat fenomena ini akhirnya kutanyakan “Mengapa sih makan saja harus live?” Dijawabnya dengan nada sinis. “Lho kenapa mendadak julid sih?” Saat itu juga kusampaikan maksud dan tujuanku bertanya. Bahwa aku bertanya karena memang tidak tahu fenomena ini. kutambahkan juga bahkan di beberapa tempat makan yang hits sering kujumpai budaya seperti ini. Dijawablah dengan nada rendah setengah kelimpungan “Ya dengan cara live begini biasanya akan ada interaksi dari mereka yang nonton.” Oh. Hanya itu ternyata tujuannya ya? Tentu akan berbeda jawaban ketika ditanya kepada orang lain terlebih untuk mereka yang jualan dengan memanfaatkan live.justru lebih bermanfaat ketika dipakai untuk media jualan ya kan?

Budaya seperti ini tentu menjadi cukup aneh buat kita yang lahir lebih awal. Belum lagi generasi ibu dan bapak kita yang untuk mengirim foto maupun kontak lewat WA saja sudah harus minta bantuan orang lain. Tentu mereka akan bertanya mengapa sih makan saja direkam.

Menghadapi perkembangan budaya ini harusnya kita mampu mawas diri. Ya caranya adalah dengan daulat diri yang penuh. Daulat yang kumaksudkan dalam hal ini adalah memiliki kesadaran dan kemampuan mengontrol diri. Kesadaran ini lah yang akan masuk membentuk mindset dan pola diri yang teguh. Daulat diri diraih dari kewaspadaan-kewaspadaan terhadap sesuatu. Kewaspadaan ini bermula dari pertanyaan-pertanyaan yang coba kita cari dan terus cari kebenarannya. Kok bisa begini kok tidak begitu? Kesadaran dan kemampuan mengontrol diri akan membawa kita menjadi manusia yang tidak mudah kagetan. Ketika kita tidak mempunyai kedaulatan diri yang penuh, kita akan mudah terjerumus masuk ke dalam jebakan-jebakan ilusi.

Hulu dari pencarian tentang kaedaulatan itu sendiri ada adalah dalam diri kita sendiri. Ukuran setiap orang tentu akan berbeda-beda. Setiap orang memiliki standarnya masing-masing. Standar ini dibentuk diri dari perjalanan hidup, lingkungan sekitar, bahkan dari apa yang sering dilihat dan dikonsumsinya. Ketika ibu-ibu suka nonton gosip di televisi tentu yang akan menjadi panutan dan tolok ukur adalah tokoh-tokoh yang ada dalam pembicaraan gosip itu. Pun sama halnya dengan apa yang menjadi konsumsi di media-media layaknya youtube, instagram, maupun tiktok. Algoritma yang ada akan menyuguhkan kita dengan tayangan-tayangan yang biasa kita cari. Ini yang akan mengakibatkan kita terjebak dalam dunia genjutsu kata Naruto yang tak habis-habis.

Termasuk story-story yang ada dalam aplikasi yang sempat kusebutkan tadi. Bahkan satu dari sekian bannyak temanku sampai-sampai aku pun sering tidak memercayai apa yang diunggah dalam story WA maupun story IG-nya. Bagaimana tidak, story baik video maupun foto yang diunggah adalah hasil dari downloadan dari google maupun youtube yang kebenarannya masih perlu diperdebatkan.


Nah justru karena orangnya unik, dari story-story itu selalu menjadi bahan candaan yang tak ada habisnya. Berbicara tentang story ini, hari ini coba kuunggah foto stroy. dua kaki bersepatu di lapagan dengan caption H-7 Pendakian Semeru. Tak ayal respon yang masuk pun berbeda-beda. Ada yang bilang beneran mau naik Semeru? Ada juga yang merespon “Taiiii. Kamu lagi ada misi apa?”

