Senin, 22 Desember 2025

KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

*Abdul Haris Nur H.

“Persikaba akan selalu ada di hati saya”

Dafit Setiawan diantara pemain Persab Brebes

Menjadi pemain bola adalah impian jutaan orang, termasuk bagi Dafit Setiawan. Lelaki jangkung asal Tuban ini bercita-cita ingin menjadi pesepakbola profesional layaknya Evan Dimas Darmono, gelandang timnas Indonesia. Bermula dari lapangan ke lapangan di Montong, Tuban, ia kemudian memberanikan diri mengikuti seleksi di Persikaba Blora 2019 lalu. Tahap demi tahap seleksi diikutinya dengan sabar. Perjalanan Tuban-Blora pun rela ditempuh demi mengejar cita-citanya. Walhasil kesabaran Dafit pun membuahkan hasil. Ia pun akhirnya dinyatakan lolos seleksi dan tergabung dalam tim Persikaba.

“Seingat saya, waktu itu bertepatan dengan bulan puasa, Mas. Awalnya saya dapat info dari instagram bahwa Persikaba membuka seleksi. Dari informasi itulah saya lalu berangkat bersama teman dari Tuban. Kurang lebih pukul 11.00 dari rumah, sekira pukul 13.00 saya sampai di Kridosono. Saat itu saya tidak tahu kalau bisa potong jalur, Mas. Jadi saya muter lewat Cepu,” ucap Dafit menceritakan kisahnya.

Lelaki asal Tuban ini juga menuturkan bahwa pembukaan seleksi diikuti oleh ratusan pemain baik dari Blora maupun dari luar Blora. Beragam uji coba pun diselenggarakan agar pemain mampu mengeluarkan bakatnya.  Dalam uji coba-uji coba ini, Dafit mengambil posisi sebagai gelandang nomor 6 sebagaimana pemain yang selalu diidolakannya.

“Saya akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya jadi pemain bola, Mas. Bangun pagi langsung berangkat latihan. Setelah itu istirahat, siangnya latihan lagi. Saya masih ingat kali pertama saya dinyanyikan anthem, saya terharu dan menangis. Hal yang dulu sangat saya cita-citakan akhirnya bisa terwujud. Apalagi ketika debut melawan PPSM Sakti Magelang. Skor kemenangan 2-1 di kandang menambah kebahagiaan saya kala itu. Kebahagiaan yang semakin bertambah ketika saya akhirnya bisa merasakan bisa tidur di hotel kala pertandingan away. Wah Mas, bertanding rasanya kayak liburan he he he,” kenangnya sambil tertawa.

 

 

laga away melawan Persab Brebes

 Bicara tentang dunia sepak bola tidak bisa dilepaskan dari kebersamaan dan kekompakan sebuah tim. Chemistry dan kebersamaan antarpemain adalah hal paling mendasar yang biasnya dibangun sejak awal oleh manajemen. Selain kebersamaan dan kekompakan, hal kedua yang tidak boleh ditinggalkan adalah loyalitas. Para insan sepak bola harus selalu mengedepankan loyalitas dalam membela klubnya.  

Dua hal inilah yang sering menjadi batu ujian bagi sebuah klub sepak bola, tidak terkecuali bagi Persikaba. Kekompakan dan kebersamaan tim pun diuji ketika klub berlogo kepada kuda ini mengalami krisis keuangan. Dafit menuturkan bahwa ia dan teman temannya juga pernah mengalami hal yang cukup pahit ketika membela Persikaba. “Waktu itu para pemain sempat tidak dapat jatah makan dari manajemen.  Akhirnya teman-teman beli makan sendiri-sendiri di warung, Mas. Malahan pernah juga dibelikan makan malam oleh kitman pakai uang pribadi,” tambahnya.  

Terpaan krisis ekonomi klub semakin diperparah dengan telatnya gaji yang tak kunjung diberikan manajemen kepada para pemain. Hal ini menyebabkan kondisi mental para pemain berasa dikikis habis. Dampaknya adalah beberapa pemain memilih mogok tidak mau latihan bahkan kabur dari mess untuk sekadar numpang makan ke rumah para pemain asli Blora.

Janji dari manajemen masih sebatas janji. Gaji tak juga kunjung dibayarkan. Hanya motivasi dan suntikan semangat dari pelatihlah yang membuat para pemain bertahan dan terus berjuang. “Bahkan hanya buat beli bensin saja kami tidak sanggup, Mas. Kami akhirnya berangkat latihan dengan jalan kaki,” imbuh Dafit. Kisah tragis ini akhirnya diberitakan oleh media-media lokal setempat. 2020 setelah itu, akhirnya pihak manajemen memberikan hak para pemain.

Persikaba nyatanya adalah klub yang membuat Dafit terus belajar mengasah kemampuannya. Dari sekian banyak pertandingan yang dilakoninya, match lawan Persab Brebes adalah pertandingan yang akan selalu dikenangnya. “Saya masih ingat, Mas. Dua minggu sebelum lawan Persab Brebes, anak-anak sempat mogok latihan tapi saya berusaha tetap bersemangat karena itu adalah kesempatan bagi saya untuk bisa bermain. Akhirnya pas lawan Persab Brebes, saya dimainkan full 90 menit. Pertandingan berjalan sangat dramatis, Mas. Kita menang 1-0 lewat gol yang dicetak oleh Baseri tapi kita dipaksa bermain dengan 10 orang karena Fajar kena kartu merah.  Laga yang bagi saya sendiri tidak akan pernah bisa saya lupakan seumur hidup. Itu adalah match pertama saya di Persikaba dengan full time tanpa diganti tapi juga match terakhir karena kemenangan 1-0 tidak membuat Persikaba lolos babak delapan besar. Ceria, tangis, kecewa tumpah jadi satu di hadapan suporter lawan, Mas. Sampai kapanpun Persikaba Blora akan selalu ada di hati saya,” kenang Dafit.

Siapa sangka musim 2019 itu juga menjadi akhir dari Stadion Kridosono, kandang Persikaba. Pasalnya tak lama setelah pandemi covid datang, dinding stadion dibongkar. Stadion Kridosono pun berubah fungsi menjadi lapangan terbuka. Kandang kuda kini bergeser ke timur, tepatnya di Stadion Krida Loka, Jepon. Enam tahun telah berlalu. Setelah sempat melanglang buana ke berbagai klub, kini Dafit bergabung di Bumi Wali, Tuban, tanah kelahirannya sendiri. Ilmu yang didapat dari sepak bola ini ia amalkan dengan mengajar olahraga di sebuah sekolah di Tuban.

(Wawancara pada Kamis, 18 Desember 2025)

 

 

 

Selengkapnya.. - KISAH MENAWAN DAFIT SETIAWAN (Gelandang Persikaba Blora 2019)

Kamis, 18 Desember 2025

FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

*Abdul Haris Nur H.

Saya di Persikaba itu seleksi normal dari nol, Mas. Tidak ada teman, saudara, atau siapapun. Saya ingat waktu itu saya hanya bawa uang dari rumah Rp 50.000,00.

Fajar berlari berusaha menghalau salah satu pemain Persab Brebes


Langit mendung menyiratkan hujan akan segera turun. Suara guntur sambut menyambut kian bergemuruh. Jalanan Blora pun nampak semakin redup. Dalam nuansa keredupan ini banyak orang yang kemudian bergegas dan terburu-buru. Ada yang berlarian masuk rumah, ada yang panik mengamankan cucian, juga ada yang sibuk memberesi dagangan. Blora seolah menjadi supersibuk.

Dari sekian banyak orang yang tergesa-gesa itu justru nampak beberapa orang malah keluar rumah menuju lapangan. Benar sekali, mereka adalah para pemain sepak bola dengan penonton setianya. Para pemain Persikaba Blora. Kali ini Persikaba akan mengadakan uji coba melawan klub lokal Pontura FC di Lapangan Alugoro 410 Blora.

Di pinggir lapangan, tampak beberapa pemain Persikaba melakukan pemanasan. Tim yang belum lama terbentuk ini juga ikutan sibuk. Pelatih fisik, Andri Mulyono Jati terlihat memberi aba-aba mengarahkan pemain. Pelatih utama, Gusnul Yakin juga sibuk menata papan strategi. Musim 2025-2026 ini Persikaba dihuni oleh para pemain muda. Sebuah musim yang mengingatkan kita kembali pada 2019 lalu. Masa dimana Persikaba mengikuti kompetisi liga 3 dengan skuad penuh dengan pemain muda. Pemain dengan kualitas yang merata di bawah bimbingan Coach Tommy Parsep.




Dari tengah lapangan terdengar peluit dibunyikan, pertanda kickoff telah dimulai. Bola pun bergulir dari kaki ke kaki di lapangan yang becek. Aliran bola deras mengalir ke kiri dan kanan lapangan. Jenderal lapangan tengah berteriak-teriak mencari teman dan memberikan umpan. Entah mengapa melihat seorang gelandang ini ingatan mendadak kembali ke masa 2019 lalu, ketika gelandang Persikaba dengan postur mungil tapi trengginas berlari meliuk-liuk mencari ruang. Gelandang mungil ini bernama Akhmad Fajarudin.