Dengan postingan ini nyatanya menyadarkanku untuk mencoba untuk tidak terpancing dengan apa yang ada di tayangan media. Ketika kita mudah percaya dengan yang ada di media, justru akan menyesatkan kita sebagai manusia.

Postingan-postingan yang ditampilkan di beberapa media itu akhirnya seolah membungkus manusia dalam keterjebakan-keterjebakan ilusi. Ketika makan di resto ini difoto dulu buat story. Sementara ketika makan pecel lele nyatanya diskip tanpa foto-foto yang katanya estetik. Belum lagi dengan orang yang melihat foto story itu ya kan? Mereka tentu akan punya persepsi tentang yang lain-lain tentang diri kita. Menyikapi hal ini temanku kuliah dulu pernah bilang. “Percuma berhijab kalau apapun yang ada diunggah semua.”

Jadi kita perlu yang namanya kewaspadaan diri. Hal ini lah yang nantinya akan menghasilkan output berupa daulat diri supaya kita tidak terjebak dalam kubangan-kubangan ilusi. Bukankah cermin juga sering menjebak kita. Ketika kita sedang bercermin, yang kita lihat dalam cermin itu diri kita atau kita bercermin hanya untuk memperbaiki letak kerudung yang miring? Pernahkah kita introspeksi tentang diri kita agak lama?

Selengkapnya.. - MEWASPADAI JEBAKAN ILUSI

Senin, 23 Desember 2024

SESUATU YANG TERUS MENDEKAT ITU

   

Pernahkah terlintas dalam hati kalian bahwa pada masanya semua itu akan kembali? Seperti halnya dengan hobi. Tidak pernah terlintas dalam hati kok bisa ya hal ini kembali menjumpaiku setelah bertahun-tahun berlalu? Apa sih yang dimaksud? Tentunya kalian akan bertanya-tanya tentang ini. 
    Ya. hal tersebut adalah dunia baca dan tulis menulis. Saat itu ya sudah tidak terlalu dipikirin. Ketika ditanya sedari kapan aku suka membaca? Mungkin butuh waktu sekitar tiga-lima menit menjawab. Sudah agak lupa soalnya. Kesukaanku dengan buku mungkin berawal dari SMP. Setelah coba kuingat-ingat kembali sepertinya ya, SMP. Saat itu SMP kelas 1, aku mulai sering keluar masuk perpustakaan sekolah. Yah, namanya juga di daerah. Kenal perpus baru ketika masuk SMP. 
    Saat itu buku kegemaranku di perpus adalah cerita rakyat atau asal-usul daerah tertentu. Selang berajalannya waktu agenda keluar masuk perpustakaan itu berlanjut hingga masuk SMA. Buku apa saja yang kemudian kubaca? Aku sudah mulai lupa. Beberapa buku yang masih ingat kubaca saat itu adalah Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis dan Merpati Biru karya Achmad Munif. Yang lainnya lupa. Hee… 
    Adapun untuk Merpati Biru ini sendiri cukup berkesan bagiku. Bagaimana tidak, pada masa itu masa remaja yang sudah mulai sok-sokan mengenal cinta monyet dihadapkan pada buku yang berbau cinta juga. Wah gayung bersambut bukan? Sayangnya buku ini tak sampai selesai terbaca lantaran pada halaman tengah sampai akhir, hilang. Jadi separuh akhir buku lost. Saat itu enggan kutanyakan kepada penjaga perpus letak setengah halaman menuju akhir. Paling jawabannya nggak tahu. Lha wong penjaga perpusnya waktu itu lebih sering ngobrol daripada ngecek buku. Yah apa hendak dikata. Merpati Biru selesai menggantung di tengah. 
    Kenangan Merpati Biru ini seolah menjadi prasasti di kepala. Bagaimana tidak, awal-awal aku kuliah ke Jogja ketemu lagi buku ini di pameran buku. Maksud hati hendak membeli ini buku, eh sudah hilang mood. Gagal deh. Merpati Biru masih terus menggantung di tengah. 
    Kegemaranku membaca ini berlanjut di kuliah. Gie. Ya, Soe Hok Gie lah yang mengantarku untuk terus mencari dan mencari. Saat masih SMA aku pernah menonton filmnya di TV tapi hanya dapat bagian tengah sampai akhir. Gila! Ada ya manusia sehebat itu? Dari Gie juga aku memilih jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sosok yang haus buku. Pemberani. 
    Singkat cerita kegiatan keluar masuk perpus pun berlanjut. Berharap ketemu bukuya Gie. Sayang sekali buku harian Gie tidak juga ketemu. Kecewa dengan perpus coba masuk ke pasar buku loak juga sama. Masuk Sosial Agency dan Gramedia, juga sama saja. Ketika tanya kepada penjaga toko jawabannya “Oh buku lama ya? Mohon maaf nggak ada, Kak.” Haduh! 
    Hingga akhirnya suatu ketika aku pun dipertemukan dengan Catatan Seorang Demonstran. Betul buku harian Gie yang kemudian difilmkan, yang saya caricari itu justru tergeletak di tumpukan buku bekas di pasar loak. Kondisi buku sudah tidak tersegel. Mana cacat lagi, covernya sudah mengelupas. Agak mahal waktu itu. Karena sudah kelimpungan nyari kemana-mana ya kubeli juga. 
    Ketika kuliah ini juga lah film Gie yang dulu kutonton hanya setengah, kembali lagi kutonton. Bahkan ada kalau sepuluh kali lebih. Dulu hanya nonton fi TV lha ini saya punya soft filenya. Sembari menyeduh kopi, baca Catatan Seorang Demonstran, setelah itu menonton filmnya maka citra Gie yang muncul dalam diriku begitu kuat. Tak hanya itu, buku-buku yang dia baca seketika ikut kucari dan bacai juga. Andre Gide misalnya yang menjadi bahan pedebatan dengan gurunya. Kubaca juga. Bahkan buku Pendidikan Istri karya Andre Gide itu pun kucari lagi untuk kujadikan kado pernikahan depan rumahku. Bodohnya aku waktu itu. Tidak cari informasi lebih dulu tetangga depan rumahku itu suka baca apa enggak. 