Musim 2019 lalu tribun penonton selalu riuh ketika pemain dengan nomor punggung 12 ini menggiring bola mencoba menggocek lawan. Posturnya yang kecil membuat jersey yang dikenakan nampak kedodoran selalu mengundang gelak tawa penonton. Tapi jangan salah, justru dengan ini seorang Fajar mudah ditandai. Lelaki kelahiran Jepara ini nyatanya selalu berhasil masuk lini menyulitkan pemain lawan.

“Saya di Persikaba itu ikut seleksi normal, Mas. 2018 sebenarnya saya sudah ada tim di Persiwi Wonogiri. Karena tujuh bulan persiapan tak kunjung ada kejelasan, akhirnya 2019 saya ikut seleksi di Persikaba. Ikut seleksi normal saya, Mas. Di Blora itu saya mulai dari nol. Tidak ada teman. Tidak ada saudara. Bahkan waktu itu saya ingat, saya hanya bawa uang dari rumah lima puluh ribu buat beli bensin,” tutur Fajar ketika diwawancarai.

 

Persikaba adalah klub yang menjadi tumpuan harapan bagi Fajar. Tak ayal, gelandang mungil yang suka menguncir rambut ini rela menempuh perjalanan Jepara-Blora selama lebih dari seminggu sebelum akhirnya pihak manajemen menyediakan mess.

“Waktu itu manajemen masih belum rapi lho, Mas. Saya dan teman-teman dari Jepara sampai rela patungan untuk biaya makan. Malahan pernah makan sehari dua kali. Sebulan setelah itu terbentuklah tim Persikaba itu, Mas. Dari sana juga aku kenal Coach Tommy Parsep,” tambah Fajar.

Selain Fajar, ada empat orang dari Jepara yang juga datang ke Blora. Total ada lima orang Jepara yang ikut seleksi di Persikaba kala itu. Dari lima orang, tiga orang dinyatakan lolos seleksi. Mereka adalah Adhan Fahreza (libero), Febrianto (striker), dan Akhmad Fajarudin yang berposisi sebagai gelandang.



“Di Persikaba ini semua saya mulai dari nol, Mas. Jadi semua kemampuan yang saya miliki harus saya kerahkan. Semangat juang tinggi serta rasa persaudaraan yang melebihi keluarga yang membuat kami selalu tampil all out. Jadi tidak ada alasan untuk bermain jelek. Alhamdulilah saya selalu dipercaya pelatih,” imbuhnya.

Titik gerimis mulai turun di lapangan. Duel seru lini tengah kini bergeser ke sayap. Para pemain Persikaba nampak selalu berusaha mencari celah melalui wing kanan dan wing kiri dengan sentuhan bola cepatnya. Beberapa kali hakim garis mengangkat bendera offside. Tak lama berselang gol pertama tercipta. Usai gol pertama kemudian disusul dengan gol kedua. Keran gol persikaba terbuka lebar. Gol demi gol pun akhirnya tercipta termasuk gol yang dicetak melalui titik putih. Pola permainan dan kompaknya para pemain menjaga wilayahnya tentu membawa kita pada kenangan Persikaba 2019 lalu.

Tak terasa enam tahun sudah berlalu. Lelaki yang selalu dielu-elukan di lapangan ini pun telah menikah dan dikaruniai seorang anak. Harapan Fajar tentu sama dengan harapan pencinta sepak bola Blora pada umumnya agar Persikaba lebih terus berprestasi lebih baik lagi. Tak terasa gerimis pun menghilang berganti dengan senja yang segera datang. Dari tengah lapangan, peluit panjang berbunyi pertanda pertandingan telah usai. Skor kemenangan 5-0 untuk Persikaba. Kemenangan yang menjadi awal yang baik sebelum pertandingan perdana kompetisi liga 4 Jawa Tengah dimulai.

 

(Wawancara dengan Akhmad Fajarudin, Minggu 14 Desember 2025)

Selengkapnya.. - FAJAR, GELANDANG PERSIKABA 2019 YANG BERSINAR

Rabu, 02 Juli 2025

AKU, KAU, DAN L2 SUPERKU

Suara knalpot itu merentet sepanjang jalan. Knalpot khas motor 2 tak itu memenuhi jalanan dengan asap putihnya. Jalanan itu adalah jalanan yang selalu kulalui ketika matahari sudah mulai menenggelamkan wajahnya. Begitulah suasana temaram kala itu. Saat dimana Pincuk, saudaraku menjemputku untuk kemudian kami berangkat ngaji bersama di Musala Al Masyhuriyah. Musala yang berjarak kurang lebih 500 meter dari rumahku ini berdempetan dengan madrasah yang namanya juga sama. Al Masyhuriah. Nama yang juga doa agar kelak musala dan madrasah ini masyhur dengan kiprah syiar islamnya.

Yamaha L2Super merahku
Jalanan aspal hitam pecah di sana-sini ini kami lalui dengan motor tua milik almarhum ayahnya ketika berangkat dan pulang mengaji. Keponakan yang usianya lebih tua setahun ini sering menjemputku ketika berangkat mengaji. Di atas motor tua yang sedang melaju itulah obrolan mengalir ke sana ke mari, motor Yamaha L2 Super merah. Sekira sepuluh menitan, sampailah kami di musala. Motor berhenti. Kami turun lalu menunggu giliran mengaji dengan nderes (melancarkan bacaan sendiri) terlebih dahulu sebelum disimak oleh guru.

Hingga sampailah giliranku. Aku maju membawa mushafku. Duduk bersimpuh. Mushaf kuletakkan di dampar (meja kecil). Di hadapan Mister, begitu teman-teman menjuluki guruku ini, aku kemudian menekuri ayat-demi ayat dengan sebatang lidi di tanganku. Beberapa kali Mister membenarkan bacaan tajwidku. Selesai mengaji masih dengan Yamaha L2 Supernya, Pincuk mengantarku pulang. Besoknya ia datang dengan sepeda jengkinya. Kami bersepeda bersama menuju musala.

Mister adalah guruku ngaji sekaligus guruku di madrasah yang duh galaknya minta ampun. Saat kelas sedang ramai-ramainya karena guru belum datang tiba-tiba cess. Hening. Semua berubah karena terdengar seruan, “Mister datang!” setelah itu terdengar suara seretan sandal kayu diiringi suara batuk sang Mister yang sudah sangat kami hafal. Kami berlarian duduk di kursi masing-masing.

Mister mengajar kami dengan metode yang masih konvensional. Ia menulis arab di papan lalu kami menyalinnya. Kami juga beberapa kali diminta untuk membaca kitab kuning, kitab bertulis arab pegon tanpa harakat. Saat itu aku ingat. Mister menunjukku. Aku pun seketika panas dingin. Dengan bantuan bisikan Minan, teman sebangku yang juga anak seorang kiai, aku mulai membaca kitab itu secara terbata-bata. Untungnya, semesta menyelamatkanku. Mister tertidur di mejanya. “Merdeka!” batinku. Senyum mengembang di wajahku. Bacaanku berhenti berganti dengan obrolan bersama teman-teman. Tiba-tiba Mister menggeliat. Senyum kemenangan disertai obrolan itu segera berubah menjadi kekhawatiran. Aku bersuara sebisaku. Segera kubaca kata terakhir dari kitab itu. Untungnya Mister masih pulas. Temanku, Mbodon kemudian melemparkan pulpennya tinggi ke atas melalui kepala. Takkk! Suara keras pulpen membuatnya bangun. Kami tak henti-hentinya menahan tawa. “Sudah selesai?” “Sudaaah,” jawab teman-teman. “Ya sudah baca Wal Asri,” sahutnya sambil mengucek mata. Yess! Akhirnya plong. Kami pun pulang.

Berkeliling Blora mengendarai Mbah L2Super

Metode konvensional dengan tambahan bentakan dipakainya juga saat mengajariku membaca Alquran. Tak jarang aku dan Pincuk terkena dampratnya. Apa yang bisa kami lakukan saat terkena marah selain duduk menatap mushaf, lalu ganti menatap meja, mulut kami bungkam. Diam tanpa mengeluarkan suara. Metode ini juga yang menyebabkan kami beberapa kali kabur ketika perpindahan jam.

Ketika jam Alquran selesai, kami pun beristrahat dengan nongkrong ke rumah Mbodon sembari menunggu azan Isya. Rumahnya bersebelahan dengan musala, jadi cukup safety  untuk kami beristirahat. Usai salat Isya barulah jam mengaji berlanjut kembali. Ngaji jam kedua adalah mengaji kitab taqrib. Saat peralihan jam itulah kami sering melipir. Apalagi kalau azan Isya sudah berkumandang. Kabur pelan-pelan. Kadang main ke rumah teman. Kadang juga mampir ke pasar malam. Pukul 21.00 barulah kami pulang. Bapakku yang galaknya melebihi Mister pun tidak akan curiga. Hehehe. Begitu terus.

Sampai tibalah saat itu. Bapak memanggilku. Didudukkannya aku di kursi lalu dimarahi habis-habisan karena tahu kami suka kabur. Lagu lama kembali terulang. Duduk diam menekuri lantai plester. Lantai yang sudah terkelupas hingga tampak batu bata berdesak-desakan dengan tanah. Sepertinya Mister mengadukan kami. Malamnya, suara motor L2 super itu mendekat kembali. Pincuk menjemputku. Diajarinya aku mengendarai motor Yamaha ini. Sekali engkol starter kuinjak, suara berbunyi. Bahagianya hatiku. Ketika persneling masuk satu. Motor mati. Diajarinya aku berkali-kali. Masih saja tak bisa. Aku pun menyerah. Dia ambil kemudi, aku duduk di belakangnya penuh dengan ratapan. Bagaimana tidak? Rasanya seluruh peluru bapak seperti menempel di badanku. Obrolan yang kemarin mengalir di atas motor, kini sunyi. Sementara kulihat, di kantong terselip amplop berwarna putih berisi uang. Aku diminta Bapak menyerahkan amplop itu kepada Mister. Sepertinya hanya aku yang memberi amplop kepada Mister. Itu aku tahu belakangan ketika teman-teman menanyaiku.

Tiba giliranku mengaji. Aku pun maju seperti biasa. Ayat demi ayat kulantunkan “Hemmm!” dehaman Mister menyela layaknya dentuman bom. Kucari letak kesalahanku. Kubaca ulang. “Hemm!” Salah lagi. Kucoba baca kembali. “Hemm!” masih saja salah. Kucoba lagi. Kali ini tidak hanya “Hemm” saja tapi disertai hardikan keras. “Salah diingatkan, masih saja diulangi!” bom molotov itu meledak tepat di samping telingaku disertai cipratan air ludah. Aku yang kelagepan masih saja tak menemukan bagian mana yang salah. Diam seribu bahasa. Bom yang baru saja meledak itu nyatanya menggoyahkan tembok pertahananku. Suaraku mulai nggleyor. Air mataku menitik. Masih saja terdiam. Tak berani aku memandang wajah Mister. Saat itu aku mulai menyesal karena sering kabur. Dengan dongkol, Mister kemudian memintaku menyudahi mengaji.

Tampak amplop putih itu masih bersarang di kantong kemeja batikku. Duh! Berat rasanya merangkai kata. Kuberanikan diri. Usai mengucap sodaqallahulazim, kupaksa tanganku yang masih gemetaran untuk menarik secarik amplop itu. Dari sekian banyak diksi hanya “Ini titipan dari Bapak” yang keluar. “Ya. Terima kasih,” singkat saja balasan Mister. Sambil mengelap pipi yang masih basah, aku pun undur. Apakah ini sogokan? Tanyaku pada saat itu.

Suatu ketika karena penasaran, kutanyakan apa isi amplop itu kepada Bapak. “Bisyaroh,” kata Bapak. Aku semakin tidak paham. Bisyaroh? Apa maksudnya? “Bisyaroh itu honor kepada guru. Guru mengaji itu tidak minta bayaran. Murni ikhlas lillahi taala. Tapi seharusnya kita yang tahu diri,” jawab Bapak. Oh honor. Baru kusadari bahwa amplop itu bukanlah sogokan kepada Mister. Bapakku ini, betapa sayangnya aku padanya walau habis dimarahi habis-habisan.

Sekarang aku sudah punya istri dan anak. Ketika sedang duduk di depan rumah, melintaslah Mas Irul. Kakak kandung Pincuk ini lewat menaiki L2Super. Ah motor itu! Motor yang dulu sempat membuatku putus asa mengendarainya kini melintas bebas di depan mata. Kelebat-kelebat ingatan tentang masa-masa dulu muncul kembali. Hingga akhirnya terbersit pikiran berapa ya harga motor itu sekarang? Ketika sedang duduk santai bersama istriku kusampaikan “Besok kalau punya rezeki, boleh ya aku beli L2Super. Aku tak mau kayak mereka-mereka itu yang baru lolos ASN mendadak beli motor N-Max, PCX, maupun motor apapun keluaran baru. Bismillah walaupun belum ASN nanti kalau punya rezeki aku ingin sekali membeli L2Super,” ucapku kepada istri sambil bercerita kenangan masa kecil dulu.

Tepatnya sehari setelah hari buruh, Om Pandi, penjual jaket yang kiosnya sering kudatangi membuat story WA video motor tua dengan keterangan Dijual motor L2Super minat pantau langsung. L2 Super warna merah, sama persis dengan motor Pincuk! Setengah iseng, kutanyakan harga dan kondisinya. Dia bilang, “Kondisi jaminan Mas. Mesinnya saya berani garansi! Mintanya 3 juta. Tadi sudah ditawar tantara 2,8. STNK dan BPKB ada,” balasnya. Pertanyaan yang awalnya iseng ini mendadak membuatku panik. Harganya lebih mahal dari harga HP keluaran paling baru. Kusampaikan ini kepada istriku. Aku bingung. Istriku juga bingung antara mengiyakan atau melarang. Kusampaikan ketertarikanku ini kepada Om Pandi. Komunikasi WA masih berlangsung. Aku bergegas ke rumah Komodo, teman semasa kecil yang sekarang sudah buka bengkel sendiri. Kuajak dia menuju rumah Om Pandi.

Sejenak Singgah Menikmati Kopi Santan dan Ketan Bersama L2 Super 



Sekira 30 menit, sampailah aku ke rumah Om Pandi. Ngobrol sana-sini sembari mengamati Komodo yang unjuk gigi. Dicek satu per satu semua bagian. Dinaikinya L2 Super ini dibawa menjauh. Bagian demi bagian diteliti termasuk STNK dan BPKBnya. Nah ketemu. Minusnya tangki motor rembes setelah diisi bensin. Selain tangki, semua normal. Kelistrikan juga on. Setelah diskusi dengan Komodo, negosiasi pun mulai. Harga motor yang tadinya 3 juta akhirnya deal di 2,8 karena tangka yang rembes.

L2 super kami bawa pulang. Komodo yang mengendarai motor tua ini. “Bro, video ya. video!” pintanya ikut antusias.  Sesampai di rumah, kuminta Komodo untuk mensetting motor. Tesok harinya tangki sudah beres. Giliran urus surat. Motor L2 yang mati pajak setahun sudah beres semua. Masalah administrasi rampung. Sudah kubalik nama sekalian biar nggak repot nantinya. Alhamdulilah Yamaha L2 Super itu kini berdiri gagah di rumah. “Emang bisa naik motor laki?” tanya Bapak dan istriku bergantian tak percaya. “Ya dicoba dulu. Kayaknya perlu pembiasaan pakai kopling, sih. Kata Komodo, motor ini oper giginya kayak motor biasa kok. Cuma masih agak repot main koplingnya,” jawabku.

Motor tua keluaran 1986 ini pun sering kami bawa bertiga bersama anak dan istriku. Istriku yang awalnya sangsi, kini sudah makin percaya. Beberapa kali kuajak mereka berjalan-jalan keliling Blora. Fina yang paling gembira ketika duduk di tangki berpengangan spion. “Enak naik Mbah L ya Pak. Bisa perosotan sambil duduk,” katanya. Tak jarang kami diamati orang ketika di lampu merah. Pakai helm jadul dengan motor jadul pula. Ditambah dengan suara knalpot yang merepet, tarikan gas dan kopling yang cukup seret mengingatkanku kembali pada masa itu. Masa dimana aku diajari Pincuk naik motor. Masa dimana kami berangkat mengaji kepada mister bersama. Pincuk kini tinggal di Jakarta dan Mister pun telah tiada.

Blora, 12 Mei 2025 

Selengkapnya.. - AKU, KAU, DAN L2 SUPERKU

Kamis, 26 Juni 2025

CARUBAN PENUH KENANGAN

Entah sudah berapa kali aku singgah ke sini. Seingatku sudah lebih dari tujuh kali aku ke sini dan tidak ada bosan-bosannya. Caruban adalah salah satu pantai yang cenderung lebih tenang nan damai di Rembang. Pantai yang berada di Lasem Rembang ini memang masih menjadi pilihan utama keluarga kecil kami. Kok bukan Karangjahe? Tidak. Kami memang tidak suka berlibur ke tempat yang terlampau ramai.

dokpri

Awal datang ke Pantai Caruban adalah saat mengajak istri (saat itu masih calon) untuk berziarah. Bersumber dari facebook, kudapatkan informasi bahwasanya makam Pangeran Sekar berada di lingkungan Makam Nyi Ageng Maloka. Nyi Ageng Maloka sendiri merupakan putri dari Kanjeng Sunan Ampel. Kakak dari Sunan Bonang.  Melihat dari silsilah, Sang Nyi Ageng tidak lain adalah nenek sang pangeran.

          Rasa penasaran mencari keberadaan makam sang pangeran semakin tinggi usai membaca dan menggeluti kisah putra sang pangeran yaitu Pangeran Arya Penangsang, penguasa Jipang Panolan. Local hero nya orang Blora lebih khusus orang Cepu. Dalam cerita populer dikisahkan bahwa putra Pangeran Sekar, Arya Penangsang diceritakan ketika dewasa menuntut haknya sebagai pewaris tahta sekaligus hendak menuntut balas atas kematian ayahnya.

Pangeran Surawiyata ditemukan tewas di pinggir sungai dibunuh oleh orang tidak dikenal. Pangeran Surawiyata kemudian lebih dikenal dengan nama Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Sekar yang tidak lain berati ‘bunga’ sementara seda berarti ‘wafat’, dan lepen yang berarti ‘sungai/kali’ menjadi hal yang menarik untuk ditelisik. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan Sultan Trenggono naik tahta di Demak menggatikan Sultan Yunus atau Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor yang meninggal di Malaka. Sebuah proses pergantian pemimpin yang sangat ditengarai berbau intrik politik ini kemudian membuatku semakin tertarik memelajarinya lebih lanjut.