    Dari tokoh Gie ini kemudian gayung bersambut, aku dipertemukan Mas Lulie Pratama, Ketua BEM Fakultas dua periode. Mas Lulie inilah yang sering mengadvokasi aku. Dibawanya aku ke rapat, diajaknya makan, dan dikenalkan dengan teman-teman BEMnya yang rata-rata adalah kakak tingkat dua angkatan di atasku. Advokasi Mas Lulie berhasil. Aku akhirnya tertarik dengan organinasi mahasiswa. Diajaklah aku untuk masuk BEMF. Saat itu aku belum siap. Khawatir nilai kuliah jelek. Kasihan sama orang tua di rumah kalau nggak cepet lulus. 
    Akhirnya kusampaikan keinginanku untuk masuk HMJ terlebih dahulu agar ¬step by step. Masuk di HMJ ya gitu-gitu aja. Benar kata Mas Lulie, kakak kelas asal Medan ini. Saat itu dia bilang “Nanti di HMJ kamu nggak bakalan dapat apa-apa. Serius! Coba deh kalau mau belajar ya masuk BEMF. Bakalan banyak banget ilmu yang kamu dapat,” kata Mas Lulie waktu itu. Memang HMJ di kampusku kurang begitu aktif. Dari kekecewaan di HMJ ini kemudian aku masuk di BEMF bagian Media Informasi dan Komunikasi. Walaupun masih dilemma antara takut nilai kuliah jelek tapi ingin sekali tambah pengalaman ikut organisasi. 
    Oiya. Kembali ke hobiku membaca. Di Jogja ini lah kemudian aku lebih sering membaca koran yang ditempel di mading RT. Ada dua papan kaca besar yang dipasang di RT yang tidak jauh dari kosku. Mading ini berisi macam-macam koran dengan sumber yang berbeda-beda. Tak jarang karena penuhnya koran yang ditempel, bagian bawah selalu offside dari papan. Koran bagian bawah selalu menggantung layaknya pocong, katanya sih pocong nggak nyentuh tanah. Setiap jalan beli sarapan sering aku berhenti dan membaca di sana. Herannya, banyak orang yang juga baca mading ini. 
    Sering aku membaca mading ini bersama dengan bapak-bapak tukang becak, tukang antar sampah, bergantian aku pindah kek kanan ke kiri menyimpangi mereka. Busyet. Bapak-bapak tukang becak dan tukang ambil sampah aja baca koran ya kan? Kedaulatan Rakyat yang jadi top of the top di Jogja. Oiya mengapa aku lebih suka membaca mading koran di lingkungan RT? Itu karena rasa kecewaku. Dulu di selasar kampus selalu ada mading koran bersebalahan dengan papan informasi. Lah semakin ke sini mading korannya kosong. Tinggal kaca aja dan papan informasi dari tahun berapa masih saja terpasang. Padahal di mading ini dulunya ketika berangkat ke dan pulang dari kampus, aku sering berhenti cukup lama untuk membaca. Eh tak tahunya mading koran itu sudah tidak pernah lagi dipasang. Ya pindah ke mading RT aja ya kan? 
    Kecewa dengan ini, aku pun kemudian masuk BEMF dalam memilih sub bidang Media Informasi dan Komunikasi. Rencananya mading ini mau saya aktifkan lagi. Siapa tahu ada teman mahasiswa yang memiliki kegelisahan sama denganku. Belum lama di BEMF tak tahunya BEMF dibekukan pihak universitas karena masalah internal antara BEM dengan universitas. Yah, tak ayal mading tak akan bisa berjalan lagi. Tak lama, aku pun cabut dari BEM karena ketua BEM terlalu disetir pihak kampus melalui orang yang dipasang menjadi pengurus senior di BEM. Yang mana Ketua BEM justru nurut aja sama agen ini. apa bedanya dengan kerbau yang dicucuk hidungnya? Usul untuk memperbaiki internal BEM tidak digubris. Pernah kuusulkan untuk mengadakan rakor pembahasan program dan hal-hal yang menyangkut perbaikan internal, justru ditolak. Ketua BEM malah menyetujui usulan untuk mengadakan kegiatan seminar tingkat nasional. Lah? BEM aja dibekukan kok malah mau ngadain kegiatan? Gimana sih? Sumber dana darimana wong sudah dibekukan. Saat itu diusulkan untuk ada iuran. Wah sudah tidak masuk akal. Sangat absurd bukan? Setelah kejadian itu, setiap kali ada undangan rapat aku pun absen. Endingnya cabut. Hehehe… 
    Kembali ke kegiatan membaca, saat itu alhamdulilah masih terus berjalan. Malah lebih rakus. Prinsipku saat itu perbulan sekali wajib beli buku. Gimana dong, di Blora sini nggak ada toko buku. Mau beli buku saat itu susah. Buku demi buku akhirnya menumpuk di rak. Nah teman-teman kos jadi semakin sering pinjam buku. Lalu dari buku-buku yang dipinjam itu pun berakhir dengan diskusi-diskusi. Dengan segelas kopi yang diminum bersama-sama diskusi menjadi semakin tak terbendung.