Kala itu sesampai di Makam Nyi Ageng Maloka, aku langsung mencari keberadaan makam pangeran. Kucoba menanyakan ini kepada penggembala kambing yang ada di sana. Si penggembala menjawab tidak tahu. Ah sesuai dugaan. Saat itu si penggembala menyarankan kami untuk menghubungi juru kunci makam. Ditunjuklah sebuah nomor telepon yang tertempel di pintu masuk.

Segera kuhubungi nomor tersebut. Kusampaikan bahwa saya ingin berziarah. Tak lama kemudian sang juru kunci pun datang dengan motor tuanya. Usai memperkenalkan diri, pintu utama makam kemudian dibuka. Kami pun diantarnya masuk. Dimintanya kami menunggu sejenak. Saat sang juru kunci menyalakan lampu dan jet pump, kuedarkan mataku ke semua penjuru. Tampak nisan-nisan tua berdiri menjulang. Beberapa nisan tampak menghijau tertutup lumut. Sekira lima langkah dari kami berdiri, tampak sebuah cungkup berwarna putih beratap genting, dan berdaun pintu kecil.

Kami akhirnya menuju keran air untuk mengambil wudu. Usai berwudu coba kutanyakan keberadaan makam Pangeran Sekar, jawaban mengecewakan kami dapatkan kembali. Sang juru kunci mengatakan bahwa beliau tidak tahu. rasa kecewa yang tidak hanya sebatas kecewa. Justru yang timbul padaku adalah perasaan curiga. Juru kunci ini benar-benar tidak tahu apa sekadar pura-pura tidak tahu. Rasanya kalau sungguh-sungguh tidak tahu kok aneh ya. Bagaimana tidak? dalam postingan grup facebook disertai foto disebutkan bahwa setiap tahun diadakan haul di tempat ini. Bahkan beberapa orang yang mengaku keturunan dan keluarga sang pangeran beberapa kali berkunjung ke sini. Masa iya sih juru kunci sampai tidak tahu?

 Akhirnya masih dengan perasaan curiga itu kami dipandu juru kunci masuk ke cungkup makam Nyi Ageng Maloka. Pak juru kunci menawarkan kepadaku untuk membaca tahlil sendiri atau beliau yang memimpin? Dengan pelan kuminta agar bapak juru kunci yang berkenan memimpin tahlil dan doa.

Suasana menjadi semakin khusyuk ketika lantunan ayat-ayat dibacakan Pak Jurkun. Pada keheningan itu dalam hati kusampaikan bahwa kami anak cucu beliau datang untuk bersilaturahmi. Sementara itu juga kuselipkan doa sekaligus izin minta restu kalau memang wanita yang ada di sebelahku ini nantinya jodohku, hendaknya kami dibantu agar lancar segalanya.

Suasana hening, teduh, dan sejuk tetap terasa apalagi kompleks makam dikelilingi pohon besar. Suara lantunan doa, suara ranting terhempas angin, terdengar bersahut-sahutan dengan suara cicak yang terus saja menginterupsi. Keheningan ini menjadikan kami kian luruh. Aku sendiri tak tahu doa apa saja yang dipanjatkan wanita di sebelahku ini. Yang kutahu tangan kami tak lagi menengadah ketika Pak Jurkun mengakhiri doanya. Usai berdoa, kami kemudian keluar dari cungkup makam.

Aku lalu meminta wanita yang tadi ada di sebelahku ini untuk mendekat ke sebuah barisan nisan tua. Barisan nisan yang terletak di sebelah timur cungkup makam Nyi Ageng. Di tengah barisan nisan ini aku kemudian duduk bersimpuh. Sebuah nisan tanpa nama. Nisan yang nampaknya sengaja dibiarkan menjadi misteri. Persis dari bentuk dan letaknya, inilah makam sang pangeran yang kucari-cari. Untuk memastikan kubuka HP dan segera kucek foto dalam postingan grup di facebook. Tidak salah lagi. Akhirnya kututup mataku dan kupanjatkan doa. Usai berdoa, kuminta wanita yang sedari tadi mengamatiku itu memfoto. Maksudnya buat dokumentasi pribadiku. Sayang fotonya sekarang sudah hilang.

Usai berdoa, aku kemudian melakukan kebiasaanku untuk berkeliling mengamati hal-hal yang ada di sekitaran lokasi yang baru saja kudatangi. Berharap ketemu sesuatu yang menarik. Tak lupa kufoto juga bentuk-bentuk nisan yang ada di sana beserta epigrafnya. Walaupun aku tidak paham arti dari tulisan yang ada di nisan, tetap saja kufotoi satu per satu. “Mungkin saat ini aku belum paham artinya, tapi siapa tahu nanti aku bisa memelajarinya,” gumamku saat itu. Ada nisan bertuliskan aksara jawa, ada nisan bertulis khat arab, ada juga nisan yang memiliki simbol surya wilwatikta. Medalion simbol Majaphit. Tentu yang dimakamkan ini bukan orang biasa. Satu hal yang tak dapat dipungkiri bahwa Caruban merupakan salah satu pelabuhan terpenting masa Kerajaan Majapahit.

Kini untuk ke sekian kalinya aku datang lagi di pantai ini. Setiap kali motor berbelok menuju pantai dan tampak gapura makam di kanan jalan aku segera mengirimkan fatihah kepada ahli kubur yang ada di sana. Hal inilah yang selalu ditanyakan Fina. “Bapak ngapain kok bicara sendiri?”

“Bapak berdoa mendoakan beliau-beliau yang ada di sana,” jawabku. Seolah paham, Fina pun diam. Tidak seperti biasanya ketika kujawab satu pertanyaan, pasti muncul pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Motor mulai memasuki tambak garam yang sudah mengering. Kurang lebih lima menit kemudian sampailah kami di pintu masuk pantai. “Motor lima ribu, Mas,” ucap penjaga. Bayar karcis. Usai bayar, tampak di kanan jalan ada patung kepiting besar yang menyambut kami.

Girang hati Fina yang sudah tak sabar ingin main air laut. Terlebih ketika pohon cemara angin sudah mulai tampak. Tikar-tikar tampak tergelar dengan beberapa pengunjung yang sudah duduk dan menikmati angin laut.  Motor akhirnya kuhentikan di dekat anjungan.

Di sinilah dulu kami datang berdua. Datang lagi kemudian kami bertiga dengan Fina yang masih tiga tahun. Momen dimana baru pertama kali Fina kami ajak turun lalu tertawa-tawa karena merasa geli. Kakinya baru sekali itu menyentuh pasir pantai. Kini, kami datang lagi bertiga dengan Fina yang sudah menjelang enam tahun. Fina yang kala itu geli kakinya, kini sudah tumbuh menjadi wanita kecil yang suka berlarian ke sana ke mari. Wanita kecil yang selalu kritis dan suka komplain kalau ada yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Sangking seringnya kami datang ke sini, seolah Caruban menjadi bagian dari mozaik momen-momen kebersamaan kami.

dokpri


Usai turun dari motor, kami pun duduk di bawah pohon cemara angin. Duduk di atas tikar, paling depan dekat dengan garis pantai. Kopi hitam, air mineral, kelapa muda, gorengan satu porsi, lontong pecel, dan mi instan segera kami pesan. Menu wajib yang selalu kami pesan ketika datang ke sini. Terlebih lontong pecelnya yang khas. Pecel yang tidak seperti pecel di Blora. Kudapan yang dipakai di sini adalah kangkung, bukan daun ubi jalar.

Seperti biasa, usai makan barulah Fina bermain air. Seolah musisi dia selalu tak sabar untuk segera turun ke panggung dan bermain musik. Ia tampak sangat bergembira. Berlari ke sana kemari mencoba menangkapi bayi kepiting. Bosan dengan bayi kepiting, lari lagi mencari cangkang kerang. Bosan dengan cangkang kerang, dia kemudian berselonjoran di atas pasir menyambut ombak datang.

Sementara aku masih seperti biasa menjadi kiper. Sigap seolah melihat bola khawatir masuk ke gawang. Fina selalu dalam pengawasanku dari ombak yang datang dan pergi.  Sesekali aku melihat ke bawah. Mencari pecahan gerabah dan keramik kuno. Beberapa waktu yang lalu saat ke sini pernah kutemukan pecahan mulut kendi dan pecahan keramik bertulis huruf Jawa. Bukti bahwa pantai ini menjadi pantai yang cukup sibuk pada masanya.

Puas bermain ditmbah dengan perut yang juga sudah kenyang. Berangkatlah kami ke museum dan makam Kartini. Di atas motor, Fina melambai ke arah laut “Da…da… pantai besok aku ke sini lagi ya,” kata anak kecil ini.

Sepanjang perjalanan menuju museum, kurenungi lagi kisahku pertama ke Caruban dulu. Teringat kembali rasa penasaranku tentang makam pangeran itu. Rasa penasaran yang akhirnya kutanyakan kepada admin grup facebook via japri. Admin grup menjawab dengan setengah bertanya. “Coba Mas dipikir pakai logika. Apakah mungkin jasad Pangeran Sekar yang meninggal di tepi sungai kemudian dibawa ke Demak? Zaman sekarang saja kalau pakai ambulans sudah berapa jam? Belum lagi zaman dulu kalau pakai kuda. Berapa hari sampai Demak? Belum lagi dengan kondisi jasadnya, bukankah sudah membusuk kalau harus dibawa ke Demak? Bukankah lebih masuk akal kalau dimakamkan di sana?” Begitu jawabnya.

Kondisi kompleks makam memang tampak lebih rendah dengan tanah yang ada di sekitarnya. Hal ini kulihat langsung. Tampak ada beberapa kubangan air yang tidak habis setelah diguyur hujan. Admin grup juga menyampaikan bahwa kompleks makam dulunya adalah tepian sungai.

Memang sih di kompleks makam Sultan Fatah di Demak terdapat nisan Pangeran Sekar sebagaimana terdapat makam Pangeran Arya Panangsang putranya. Dengan melihat kisahnya yang kontroversial, tentu pihak pengelola makam Nyi Ageng Malokatidak akan memasang nama nisan Pangeran Sekar demi kemananan. Bagi mereka ada baiknya misteri biarlah misteri. Mungkin itu pertimbangannya. Motorku masih melaju menyusuri jalanan Rembang. Tak terasa panas semakin menusuk-nusuk. 

Selengkapnya.. - CARUBAN PENUH KENANGAN

Jumat, 16 Mei 2025

MENCARI KARTINI VOLUME 2

Siang itu ketika matahari beradu dengan waktu, aku terus menarik tuas kemudiku. Motor beat hitam itu terus melaju menuju Bulu. Kartini. Satu kata yang sangat pendek ini masih menjadi tujuan utamaku. Tujuan demi menjawab pertanyaan anakku kemarin lalu. 

patung Sang Ibu di depan pintu masuk

Setelah menghabiskan waktu di museum yang tak lain adalah kediaman Ibu Kartini dulu, kami pun bergeser menuju lokasi yang kedua. Benar. Perjalanan kami mencari Kartini belum usai. Entah berapa banyak rumah di kanan kiri jalan yang sudah kami lalui. Aku tak tahu. Yang kutahu pasti adalah kami masih terus menerjang cuaca panas pantura. Debu jalanan menempel jadi satu dengan keringat. Lengket di sana-sini. Untung saja pakai kaos oblong, coba kalau pakai kemeja pasti gerahnya minta ampun.

Di depanku, Fina tampak kepayahan. Kaca helm yang dipakainya berkali-kali dibuka dan ditutup. Pun dengan tali klik, beberapa kali dia menggaruk janggutnya. Anak kecil ini tentu kecapaian akibat mondar-mandir lari di museum tadi. Kulirik jam tangan digitalku, 01/05/2025 pukul 13.00. Pantas saja panasnya minta ampun. Seolah matahari mengamuk sejadi-jadinya. Kota yang berada di pesisir pantura Jawa ini tak berdaya menahan amukannya.

Botol air mineral yang kami bawa sudah kosong. Tandas kami gasak sewaktu beranjak dari museum. Botol itu masih tenang terselip di bawah speedometer. Botol yang sengaja kami bawa karena tidak sempat membuangnya di tempat sampah. Haus masih terasa. Sekalipun kepanasan aku merasa lega karena di museum tadi sudah kencing, sudah salat juga, dan perut juga masih kenyang. Aman. Sudah deh kalau kalian sedang perjalanan dan menahan satu dari ketiga hal tersebut, dijamin perjalananmu tidak akan menyenangkan. Yang ada hanya rasa tergesa-gesa dan tergesa-gesa. Tiga hal ini selalu aku hindari ketika sedang dalam perjalanan.

Motor terus melaju. Kami pun mulai memasuki jalan Rembang-Blora. Entah berapa lama kami hirup asap kendaraan bercampur aus kampas mobil yang terbakar. Sesekali kulihat Fina di depanku. Tampak dia sudah mulai rewel. Ya bagaimana lagi. Jam-jam segini adalah jam tidur siangnya bersama ibunya.

pohon besar di depan serambi makam

Sembari terkantuk-kantuk Fina masih saja bertanya “Masih lamakah perjalanan ke makam Ibu Kita Kartini, Pak?” Perasaan kasihan yang sempat muncul berubah menjadi senang. Ternyata dia masih bersemangat. Kujawab “Nggak lama lagi kok,” berharap agar semangatnya tetap terjaga. Sekira sejam perjalanan, Sulang telah kami lewati. Baliho dan papan nama di kiri kanan jalan sudah mulai terbaca “Bulu”. Kusampaikan kepada Fina, “Tidak lama lagi sampai, Fin. Ngantuknya ditahan dulu ya.” Dia diam tak menanggapi.

Sembari menekan laju gas di tangan, aku pun menanyai istriku. “Sudah pernah ke sini sebelumnya?” “Sepertinya belum,” jawabnya. Kuingat-ingat lagi, sepertinya aku sudah pernah ke sini sebelumnya tapi sama siapa ya? O ya benar juga. Aku dulu ke sini bersama temanku. Kala itu, 21 April berapa tahun yang lalu aku dan temanku berziarah ke sini. Aih kalau ingat masa itu. Masa-masa ringan kemana saja dan kapan saja. Mau kemana: oke. Mau pergi kapan: Siap. Terlebih saat itu aku pergi bersama temanku yang suka sekali berziarah. Tak ada angin tak ada hujan tahu-tahu sudah ziarah saja ke Makam Sang Ibu. Sekarang tentu situasinya sudah berbeda. Apalagi sudah ada Fina. 

tabur bunga di makam Sang Ibu

Plang makam R.A. Kartini sudah nampak dari kejauhan. Kupelankan laju motor. Sesampai di bawah plang hijau bertulis makam R.A. Kartini, kami pun berbelok ke kanan. Kontur jalanan yang tadinya lempeng kini berubah menanjak syahdu. Panasnya Rembang mulai terobati dengan banyaknya pohon rindang. Kami pun masih melaju di jalanan yang terus saja naik. Hingga akhirnya sampailah kami di parkiran makam. Duh!  Pantat serasa terkena alteco. Pelan-pelan kami turun dari motor kemudian duduk di emperan pendapa. Pendapa yang berada di bawah pohon ini sepertinya disediakan sebagai tempat istirahat para pelancong.

Sembari duduk kuamati sekitar. Tampak dua mini bus terparkir berjajar dengan penumpang yang sudah tumpah ruah.  Ada yang sibuk memilih jajanan. Ada juga anak kecil yang menarik-narik tangan ibunya untuk dibelikan mainan. menarik juga gumamku dalam hati. Memang banyak sekali pedagang yang menjajakan dagangannya di area parkir ini. Mulai dari piranti dapur seperti pisau dan sendok, makanan dan minuman, mainan anak, bahkan terasi juga ada yang menjual. Kami amati semua itu sembari mengusir capai dengan meluruskan kaki ke depan.

Setelah kami rasa cukup beristrahat, aku pun mencari kamar mandi. Niatnya sih mau ganti celana pendek dengan sarung lalu berwudu. Sarung sudah kukenakan, kran kuputar. Yah! Tak ada air menetes setitikpun di kamar mandi ini. Akhirnya kuputuskan untuk keluar dari kamar mandi tanpa berwudu. Kutemui Fina dan ibunya yang masih menunggu. Oke, kita masuk makam. Sedang berjalan menuju pintu masuk, Fina minta beli bunga. “Beli bunga Bu. Kan kalau ziarah harus bawa bunga.” Ah anak ini seperti tahu cara berziarah saja. Akhirnya kami pun membeli bunga mawar untuk nanti ditaburkan di makam.

Sambil terus berjalan menuju pintu makam, Fina ngotot meminta agar dia saja yang membawa bunga. Sesampainya di depan pintu makam, kami tidak langsung masuk. Kami memilih untuk berfoto dengan patung Sang Ibu yang berdiri di depan pintu. Beliau seolah menyambut kami dan para pengunjung lainnya. Usai berfoto kami pun masuk ke area luar makam. Sampai di serambi makam, aku menahan istri dan anakku. Kuminta mereka untuk duduk dan menunggu terlebih dahulu. “Biarkan rombongan ini selesai berdoa. Kita masuk setelah mereka keluar,” kataku.

dokpri

Lantunan doa yang dipanjatkan oleh rombongan dua bus itu terdengar sampai serambi makam. Kami yang duduk di serambi merasakan betapa teduhnya tempat ini. Letaknya yang berada di perbukitan, jauh dari pusat keramaian menambah ketenteraman hati para peziarah. Belum lagi dengan banyaknya pepohonan yang menambah aura damai. Sedamai itu juga kami menunggu. Sedang asyik mengamati lingkungan, istriku mengajakku masuk. Kutengok pintu masuk. Kusampaikan kepadanya untuk bersabar. Nampaknya mereka sedang berfoto di dalam.

Rombongan mini bus ini akhirnya keluar. Tiba giliran kami untuk segera masuk. Kami kemudian masuk kompleks makam dengan mengucap salam terlebih dahulu. Sesampai di depan pusara Ibu, kami bertiga duduk bersimpuh. Makam sang Ibu dipagari besi kuning bersebelahan dengan dua makam lainnya. Hanya ketiga makam ini yang berpagar besi. Tidak ada lain tentu yang bersemayam dalam makam ini bukanlah orang yang sembarangan. Setelah duduk, aku menengok kanan hendak mencari buku yasin. Ternyata di belakang kami, tak jauh dari pintu masuk tadi, tampak bapak-bapak tua sedang duduk menekuri buku tamu. Ah iya. Lupa. Mungkin bapak itu menyangka kami adalah bagian dari rombongan yang tadi.