    Singkat cerita adik kelasku, Musanif Efendi dadri Lampung mengajakku untuk membuat mading. Aku masih ingat waktu itu dia diberi uang 200 ribu oleh Pak Djoko Passandaran. Dosenku penulisan kreatif sastra saat itu. Dia mengajakku untuk membuat mading “Ini aku dikasih uang 200 ribu untuk bikin mading. Uang ini kata Pak Joko adalah honornya jadi dosen pembibing lapangan PPL,” kata Fendi. 
    Saat itu juga ke toko bangunan untuk beli kayu, beli papan melamin, dan lakban hitam. Tak menunggu lama di depan kosku tak tok takt ok, paku sana-sini, jadilah mading sederhan. Mading ini kemudian diberi nama Wiyata inspirasinya adalah nama tengah kampusku. Tepatnya 13 Januari 2009 mading sederhana ini pun dipasang di dinding prodi. Tentunya sudah tertempel dengan tulisan-tulisan berbagai rubrik mulai dari puisi, cerpen, sampai kritik. 
    Aku ingat tak lama mading dipasang, tulisanku disobek orang. Tulisan itu berisi sindiran halus kepada pihak prodi dan mahasiwa. Bukannya sedih, aku justru merasa senang. Dengan sobeknya tulisanku itu berarti ada orang yang membaca. Walaupun ekspresinya berlebihan. 
    Pada 2012 aku lulus dari kampus dan pulang ke Blora. Pada tahun yang sama juga aku mengabdi di sebuah sekolah yang baru dibangun. Suka duka kulalui di sini. Mulai tidak ada kamar mandi, kantor yang lebih mirip dengan base camp pendakian, computer yang baru ada satu, dan masih banyak lagi. Ya Namanya sekolah baru saja berdiri. Jangan harap ada kantin deh. Di sekolah ini juga masih saja menggebu untuk membuat mading. 
    Bagaimana tidak, masih dengan kegelisahan sama terlebih sekolah dengan sistem Boarding lho ini. Anak-anak tinggal di asrama jelas butuh wadah untuk mendapatkan dan berbagi informasi. Dari kegelisahan inilah, berbekal pintu dengan engsel masih menempel jadilah mading ala kadarnya. Mading berupa pintu tebal yang dibalut karpet hijau pun berdiri. Untuk mading ini bisa kalian baca kolom “Warna Warni Teman Kecil” https://hariskurcil.blogspot.com/2012/11/warna-warni-masa-itu.html dan “Kobaran Mading teman Kecil” https://hariskurcil.blogspot.com/2012/10/kobaran-mading-teman-kecil.html) yang kutulis di 2012 lalu. 
    Kegiatan baca-tulis masih berjalan terus walaupun skalanya naik turun. Hingga akhirnya pada medio 2021. Usai pecah dengan pameran OSIS SMP IP Al Banjari bertajuk Cakrawala Berdikari Fest, berdirilah Pena Emas Al Banjari dengan Siti Ria Fitriyani sebagai ketuanya. Sebuah forum diskusi dan belajar bareng lintas generasi ini kami gagas bersama dengan plan bergerak di empat sektor. 1. Sektor tulis menulis pada akhirnya nanti akan bermuara dalam bentuk blog dan majalah, 2. Sektor gambar yang outputnya berupa ilustrasi yang akan bermuara pada konten media sosial baik blog, facebook, maupun instagram, 3. Sektor foto. Foto ini yang nantinya bermuara dalam ke majalah dan konten-konten media sosial 4. Terakhir sektor video yang nantinya akan bermuara dalam bentuk video dalam kanal youtube. Andaikan waktu itu kami punya web tentu akan kami arahkan semuanya ke web. Sayangnya untuk bikin web butuh dana yang tidak sedikit bukan? Ya blog dan media sosial lah solusinya 
    Tak berhenti di sini, diskusi-diskusi juga kami gelar dengan mengundang berbagai narasumber. Mulai dari Ketua UKM Musik IAIN Kudus, pengurus aktif UKM Lembaga Pers Mahasiswa UB (Universitas Brawijaya Malang), anggota aktif Mapala IAIN Kudus, sampai dengan kegiatan “Ngopi Jurnalistik” dengan mengundang narasumber wartawan-wartawan surat kabar digital baik lokal maupun nasional seperti Bloranews dan kontributor Kompas.com. 
    Semua ini kita lakukan tiada lain agar menumbuhkan jiwa kritis di kalangan anak-anak dengan diiringi perkembangan mental yang baik. Dari pengalaman-pengalaman narasumber yang berdinamika dalam organisasinya, diharapkan akan memberikan modal bagi anak-anak ketika terjun di masyarakat nantinya. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan memberikan penyegaran dalam anggota PMA (Pena Emas Al Banjari) agar lebih bersemangat lagi dalam menjalankan programnya.

    Di tahun yang sama terbitlah majalah Pena Emas Al Banjari untuk pertama kalinya dengan tajuk “Al Banjari Dulu, Kini, Esok”. Usai terbit majalah beberapa masalah kemudian muncul. Terlebih ketika beberapa para kader anggota lulus sekolah. PMA pun kemudian tenggelam dimakan zaman. 
    Kurang lebih empat tahun berlalu. Kebiasaan yang kulakukan untuk membeli koran dan kupasang di mading ternyata mendapat respon yang luar biasa dari anak-anak. Kemudian, pertanyaan timbul mengapa sih harus beli? Internet ada. Komputer ada. Printer ada. Kok masih beli? Belum lagi ditambah beberapa gambar harus kusensor dengan cara kupotong karena ada gambar yang terlalu “terbuka” di koran. Ah kenapa nggak bikin sendiri? 
    Dengan tajuk Cakrawala Magazine, bismillah. Mading dengan bekal download informasi, tulisan sumbangan dari teman-teman, dan beberapa tulisanku sendiri kupasang. Alhamdulilah mading berjalan sampai saat ini. Dengan mindset akan seperti apa nantinya. Berhenti dan tenggelam lagikah atau bagaimana? Nanti deh biar jalan sebisanya dulu. Kalau memang hal ini bermanfaat dan baik tentu kebaikan pula yang mnyambut. Semoga akan mestakung (semesta mendukung). 
    Benar saja. Satu, dua, tiga orang yang memiliki hobi sama pun bermunculan dengan malu-malu. Siti Ria Fitriyani yang dulunya menjawab Ketua PMA turut bergabung. Ditambah personel-personel seperti Hafitza Azzahra (santri Gontor yang sedang menjalankan program pengabdian), Nine Disca Nurilla, Yaqut Durrotunnafiah, Ulya Hidayah Nur, Adzkiya Ulil Maziyah, Jihan Luthfi Hariroh, Ajeng Nasywa Maharani menyatakan kesanggupannya untuk join. 
    Awalnya teman-teman ini mengirimkan naskahnya untuk kemudian kuketik, print, dan pasang di mading. Intensitas pertemuan dengan mereka jadi cukup sering sehingga perlu rasanya dibuatkan wadah untuk duduk bersama dan ngobrolin apapun saja. Ngobrolin buku, ngonbrolin film, sampai ngobrolin kegelisahan-kegelisahan apapun ayok deh. 
    Dari sinilah disepakati bahwa setiap seminggu sekali, yaitu pada Selasa sore kita berkumpul. Karena tidak ada namanya, mau disebut rapat kok bukan rapat? Kata diskusi lah mungkin yang mendekati.
Diskusi setiap hari Selasa. Karena dirasa kepanjangan, Selasa Bersua aja udah. Hari Selasa kita bertemu, takutnya kalau dinamai dengan yang perlente justru nggak bertahan lama. Pertemuan demi pertemuan menjadi akhirnya menjadi semakin seru. 
    Selasa Bersua dimulai pukul 13.30 sampai dengan pukul 16.30 dengan termin pertama apresiasi dan sharing tentang naskah mading yang baru saja. Kemudian dilanjutkan dengan pembahasan beberapa poin yang ingin dipelajari bersama. Tiga objek pembahasan selesai dipelajari selama kurun waktu belakangan ini. Objek yang dimaksud adalah penulisan teks resensi (teks ulasan/review text), penulisan reportase, terakhir adalan penulisan opini. Tak disangka dengan cara ini justru lebih efektif. Mulai dari yang simpel tapi hasilnya lebih konkret. Faktor yang menjadi kesulitan PMA beberapa tahun lalu baru terpecahkan sekarang. Dulu sangking banyaknya anggota dan banyaknya objek yang ingin dipelajari menyebabkan output yang dihasilkan malah asbtrak. Kini dengan prinsip sederhana tapi konkret ternyata output yang ada lebih efektif dan tajam. 
    Sekarang Cakrawala Magazine sudah mulai masuk edisi kedua belas, sedangkan Selasa Bersua sudah enam kali lebih digelar. Di perjalanan pulang ke rumah dari Selasa Bersua (17 Desember 2024) kemarin muncul pertanyaan “Kok ketemu dengan dinamika baca-tulis-diskusi lagi ya? Bukannya ini sudah pernah kualami bertahun-tahun yang lalu? Apa iya kalau kita menyukai dan melakukan sesuatu dengan sepenuh hati akan selalu didekatkan dan didekatkan lagi? Semoga saja iya. Doakan ya.”
Selengkapnya.. - SESUATU YANG TERUS MENDEKAT ITU