Segera kuambil yasin yang ada di meja, tak jauh dari tempat kami duduk. Aku pun mulai membaca wasilah, fatihah, lalu tahlil. Terakhir, doa-doa kami lantunkan kepada sang Ibu dan keluarganya. Entah mengapa suasana di makam ini begitu berbeda dengan aura di museum tadi. Gemuruh perjuangan yang berkelit kelindan dengan kisah pilu yang tadi kami rasakan mendadak berganti dengan kedamaian. Perasaan tenang, sejuk, dan teduh terus saja kami rasakan sedari masuk sampai doa berakhir. Seolah segala persoalan hidup kami turut luruh bersama ketenangan tempat ini.

Aku pun maju berjalan jongkok menyusul Fina yang kikuk setengah takut hendak menaburkan bunga. Sambil bersimpuh kubersamai dia menabur bunga di atas pusara Ibu Kita. Ibu luar biasa yang sedari kemarin dia tanyakan telah bersemayam di sini, di bawah nisan bertabur bunga ini. Sedih rasanya ketika harus menjelaskan kepada anakku bahwa Ibu Kita yang dicarinya sedari kemarin ternyata sudah tiada.

Di sebelah makam beliau, terdapat dua makam dengan nisan yang berbeda. Ada yang besar dan ada juga yang kecil. Nisan yang besar berada persis di sebelah makam beliau. Nisan itu bertulis R.A. Soekarmilah Djojoadiningrat disusul dengan makam yang ukurannya lebih kecil. Di belakang tiga nisan ini tampak berbaris rapi lukisan wajah sang Ibu. Ia seperti sedang mengamati kami.

tabur bunga di makam Bapak Soesalit

Usai bunga kami taburkan, aku pun meminta tolong istri untuk mengambil foto sambil tetap duduk bersimpuh. Usai berfoto, aku dan Fina turun. Fina yang masih membawa keranjang bunga diminta ibunya untuk kembali menaburkan semua bunga yang tersisa. Segera kucegah. “Sebentar. Sebentar. Mari sini ikut Bapak.” Aku kemudian mengajak mereka bergeser ke kiri menuju makam yang lain. Fina kutuntun untuk kembali menaburkan bunga yang masih dibawanya ke salah satu makam. “Ini makam Bapak Soesalit, putra Ibu Kartini. Sini Fin, bunganya taburkan ke sini semua,” pintaku. Tampak sudah ada karangan bunga di atas nisan beliau ini.

Aku tak tahu mengapa makam buah hati Sang Ibu tidak diletakkan bersebelahan dengan ibundanya. Tertulis di batu nisan itu Mayjen TNI (Purn.) R.M. Soesalit Djojo Adiningrat Panglima Divisi III Diponegoro Yogyakarta-Magelang Th. 1946/1948, lahir Rembang 13-9-1904 wafat Jakarta 17-3-1962.

Tahun 1904 merupakan tahun kelabu. Pada tahun itulah Sang Ibu berpulang tak lama setelah buah hatinya lahir ke dunia. Ibu kita berpulang dengan segenap perjuangannya. Kiprahnya selama hidup akan selalu dikenang oleh seluruh rakyat Indonesia. Ibu Kartini, Ibu kita semua, Ibu yang telah mengangkat derajat wanita dan bangsanya. Ia yang dengan prinsip dan semangat tak kenal lelahnya berusaha mencerdaskan bangsa, telah tiada. Banyak hal yang harusnya kita lanjutkan.

Pencarian Ibu Kita Kartini tidak selesai di sini. Sang ibu memang telah tiada tetapi api semangatnya masih menyala-nyala. Api inilah yang ingin kuhidupkan juga dalam sanubari Fina. Duhai Ibu, restui cucumu ini, Bu. Anak kecil ini sedari kemarin mencari tahu tentang engkau. Dia selalu merengek-rengek kepadaku. Mendesakku untuk meminta penjelasan tentang kisahmu.

Dia yang didandani berkebaya ibunya saat hari kelahiranmu seolah tidak puas. Dia minta lebih. Dia selalu ingin tahu semua kisah-kiprahmu. Bahwa kisah-kiprahmu tak hanya seremeh kebaya yang dia kenakan. Sementara aku dan istriku sebagai bapak dan ibunya ingin menunjukkan kepadanya apa yang Ontosoroh sampaikan, bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang telah melawan. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Semua itu telah tunai kau lakukan Ibu. Aku ingin mengajarkan ini kepada anakku, Bu. Ibu, restui kami melanjutkan perjuanganmu itu.

Kami pun keluar dan menghampiri motor yang terparkir di depan. Kucopot sarung, berganti celana pendek kembali. Duduk di atas motor rasanya masih enggan meninggalkan tempat ini. Aura kedamaian yang menenangkan membuat kami malas beranjak. Dengan berat hati, motor kunyalakan. Pelan-pelan kami akhirnya kembali menyusuri jalanan aspal. Sepanjang jalan, kutanyai Fina “Sudah tahu siapa itu Ibu Kita Kartini?” Dia tak menyahut.


    Motor melaju perlahan menuju Blora dengan pikiran yang berkecamuk. Fina tampak sangat kelelahan. Dia akhirnya kami dudukkan di tengah. Kami himpit karena khawatir kalau tertidur di jalan. Motor beat hitam membawa kami terus melaju memasuki Blora. sampai-sampai tak terasa perut kami sudah mulai keroncongan. Kami kemudian singgah sebentar di warung mi ayam. Usai mengisi perut kami lanjutkan perjalanan menuju Blora tercinta. Dengan perut yang sudah mulai terisi, pencarian tentang keberadaan Kartini juga sudah menemukan jawaban. “Kartini yang kami cari ternyata ada di sini. Ia bersemayam di hati kita. Dalam hati orang-orang yang berjuang keras membebaskan jerat yang menghantui bangsanya.” 

Blora, 6 Mei 2025

Selengkapnya.. - MENCARI KARTINI VOLUME 2

Rabu, 14 Mei 2025

Mencari Kartini volume 1


    Sore itu Rabu 30 April 2025. Sembilan hari berlalu dari peringatan Hari Kartini. Pesan suara masuk dalam chatt WA-ku. Pesan dari Fina anakku. Ia menanyakan keberadaanku. Ya. Saat ini aku sedang bersama ketujuh muridku. Duduk melingkar bersama Disca, Yaqut, Ajeng, Ulya, Himma, Naura, dan Ivana. Sore ini merupakan hari pertama kami berkumpul setelah libur panjang lebaran. Kelas menulis ini terus bergulir berkat dorongan anak-anak. O ya, tema pertemuan kali ini adalah penulisan opini dan artikel populer.

dokpri

          Saat sedang seru-serunya berdiskusi, pesan suara itu bertubi-tubi masuk layaknya rentetan tembakan tantara Israel yang terus merangsek masuk wilayah Gaza. Pesan demi pesan masuk tanpa kubalas. Hanya kulihat lalu kututup kembali gawaiku dengan posisi terbalik. Aku tak mau diskusi yang sudah asyik ini terjeda. Ketika anak-anak sedang mencari tema dan menuliskan opening tulisan, aku minta diri untuk keluar.

          Pesan suara itu lalu kudengarkan satu per satu. Hingga sampailah pada akhir pesan suara yang membuatku tersenyum. Fina, anak perempuanku ini bilang “Bapak! Katanya mau nyeritain aku Ibu kita Kartini! Malah semalam tidur duluan! Tidak menepati janji!” hardik Fina setengah berteriak. Apa yang bisa kulakukan selain senyam-senyum sendiri. Tentu kalian juga akan begini bukan? Sekira pukul 15.00 kelas menulis pun usai. Aku kemudian bergegas pulang. Lalu makan dan istirahat. Malam itu Kartini juga urung kuceritakan. Aku kecapaian. Tidak seperti biasa baru 21.00 aku sudah tertidur pulas.

          Kamis, 1 Mei 2025. Hari ini libur hari buruh. Kuputuskan mengajak anak dan istriku ke pantai. Sebenarnya sudah sedari kemarin lalu Fina mengajak ke pantai tapi belum kesampaian. Mumpung selagi libur. Selain itu karena Minggu nanti aku masuk sekolah. Sambangan. Sekolah tempatku berkreasi adalah sekolah dengan model pesantren. Jadi sambangan merupakan hari yang paling ditunggu anak-anak untuk bertemu dengan orang tua. Makan bersama orang tua, berkeluh kesah bersama mereka, lalu yang tak boleh ketinggalan adalah pemberian uang saku untuk sebulan ke depan. Nah, kami diminta masuk untuk sekalian parenting. 

          Pukul 08.00 kami berangkat menuju Rembang. Lokasi pantai yang kami tuju adalah Caruban. Pantai yang sangat bersejarah pada masanya. Nanti deh, akan kubuat tulisan khusus untuk pantai ini. Sepanjang perjalanan kami habiskan untuk cerita ini-itu. Fina juga tidak mau kalah. Dia selalu menyela, maunya ikut juga bercerita. Aih anak kecil ini. Saat di perjalanan itu juga kuutarakan niatku untuk mengajak mereka berziarah ke Makam R.A. Kartini. Yes. Istriku sepakat. Tiada lain aku ingin menebus janjiku kepada Fina. Juga mengenalkan Kartini kepada Fina dengan caraku bukan berteori bla…bla…bla.

Kurang lebih satu jam perjalanan, sampailah kami di Pantai Caruban. Sesampai di sana duduklah kami di bawah pohon cemara. Nyiur angin menerpa dedaunan cemara yang terus menari lemah gemulai. Melambai-lambai seolah mengajak untuk istirah dan melupakan hal-hal yang kemarin menggebu-gebu. 

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, kami pun beristirahat. Rebahan di bibir pantai dengan beralas tikar. Dari sini sejauh mata memandang yang tampak hanya lautan utara pulau Jawa memanjang serupa garis rapi yang digaris begitu presisi oleh Tuhan. Begitu pun dengan warna airnya mulai dari kecokelatan, biru mentah, hingga biru dongker, Tuhan Memang Maha Nyeni. Sementara air laut terus saja bergoyang. Seolah melambai bersahutan dengan pepohonan cemara tempat kami berteduh menciptakan tarian yang aduhai. 

Usai menyantap lontong pecel, mi goreng, dan seporsi gorengan, giliran kopi panas dan air kelapa yang kami santap habis. Perut kenyang. Lalu si kecil turun menari-nari mengikuti irama alam sambil meyibak-nyibak air laut dengan tubuh berlumuran pasir. Sembari menunggu Fina bermain air, kusampaikan ideku untuk mengajak mereka ke Museum R.A. Kartini. Sekalian lah. Mumpung momennya ada.

regol/gapura museum

Kurang lebih pukul 11.30 kami cabut dari pantai menuju museum. Kesejukan angin pantai mulai kami tinggalkan. Berganti dengan teriknya matahari menyapu bumi. Tak butuh waktu lama menggelinding di jalan pos. Kurang lebih pukul 12.00 sampailah kami di Museum R.A. Kartini. Museum ini terletak di Jalan Gatot Subroto Nomor 8 Kutoharjo Rembang. Bangunan yang tak lain adalah rumah dinas bupati tempat tinggal Kartini kala itu masih gagah berdiri.

dokpri

Motor semakin pelan. Sampailah kami di halaman. Lalu kuparkir Honda Beat itu. Sebenarnya ada rasa kikuk untuk turun. Bagaimana tidak? Di pendapa depan sana nampak banyak remaja yang sedang berlatih menari. “Ah hajar saja! Sudah sampai sini juga,” batinku. Turun dari motor, kami segera menuju ke tempat jaga. Di sana tampak satpam muda sedang asyik bermain gawainya. Setelah tahu kami akan berkunjung ke museum, diarahkannya kami menuju meja pendaftaran. “Nah, biaya masuk Rp 5000,00 per orang. Tiga orang lima belas ribu, Pak,” kata satpam.

Setelah mengisi daftar hadir dan membayar tiket, pintu jati kuno itu kami buka. Kami pun masuk dengan mengucap salam terlebih dahulu. Aku masih takjub dengan kondisi bangunan. Luar biasa gedung ini. Perpaduan budaya Jawa-Eropa sangat terasa dalam gedung ini. Selain itu, kukuhnya pondasi membuatku masih saja keheranan. Berbeda dengan pondasi zaman sekarang yang belum lama selesai selalu disertai dengan retak di sana-sini. Apalagi tempatnya yang tak jauh dari jalan paling ramai di pantura. Jalanan yang selalu ikut bergoyang ketika truk-truk tronton lewat. Sepertinya guncangan itu tidak berpengaruh pada bangunan ini.


Fina dengan foto di ruang tengah

Usai membuka pintu, Fina kuminta untuk duduk di kursi yang sepertinya sengaja diletakkan agar pengunjung berfoto dengan foto besar Sang ibu yang telah dipigura dan diletakkan di ruang tengah. Usai sejenak befoto kami kemudian berjalan ke kanan menuju Ruang Habis Gelap Terbitlah Terang. Di sini banyak sekali kutipan tulisan Kartini yang dipasang di dinding. Berjalan perlahan sembari membacai tulisan demi tulisan di dinding. Membacai kutipan ini hatiku terus bergetar menahan getir perasaan Sang Ibu. Jiwa semangat dan optimisme yang tinggi terasa menekan-nekan dadaku. Seolah kata-kata itu selalu berbisik dan terus mendesakku dengan caranya sendiri.

dokpri

Di tengah ruang Habis Gelap Terbitlah Terang tampak beberapa buku kuno berlapis kaca. Coba kudekati. Kubacai keterangan yang ada di samping buku itu. Nah, ini dia! Door Duisternist Tot Licht seri pertama dipajang di sini. Beberapa kali kuamati kertas yang telah menguning itu. Hanya beberapa langkah dari surat-surat beliau yang dibukukan ini, terpajang juga kitab tafsir Alquran Faidlur Rahman karangan Kiai Soleh Darat. Seorang Kiai fenomenal, guru dari Kiai Hasyim dan Kiai Ahmad Dahlan yang juga merupakan guru dari Kartini. Beliau lah yang mampu membuat Ibu tercengang berkat penjelasan beliau yang luar biasa mengenai surat Alfatihah. Sangking kagumnya kepada Sang Kiai, Trinil, panggilan Kartini kecil meminta seandainya Kiai bisa membuat kitab tafsir Alquran agar kitab suci ini bisa dipahami maknanya oleh banyak orang. Kartini merasa sedih karena banyak orang memelajari Alquran hanya sebatas melafalkan saja tanpa tahu arti dan maknanya.

Sembari berjalan aku pun merenda ingatanku kembali. Mengingat-ingat kembali surat-surat beliau ini yang aku baca tempo hari dalam Habis Gelap terbutlah Terang suntingan Armijn Pane dan Panggil Aku Kartini Saja milik Pram. Dinding-dinding kayu tua bercat kuning dan hijau tua ini seolah lantang besuara. Menambah gejolak batinku yang kian tak tertahankan. Sembari berjalan dan memotret, aku masih saja membaca kutipan-kutipan itu. Sampai-sampai aku tak tahu Fina dan ibunya dimana. Kami terpisah.

dokpri

Keluar dari Ruang Habis Gelap Terbitlah terang sampailah kami ke ruang tengah. Ruang yang berisi foto besar Ibunda yang tadi Fina kuminta untuk berfoto di sebelahnya. Fina si kecil yang sedari kemarin bertanya tentang Ibu Kartini justru malah lari-larian ke sana ke mari. Yah namanya juga anak kecil. Beberapa kali dia kupanggil untuk kujelaskan satu demi satu perihal isi ruangan beserta kisah Ibu. Rasanya hari itu aku seolah jadi tour guide yang sedang bercerita kepada tamunya.

Setelah dari ruang tengah, kami kemudian masuk ke Ruang Pengabdian R.A. Kartini. Aku sendiri tak tahu mengapa ruangan ini berbeda dengan ruangan sebelumnya. Pergolakan semangat yang tadi kurasakan berubah drastis. Ciut. Ruang pengabdian ini seolah menyimpan auranya sendiri. Aura pilu menyayat hati. Jujur saja di ruangan ini perasaan semangat membara yang tadi berubah menjadi haru bercampur sedih. Ini adalah kamar tidur Ibu. Kujelaskan perlahan kepada Fina. Fina masih saja diam lalu kembali lagi berlarian entah ke mana. Untuk mengeksplor satu per satu ruangan, aku dan istri berpencar. Dia segera pergi ketika mau masuk ruangan ini. Aku tahu pasti ada sesuatu. Istriku agak sensitif dengan hal-hal mistis. 

R. Pengabdian R.A. Kartini

Kekelaman ruangan ini semakin terasa ketika melihat ranjang tempat Ibu tidur. Letaknya tepat di sebelah kanan pintu masuk. Ranjang kuno dari kayu jati berwarna cokelat ini masih tampak kokoh. Berhadapan dengan ranjang, tepatnya di sebelah kiri pintu masuk, berdiri tombak bersarung. Tak jauh dari tombak itu rasa hati semakin tersayat ketika melihat lukisan Ibu Kartini berkalung untaian melati dengan latar lampu kuning. Seolah lukisan ini hidup. Kepiluan itukah yang ditahan sang ibu ketika berpisah dari Jepara, tanah kelahirannya? Berpisah dari ayah yang dikasihinya. Berpisah dari buku-bukunya. Berpisah dari ide dan cita-cita yang dulu digagasnya. Menyusul kedua adiknya yang telah lebih dahulu menikah.