Kamis, 10 Oktober 2024

SEBUAH EKSPRESI DALAM BERSIKAP

Baru beberapa hari yang lalu Zahra, temanku di kantor yang seorang santri Gontor bertanya kepadaku “Baru kali ini saya ikut acara salawatan. Apakah boleh ya salawatan dilafazkan dengan agak berteriak seperti itu?” Pertanyaan yang lebih seperti autokritik ini sebenarnya sudah pernah kutanyakan bertahun-tahun lalu. Kurang lebih lima enam tahunan yang lalu kalau tidak salah ingat.

Ketika itu beberapa anak mengatasnamakan dirinya santri dengan mengklaim bahwa ia adalah seorang pencinta salawat dengan mengenakan kaos hitam bersarung mencoba mencegat truk yang sedang melaju. Apalagi kalau bukan mencari tumpangan untuk menghadiri majelis salawatan. Di majelis salawat mereka ini bahkan mengibarkan bendera besar dan menggoyang-goyangkan bendera itu tak ubahnya nonton konser. Pada masa itu hal seperti ini massif sekali.

Tak ayal banyak orang mengatakan bahwa mereka ini adalah anak punk mode santri. Apakah memang begitu? Sebentar mari kita gali bersama. Apa yang salah dari punk? Punk merupakan sikap resistensi terhadap kemapanan. Dengan sistem apa adanya, solidaritas tinggi dengan berkerjasama, menghindari sistem-sistem yang menyengsarakan, dan menolak semua bentuk penindasan. Bukan begitu? Apakah itu salah? Tentu bukan! Tentang lifestylenya itu kan pilihan masing-masing. Lalu tentang yang tadi itu? Apakah begitu cara bersalawat?

Ya. Pertanyaan Zahra, temanku ini membuatku seolah de javu kepada pengalaman lima-enam tahun silam. Tentang suatu Ketika banyak orang mengklaim dan mendirikan komunitas salawat ini lah itu lah. Menggunakan atribut begini lah, menggunakan slogan begitu lah. Sah-sah saja bukan? Ya sah-sah saja orang-orang membentuk dan mendirikan komunitas. Substansinya bukan itu ya. Cara bersalawatnya yang menjadi pembahasan.