Di ujung ruangan, cermin dan meja rias Ibu tampak menyambut. Heran. Entah mengapa di sini tak kujumpai satu pun buku. Padahal sebelumnya aku mengira di ranjang, di meja, bahkan di tempat rias pasti ada buku yang selalu dibaca sang Ibu. Buku yang terus memompa semangat beliau memperjuangkan rakyatnya. Kecewa bercampur getir melihat semua ini. Bayangkan, buku-buku bacaan seolah satu per satu semakin jauh setelah beliau menikah. Ah!

foto Ibu di Ruang Pengabdian

Ruang Pengabdian ini terhubung dengan ruang di sebelahnya, yaitu Ruang R.M. A. A. Djojoadiningrat, suaminya. Di ruangan ini banyak terpajang foto beliau. Laki-laki yang besar dan gagah dengan usia yang tak bisa dikatakan muda lagi. Dalam ruangan hanya mesin ketik kuno saja yang menyita perhatianku. Gantungan jas dan berbagai foto di dinding kurang membuatku tertarik. Satu-satunya foto yang kuamati agak lama adalah fotokopian undangan pernikahannya dengan Ibu. Keluar dari ruangan ini aku pun masuk ke ruang belakang. Fina dan ibunya tak tahu kemana. 

Memasuki ruang belakang berarti memasuki ruang keluarga. Pertama masuk ruangan ini, aku langsung disambut dengan meja kursi keluarga. Di belakangnya, terpampang dua lukisan besar Ibu dan sang suami. Perjalanan menyusuri ruang belakang ini membawaku berbelok ke kanan menuju berbagai lukisan karya R.M. Soesalit. Ia adalah anak semata wayang Sang Ibu dengan Bupati Rembang. Perjalanan terus berlanjut, sampailah ke kamar pribadi sang putra. Ruang Kamar R.M. Soesalit. Di ruangan ini sejauh mata memandang maka yang tampak hanyalah foto beliau mulai dari kecil sampai dewasa. Ada juga baju peninggalan beliau yang dipasang pada manekin dan diletakkan dalam lemari kaca.

Ruang Keluarga Sang Ibu

Setelah kurasa cukup mengeksplor ruangan sang putra, aku kemudian keluar dan kembali mengamati seisi ruangan keluarga ini. Di sinilah bertengger lukisan fenomenal Trinil. Tepat berada di totokan pintu masuk ruang keluarga, lukisan tiga angsa putih terpajang sangat anggun. Tiga angsa ini sesuai dari buku yang kubaca dulu tak lain merupakan perwujudan dari Kartini beserta kedua adiknya, Kardinah dan Rukmini. Lama aku berdiri tertegun menikmati lukisan ini. Bahkan aku sempat menarik masuk kembali Fina yang sudah di luar. Anakku yang baru lima tahun ini kuberitahu “Ibu Kartini selain suka membaca dan menulis, ia juga suka melukis. Ini lukisannya”, sambil kutunjuk lukisan itu. “Coba hitung berapa banyak angsa yang ada di lukisan itu?” “Satu, dua, tiga! Tiga” jawabnya riang sambil menujuk lukisan. “Nah ketiga angsa itu adalah Ibu Kartini bersama dua adiknya.” “Kamu mau nggak besok kayak Ibu Kartini? Suka baca, suka menulis, suka melukis juga. Mau nggak?” sahutku bertanya. “Mau!” jawabnya. 

dokpri

Usai dari ruang keluarga ini kami pun keluar. Di luar ruangan, Fina kuminta untuk berfoto di sebuah tempat di sebelah kanan pendapa museum. Tempat yang mirip sebagai pos penjaga kadipaten ini juga terbuat dari kayu tua. Usai berfoto rencananya kami mau kembali ke motor. Akan tetaoi hal ini urung kulakukan karena tampak diorama kereta kencan di sebelah kiri pendapa. Ia akhirnya kuajak mampir ke sini terlebih dahulu supaya nantinya tidak muncul pertanyaan baru di perjalanan. Kuajak dia berfoto, eh kok malah nemu sesuatu. Ada batu bata yang ditutup kaca tebal. Kudekati batu itu. Batu yang ternyata saluran kuno temuan Ds. Karangturi Gg. IV Lasem.

Kembalilah kami ke motor. Beat hitam itu masih beristirahat di tempatnya. Sebelum cabut dari museum, kami singgah untuk napak tilas ke sebuah tempat yang tak jauh dari pendapa. Berada di sebelah kanan pintu regol atau gapura museum, ruangan yang masih tertutup ini nampak teduh dipayungi pohon rindang nan besar. Tempat inilah tempat bersejarah yang digunakan oleh Ibu mengajar murid-muridnya. Sekolah yang didirikan oleh Ibu Kartini. Lokasinya yang dekat dengan tembok pagar kabupaten sepertinya memang disengaja dipilih agar para warga, khususnya para wanita yang berasal dari luar kadipaten tak sungkan untuk masuk dan belajar.


Ruang Mengajar R.A. Kartini

Di depan ruangan ini berdiri pula patung beliau mendekap buku. Tak jauh di belakangnya, terdapat sebuah papan tertempel di dinding berttulis Ruang Kartini Mengajar. Sayang sekali tempat ini ditutup rapat. Jadi tidak bisa kami eksplor lebih jauh. Di atas pintu masuk tampak sebuah logo atau medallion bulan sabit beserta sulur-sulur yang belum kutahu maknanya. Segera kufoto. Siapa tahu kelak aku tahu arti dari logo ini. Dalam hati bertanya beginikah Dharmorini yang dikelola oleh beliau sedari Jepara sampai Rembang? Di tempat inikah Ibu Kartini mengajar muridnya yang sebagian besar para wanita? Beliau ingin wanita tidak hanya sebagai kanca turu dan kanca wingking saja. Ia ingin agar wanita berdaya karena dari para wanita inilah asal-mula pendidikan sang anak berlangsung.

Baginya wanita harus mampu berdaya dengan segala potensinya. Kartini bukan hanya mengajar secara teoretis saja tetapi juga hal-hal yang bersifat terapan. Ibu mengajar wanita memasak. Harapan Sang Ibu kelak ketika para suami kecapaian pulang kerja, usai mencuci tangan dan kaki bisa segera menikmati hidangan yang dibuat oleh istrinya. Dengan cara ini sang suami akan lebih menghormati istrinya. Rasa cinta yang terpelihara akan semakin tumbuh dengan sajian makanan yang enak masakan istrinya. Sang suami jadi betah di rumah dan tidak akan memilih jajan di warung yang menjadi cikal bakal pertikaian rumah tangga. Sembari makan bersama maka berbagai permasalahan akan selesai di meja makan. Tidak merembet kemana-mana.

Tempat tidur Ibu Kartini

Ibu Kartini juga mengajari para wanita berdandan. Dengan harapan agar para suami tidak akan tertarik dengan wanita lain. Suami akan semakin sayang kepada istrinya. Tak hanya itu, Ibu Kartini juga mengajar membatik, merajut, dan menjahit. Dengan alasan agar sang istri tidak terlalu bergantung kepada nafkah yang diberikan suami. Dengan cara ini para istri bisa mendapatkan tambahan penghasilan bagi keluarganya.

Yang paling utama, Ibu juga mengajar membaca dan menulis. Dengan melek huruf para wanita kelak tidak mudah dibohongi. Selain itu, dengan mengenal baca tulis itu derajat wanita akan meningkat seiring dengan pengetahuan yang didapatnya dari buku yang dipelajarinya. 

bangunan museum tampak dari pendapa

Iri rasanya aku dengan beliau. Ibu Kita ini selalu saja berusaha mencerdaskan anak bangsanya. Ibu luar biasa yang selalu mengejar ilmu pengetahuan yang ia kaguminya. Tidak pernah kalian bayangkan bukan, Ibu hebat ini lebih taktis bersikap dan peka terhadap sesamanya. Ilmu yang beliau ajarkan pun akan mampu menaikkan martabat wanita di atas segalanya. Ibu Kita ini merupakan ibu yang luar biasa. Ibu yang selalu berusaha melabrak hal-hal yang menghalanginya demi memajukan kehidupan bangsa yang lebih baik. Wajar kalau banyak orang yang tak suka, terlebih pemerintah kolonial dan kaum feodalis lainnya.

Bu, dengan kunjungan keluarga kecil kami ke sini kami berharap mendapatkan percikan api semangatmu. Terlebih kepada buah hati kami, Si Fina ini. Anak kecil ini juga sama denganmu, Bu. Sama-sama wanita sepertimu. Semoga kelak dia juga mendapatkan kekuatan yang berlipat ganda seperti yang ibu punya. 

jangkar di depan museum

Usai salat zuhur dan memotret jangkar di dekat gapura, kami pun beranjak menuju motor. Motor segera kami pacu. Kami pun langsung menggelinding menyusuri jalanan Rembang menuju makam sang Ibu. Selama perjalanan kucoba menanyai Fina tentang perasaannya. Tentang objek apa saja yang dilukis Sang Ibu? Hingga pada simpulan bahwa Ibu Kita Kartini bukan hanya sebatas upacara perayaan cosplay memakai kain kebaya saja.  Melainkan meneladani kisah Ibu Kita yang luar biasa besar artinya bagi sesama dan bagi bangsanya. “Nak, sudah Bapak tunaikan janjinya yang kemarin ya. Bapak tunaikan janji dengan cara Bapak,” begitu kataku dalam hati.

Jalan Pos semakin jauh kami lalui. Perjalanan kami pun bergeser menuju Bulu, Mantingan, Rembang. Tidak ada lain kami akan sowan dan berziarah ke makam Ibunda. Ibu Kartini yang sedari kemarin ditanyakan Fina. Bersambung di Mencari Kartini volume II ya. 



Selengkapnya.. - Mencari Kartini volume 1