Pertanyaan tentu menuntut adanya jawaban. Termasuk pertanyaanku enam tahun silam yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan itu muncul kembali karena pertanyaan Zahra temanku itu. Bolehkah bersalawat dengan cara yang seperti itu? Ketika ia bertanya aku menjawab bahwa mereka itu bersalawat dengan mengekspresikan rasa cintanya kepada Baginda Nabi. Sayangnya memang ekspresi yang ditampilkan ada yang bergeser dari norma kesopanan yang berlaku.

foto: google

Pertanyaan Zahra temanku ini menyeretku berdialektika kembali saat aku menghadiri acara haul di salah satu pondok pesantren tak jauh dari rumahku. Bersama teman-teman, aku menghadiri acara haul dan pengajian yang diselenggarakan di lapangan pondok. Pengisi acara adalah salah Kiai Jadul Maula dari Yogyakarta. Pyar! Pertanyaan Zahra kala itu membenturi apa-apa yang ada di hati dan pikiranku. Bagaimana tidak? Kiai Jadul dengan emprak Kali Opaknya menyajikan salawat dipadukan dengan iringan gamelan. Tentu beda dong dengan pembacaan salawat yang biasa kita tahu di sekitar kita. Sebelum memulai pembacaan salawat, Kiai Jadul menyampaikan bahwa pembacaan salawat ini mungkin agak beda dari yang pda umumnya kita dengar. Ia menambahkan bahwa salawat ini dulunya dibawakan oleh K.R.T. Yasadipura II zaman Mataram.

Salawat yang diiringi gamelan ini mengalun dengan tempo yang merdu. Dengan nada-nada dan kata-kata berupa tembang Jawa lama ditambah dengan tarian dari seorang penari wantia berbaju tertutup yang lemah gemulai, tarian khas keraton, sontak menyita perhatianku.

Satu tembang pujian salawat selesai dilantunkan, Kiai Jadul menyampaikan ular-ular berupa dhawuh-dhawuh serta nasihat yang menguatkan agar para jamaah yang hadir selalu istikamah dalam beragama Islam. Usai dhawuh disampaikan, disambung dengan gendhing dan tembang puji-pujian disrtai iringan gamelan. Usai satu tembang, disambung dhawuh, begitu seterusnya. Di tengah tembang dan gendhing dilantunkan, di pojok belakang tampak seorang penari berdiri dengan peci yang sangat tinggi lalu berputar-putar. Tari sufi. Perpaduan nuansa keraton Mataram Islam dengan perpaduan tari sufi ala timur tengah sangatlah harmonis. Seketika dalam hati kecilku bertanya apakah dulu begini ya cara Kangjeng Sunan berdakwah? Jalan dakwah yang menggunakan budaya sebagai jembatan penghubung kepada masyarakat? Lalu pertanyaan Zahra temanku itu juga ikutan nyelonong begitu saja “Memang boleh ya bersalawat seperti itu? Dengan tarian pula?”

Seketika aku pun langsung bertanya kepada salah satu guruku, Cak Rudd namanya. Entah mengapa ia selalu bersungut-sungut kalau dipanggil dengan sebutan kiai. Begini pertanyaanku waktu itu.

A       : “Cak, apakah ada pedoman baku tentang adab ataupun tatacara dalam membaca ataupun melantunkan salawat?”

CR    : “Sejauh yang aku tahu tidak ada. Yang penting sopan.

A       : “Berarti cara melantunkan salawat bisa dilakukan dengan ekspresi yang bermacam-macam ya, Cak?”

CR    : “Yesss. Walau dengan ekspresi kurang sopan pun kata para ulama tetap mendapat pahala. Tetapi masa iya kita tega?”

CR     : “Dalam Islam itu:

Semuanya dilarang, kecuali yang diperintahkan. Atau semuanya boleh kecuali yang dilarang?” jawaban yang diakhiri dengan tanda tanya. Mikir lagi ya kan?

Jawaban CR ini cukup jelas rasanya merespon pertanyaan Zahra temanku itu. Begitu pun pertanyaanku lima-enam tahun yang lalu. Berarti etika yang lebih memainkan peranan dalam konteks ini. Sejauh mana kita mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Tentu kita tidak mau menjadi orang yang zalim. Boleh berkespresi asal tidak terlepas dari norma dan aturan yang berlaku. Begitu.

 

Selengkapnya.. - SEBUAH EKSPRESI DALAM BERSIKAP